UU Desa, Lalu Selanjutnya Apa?

Jakarta – Setelah proses legislasi sangat panjang, akhirnya RUU Desa disahkan menjadi UU oleh DPR. Pengesahan UU ini dipercaya akan memberikan perubahan signifikan bagi pembangunan Indonesia ke depan. Jelas, ada harapan perubahan orientasi pembangunan dari sebelumnya cenderung meng-anak-emas-kan kota, kini diharapkan bisa melihat desa sebagai tulang punggung pembangunan manusia dan ekonomi Indonesia. Dengan pengesahan ini desa akan memiliki perangkat yang dijamin kesejahteraannya oleh pemerintah, pendirian badan permusyawaratan desa (BPD), potensi transfer tunai dari pemerintah pusat maupun daerah hingga Rp 1 miliar per desa, dan ada kesempatan bagi warga desa untuk menentukan penggunaan anggaran yang dimiliki oleh desanya.

Saya melihat, dua nilai luhur Indonesia, musyawarah dan gotong royong akan menjadi kunci dari suksesnya implementasi UU Desa. Keberadaan BPD yang diharapkan sebagai wadah menampung aspirasi warga akan penggunaan anggaran untuk pembangunan desa seharusnya mampu menumbuhkembangkan semangat bermusyawarah dengan bijak dan adil. Saya kira, sudah saatnya perangkat desa juga memiliki kapasitas untuk melakukan perencanaan partisipatif yang melibatkan warga secara aktif.

Sebuah contoh sukses tentang partisipasi warga dalam perencanaan dapat merujuk pada kota Puerto Alegre di Brazil, di mana walikota memberikan kesempatan bagi warga untuk menuliskan prioritas pembangunan yang diinginkan dan hasil dari proses partisipatif ini menjadi keputusan penetapan alokasi anggaran dan arah pembangunan. Setelah sebuah konsensus hasil musyawarah terbentuk, tentu diharapkan gotong royong warga juga lahir untuk turut mendukung program yang telah disepakati. Saya kira, warga desa memiliki keterikatan sosial yang erat, sehingga semangat ini bisa muncul dengan sentuhan bijak dari perangkat desa yang berwenang.

Dalam dekade terakhir, ada beberapa program pemerintah yang telah mencoba mensimulasikan implementasi UU Desa, salah satunya adalah PNPM Mandiri Perdesaan. Tentu dari program yang telah berjalan ini, pemerintah bisa memetik pembelajaran hal apa saja yang perlu didukung agar UU Desa ini menuai hasil efektif dan efesien, seperti pelatihan penganggaran, skema perencanaan partisipatif, dan juga pola pengawasan dalam desa.

Kita tentu berharap dengan keberadaan UU Desa ini dapat memberikan kekuatan kepada desa agar semakin berdaya dan mampu menarik warga muda untuk berkarya dan mengembangkan desa. Besar harapan dari proses penganggaran di desa bisa menelurkan program bersifat produktif dan berorientasi jangka panjang, seperti inisiasi potensi ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, dan perbaikan infrastruktur dasar. Saya percaya, bila UU Desa ini berjalan dengan baik, akan terjadi pergeseran perpektif dari para pakar Indonesia agar lebih berpikir tentang desa: seorang arsitek yang mampu mendesain tata desa yang humanis, seorang ahli pemerintahan yang bisa membuat model tata pemerintahan desa yang modern, atau seorang insinyur yang mampu membuat perangkat teknologi aplikatif untuk skala desa.

UU Desa telah disahkan, ini bukanlah akhir dari perjuangan untuk membangun Indonesia dengan kekuatan desa. Justru ini adalah babak baru yang perlu disiapkan secara komprehensif oleh seluruh potensi keilmuan dan kebijakan Indonesia. Tidak hanya warga desa yang perlu musyawarah dan gotong royong, kita yang tinggal di kota pun perlu turun tangan untuk bersama membangun 72.000 desa Indonesia.

Tepian Sungai Pesanggrahan, 22 Desember 2013

Keterangan: Penulis adalah seorang pemerhati politik ekonomi.

Senin, 23/12/2013 21:35 WIB. Ridwansyah Yusuf Achmad – detikNews

Sosok Mayat Pria Ditemukan di Kuburan Abepura

JAYAPURA[Anggota Polsek Abepura sedang melakukan olah TKP di lokasi penemuan mayat pria di kuburan Abepura. PAPOS]-Warga masyarakat yang bermukim di sekitar Pekuburan Umum Kristen Abepura, dikejutkan dengan penemuan sosok mayat laki-laki di dalam kuburan, Jumat (20/12) sekitar pukul 06.30 WIT.

Mayat pria yang belakangan diketahui bernama Agus Itlay itu, diduga korban penganiayaan. Sebab, saat mayat pria tersebut ditemukan, di bagian wajah dan kepalanya terdapat luka sobek yang cukup serius, yang diduga bekas hantaman benda tumpul.

Tidak hanya itu, dari hasil visum yang dilakukan petugas medis Rumah Sakit Bhayangkara Kotaraja, tengkorak kepala korban juga retak, yang diduga terkena hantaman batu.

Kapolsek Abepura Kota Kompol Decky Hursepuny mengatakan kuat dugaan bahwa korban merupakan korban penganiayaan, tampaknya semakin jelas.

“Didekat mayat korban, ditemukan batu berukuran sedang, yang masih lumuran darah,”

ujar Kapolsek saat dikonfirmasi di Mapolsek Abepura, Jumat (20/12).

Tidak hanya itu, di sekitar lokasi kejadian, juga ditemukan bekas botol-botol minuman beralkohol (Miras).

Kapolsek mengatakan, dugaan sementara, pelaku penganiayaan terhadap korban, merupakan orang-orang yang ikut bersama-sama mengkonsumsi Miras bersama korban.

“Kami belum mengetahui siapa pelakunya dan apa motifnya, karena kasus ini masih dalam penyelidikan. Untuk sementara ini, kami masih mengumpulkan informasi dan keterangan dari saksi-saksi untuk menyelidiki kasus ini,”

ucapnya.

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan menyebutkan, menyebutkan awal mula penemuan mayat tersebut, berawal ketika salah seorang warga yang merupakan mama-mama, secara tidak sengaja melintas di jalan setapak di dalam kuburan tersebut.

Pada saat melewati jalan kuburan, dia melihat korban dengan posisi terlentang agak miring dengan kondisi wajahnya berlumuran darah.

Kaget dengan apa yang dilihatnya, mama-mama tersebut kemudian memberitahukan kepada warga lainnya yang berdekatan dengan kuburan.

Setelah diberitahu, warga seketika itu langsung berdatangan ke lokasi untuk melihat kondisi korban. Mengetahui korban sudah tidak bernyawa, salah seorang warga, yang berprofesi sebagai tukang ojek, kemudian melapor ke Polsek Abepura.

Beberapa menit kemudian, anggota Polsek Abepura datang ke lokasi untuk mengamankan situasi dan melakukan olah TKP. Setelah dilakukan olah TKP, mayat korban selanjutnya dibawa ke kamar mayat RS Bhayangkara Kotaraja untuk menjalani visum lebih lanjut.

Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan terhadap kondisi fisik korban kata Kapolsek, diduga pria tersebut meninggal dunia akibat dianiaya, yang sementara ini pelakunya masih dalam penyelidikan.[nur]

Terakhir diperbarui pada Sabtu, 21 Desember 2013 00:02
Jum’at, 20 Desember 2013 23:59, Ditulis oleh M.Nur/Papos

Pemalangan Kembali Terjadi di Manokwari

Manokwari (Sulpa) – Masyarakat pemilik hak ulayat kantor Uji Kelayakan Kendaraan Dinas Perhubungan Manokwari di Jalan Essausesa Sowi, distrik Manokwari Selatan memalang kantor itu karena belum melunasi hutangnya.

Koordinator aksi, Isak Indou dalam aksi itu mengatakan, dari Rp 1.650.000 total harga tanah seluas dua hektar ini, Pemda baru membayar Rp 13 juta.

“Persoalan ini sudah cukup lama, tapi seakan-akan Pemda malas tahu,”

katanya.

Mereka memberikan waktu lima hingga sepuluh hari ke depan kepada Pemda agar melunasi hutang itu. Pihaknya mengancam akan mengambil lahan itu jika Pemda belum membayar.

“Jika dalam waktu lima hingga sepuluh hari, pemda belum membayar, kami akan kembalikan uang Rp 13 juta yang telah dibayar. Dan kami akan ambil kembali tanah kami,”

katanya.

Isak melanjutkan, pemalangan ini sudah dilakukan kedua kalinya. Tahun lalu mereka memalang kantor ini, tetapi pemerintah tidak gubris.

“Jika aksi ini tidak juga mendapat respon, maka kami tidak akan lagi mentolerir,”

katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Manokwari Beni Boneftar mengaku, akan segera berkomunikasi dengan bupati Manokwari. Pihaknya mengupayakan agar persoalan ini dapat terakomodir pada APBD 2014.

“Kami akan segera sampaikan ke pimpinan, karena cuma beliau yang dapat mengeluarkan kebijakan,”

katanya.

Beni menilai, hal ini wajar, sebab, persoalan ini cukup lama. Menurut dia, Pemda harus segera membayar hak masyarakat. Ia mengakui jika Pemda baru membayar Rp 13 juta dari total harga tanah tersebut. (b/k4/r5)

Thursday, 19-12-2013, SulPa

Penembakan Misterius di Freeport Skenario Asing?

Jayapura – Serangkaian aksi penembakan misterius di areal tambang PT Freeport Tembagapura Timika Papua, terus menjadi sorotan sejumlah pihak. DPR Papua tak henti-hentinya menyoroti aksi misterius yang hingga kini belum terungkap siapa pelakunya. Bahkan mensinyalir, aksi itu bisa saja skenario dari pihak asing.

”Perlu diwaspadai, kemungkinan serangkai aksi di Freeport bukan ulah lokal, tapi bisa saja pihak asing, dengan tujuan ingin mengeruk kekayaan alam kita, tanpa di awasi,”ujar Wakil Ketua Komisi A DPRP Bidang Politik Hukum dan HAM, Yanni , S.H., Senin 16 Desember.

Sinyalemen bahwa pihak asing bisa saja terlibat, lanjutnya, karena mudahnya pelaku dengan berbagai senjata dan amunisi yang dimiliki, masuk areal Freeport. “Pengawasan di areal Freeport kan sangat ketat, namun pelaku dan senjata yang dimilikinya, seperti mudah dimasukan untuk melakukan teror, ini salah satu yang mengindikasikan kemungkinan pihak asing bermain, dan seolah-olah OTK atau OPM sebagai pelakunya, “kata dia.” terangnya.

Apalagi, peristiwa penembakan misterius di Areal Freeport, sudah kerap terjadi, tapi pelaku belum pernah bisa diungkap. “Penembakan sudah sering terjadi, korban juga sudah cukup banyak, tapi siapa pelakunya tidak pernah terungkap.”paparnya.

Untuk itu, kata dia, aparat keamanan harus segera mengungkap pelaku serangkaian aksi penembakan misterius di areal Freeport, agar tak memunculkan berbagai persepsi atau opini yang kurang baik. “Persepsi publik kan jadinya negatif, karena pelaku teror tak pernah bisa diungkap dan ditangkap, jadi harus diungkap secepatnya,” tandasnya.
Ia juga meminta aparat keamanan dalam hal ini Kepolisian, untuk meningkatkan aksi razia atau sweeping senjata api, tajam maupun bahan peledak di Timika. “Dengan gencar menggelar razia, ruang gerak pelaku akan semakin sempit,”terangnya.

Mengenai pernyataan KSAD yang memerintahkan tembak ditempat bagi pelaku aksi teror di Freeport, harus di apresiasi, karena aksi itu sangat meresahkan dan mengganggu kegiatan tambang. “Kalau KSAD perintah ditempat, kita harus meresponnya, karena memang serangkaian aksi sudah sangat meresahkan,”pungkasnya.

Serangkaian aksi penembakan itu, sangat berimbas bagi kondisi keamanan di seluruh Papua, pasalnya, opini yang terbentuk khususnya di luar Papua, bahwa secara keseluruhan Papua tidak aman. “Kan yang dirugikan seluruh Papua, karena dianggap tidak aman, padahal kejadian hanya di Freeport,”tandasnya.

Sebelumnya, KSAD Jenderal TNI Budiman menganggap, eksistensi pengacau keamanan di Papua masih berjalan. Meski sudah memerintahkan Kodam XVII Cenderawasih dan jajarannya melakukan pendekatan persuasif.

“Penembakan yang diarahkan ke rombongan Komanda Korem 174/Anim Ti Weninggap atau ATW Brigadir Jenderal Bambang Haryanti dianggap, merupakan aksi melawan simbol negara. Selama ini kami anggap mereka saudara. Kalau mereka menggunakan senjata saya perintahkan hadapi juga dengan senjata. Sekalipun penyelidikan ditangani polisi, saya juga memerintahkan agar TNI ikut mengusut pelaku yang meresahkan masyarakat itu. Penembakan terhadap TNI juga harus dihadapi oleh anggota TNI,” kata Kasad Jenderal TNI Budiman.

Sementara itu Juru Bicara Polda Papua AKBP Pujo Sulistyo saat dikonfirmasi terkait perkembangan pengungkapan pelaku aksi teror penembakan di Freeport, mengatakan, pihaknya masih terus memburu para pelaku. “Kami masih kejar pelaku, bahkan guna mempersempit ruang geraknya, juga memperketat pengamanan di sepanjang areal Freeport,”ucapnya.

Selain itu, kata dia, pengawalan terhadap kendaraan perusahaan ditingkatkan. “Kendaraan perusahaan yang hilir mudik dari Timika ke Tembagapura dan sebaliknya, pengawalannya kami perketat,”ucapnya. (jir/don/l03)

Selasa, 17 Desember 2013 06:43, Binpa

Korban Tragedi Biak Berdarah, Dibakar, Dimutilasi, Dan Diperkosa Secara Brutal

Dua kapal yang berlabuh di perairan Biak pada saat tragedi Biak Berdarah ini diduga terlibat mengangkut mayat warga yang menjadi korban tembakan aparat keamanan saat itu (biak-tribunal.org)

Jayapura – Pemerintah Indonesia menghadapi opini publik yang berkembang paska pengadilan warga yang dilakukan di Sidney, Australia bulan Juli lalu. Aparat keamanan saat itu, dibuktikan oleh para saksi telah melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan penyiksaan terhadap lebih dari 150 warga sipil di pulau Biak, Papua Barat 15 tahun yang lalu.

Ringkasan temuan kunci dalam pengadilan warga yang diketuai oleh mantan jaksa agung NSW John Dowd, sekarang presiden Komisi Ahli Hukum Internasional ini menemukan bahwa dalam tragedi Biak Berdarah, 15 tahun lalu itu “sejumlah besar” orang Papua Barat telah disiksa dan dimutilasi. Diperkirakan lebih dari 150 orang tewas dan mayat mereka dibuang di laut setelah insiden tersebut. Namun Indonesia, dianggap tidak pernah mengakui hal tersebut. Pemerintah Indonesia mengklaim hanya satu orang yang tewas, sedangkan mayat-mayak lainnya yang ditemukan disebut sebagai korban tsunami.

“Pengadilan warga ini pada akhirnya berkesimpulan harus ada jaksa penuntut khusus yang melakukan investigasi di Indonesia .Ada kesempatan bagi Indonesia untuk memberikan kompensasi kepada korban.”

kata John Dowd yang memimpin pengadilan warga pada tanggal 6 Juli itu kepada Jubi, Senin (16/12).

“Pengadilan ini meminta Indonesia untuk melakukan penyelidikan itu. Mutilasi spesifik terhadap perempuan adalah kebijakan teror tertentu. Sulit untuk percaya manusia bisa berperilaku seperti para prajurit itu,”

kata Dowd melalui sambungan telpon.

Yuda Korwa, Eben Kirksey dan Tineke Rumkabu, tiga orang diantara para saksi dalam pengadilan warga di Pusat Studi Perdamaian dan Konflik , University of Sydney tanggal 6 Juli itu memberikan kesaksian mereka dalam insiden Biak Berdarah.

“Saya melihat banyak orang dibunuh oleh militer. Saya melihat orang-orang tua, wanita hamil dan anak kecil tewas. Salah satu tentara memukul saya dengan pistol dan wajah saya penuh dengan darah, Saya berpura-pura mati saat itu dan bersembunyi selama dua hari di gorong-gorong jalan. Saya mendengar ada orang yang berteriak minta pertolongan.”

kata Yuda Korwa yang saat itu masih berusia 17 tahun.

Dr Eben Kirksey, antropolog dari UNSW, lima belas tahun yang lalu sedang berada di Biak. Ia juga memberikan kesaksian dalam pengadilan warga itu.

“Seperti orang yang sedang bernyanyi, pasukan mulai menembak ke kerumunan. Orang-orang mulai berjatuhan dan sebagian lainnya berlarian,”

kata Eben.

“Orang-orang yang selamat digiring ke pelabuhan dan dinaikkan di kapal-kapal. Mereka bisa melihat orang mati dan sekarat karena tembakan aparat sedang dimuat ke truk. Wanita diperkosa dan dimutilasi setelah melihat teman mereka dipenggal.”

lanjut Eben dalam kesaksiannya.

Sedangkan Tineke Rumkabu, seorang perempuan Biak yang bersaksi untuk pertama kalinya, mengakui menyaksikan temannya dipenggal. Dia sendiri, mengalami penyiksaan yang hebat.

Bersaksi untuk pertama kalinya, Tineke Rumakabu mengaku melihat temannya dipenggal. Dia sendiri disiksa secara mengerikan .

Mantan jaksa NSW, Nicholas Cowdery yang membantu di pengadilan warga ini turut membantu Tineke Rumakabu mendeskripsikan penyiksaan yang dialami oleh dia dan temannya.

“Dia dibakar, dia dimutilasi – dipotong kelaminnya – diperkosa, diperlakukan dengan cara yang paling brutal dan oleh polisi Indonesia,”

kata Nicholas Cowdery tentang apa yang terjadi pada Tineke Rumakabu dan temannya.

John Dowd yang memimpin pengadilan tersebut menyebutkan tragedi Biak Berdarah ini menjadi terlupakan karena tak lama setelah insiden tersebut, Indonesia memulai tindakan militer di Timor Timur – yang akhirnya gagal, meskipun kekejaman serupa terbukti dilakukan terhadap warga sipil tak bersenjata. Inilah yang membuat perhatian dunia tertuju pada Timor Timur, tragedi Biak tidak pernah diselidiki.

“Kami ingin orang-orang yang bertanggung jawab harus dibawa ke pengadilan. Kami ingin penyelidikan, kami ingin penuntutan pidana dan kami ingin pemerintah untuk membayar kompensasi atas apa yang mereka lakukan kepada orang-orang di Biak saat itu.”

kata Tineke Rumakabu dan Yuda Korwa.

Pemerintah Indonesia menolak untuk mengomentari pengadilan warga ini. Indonesia juga telah meminta Australia mengambil tindakan terhadap pengadilan warga ini. Namun pihak Universitas Sidney yang menyelenggarakan pengadilan warga ini meminta pemerintah Australia untuk ikut bertanggungjawab terhadap segala bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk tragedi Biak Berdarah ini.

“Pemerintah Australia memiliki kewajiban terhadap orang-orang yang meninggal dan keluarga mereka untuk mengekspos apa yang telah terjadi saat itu. Ini untuk menghentikan hal itu terjadi lagi, ”

kata Dowd. (Jubi/Victor Mambor)

Author : on December 17, 2013 at 06:08:19 WP,TJ

Teror Penembakan di Freeport Makin Menjadi

JAYAPURA[Anggota Brimob saat melakukan penyisiran di sekitar Mile 42 pasca penembakan, Senin (10/12) lalu.PAPOS]-Aksi teror penembakan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata (KSB) di kawasan PT Freeport Indonesia di Timika makin menjadi. Mereka seperti tak mau memilih korban. Setiap kendaraan yang melintasi kawasan tersebut menjadi sasaran tembak.

Kali ini satu mobil yang mengangkut rombongan Komandan Korem 174/Anim Ti Waninggap (ATW) Merauke, Brigjen TNI Bambang Hariyanto diberondong tembakan di sekitar Mil 42, Kamis (12/12) sekitar pukul 12.30 WIT.

Teror penembakan oleh orang tak dikenal ini merupakan keempat kalinya. Sebelumnya tiga penembakan beruntun terjadi mulai Minggu (9/12) hingga Selasa (11/12).

Dalam kejadian tersebut Danrem Korem 174/Anim Ti Waninggap (ATW) Merauke selamat termasuk Dandim Timika, Letkol Dwi Lagan, anggota polisi dan petinggi PT. Freeport. Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Lismer Lumban Siantar dihubungi semalam membenarkan adanya penembakan tersebut.

”Memang benar ada penembakan, namun selain rombongan Danrem Merauke, ada rombongan dari polisi, kemudian Freeport juga. Tidak ada korban dari kejadian ini,”

ujar Kapendam kepada Papua Pos melalui ponselnya semalam.

Menurut Kapendam, penembakan itu terjadi ketika rombongan usai melakukan peninjauan pos-pos pengamanan di areal Freeport. ”Saat mereka usai melakukan peninjauan, rombongan ditembaki,” ujarnya.

Kapendam mengatakan, walau petinggi TNI ditembaki, namun pihaknya menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada kepolisian untuk menanganinya.”TNI sebatas memback-up kepolisian,” ucapnya.

Masih menurut Kapendam.,Kapendam menuturkan, pihaknya belum mengetahui secara pasti motif penembakan tersebut.”Kami belum tahu, sebab masih dalam penyelidikan kepolisian,” katanya. Kapendam menegaskan, pihak TNI siap membantu kepolisian untuk melakukan pengejaran terhadap para pelaku penembakan.

Kenny Kwalik Dibalik Penembakan

Sementara Kapolda Papua, Irjen Polisi Tito Karnavian mengatakan dari pengembangan penyidikan diketahui bahwa aksi teror penembakkan di area Freeport tersebut diduga ada keterlibatan kelompok bersenjata Kali Kopi pimpinan Teny Kwalik yang bermarkas di Tanggul Timur.

“Kita sudah tahu mereka sehingga kita sedang meningkatkan pengamanan di area Freeport dengan melakukan patroli, pengawalan dan penjagaan. Kita tingkatkan dan intensifkan,” kata Tito kepada wartawan di Timika, Kamis pagi.

Meski aksi teror penembakkan kembali marak, namun Polda Papua belum berencana menambah pasukan pengamanan PT Freeport.

“Tidak ada penambahan pasukan karena personil yang disiagakan untuk melakukan pengamanan sebanyak 800 orang untuk menghadapi kelompok ini,”

kata Tito.

Dari data pihak kepolisian, kelompok bersenjata pimpinan Teny Kwalik berjumlah sekitar delapan hingga 10 orang. Kelompok ini diketahui memiliki beberapa pucuk senjata api. Senjata itulah yang selama ini digunakan untuk melakukan teror penembakan terhadap sejumlah kendaraan yang melintas di ruas jalan Timika-Tembagapura maupun ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro.

Usai melakukan aksi teror penembakan, kelompok tersebut langsung melarikan diri ke dalam hutan.

Kapolda Papua mengakui pekan lalu jajarannya menerima surat selebaran yang mengatasnamakan Markas Komando Militer III Timika pimpinan Teny Kwalik.

Selebaran serupa diterima pihak Kodim 1710/Mimika. Dalam surat tersebut, kelompok Teny Kwalik menuntut agar limbah Freeport yang berdekatan dengan markas mereka harus dihentikan karena mereka merasa dirugikan.

“Motif inilah yang sedang kami pelajari bersama Freeport dan berupaya melakukan komunikasi dengan kelompok ini untuk menanyakan apa keinginan mereka. Jika mereka mengakui betul persoalan limbah Freeport maka kita akan berkoordinasi dengan Freeport untuk mencari jalan keluarnya dengan memindahkan aliran pembuangan limbah itu,”

kata Tito.

Selain limbah Freeport, perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu diketahui juga mengambil material batu dan pasir dari area Kali Kopi untuk membangun Tanggul Timur.

Kelompok bersenjata pimpinan Teny Kwalik diketahui merupakan kelompok yang sudah lama terbentuk. Kelompok Teny Kwalik diketahui juga mendalangi serangkaian aksi teror penembakan di area Freeport sejak 2009.

Dengan semakin gencarnya pembangunan Tanggul Timur sebagai dinding pembatas area pengendapan tailing PT Freeport, kelompok Teny Kwalik merasa makin dibatasi ruang geraknya. [tom]

Jum’at, 13 Desember 2013, Ditulis oleh Tom/Papos  

 

Teror Penembakan di Freeport Terus Berlanjut

Aparat Kepolisian Densus 88 Anti-Terror
Aparat Kepolisian Densus 88 Anti-Terror

JAYAPURA[PAPOSSalah satu korban penembakan, Senin (9/12) lalu Agustinus Weiyai sopir truk tangki (paling kiri) memberikan kesaksian terkait insiden yang menimpanya kepada anggota B Brimob Timika.]-Teror penembakan yang dilakukan orang tak dikenal di areal PT Freeport terus berlanjut. Kali ini orang tak dikenal menembaki konvoi jenis Toyota LWB dengan nomor lambung 01-4758 yang dikemudikan H Ridwan, Selasa (10/12) sekitar pukul 13.00 WIT. Dalam peristiwa penembakan tersebut tidak ada korban jiwa.

Mereka ditembaki dari arah kanan jalan sekitar 50 meter sebelum pos mil 40. Akibat penembakan ini, terdapat 3 buah lubang bekas tembakan, masing-masing 2 di bodi kanan kendaraan dan satunya di kaca spion kanan.

Sebelumnya pada Senin (9/12) lalu, sopir water truk yang diketahui bernama Agustinus Weyai ditembaki di sekitar lokasi yang sama yakni mile 40. Begitupun dengan anggota TNI ditembaki saat melitas di kawasan tersebut.

Pasca-insiden penembakan siang tadi, konvoi truk pengangkut bahan peledak terpaksa tertahan di pos mil 40. Sementara tim Brimob dari Detasemen B Timika, langsung mengejar pelaku penembakan.

”Pelaku terus dikejar anggota kami, pelaku diduga bersembunyi di sekitar hutan”

ucap Kabidhumas Polda Papua, AKBP Sulistyo Pudjo Hartono,SIk saat dikonfirmasi Papua Pos via ponselnya, Selasa (10/12).

Kabid Humas mengatakan polisi sudah melakukan olah TKP mengamankan barang bukti berupa , 1 unit kendaraan LWB No Lambung 01-4758.

Pihak kepolisian mencurigai pelaku penembakan merupakan orang yang sama yang sebelumnya melakukan penembakan di lokasi yang sama.

”Pelaku kemungkinan orang yang sama, hanya motifnya masih didalami,”

ujarnya.

Disinggung kondisi karyawan Freeport, pasca aksi penembakan yang sudah berlangsung 3 hari berturut-turut ini, Kabid Humas mengatakan kondisi ini tentu membuat karyawan PT Freeport terganggu dalam menjalankan aktivitas mereka,” ucapnya.[tom]

Rabu, 11 Desember 2013, Ditulis oleh Tom/Papos

Menyambangi “Markas Raja Cycloop” di Hutan Distrik Ravenirara (Bagian 1)

Laporan : Ibrahim S/Walhamri Wahid

Eduard Okoseray Korban Penembakan di Kampung YongsuSEBUAH pesan singkat masuk di handphone saya Selasa malam (3/12/2013), instruksi dari Pemimpin Redaksi (Pimred) untuk menghubungi beberapa kontak person yang bisa mengantarkan saya untuk masuk ke markas tempat persembunyian Adrianus Apaseray dan beberapa orang rekannya yang belakangan ini ramai di juluki sebagai “Raja Cycloop” oleh polisi.

Beberapa daftar pertanyaan yang harus saya konfirmasi, plus petunjuk teknis liputan demi keamanan saya menjadi bekal dari Pimred via SMS itu.

Sehari pasca penyerbuan dan penyisiran polisi di Kampung Yonsu Spari saya mencoba bertemu “Raja Cycloop”, namun karena masih di liputi suasana duka dan amarah pasca tertembaknya Eduard Okoseray salah satu rekan seperjuangan mereka, sehingga beberapa kontak person yang coba saya hubungi tidak berani menjamin keamanan saya nantinya.

Rabu (4/12/2013) saya berhasil berjumpa dengan beberapa kontak person Adrianus Apaseray yang masih kerabatnya juga, meski awalnya mereka masih ragu untuk mempertemukan saya, karena selain khawatir akan keselamatan saya, nampaknya juga ada sedikit keraguan terhadap saya yang nantinya akan membocorkan rahasia keberadaan “Raja Cycloop” yang masih menjadi buruan polisi tersebut.

Selama perjumpaan dengan kontak di daerah Sentani tersebut, saya aktif berkomunikasi dengan Pimpinan Redaksi sejauh mana peluang untuk bertemu, menjelang siang saya di khabari oleh si penghubung bahwa tidak ada peluang untuk bertemu Adrianus Apaseray, karena situasinya belum kondusif, jadi semua rencana batal, dan saya diminta untuk memberitahukan hal tersebut kepada Pimpinan Redaksi via SMS.

“demi keamanan kamu, kalau sikonnya tidak aman, sebaiknya batalkan saja”, pesan singkat yang saya terima dari Pimred, namun berselang 30 menit kemudian saya di minta untuk mematikan HP dan si penghubung mengajak saya untuk berjalan – jalan ke Depapre sambil membaca sikon katanya, dan semenjak itu kontak saya dengan kantor dan keluarga putus sama sekali.

Namun rupanya hal itu merupakan bagian dari strategi si penghubung untuk memastikan bahwa saya cukup steril untuk di bawa masuk ke hutan tempat persembunyian Adrianus Apaseray.

Kami sampai di Kampung Dormena sudah sore hari, dengan dalih menunggu kontak dari “orang dalam”, kami bermalam di Kampung Dormena, dan pagi – pagi sekali kami berjalan kaki menuju ke Kampung Yonsu Spari Distrik Ravenirara, sesekali kami melalui jalan setapak yang penuh dengan becek karena di guyur hujan, kadang kala kami harus naik ke ketinggian tebing menyusuri jalan berbatu, kurang lebih 1 jam berjalan akhirnya kami sampai di Kampung Yonsu Spari.

Suasana lengang, rumah – rumah warga masih tak berpenghuni, ada sekitar 4 orang laki – laki dewasa yang saya lihat berada di dalam kampung, tapi mereka hanya sekedar melihat – lihat saja.

Saya mencoba memastikan apakah ada patroli polisi atau aparat yang berjaga – jaga di kampung tersebut, namun tidak satupun aparat yang saya temukan, padahal sehari sebelumnya di salah satu media lokal, Kabidhumas Polda Papua mengatakan bahwa untuk menjamin keamanan warga telah ditempatkan satu peleton anggota polisi di Kampung Yonsu Spari pasca penyerbuan.

Setelah duduk beristirahat di dekat salah satu rumah warga yang di bakar, akhirnya kami dijemput oleh “orang dalam” anak buah Adrianus Apaseray dan perjalanan kami lanjutkan kembali membelah rerimbunan hutan Distrik Ravenirara. Semak belukar lebat, dan bebatuan yang tajam di tambah perasaan was – was menjadi satu symphoni yang bergemuruh dalam hati saya. Saya baru terpikir, bahwa sudah sehari saya tidak ada kontak dengan keluarga maupun kantor, bisa jadi mereka akan cemas memikirkan keberadaan saya, namun sepanjang jalan, dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga ini bukan perjalanan terakhir dan tugas terakhir saya sebagai wartawan.

Kurang lebih 1 jam kami berjalan kaki akhirnya kami tiba di sebuah gubuk – gubuk kecil tanpa dinding yang menjadi “markas” kelompok ini, tanpa komando kami bertiga langsung merebahkan diri di tanah, melepas segenap penat, peluh bercucuran memancing rasa dahaga.

“mari minum teh dulu, pasti haus dan capek to”, kata beberapa orang pemuda yang berada di pondok tersebut sembari menyuguhkan teh hangat kepada kami usai bersalaman.

Hati saya plong melihat penerimaan mereka yang bersahabat terhadap saya, tidak ada tampang sangar, apalagi mencurigai saya, mereka memeluk saya erat seperti bertemu teman lama, dan kami akhirnya bercengkerama untuk mencairkan suasana.

Beberapa saat kemudian dari balik rerimbunan pohon di belakang pondok kecil tersebut muncul sosok lelaki bertubuh tegap postur semampai dengan sepucuk senapan menggelayut di pundaknya menyapa kami.

“selamat siang, bagaimana capek kah ?”, tanyanya mengulurkan tangan sambil tersenyum memperkenalkan diri, saat itulah baru saya tahu bahwa dia adalah Adrianus Apaseray, yang di juluki oleh polisi sebagai Raja Cycloop selama ini.

Saya memberinya oleh – oleh berupa koran – koran lokal yang mengulas pemberitaan tentang dirinya yang dijuluki sebagai Raja Cycloop dan kronologis penyerbuan kampung Yonsu di penghujung November kemarin, semua koran yang ada ia baca habis.

“tidak benar semua yang dikatakan polisis, tidak ada kontak senjata”, katanya dengan mimik sedikit menahan emosi sambil mengoper koran yang sudah ia baca kepada rekan lainnya.

Sejurus kemudian ia mulai menceritakan ihkwal penyerbuan polisi di pagi hari Jumat (29/11) lalu, dimana menurutnya saat itu ia tengah berada di dalam rumahnya, ketika terdengar bunyi rentetan tembakan dari ujung kampung, ia berlari keluar rumah dan menuju ke hutan dengan membawa senjata, bahkan ia sendiri tidak mengetahui dari arah mana bunyi tembakan tersebut, namun saat itu ia meyakini bahwa yang datang adalah polisi dan targetnya adalah dirinya.

“mereka bukan menyergap, targetnya kan saya, kalau memang saya yang mereka mau sergap mestinya rumah – rumah kami yang di kepung, tapi yang polisi lakukan adalah menyerbu kampung, menghambur tembakan sehingga warga panik dan berlarian menyelamatkan diri, jadi tidak benar kalau polisi bilang kami ada melawan, karena penyerbuaan itu mendadak, di pagi hari, jadi tidak ada yang melawan, semua warga karena takut langsung panik dan lari meninggalkan kampung”,

kata Adrianus membantah pernyataan polisi soal adanya kontak senjata dan hujan anak panah dari masyarakat ke arah polisi.

Saat itu semua masing – masing warga berpikir menyelamatkan diri dan keluarga masing – masing, setelah kampung kosong, barulah anggota polisi beraksi menggeledah bahkan merusak rumah – rumah warga yang mereka curigai sebagai pengikut Adrianus.

“saya sudah di tengah hutan pinggiran kampung dan bertemu beberapa warga lainnya dan mereka menceritakan kepada saya bahwa Eduard Okoseray tertembak dan jatuh di jalan kampung kok, di depan mata aparat, dan mereka semua tahu yang mereka tembak itu manusia, jadi kalau mereka menyangkal tidak ada korban itu sama saja pembohongan publik, atau mereka pikir yang mati itu bukan manusia kah ?”,

katanya dengan nada tinggi menahan geram.

Ia juga sangat menyesalkan, bahwa setelah Eduard tertembak, jasadnya di biarkan tergeletak hingga tengah hari, padahal menurutnya teroris saja yang sudah nyata – nyata membunuh orang jasadnya pasti masih di hargai aparat, di angkat atau di tangani secara layak.

“Tidak, kami tidak melakukan perlawanan, itu polisi dong’ tipu hanya untuk menutupi kesalahan dan membenarkan diri mereka. Kami sama sekali tidak melakukan kontak senjata mengingat ada warga yang takut pada saat itu untuk menyelamatkan diri. Kalau kitong baku tembak tentu warga banyak yang mati dan pasti polisi akan menuduh kami yang melakukannya, padahal kami tidak mungkin membunuh warga yang tidak tahu apa-apa”,

katanya ketika saya mencoba mengejar apa benar ia tidak melakukan perlawanan pagi itu.

Ia kembali menegaskan bahwa ketika itu mereka semua tanpa kecuali memilih menyelamatkan diri, karena polisi yang datang langsung mengarahkan senjata kepada mereka sebagai target.

“Tidak ada tembakan peringatan atau seruan untuk menyerah layaknya sebuah penggerebekan, tapi tembakan polisi itu sudah mengarah langsung ke sasaran sehingga dari pagi masuk polisi sudah menembak Eduard Okoseray ketika lari kurang lebih 100 meter jatuh di jalan mobil, karena Eduard Okoseray lari untuk menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil serta istrinya namun ia ditembak mati jatuh di jalan mobil”,

katanya lagi.

Menjelang tengah hari setelah mereka memastikan bahwa polisi sudah meninggalkan kampung, akhirnya Adrianus dan beberapa warga lainnya memutuskan kembali ke kampung, dan menguburkan jenazah Eduard Okoseray dengan di pimpin oleh seorang pendeta.

“memang kami marah ketika itu setelah tahu teman ada yang mati, jadi kami bakar beberapa rumah yang kami duga kuat sebagai informan polisi sehingga terjadi penyerbuan kemarin”,

katanya mengakui bahwa ia memang yang membakar beberapa rumah warga.

“Kapolda dan Kapolres Jayapura stop tipu sudah kalau tidak ada korban, mereka harus mengakui bahwa telah menembak Eduard Okoseray teman kami. Kalau tidak percaya datang sendiri lihat kuburannya, atau tanyakan langsung kepada keluarganya atau Pendeta yang telah memakamkan jenazah teman kami setelah aparat meninggalkan kampung Yongsu”.

kata Adrianus Apaseray.

Lantas bagaimana asal muasal julukan Raja Cycloop yang kini melekat di sosoknya dan bagaimana ia menggambarkan aktivitas maupun perjuangan kelompoknya dimana ia mengaku anak buah dari Brigjen Hans Yoweni, Panglima TPN/OPM Wilayah Mamta ? Nantikan laporan perjalanana eksklusif saya di edisi esok yah ! (Bersambung)

Selasa, 10-12-2013, SuluhPapua.com

Per November 2013, 537 Penangkapan Politik dan 71 Tapol di Papua

Para Tahanan Politik Papua. Foto: Tapol / PMC

Jayapura — Intensitas politik di tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) meningkat pada tahun 2013. Seiring dengan itu, jumlah penangkapan dan tahanan politik (tapol) ikut meningkat.

Sebuah situs Tapol Papua, papuansbehindbars.org merilis, per November 2013 telah terjadi penangkapan politik  sebanyak 537. Dari jumlah itu, sebanyak 112 penangkapan politik terjadi pada tiga peristiwa terpisah.

“Ini merupakan peningkatan 165% jumlah penangkapan politik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2012, yang menandakan penurunan tahap kebebasan berekspresi dan berkumpul di Papua,”

tulis lamanpapuansbehindbars.org.

Penangkapan politik ini membuat jumlah Tapol di penjara tanah Papua meningkat. Pada bukan sebelumnya, September 2013, terdapat 54 Tapol dalam penjara di Papua. Tetapi, dalam satu bulan, akhir November 2013 meningkat menjadi  71 Tapol  di Papua.

“Tindakan kepolisian terhadap kegiatan demonstrasi yang semakin teratur dan berkoordinasi di Papua menjadi perhatian bulan ini, termasuk beberapa penangkapan massa sewenang-wenang, penggunaan berulang kali kekerasan yang berlebihan, menghalangi pengacara hukum mengakses tahanan, melakuan tindakan kejam dan menghina tahanan, dan menangkap dan memaksa aktivis mahasiswa untuk menandatangani perjanjian untuk menghentikan unjuk rasa,”  tulisnya.

Lebih lanjut ditulis, “Mahasiswa Universitas Cenderawasih (UNCEN) tersandera dalam bentrok dengan pihak universitas atas keterlibatan dosen dalam kegiatan kontroversial, yakni penyusunan perubahan draft RUU Otonomi Khusus. Otoritas kampus tampaknya aktif mengundang polisi untuk memberangus aktivitas politik di kampus, yang menyebabkan banyak penangkapan dan pemukulan mahasiswa. Sejumlah pemimpin Papua telah menyatakan keprihatinan atas apa yang mereka anggap sebagai usaha polisi untuk secara sistematis menutup ruang politik, khususnya menjelang tanggal penting seperti 1 Mei, dan dalam hal ini 1 Desember.”

Dijelaskan media Tapol itu, pada 26 November, sebanyak 80 orang ditangkap di empat kota yang berbeda karena mendukung pembukaan kantor Kampanye Papua Barat Merdeka di Papua Nugini dan kampanye Sorong ke Samarai. Satu orang demonstran tewas dan tiga lainnya telah menghilang.

Sementara di Biak, sidang untuk enam tahanan 1 Mei Biak masih berlanjut dan Yohanes Boseren tetap dalam tahanan meskipun sakit mental. Pengacara HAM dan LSM telah menyerukan pembebasannya. investigasi juga berlanjut atas kasus empat tokoh masyarakat Sorong yang menghadapi tuduhan konspirasi untuk melakukan makar.(GE/papuansbehindbars.org/MS)

Minggu, 08 Desember 2013 12:22,MS

1 Anggota “Raja Cyclop” Dipastikan Tewas Tertembak

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.SiSENTANI – Meski pihak kepolisian menyatakan masih akan mengecek kebenaran tentang informasi adanya korban yang tewas dalam penyergapan ‘Raja Cyclop’ di Yongsu, namun data terkini memastikan adanya 1 orang tewas dalam kontak senjata antara aparat dengan kelompok Raja Cyclop tersebut.

Korban diketahui bernama Eduar Okoseray di bawah pimpinan Adrianus Apeseray selaku mantan Kepala Kampung Yongsu. Korban dipastikan tewas tertembak dalam kasus kontak senjata dengan anggota Kepolisian Resort Jayapura di Markas “Raja Cyclop” Kampung Yongsu Spari, Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura tanggal 29 November lalu.

Eduar Okoseray selaku Sekretaris Kampung Yongsu, yang tewas ditembus timah panas yang diduga dari pihak kepolisian itu, berdasarkan penyampaian dari salah satu Pendeta setempat selaku Ketua Majelis, yang mengurus pemakaman korban.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si., membenarkan adanya salah satu dari kelompok Raja Cyclop meninggal akibat kontak senjata pada tanggal 29 November lalu, dan korban tersebut masih berstatus Sekretaris Kampung Yongsu.
“Memang dari penyampaian pendeta setempat yang melakukan pemakaman bahwa dari kelompok mereka yang bernama, Eduard Okoseray meninggal karena terjadi kontak senjata saat dilakukan penyergapan terhadap kelompok yang kerap selama mengintimidasi masyarakat setempat,” kata Bupati kepada wartawan di ruang Tamu Bupati Jayapura, Rabu (4/12) kemarin.

Namun menurut Bupati Awoitauw bahwa tindakan yang dilakukan pihak kepolisian sudah sesuai prosedur dan tindak yang benar, sebab kelompok tersebut sudah sering membuat masyarakat resah, sehingga dengan adanya informasi yang terima oleh kepolisian maka, mereka mencoba untuk menghindari kelompok itu untuk tidak melakukan ancaman-ancaman kepada masyarakat setempat.

“Kejadian itu, mungkin karena waktu penyisiran yang dilakukan oleh pihak kepolisian ada sedikit perlawanan dari kelompok yang dipimpin oleh Adrianus Apeseray selaku mantan Kepala Kampung Yongsu, sehingga dari kontak senjata itulah, Eduard Okoseray terkena tembak,”

jelasnya.

Kebenaran itu, menurut Bupati, disampaikan langsung oleh Pendeta setempat selaku Ketua Majelis yang mengurus pemakaman korban, yang mana sejak itu masyarakat semuanya telah mengungsi akibat peristiwa yang sebelumnya dilakukan kelompok tersebut.

Bupati Awoitauw menjelaskan, sampai saat ini masyarakat yang berjumlah 65 kepala Keluarga (KK) dan 215 jiwa mengungsi ke daerah lain. Diantaranya, Kampung Dormena, Depapre, Sentani, Waena, Dok 9 dan Padang Bulan.

Namun untuk mengantisipasi itu, Pemerintah Daerah sedang melakukan penanganan agar masyarakat yang mengungsi bisa kembali ke Kampungnya guna melakukan aktivitas seperti biasanya.

Dikatakan, penanganan yang dilakukan terhadap masyarakat ini, Pemerintah sudah menyiapkan bantuan sosial mulai hari Sabtu kemarin lalu, dan sekarang sudah ada posko baik di Kampung Dormena maupun di Kampung Yongsu itu sendiri.

“Posko ini dalam rangka pemulihan dan pengembalian masyarakat, juga kepada dinas P dan P sudah kita komunikasikan untuk bagaimana ada anak-anak yang mengungsi ini bisa ikut ujian susulan dan minggu depan ini sudah ada belajar dengan baik,”

katanya.

Alasan detail masyarakat mengungsi, lanjut Bupati Awoitauw, karena mereka diancam kelompok tersebut, sehingga pihak kepolisian mencoba mendatangi agar kelompok ini tidak melakukan pengancaman terhadap masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Selama ini mereka mengintimidasi masyarakat dengan menggunakan senjata rakitan.

Bahkan, diakuinya, masyarakat sebenarnya di Kampung Yongsu Spari sangat banyak, namun karena kelompok tersebut mereka memiliki senjata, dan Bom Molotov, akhirnya masyarakat mengkhawatirkan sehingga masyarakat mengungsi. “Kelompok itu ada lima orang, dan kita berharap mereka bisa kembali,” katanya.
Mengenai rumah yang dibakar, lanjut Bupati, ada sebanyak tiga unit rumah milik yang dibakar oleh kelompok tersebut. Mereka melakukan pembakaran karena mereka mencurigai bahwa warga ini selalu menjadi penghubung kepada pihak kepolisian.

Untuk itu, pihaknya akan berusaha mengembalikan masyarakat ke kampungnya agar aktivitas mereka bisa berjalan dengan normal, sekolah juga bisa berjalan apalagi dalam menyongsong perayaan Natal dan Tahun baru 2014 mendatang.

“Kita ingin daerah kita tenang, dan kami pemerintah daerah sendiri tetap mengupayakan memperhatikan kampung tersebut agar mereka terhindar dari hal-hal yang kita tidak inginkan,”

harapnya. (Loy/don/l03)

Source: Kamis, 05 Desember 2013 11:06, Binpa

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny