Ribuan Jiwa Belum Diketahui Nasibnya

Jalan Menuju Distrik Angkaisera yang terputus, akhirnya akses ke tiga Kampung Terputus totalSERUI—Hingga hari ke delapan, pasca gempa tektonik berkekuatan 7,1 SR, yang mengguncang Kabupaten Yapen, ribuan jiwa di tiga kampung yang terletak di dua distrik belum diketahui nasibnya. Pasalnya lokasi tersebut sampai saat ini masih terisolir sehingga belum terjangkau pelayanan. Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Yapen, Yotam Ayomi di Distrik Ampimao, Kamis (24/6) kemarin menjelaskan, tiga kampung yang belum terjangkau pelayanan distribusi bantuan gempa adalah kampung- kampung Ambaidiru dan kampung Mambor di Distrik Yapen Selatan, sedangkan kampung Notabui di Distrik Yapen Barat.“Untuk kampung Notabui ini sudah bisa kami jangkau dengan jalan kaki, namun distribusi bantuan yang belum bisa dilakukan, karena medan yang sulit serta jarak tempuh yang cukup jauh,” sebut Ayomi. Oleh karena itu, kata Ayomi, pemerintah kabupaten Kepulauan Yapen membuka diri kepada Pemerintah Daerah di kabupaten/kota di Provinsi Papua dan Papua Barat maupun corporete (perusahaan) terkait dengan pendistribusian bantuan lewat udara. “Akses jalan ke tiga kampung itu terputus, dengan demikian kami sudah mencoba menghubungi pihak-pihak yang mempunyai helikopter namun belum bisa terjawab dan dari hasil koordinasi kami ke Biak serta PT Freeport, helikopter mereka rusak,” jelas Ayomi.

“Kami membuka diri kepada saudara-saudara kami di Papua dan Papua Barat agar bisa membantu kami, karena jalan satu-satunya adalah lewat udara, tidak ada jalan lain lagi,” ungkapnya.

Wagub Alex Hesegem yang dikonfirmasi terkait dengan nasib ribuan jiwa di tiga kampung yang belum mendapatkan bantuan hingga hari ke delapan pasca gempa Yapen, tidak dapat memberikan kepastian. Wagub hanya mengatakan bahwa sementara ini pemerintah Provinsi Papua sedang melakukan berbagai upaya untuk bisa menjangkau tiga kampung yang terisolir tersebut.”Kami sedang berusaha, dan mungkin satu atau dua hari ke depan sudah ada helikopter yang bisa dipakai untuk mendrop bantuan ke sana,” tandas Wagub. (hen)

Bebaskan Tapol Papua Seperti Aceh

Pieter Ell SHJAYAPURA—Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didesak untuk segera membebaskan Tahanan Politik (Tapol) dan Narapidana Politik (Napol) di seluruh  Tanah Papua. Pasalnya, sesuai perjanjian Hensilki tahun 2006, pemerintah pusat telah membebaskan Tapol dan Napol yang terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tapi  Tapol dan Napol di Tanah Papua masih terus menjalankan hukuman di penjara, baik di Jayapura maupun pada  penjara pada  beberapa kota di Pulau Jawa.

“Kalau Tapol dan Napol di Aceh telah dibebaskan, tapi  Tapol dan Napol masih ada di Tanah Papua.  Saya minta Presiden SBY  saat ini juga  segera bebaskan Tapol dan Napol di Tanah Papua tanpa syarat, “ tukas  Pieter Ell SH, pengacara hukum tersangka kasus makar saat dikonfirmasi Bintang Papua di Jayapura, Selasa (22/6) siang terkait  pernyataan pollitik dari Ketua Komite  Nasional Papua Barat (KNPB) Buchtar Tabuni mendesak aparat keamanan segera menangkap dan memproses hukum  massa MRP yang menuntut referendum saat   menyerahkan 11 poin tuntutan dari hasil Musyawarah Besar (Mubes) MRP  pada Jumat(18/6) siang di Gedung DPRP, Jayapura. Menurut Pieter Ell, penyidik polisi pada saat  KNPB melakukan aksi unjukrasa  langsung menjerat Buchtar Tabuni dan kawan kawan melakukan makar dan penghasutan serta  menuntut kemerdekaan bagi  bangsa  Papua Barat. Tapi kini penyidik polisi berbeda saat massa MRP melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Buchtar Tabuni dan kawan kawan yakni  menuntut referendum.   “Penyidik polisi dulu dan kini berbeda, padahal aturannya sama,” tuturnya.  Dia menegaskan, kedepan siapapun yang mendengungkan orasi bernuasa politik tak perlu ditangkap, karena unsur membentuk negara  dan memisahkan diri dari NKRI  mesti memenuhi 3 unsur unsur penting,  yakni  ada pengakuan dari negara lain, ada rakyat serta wilayah. “Kalau tidak memenuhi unsur unsur penting tersebut maka apapun yang dilakukan seseorang  tak bisa dikategorikan makar,” tukasnya.

Dia menambahkan, Buchtar Tabuni dan kawan kawan adalah korban ketidakprofesionalan aparat keamanan seiring dengan kebijakan Presiden SBY  yang dinilai diskriminatif dalam penegakan hukum dan HAM di Tanah Papua.   Karena itu, lanjutnya, aparat keamanan dalam hal ini Polda Papua mesti profesional dan proporsional. Pasalnya, apapun tindakan  yang dilakukan aparat keamanan dalam mengamankan kasus- kasus yang bernuansa politik di Tanah Papua tak terlepas dari kebijakan Presiden SBY yang belum memberikan grasi bagi Tapol dan Napol diseluruh Tanah Papua.  (mdc)

Korban Gempa Yapen, Jadi 17 OrangTewas

Satu Korban Ditemukan Tanpa Kepala

Catatan WPMNews

Sudah tiga tahun WPMNews memberitakan peristiwa-peristiwa alamiah, yang pada umumnya disebut Musibah alamiah, sebagai berita dalam Topik “Alam Bicara”, yang pada dasarnya hendak menunjukkan betapa Alam dan Adat Papua sudah sedang beroperasi mengobrak-abrik NKRI dan segala jaringannya dalam rangka penegakkan Hukum Alam dan Hukum Adat Papua sampai NKRI mengakui West Papua sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, tetangga NKRI sendiri.

Setiap hari, sekali lagi, setiap hari kebakaran dan ‘musibah’ terus melanda NKRI. Itu bukan mimpi, atau dongeng. Waktu WPMNews menerbitkan peringatan tentang Penegakkan Hukum Alam dan Hukum Adat tiga tahun lalu, ada banyak orang tidak percaya. Tiga tahun berselang, peristiwa itu terus berlanjut, dan orang2 di negeri bernama Indonesia ini sudah merasa suatu hal biasa. Biarkan saja.

Yang menarik, peristiwa itu sedang menginjakkan kakiknya ke wilayah West Papua.

  1. Apa artinya?
  2. Apa maksudnya?
  3. Kenapa begitu?
  4. Apakah itu hanya MUSIBAH ALAM?

Silahkan tanyakan hati nurani dan jawab sendiri.

 

Wassalam!

 

CEB Diary of OPM

——————————————————-

Gempa Tektonik Kab Yapen, selain menelan puluhan korban jiwa, juga menimbulkan korban materi, 3.264 rumah warga rusak berat, 55 unit sekolah rusak berat dan 106 tempat ibadah rusak berat. Salah satunnya tampak dalam gambar ini.SERUI—Jumlah korban Gempa Yapen terus bertambah. Jika sebelumnya Tim Penanggulangan Bencana Gempa Tektonik Kabupaten Yapen melaporkan bahwa jumlah korban mencapai 16 orang, maka Rabu (23/6) kemarin bertambah lagi satu korban, sehingga total korban gempa saat ini 17 orang tewas.  Sekda Kabupaten Kepulauan Yapen, Yan P. Ayobaba di Posko penanggulangan bencana gempa kantor Bupati Kepulauan Yapen, Rabu (23/6) kemarin, mengatakan pihaknya baru menerima laporan dari masyarakat bahwa satu korban di Distrik Ambai. “Kami baru saja terima laporan dari masyarakat Kampung bahwa ada satu korban meninggal di Ambai, karena terhimpit pintu rumah saat akan menyelematkan diri,” jelas Sekda.

Lambatnya laporan korban jiwa akibat gempa Yapen ke Tim dari distrik Ambaidiru ini, sebut Sekda, karena tujuh hari pasca gempa, beberapa ruas jalan menuju ke sejumlah distrik di Kabupaten Kepulauan Yapen terputus total, selain itu juga longsoran yang terjadi di beberapa ruas jalan. “Kami sudah kirim Tim untuk berjalan kaki ke sana, memang kondisi disana kami belum tahu pasti tapi dari laporan masyarakat, kerusakan di sana tidak separah distrik Ampimoi,” terang Sekda.  Menyinggung distribus bantuan ke distrik Ambaidiru, Sekda mengatakan, pendistribusian bantuan memang belum bisa dilakukan dalam waktu dekat, namun saat ini pihaknya sedang berusaha untuk melakukan pendistribusian lewat udara.”Kami sudah minta helicopter di Biak namun kondisinya kini sedang rusak, kami sedang berupaya melobi beberapa maskapai untuk memberikan keringanan pada kami dalam pendistribusian bantuan,” ungkap Sekda.

Untuk diketahui data terakhir yang berhasil dihimpun Tim Penanggulangan Bencana Gempa Tektonik Kabupaten Kepulauan Yapen per-22 Juni 2010 di 12 Distrik sebagai berikut 3.264 Rumah warga rusak berat, 55 unit sekolah rusak berat dan 106 tempat ibadah rusak berat. Kerusakan paling parah terjadi di distrik Angkaisera dengan total kerusakan 1.195 rumah rusak berat, menyusul dstrik Yapen Selatan dan distrik Ampimoi masing-masing 920 rusak berat dan 685 rusak berat.

Pencarian Korban Longsor Resmi Dihentikan

Sementara itu, pencarian 12 korban angkutan umum yang tertimbun longsor di kilometer 28, perbatasan Serui-distrik Saubeba, Rabu(23/6) kemarin, resmi dihentikan. Sesuai kesepakatan bersama, keluarga korban dan warga yang hadir menggelar doa bersama dan tabur bunga di lokasi tersebut.    Upaya evakuasi belasan korban yang tertimbun, oleh tim SAR gabungan, dihentikan karena medan yang berat. Selain itu, getaran gempa yang masih mengguncang daerah Serui dan sekitarnya, ikut membuat pencarian tersebut terhenti. Beberapa keluarga korban sempat menangis histeris saat melakukan penaburan bunga. Sesuai pantauan, sejumlah keluarga korban nampak tidak menerima musibah yang menimpa saudaranya.

Selasa (22/6) kemarin, warga berhasil menemukan kembali satu warga, di lokasi yang sama. Namun, korban yang belum diketahui identitasnya ini, ditemukan tanpa kepala, dekat tempat penemuan dua korban sebelumnya. Oleh warga, korban lalu diambil dan disemayamkan di kampungya.  Ketua tim SAR gabungan, Kapten Widagdo mengatakan, kondisi medan yang sulit membuat pihaknya kesulitan mencari korban. Akibatnya, pencarian resmi dihentikan, sesuai permintaan keluarga korban. “pencarian juga dihentikan karena batas waktu yang ditentukan, medan yang dilalui juga menyulitkan kami untuk mencari para korban,” jelasnya. Sejauh ini, sudah tiga korban penumpang angkot yang ditemukan. Mereka adalah, Rumboirosi (5), Agus Karubaba (37) dan Selviana Ambokari (3). Sedangkan, dua korban lainnya yang juga tertimbun di KM 30, akan dilanjutkan pencariannya oleh tim SAR. Keduanya adalah pekerjabronjong jalan, PT Nidi Karya, Yowel Ranggamusi (30) dan Kirimus Ayomi (26).(hen)

Nama-Nama Korban Dalam Angkot

Sopir Silas Airei (45)
Bernad Abon (44)
Amelia Abon (54)
Edison Ambokari (26)
Toroce Karubaba (22)
Selviana Ambokari (3)
Yosua Umai (16)
Rubeka Rumboirosi
Karel Tironi
Yeta Tironi
Aslindhi Rumboirosi
Yanzen Tironi
Agustinus Karubaba

Mabes Polri Bongkar Illegal Logging di Papua

90 Ribu M3 Disita, Potensi Kerugian Miliaran Rupiah

JAKARTA- Satu per satu kasus illegal loging di Tanah Papua mulai dibongkar. Jika sehari sebelumnya diberitakan Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri berhasil menggagalkan rencana pengiriman kayu log tanpa dokumen sebanyak 4.530 m3 di dalam areal Pabrik Kayu Kampung Daway, Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua ( Cepos 21/6), kembali Tim penyidik Direktorat V/ Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Mabes Polri berhasil membongkar sindikat pembalakan liar di kawasan hutan Sorong dan Bintuni, Papua.

Untuk pembalakan liar di Sorong dan Bintuni ini, ditaksir mampu menyelamatkan potensi kerugian Negara hingga miliaran rupiah.

“ Masih berjalan, total yang bisa diselamatkan dilihat dari kayunya. Ini masih dihitung,” ujar Direktur V Bareskrim Brigjen Suhardi Alius kemarin. Polisi berhasil menyita lebih dari 90 ribu meter kubik kayu yang diduga hasil pembalakan.

Karena operasi masih berjalan, Suhardi belum bisa menjelaskan secara lebih rinci. Termasuk identitas dan jumlah tersangka.” Masih ada beberapa orang yang sedang dikejar untuk ditetapkan sebagai tersangka,” kata jenderal ramah itu.

Suhardi menegaskan, komitmen Polri memberantas illegal logging sudah bulat. “ Kita tidak pilih-pilih, semua kita sidik,” kata mantan staf ahli Kapolri itu. Salah satu buktinya, walaupun berada jauh dari Jakarta, tim bisa memantau dan bergerak.

Secara terpisah, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan berterima kasih atas kinerja Polri membongkar kasus illegal logging di bumi Cendrawasih itu. “ Kementrian dan Polri selalu bekerjasama semaksimal mungkin menumpas pembalakan,” katanya.

Dari data Kementrian Kehutanan, sepanjang empat tahun terakhir, temuan kasus illegal logging memperlihatkan tren penurunan. Misalnya, dari 1.714 kasus di 2006 menjadi 107 kasus pada 2009.

Seluruh kasus pembalakan juga selalu diselesaikan di pengadilan. Misalnya, pada 2006 telah menuntaskan vonis di 304 kasus, 152 kasus di 2007, 31 kasus di 2008, dan vonis terhadap 13 kasus di 2009.

Pemberantasan terhadap aksi pembalakan liar itu, kata Zulkifli, secara efektif mampu menekan angka temuan kasus. Menteri asal PAN ini mengakui, kasus illegal logging skala besar yang masih cukup marak saat ini terjadi di Papua. Sedangkan kasus-kasus illegal logging skala kecil masih dijumpai di sebagian wilayah di Kalimantan dan Sumatera.

“ Salah satu penyebabnya adalah masih tingginya tingkat permintaan produk kayu yang dipasok dari pasar gelap. Selain itu, lemahnya daya jangkauan para penegak hukum, serta tingkat kemiskinan yang tinggi di kalangan para pelaku penebang liar, menjadi pemicu masih tingginya tingkat illegal logging,? “ungkapnya.(rdl/luc) (scorpions)

Dari Penuturan Warga Pasca Guncangan Empat Kali Gempa di Biak dan Serui

Karena Panik, Enam orang Berboncangan Satu Sepeda Motor

Goncangan gempa selama empat kali berturut-turut yang dirasakan warga Biak dan Yapen, Kamis (16/6) masih menyisahkan sejumlah kisah. Khususnya lagi warga Serui yang mengalami dua korban jiwa, keduanya adalah Rian (5) dan Damaria (45). Bagaimana suasana sehari pasca gempa, dan bagaimana kisah warga yang merasakan langsung kejadian itu? FIKTOR PALEMBANGAN, Biak

PANIK. Begitulah suasana yang terjadi saat warga Serui, ibu kota Kabupaten Yapen saat diguncang gempa empat kali berturut-turut. Akibatnya, wargapun berhamburan keluar rumah dan menggunakan kendaraan bermotor mencari tempat yang dianggap lebih aman, khususnya lagi warga yang di Serui.

Belum lagi, isu akan terjadinya gelombang tsunami membuat warga kota Serui hampir semuanya lari kearah perkampungan yang lebih tinggi, yakni di lereng gunung untuk mencari posisi yang dianggap lebih aman. Masyarakat yang sudah panik berusaha mencari tempat lebih aman dengan membawa barang-barangnya, khususnya yang masih bisa di bawa.

Bahkan, ada yang sampai kendaraan roda dua sudah ditumpangi 4 – 6 orang. Bagaimana tidak, warga isu terjadinya tsunami dan air laut di pantai Serui mulai naik membuat warga tambah panik. Demikian halnya kebakaran dan bangunan yang runtuh di beberapa tempat membuat warga tidak menghiraukan lagi keadaan, dan berupaya mencari jalan masing-masing untuk menyelamatkan diri.

Samen Palembangan, salah satu warga Serui menuturkan keadaan beberapa saat setelah terjadi gempa, bahwa awalnya pada saat terjadinya gempa petama keadaan warga di Serui masih tenang-tenang saja. Namun setelah gempa kedua terjadi, masyarakat sudah mulai panik ketika beberapa menit kemudian beberapa rumah milik warga kebakaran dan runtuh.

"Pada saat gempa pertama warga masih tenang-tenag saja, namun setelah gempa kedua itu yang membuat warga kota Serui panik. Warga sudah berhamburan ke jalan, ada yang berjalan kaki dan ada menggunakan kendaraan. Apalagi pada saat itu ada orang mengatakan air laut mulai naik, semua orang sudah berlarian mencari tempat lebih tinggi tampa peduli dengan harta bendanya lagi," ujarnya via hand phone, kemarin.

Karena kepanikan itu, maka ada warga yang menggunakan kendaraan bermotor berboncangan enam orang. Samen juga menyatakan, akibat kepanikannya itu bersama dengan dua anaknya dan istrinya terpaksa untuk satu motor bebek merek Honda itu harus satu kali jalan.

"Saya tidak pernah boncengan dengan keluarga sampai 4 orang, karena anak-anak sudah besar tapi pada saat kejadian gempa kemarin kami 4 orang sekaligus satu motor, pada hal anak-anak saya sudah besar. Ya, ini karena memang sudah panic untuk menyelamatkan diri dari isu tsunami," tandasnya. "Saya juga melihat ada satu motor sampai 5 – 6 orang, dua orang dewasa dan anak-anaknya yang kecil-kecil," sambungnya lagi.

Samen juga menuturkan, setelah memboyong keluarganya ke ke lereng gunung, dia teringat atas ijasahnya yang masih tertinggal di rumahnya. Mengingat ijasah bersama istrinya itu masih tertinggal di rumah, dia buru-buru kembali kerumahnya. Namun karena dijalan cukup padat kendaraan dan dia sudah panik, diapun sempat terpental karena terjatuh.

Meski mengalami luka dibagian tangan kanan, namun dia berusaha bangkit kembali karena menginat ijasahnya itu, sementara isu akan terjadinya gelombang tsunami masih terus membuat warga panik. "Ketika saya jatuh dari motor saat mau pulang mengambil ijasah ke rumah, saya tidak merasa sakit padahal bagian tangan kiri saya luka. Ya, mungkin karena panik," tandasnya lagi.

Hal yang sama dikatakan oleh Yan Pieter, di Serui saat dihibungi Cenderawasih Pos. Dia yang mengaku saat kejadian berada di rumahnya, mengaku masih aman-aman saja pada saat gempa pertama terjadi. Namun setelah gempa kedua yang berkuatan 7,1 SR itu, beberapa saat kemudian dia melihat orang di luar rumah telah berhamburan, termasuk di jalan-jalan.

"Saat keluar dari rumah warga semuanya pada berteriak dan meminta supaya semuanya lari ke bagian gunung, katanya saat ini air laut mulai naik. Ya, saat itu kami juga ikut lari ke bagian arah gunung," tandasnya.
Sehari pasca gempa itu, di Kabupaten Biak Numfor pada dasarnya aktivitas masyarakat tetap berjalan normal seperti biasanya. Perkantoran, pertokoan, dan bank-bank tetap menjalankan aktivitas serti biasanya. Warga tidak terpengaruh dengan gempa yang terjadi sehari sebelumnya, itu disebabkan karena di Biak tidak ada korban materi dan jiwa.

"Mungkin karena di Biak tidak ada bangunan yang rusak dan syukur tidak ada Korban jiwa, makanya semua aktivitas berjalan seperti biasanya," tandas Yulianus Rumsowek, pegawai di Pemda Biak Numfor.

Sementara di Serui sendiri aktivitas belum bisa berjalan normal. Hal itu disebabkan karena sejumlah perkantoran, tempat pelayanan publik dan rumah warga mengalami kerusakan. Meskipun sebagian pegawai Pemda Yapen ngantor, namun mereka lebih banyak hanya cerita-cerita soal kejadian gempa tersebut.

"Memang kami sudah masuk kantor sebagiannya, namun sebagiannya pula tidak. Selain karena ada korban materi, juga karena kantornya juga mengalami kerusakan. Ya, pegawai lebih banyak hanya cerita-cerita soal gempa itu saja," tandas Samen, pegawai di Dinas Infokom Pemkab Yapen. *** (scorpions)

Kebutuhan Bama Mendesak – Hari Kedua Pasca Gempa, Warga Masih Trauma

JAYAPURA – Hari kedua pasca gempa bumi berkekuatan 7,1 skala richter yang terjadi di Serui dan Biak, korban gempa mulai membutuhkan bantuan, terutama di warga Kabupaten Kepulauan Yepen yang mengalami kondisi cukup parah. Bantuan yang segera dibutuhkan warga korban gempa adalah bahan makanan (Bama) dan obat-obatan.

Kapolres Kepulauan Yapen AKBP Deni Siregar, SIK saat dihubungi via telepon selulernya terkait perkembangan penanganan korban Gempa di Serui mengatakan, saat ini posko bantuan dipusatkan di Polres Kabupaten Kepulauan Yapen.

Kemarin pagi sejumlah bantuan berupa Makanan, obat-obatan dan tenda, khususnya yang datang dari Pemda Kepulauan Yapen telah disalurkan ke sejumlah kecamatan-kecamatan serta kampung-kampung. "Kami telah menurunkan 250 personil anggota Polres Kepulauan Yapen untuk menyalurkan sejumlah bantuan, terutama ke daerah yang sulit dijangkau," ungkapnya saat dihubungi via telepon dari Jayapura, kemarin.

Bantuan berupa tenda, obat-obatan dan makanan tersebut disalurkan dengan mengerahkan seluruh alat transportasi yang ada. " Untuk daerah yang dapat dijangkau dengan jalan darat kita gunakan mobil sedang sejumlah kecamatan dan kampung di daerah pantai kita menggunakan speed boat" tukasnya.

Diinformasikan, siang kemarin, setelah dilakukan penyisiran terhadap korban yang mungkin tidak ditemui pada hari pertama saat gempa terjadi, ternyata memang tidak ditemukan tambahan korban jiwa, akan tetapi korban luka-luka bertambah 50 orang dari sejumlah korban luka yang telah dirawat sebelumnya.

Dikatakan, saat ini belum dapat dihitung soal jumlah keseluruhan kerugian yang diakibatkan gempa tersebut, sebab fokus utama kepolisian serta pemerintah daerah saat ini adalah bagaimana menyalurkan bantuan ke sejumlah daerah yang kini telah kesulitan bahan makanan dan obat-obatan serta tempat tinggal "Kita belum dapat menghitung nilai keseluruhan kerugian, " ujarnya.

Saat ini menurut Kapolres yang paling dibutuhkan di sana adalah bantuan bahan makanan ( Bama), obat-oatan serta tenda. "Kami juga meminta dukungan semua pihak untuk turut, membantu saudara-saudara kita di sini" tambahnya lagi.

Sebab saat ini menurut Kapolres Bantuan dari Pemda dan dari berbagai pihak yang telah sampai ditangannya itu belum mencakup seluruh korban bencana yang ada, jadi masyarakat disana masih sanga membutuhkan bantuan.

Seorang warga korban gempa bumi di Serui, Samen Palembangan kepada Cenderawasih menuturkan secara keseluruhan, kerusakan bangunan di kota Serui cukup banyak, jumlahnya mencapai 100 lebih bangunan rusak. Beberapa diantaranya seperti pusat informasi radio pantai, Kantor DPRD Yapen, Pengadilan Negeri Yapen, Kantor Bupati Yapen, Rumah Sakit Yapen yang mengalami kerusakan di bagian pelayanan administrasi, rumah Kepala Dinas Infokom Kab. Yapen Drs Bennidiktus Yahruu yang megalami kerugian dan sejumlah lainnya.

Di RS Yapen, pada saat gempa sebagian besar pasien memilih memilih lari dari dalam ruangan pada saat gempa terjadi. Bahkan dengan kondisi yang masih dalam keadaan lemah, mereka (pasien) juga berupaya lari menyelamatkan diri ke bagian arah gunung dan ada yang dibantu keluarganya. "Informasinya sebagian besar pasien di rumah sakit juga ikut keluar menyelamatkan diri," tandas Samen.
Warga lainnya, Lora yang dikontak Cenderawasih Pos menyampaikan, diperkirakan ratusan rumah warga di Kampung Randawaya terendam, begitu juga di Distrik Yapen Timur dan serta beberapa rumah Distrik Ambai.
Sementara itu, di pusat Kota Serui ada beberapa unit rumah terbakar sat terjadi gempa, puluhan hingga seratusan lebih rumah rusak berat.. Sementara itu, di Kampung Menawi ada sejumlah warga yang sedang mengerjakan proyek gorong-gorong terluka parah akibat tertindis gorong-gorong dan kini sedang di rawat di RSUD Serui.

“Ya gempa kembali terjadi di Serui, dan ada rumah tenggelam akibat air pasang, karena rumah mereka berada di pinggiran pantai,” ungkap Lora kepada Cenderawasih Pos, via ponselnya, Kamis, (17/6).

Menurutnya, beruntung pada saat gempa yang pertama, warga telah mengantisipasinya dengan mengungsi ke tempat yang lebih aman, sehingga saat datang gempa berikutnya yang lebih besar, warga dapat menyelamatkan diri dengan aman di luar bangunan rumah-rumah mereka.

Sampai saat ini, warga masih trauma. Mereka memilih tinggal di luar rumah sampai situasi benar-benar aman. “Ada warga yang saat ini buat tenda di gunung, ada yang memasang tenda untuk tidur dan memasak di halaman rumahnya, ada yang ada ditempat pengungsian,” katanya.

Untuk data-data korban dan kerugian materiil yang disampaikan dua warga ini masih simpang siur dan perlu di kros cek lagi, karena dari Pemkab setempat atau aparat yangberwenang belum mengeluarkan data resmi berapa korban jiwa, korban luka dan kerugian materiil yang diderita warga baik di Serui maupun di Biak akibat gempa bumi tersebut.
Sementara itu 45 warga binaan Lapas Serui yang diberitakan kabur pasca gempa yang mengguncang Kabupaten Biak dan Serui Rabu (16/6) akhirnya kembali ke Lapas. Ke 45 warga binaan ini kembali dengan sukarela tanpa harus dilakukan pencarian.

Sebagaimana penyampaian Kakanwil Hukum dan HAM Papua Nazarudin Bunas, SH.MH saat dihubungi Cenderawasih Pos Kamis kemarin. "Pagi tadi ( kemarin, red) saya peroleh informasi bahwa dari 57 warga binaan, telah kembali 46 orang dan sisanya 11 orang memang masih diluar," ungkap Kakanwil sore kemarin.

Namun kata Bunas, dari 11 warga binaan yang masih diluar ini telah dilakukan pemantauan oleh petugas dimana ada yang terpaksa harus membantu membereskan rumah mereka yang rusak akibat gempa. "Selebihnya mereka kembali dengan kesadaran sendiri tapi 11 orang ini harus memperbaiki rumahnya yang rusak," jelasnya.

Kalapas juga telah mengeluarkan himbauan untuk segera kembali untuk menyelesaikan masa pidananya.

Bunas mengakui saat kejadian gempa, pihak petugas tak bisa menahan para warga binaan ini untuk terus berada di dalam Lapas karena ada informasi bahwa dari gempa tersebut ada potensi menjadi tsunami. "Jadi jika tetap didalam dan ternyata jadi tsunami lalu memakan korban jelas ada kelalaian yang dilakukan petugas," bilang Bunas memberi alasan.

Dari perkembangan kabar terakhir ini menurutnya Bunas telah ia laporkan ke Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar dan Dirjend Pemasyarakatan. Kondisi bangunan Lapas pasca gempa mengalami kerusakan dimana sejumlah kaca pecah dan ada bangunan blok yang retak. Untuk mengetahui persis kondisinya, tambah Bunas paling tidak, dua hari mendatang ada pejabat yang meninjau langsung ke sana. "Mungkin besok atau luas entah saya atau kepala divisi pemasyarakatan yang berkunjung ke sana," tandasnya.

Sementara itu, dari Biak dilaporkan, satu hari pasca terjadinya gempa bumi, para nelayan di Biak lebih banyak masih memilih tidak melaut. Demikian halnya, dengan masyarakat dari Yapen yang biasa menggunakan perahu kayu dari Biak dan sebaliknya di Pantai Tiptop Biak, juga lebih banyak menunda keberangkatannya. Meski begitu, ada satu dua nelayan yang juga tetap memilih untuk melaut.

Di Biak, hampir sebagian besar masyarakat yang sehari-harinya beraktivitas dan mengunakan jalur laut dengan perahu masih trauma akibat kejadian gempa bumi tersebut. Di Pantai Tiptop Biak yang dijadikan tempat keberangkatan, Kamis (17/6) kemarin, masih terlihat sepih. Memang ada orang yang akan berangkat menggunakan perahu, namun jumlahnya tidak seberapa tidak seperti pada hari-hari biasanya yang telihat cukup ramai.

Pada dasarnya sebagian besar masyarakat masih takut akan terjadinya gempa susulan dan bisa saja menimbulkan gelombang tsunami itu. Namun secara keseluruhan aktivitas di Kabupaten Biak secara keseluruhan pada dasarnya telah berjalan normal. Masyarakat di sejumlah perkantoran tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya.

“Masih ada satu dua teman kami yang memang milih untuk ke laut mencari ikan, tapi lebih banyak yang untuk hari ini tidak berangkat. Sebagian besarnya masih takut terhadap kemungkinan masih adanya gempa susulan dan gelombang tsunami,” ujar Ahmad La Ode kepada Cenderawasih Pos di Pantai Yenures, kemarin.

Hal yang hampir sama dikatakan oleh Frans Rumbewas, warga yang akan menggunakan perahu ke Yapen bagian Selatan ini menyatakan pada dasarnya masih takut menggunakan perahu, hanya saja karena ada keperluan makanya dia nekat bersama dengan sejumlah warga lainnya.

“Kalau soal takut tetap kami takut, namun karena kami juga ada keperluan sehingga harus berangkat dari Biak hari ini juga. Soal ketakutan aka nada gempa susulan dan gelombang tsunami tetap ada,” tandasnya.

Sementara itu Kapolres Biak Numfor AKBP Ricko Taruna Mauruh mengatakan, bahwa hingga kemarin pada dasarnya kondisi di Biak secara keseluruhan aman. Tidak ada korban jiwa dan kerugian materi yang pailing terasa akibat goncangan gempa sehari sebelumnya itu. “Laporan yang kami terima secara keseluruhan di Biak aman-aman saja,” tandasnya. (rik/ade/ito/wen)

DAK Daerah Perbatasan 2011 di Papua Bisa Naik

KEEROM-Daerah perbatasan di Indonesia termasuk di Papua dalam tahun anggaran 2011 mendatang dijanjikan akan mendapat gelontoran perimbangan pusat ke daerah berupa Dana Alokasi Khusus (DAK) daerah perbatasan yang lebih besar dari tahun sebelumnya.

Demikian diungkapkan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Ir. H.A Helmy Faisal Zaini, disela-sela pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Pembangunan Wilayah Tertinggal (P2WT) yang berlangsung di Aula DPRD Kabupaten Keerom, Kamis (17/6) siang.

Menurutnya, hal itu dimungkinkan setelah pihaknya sebelumnya sudah dirumuskan serta dipresentasikan pada pemerintah dan mendapat lampu hijau dari kementrian keuangan seputar pengusulan pembagian dana dari pusat tersebut.

Rumusan yang disampaikan tersebut disebutkanya sebagai salah satu upaya besar di kementrian yang dipimpinnya untuk bisa meningkatkan laju pembangunan di wilayah dimaksud. Kendati tidak menyebutkan secara rinci persentasi perhitungannya, menteri Helmy Faizal Zaini menyatakan hal tersebut tentu sangat berguna bagi pembangunan yang dilakukan.

"Perhitungan DAK tersebut akan lebih afirmatif dan berpihak pada daerah tertinggal maupun perbatasan," ujarnya.

Disadari wilayah perbatasan sebagai wilayah yang merupakan pintu gerbang dengan negara tetangga, memiliki kesulitas dalam pengendiaan berbagai sarana dan prasarana layanan publik kawasan dimaksud, tentu harus mendapat perhatian lebih.

Semangat yang ditujukan selain ingin lebih memberikan rasa keadilan dimana selama ini banyak suara yang menyatakan adanya kue pembagian dana pembangunan di daerah maju mengapa terus disupport lebih banyak dari segi pembanguann infrasturktur sedangkan dua daerah tertinggal termasuk yang juga memiliki perbatasan dirasakan minim. “ Kami ingin memberikan lebih banyak kesempatan bagi saudara-saudara di daerah pelosok untuk bisa lebih mandiri dan sejahtera. Dan itu semua tentu memerlukan bantuan biaya operasional yang tidak sedikit,”jelasnya.

Pola pembangunan kawasan perbatasan tentunya bukan hanya dilakukan dari segi pengamanan dan keamanan negara saja, namuhn lebih dari itu faktor kesejahteraan menjadi perhatian yang dipikirkan oleh pemerintah pusat saat ini. Antara lain selain mendorong kebijakan afirmatif untuk daerah tertinggal yang lebih baik, mendorong tata kelola sumber daya alam dan sumber daya manusia yang lebih profesional, mendorong kebijakan strategis untuk segera bisa ditindak lanjuti oleh instansi terkait, hingga upaya mensinergiskan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya perceptan pembangunan yang dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.

Menteri menyatakan upaya percepatan pembangunan dikawasan tertinggal termasuk daerah yang memiliki kawasan perbatasan sejalan dengan tiga strategi unggulan yang kini tengah menjadi rujukan dari pencapaian kebijakan pemerintah.

Mulai dari peningkatan kesejahteraan masyarkaat melalui pertumbuhan ekonomi secara nasional yang diharapkan bisa naik hingga 27 persen pada akhir 2014 pendatang, kendati tahun 2009 ini pertumbuhannya hanya berkisar 4,3 persen.

Kemudian menekan angka kemiskinan yang dikhawatirkan jika tidak dilakukan dengan baik akan berpotensi terus meningkat. Saat ini angka kemiskinan secara nasional mencapai 32,5 juta penduduk atau setara dengan 14 persen dari total penduduk, diharapkan pada tahun 2014 bisa turun hingga menjadi 8-9 persen saja. Dan yang tidak kalah pentingnya yakni menekan angka pengangguran terbuka melalui upaya peningkatan sektor UKMK yang bisa dikelola masyarakat secara mandiri, selain peningkatan industri yang bisa membuka lapangan pekerjaan.

Pengangguran terbuka di Indonesia tahun 2009 lalu tercatat sebanyak 8,9 juta penduduk. " Tentunya ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk mencapai keberhasilannya," kata Helmy lagi.

Sementara itu Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Provinsi Papua, Drs. Elieser Renmaur, mewakili Gubernur dalam sambutannya menyatakan apa yang disampaikan oleh pihak pusat dalam komitmennya dalam dukungan terhadap wilayah kawasan tertinggal maupun perbatasan termasuk sebagian kawasan di Papua menyampaikan terimakasihnya. Dimana dari 28 kabupaten dan satu Kota di Papua, 8 kabupaten/kota termasuk wilayah yang memiliki kawasan perbatasan. Dimana kabupaten yang memiliki kawasan perbatasan terkecuali Kota Jayapura termasuk dalam kategori masih relatif tertinggal dengan daerah lain di Indonesia.

Sementara itu Rakor P2WT yang dilaksanakan oleh Kementrian PDT di Keerom sesuai rencana mengagendakan dua hari kegiatan dari 17-18 Juni. Pada pelaksanaan (17/6) kemarin yang merupakan pambahasan kebijakan pemerintah yang melibatkan puluhan kementrian dan departemen yang ada dari Jakarta, juga menghadirkan peserta dari Kabupaten Keerom sebagai tuan rumah, Provinsi Papua, maupun utusan dari kabupaten/kota yang memiliki wilayah perbatasan di Papua.

Kedangan Menteri PDT selain didampingi sejumlah perwakilan kementrian dari eselonI dan II yang ada, juga dari perwakilan Komisi V DPRRI.

Kunjungan menteri bersama rombongan usai pembukaan Rakor dilanjutkan dengan kunjungan ke titik perbatasan di Wutung.

Untuk pelaksanaan lanjutan Rakor hari ini, Jumat (18/6) akan dilakukan orientasi lapangan peserta Rakor minus Menteri pada tiga lokasi distrik di Keerom, antara lain di Arso, Arso Timur dan Skamto.(eno)
(scorpions)

Gempa Biak, Dua Warga Tewas

Penulis : Folmer
JAYAPURA–MI: Gempa Biak yang berkekuatan hingga 7,1 Skala Richter (SR) menelan dua korban jiwa.

Kapolres Yapen AKBP Denny Siregar yang dihubungi Media Indonesia menyatakan, dua warga setempat dilaporkan tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh diguncang gempa.

“Laporan sementara yang diperoleh Polres Yapen, dua warga tewas. Sedikitnya 10 rumah warga di Kota Serui roboh akibat goncangan gempa. Bahkan, Mapolres dan sejumlah fasilitas pemda rusak,” jelasnya.

Ia menambahkan, gempa juga mengakibatkan sejumlah tiang listrik ambruk sehingga terjadinya kebakaran di rumah warga dan pertokoan. Sebagian besar warga masih bertahan di luar rumah mengingat masih dirasakan gempa susulan.

Secara terpisah Victor Palembangan, wartawan harian lokal yang bertugas di Kabupaten Biak saat dihubungi Media Indonesia, mengatakan pascaterjadinya gempa berpotensi tsunami, masyarakat dan pegawai berhamburan keluar.

“Gempa yang pertama terjadi sangat terasa. Warga langsung berhamburan keluar rumah dan berusaha berlindung ke daerah yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ia mengaku, gempa susulan masih dirasakan sehingga sebagian besar warga terpaksa masih bertahan di luar karena khawatir bangunan rumahnya roboh. “Pengamatan sementara banyak rumah warga dan perkantoran retak akibat terjadinya gempa,” jelasnya. (FO/OL-9)

Di Asmat Ditemukan 15 Kasus HIV/Aids

ASMAT [PAPOS]- Melalui pemeriksaan Vct mulai Januari hingga Novemnber tahun 2009 sebanyak 15 orang terinfeksi HIV/Aids, yakni 7 Pekerjsa Seks Komersial(PSK), 2 ibu rumah tangga, 6 masyarakat umum.

Demikian disampaikan Sekertaris KPAD Kabupaten Asmat, Dwi Ariana,SP yang ditemui Papua pos diruang kerjanya, belum lama ini. Dirinya menjelaskan untuk data 7 PSK ini diketahui setelah mereka melakukan tes VCT namun untuk masyarakat umum dan ibu rumah tangga diketahui secara tidak sengaja pada saat berobat kerumah sakit kemudian diperiksa.

“Memang untuk kita pendataan masih kurang dan rendahnya masyarakat yang melakukan VCT karena ini merupakan tes secara sukarela dan yang ditemukan ibu rumah tangga dan masyarakat umum setelah berobat kerumah sakit dan dilakukan Voluntary Conseling testing(VCT) oleh petugas rumah Sakit persiapan Tipe D Kabupaten Asmat merupakan satu-satunya tempat VCT ,“ungkapnya.

Untuk para PSK, secara jelasnya kita tidak tahu dimana mereka mengidap Hiv/Aids karena mereka ini secara terselubung datang dan pergi sehingga untuk mendata mereka sulit dan indicator untuk menilai tinggi atau rentan penyaik HIV/Aids tidak bisa kita kesulitan disini. “Inikan belum ada Perdanya untuk mengusir mereka serba salah, pernah diusir namun mereka kembali lagi, dan kita juga tidak bisa jamin dengan para PSK kita usir tidak menjamin bahwa HIV/Aids itu tidak akan ada di Asmat,” tandasnya

Sedangkan Infeksi Menular Seksual(IMS) memang banyak ditemukan, namun data pastinya saya kurang tahu betul karena kita KPAD hanya mengkoordinasikan data ini dimilik oleh Puskesmas Agats atau rumah sakit persiapan tipe D. Dirinya menjelaskan dari penyuluhan yang dilakukan beberapa waktu untuk para PSK terungkap bahwa para PSK ini untuk mendapatkan kondom susah selain susah harganya mahal.

Untuk itu KPAD dalam penyusunan anggaran akan mengkoordinasika dengan instansi terkait seperti capil, Dinas Kesehatan, RSUD , KPAD Provinsi nantinya siapa yang mendistribusikan kondom. “Jujur Saja selama ini memang kita ada kondom di KPAD tapi terbatas, untuk itu kedepan kita harus koodinasi kalau memang pengadaan kondom ini KPAD kita siap,” tandasnya.

Karena dengan cara seperti ini pihaknya bisa mencegah HIV/Aids, karena pemahaman masyarakat tentang kondom masih kurang untuk itu diminta agar masyarakat memahami bahwa kondom ini bukan hal yang tabuh tetapi mari kita melihat fungsinya yang bermanfaat untuk melindungi diri.[cr-57]

Ditulis oleh Cr-57/Papos  
Sabtu, 12 Juni 2010 00:00

OPERASI MILITER TNI/POLRI DI PUNCAK JAYA DIPERKECIL OPERASI BIASA, KENYATAAN BERBEDA, PUNCAK JAYA MURNI DAERAH OPERASI MILITER (DOM)

Rimba SPMNews: Kami mendapat telpon langsung  orang terpercaya  yang berada di  Mulia, Puncak Jaya bahwa pendoropan TNI/POLRI lengkap dengan alat perang dan jumlahnya lebih dari yang diberitakan oleh media serta siaran radio RRI jayapura. Pendaratan pasukan TNI/POLRI dilakukan di empat titik, yaitu; dari arah Wamena, Tolikara masuk ke Ilu, Wamena Tiom (Lani Jaya) masuk ke Melageneri, Kwiyawage, arah Puncak Papua Ilaga, Puncak Jaya Mulia. Masyarakat dari berbagai kampong  yang diungsikan meminta agar pendoropan pasukan hanya dilakukan di Mulia, karena Gerilyawan Goliat Tabuni dan pasukanya berada disana, tidak ada di daerah-daerah lain. Mereka yang diungsikan mulai menghadapi berbagai macam kendala, di antaranya; stok makanan mulai berkurang, anak-anak mereka tidak bisa mengikuti kegiatan belajar-mengajar, kesehatan mulai terganggu, tidak bisa berkebun karena mereka status pengungsi di tetangga.

Masyarakat sudah trauma dengan perlakuan pasukan TNI/POLRI yang biasanya  ditodong bahkan ditembak mati jika mereka tidak menunjukan atau memberi tahu tempat persembunyian Goliat Tabuni, Titus Murib dan pasukanya. Operasi seperti ini hal biasa setiap kali ada peristiwa pasti TNI/POLRI turun tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, tetapi kali ini saja pengumuman operasi di umumkan berarti ini operasi besar-besaran atau operasi tumpas, karena jumlah aparat yang turun bukan sedikit jumlahnya.  

Meskipun banyak kalangan yang mendesak untuk operasi militer di Puncak Jaya tidak dilakukan, namun hal itu tidak ditanggapi aparat.

Melalui telpon gengamnya orang terpercaya tersebut mengatakan bahwa “saya dengar dari Radio RRI jumlahnya hanya 1 pleton untuk operasi di Puncak Jaya saja tapi kenyataan lain, aparat lain di drop di Lani Jaya melalui Wamena, dari Wamena ke Tolikara trus mereka lanjutkan  ke Ilu, lain di turunkan di PuncakPapua, Ilaga.

Kami mohon doa dari setiap pemerhati HAM di seluruh dunia karena dalam operasi langsung di kampong tingginambut telah menewaskan   dua orang ibu, 3 anak-anak, serta seorang laki-laki”. Demikian katanya dengan nada sedih. Ketika kami mencoba untuk meminta nama-nama korban tersebut, ia mengatakan sulit untuk mengenali muka-muka mereka yang tertembak karena tembakan aparat mengenai bagian kepala.
Operasi ini tidak hanya dituju kepada Gerilyawan Revolusi West Papua, tetapi seperti biasanya ketika aparat TNI/POLRI melakukuan operasi tumpas bagi siapa saja yang mereka temui.

Operasi tumpas dimulai dari beberapa kampong, diantaranya Mowogoluk, Tingginambut, Erimuli dekat kota Mulia, kab. Puncak Jaya.

Kami belum mendapat kepastian dari beberapa Kabupaten karena sulitnya komunikasi.

Demikian situasi langsung sementara di Mulia-Puncak Jaya, berita selanjutnya akan kami turunkan kemudian.
Salam Revolusi.

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny