Dua Saksi Hadiri Sidang Kasus Pembunuhan Pdt. Frederika Oleh TNI

MANGGAPROUW SAAT MEMBERI KESAKSIAN (JUBI/APRILA)
MANGGAPROUW SAAT MEMBERI KESAKSIAN (JUBI/APRILA)

Jayapura — Persidangan Kasus Pembunuhan terhadap Pdt. Frederika Metalmeti (38) di Boven Digoel pada 21 November 2011 lalu digelar kembali hari ini, Senin (11/2) dengan menghadirkan dua orang saksi. Saksi pertama dari kepolisian Boven Digoel dan satu lagi dari masyarakat sipil.

“Ini baru pada pemeriksaan saksi jadi kami dari pihak keluarga belum dapat menyampaikan apapun,”

demikian kata Aners Jembormase mewakili keluarga korban kepada tabloidjubi.com hari ini, Senin (11/2) di halaman Mahkamah Militer III-19, Dok V Jayapura.

Sidang kali ini menghadirkan dua orang saksi yaitu Levinus Manggaprouw (27) dari Kepolisian Boven Digoel dan Manyu Warembo (46), warga sipil di Boven Digoel.

“Saya kenal dengan terdakwa Sertu Irfan pada Tahun 2009 tetapi saya tidak tahu hubungan antara terdakwa dengan korban,”

demikian kata Mangprouw dalam persidangan hari ini.

Manggaprouw juga tidak bertemu dengan terdakwa hampir sepanjang Tahun 2012. Dalam pemeriksaan ini, saksi juga mengatakan, hanya bertemu dengan terdakwa saat dirinya bermain ke rumah teman yaitu Amir, tempat terdakwa biasanya tidur.

“Saya tidak pernah melihat terdakwa dengan korban di rumah Amir,”

kata saksi menanggapi pertanyaan Oditur Militer, Yuli Wibowo.

Sidang hari ini sendiri dipimpin oleh Hakim Ketua, Letkolsus Priyo Mustiko (TNI-AL) dengan Hakim Anggota Ventje Bullo dan Bambang Wirawan. Terdakwa, Sertu Irvan dikenai Pasal 338 Kitab Undang-undang Hukim Pidana.

Menurut Manggaprow, saat kejadian dirinya sedang berada di pos jaga dan mendengar suara ledakan senjata api sebanyak tiga kali. Ledakan pertama dan kedua beruntun sedangkan ledakan ketiga ada rentan waktu antara satu hingga dua menit. (JUBI/Aprila Wayar)

Monday, February 11th, 2013 | 23:32:52, TJ

Mote: Kasus 77, Kami Tiga Remaja Diperkosa Tentara

Debora Mote, tengah saat mengikuti pelatihan UN Women dan Norwegian Embassy. Foto: Aprilia
Debora Mote, tengah saat mengikuti pelatihan UN Women dan Norwegian Embassy. Foto: Aprilia

Jayapura Debora Mote, Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan dari Majelis Rakyat Papua mengatakan, ia bersama 2 remaja diperkosa tentara Indonesia ketika terjadi  Gejolak 77 Jayawijaya Papua.

Gejolak yang terjadi di Jayawijaya pada Tahun 1977 itu, saya masih SMP Kelas I. Kami ada tiga remaja perempuan yang diperkosa tentara, termasuk saya, demikian kata Mote dalam hearing yang dilakukan UN Women dan Norwegian Embassy dalam Pelatihan Perempuan, Perdamaian dan Keamanan yang berlangsung di Humboltbay Hotel, Jayapura, Selasa, (5/2).

Pada kegiatan yang akan berakhir Jumat (8/2) mendatang itu, Mote mengatakan, bila berbicara tentang kedamaian, itu adalah hal yang tidak bisa diungkapkan karena dari pengalaman ke pengalaman, dari kenyataan yang ada, lebih khusus pada apa yang kita lihat, ada dua sumber kekerasan.

Kerasan terhadap perempuan dan kekerasan yang dilakukan oleh negara, demikian kata Mote.

Menurut Mote, pada sejarah Papua awalnya Belanda telah memberikan bingkisan yang berisi lambang negara, bahasa daerah, mata uang  tetapi kemudian direbut oleh Negara Indonesia. Saat itulah terjadi kekerasan yang mulai dirasakan oleh publik.

Dampak kekerasan ini terlebih khusus yang menjadi korban adalah perempuan dan anak. Ada juga kekerasan lain yaitu telingan orang dipotong dan dimasukkan ke dalam sebuah tali. Ada juga masyarakat (laki-laki) yang ditusuk duburnya dengan besi dan besi itu keluar di mulut. Pengalaman-pengalaman itu membuat saya juga pernah terlibat dalam beberapa demonstrasi dengan Solidaritas Perempuan Papua (SPP). Kami mau supaya tidak ada kekerasan lagi di Papua, demikian harap Mote.

Shadia, trainer dalam pelatihan ini mengatakan, sulit bagi kita membangun diri kita sendiri karena pahitnya masa lalu yang kita punya. (032/MS)

Selasa, 05 Februari 2013 21:28, MS

Kejar Pelaku Penembakan, Polisi Buat Warga Paniai Ketakutan

Ilustrasi
Ilustrasi

Paniai Mengejar pelaku penembak seorang tukang ojek, Bahar, 29, di puncak Gunung Udadimi, perbatasan Kabupaten Paniai dan Deiyai, Kamis (31/1) sore, Polres Paniai menurunkan personilnya. Anggota Polisi bersama Brimob dibantu Timsus Yonif 753/AVT, melakukan penyisiran di beberapa kampung. Warga menjadi takut karena aparat keamanan bersenjata menggeledah rumah-rumah warga dengan kasar.

“Situasi Paniai sementara ini agak tegang, warga ketakutan, karena aparat sedang kejar oknum pelaku dengan cara menggeledah setiap rumah,”

kata Pemuka Agama di Paniai, Pdt. Nicolaus Degei, Sabtu (2/2).

Kasus penembakan terhadap Bahar sulit diidentifikasi, sebab saat kejadian tidak ada saksi. Barang bukti berupa selongsong peluru milik pelaku pun belum didapat. Ini menyulitkan pihak penyidik. Namun aparat gabungan sudah dikerahkan untuk memburu oknum pelaku.

Menurut Pendeta Nico, kasus tersebut harus diselidiki hingga tuntas untuk membuktikan siapa sebenarnya pelaku penembakan terhadap tukang ojek, Bahar.

“Proses penyelidikannya apakah harus dengan cara menyisir perkampungan dan menggeledah isi rumah warga?,”

tanya Nico.

Dilansir merdeka.com, Jumat (1/2) kemarin, Kabid Humas Polda Papua, AKBP I Gede Sumerta Jaya, mengatakan, tukang ojek bernama Bahar yang tinggal di Kampung Madi, Distrik Paniai Timur, ditembak OTK sekitar pukul 15.00 WIT. Konon, penumpang tersebut menembak korban dari belakang. Katanya, tertembak di leher tembus pipi dan terjatuh dari motor. Korban kemudian dibawa ke RSUD Paniai oleh seorang sopir truk yang tiba di TKP. (Jubi/Markus You)

Saturday, February 2nd, 2013 | 19:58:15, TJ

Militer Indonesia Lakukan Pelecehan Terhadap Adat dan Budaya Rakyat Papua di Enarotali

Kekerasan Militer Indonesia Terhadap Rakyat Sipil di Puncak Jaya
Kekerasan Militer Indonesia Terhadap Rakyat Sipil di Puncak Jaya

Paniai – Gabungan aparat Militer Indonesia dari berbagai kesatuan pada haru Jum’at 18 januari 2013, kembali melakukan razia dan penyitaan terhadap orang asli Papua dan berbagai benda – benda adat dan budaya Rakyat Papua di Enarotali ( Paniai ). Aparat gabungan ini melakukan razia terhadap warga Enarotali yang berambut gimbal dan berjenggot tebal, serta melakukan penyisiran terhadap rakyat sipil yang berpakaian adat Koteka dan Moge.

Selain itu, Aparat gabungan ini juga melakukan penyitaan terhada berbagai alat – alat tajam milik rakyat Papua seperti : Pisau, Parang, Kampak, Panah dan beberapa alat tajam lainnya yang biasanya digunakan oleh rakyat setempat untuk berburu dan berkebun.

Dari informen di lokasi kejadian melaporkan bahwa, aparat gabungan ini juga melakukan penyitaan terhadap berbagai benda – benda adat dan budaya milik rakyat setempat.

Tindakan brutal yang dilakukan oleh aparat militer Indonesia terhadap rakyat Papua dan penyitaan benda – benda adat dan budaya Papua di Enarotali ini menunjukan bahwa Indonesia telah melakukan Pelecehan terhadap adat dan budaya Orang Asli Papua, maka harus segerah ada tindakan tegas dari Pemerintah Daerah Papua, DPRP, DAP, MRP, serta pihak – pihak terkait lainnya agar Militer Indonesia tidak terus menerus melakukan pelecehan terhadap Adat dan Budaya Rakyat Papua. [rk] 

OTK Kembali Beraksi, 1 Unit Mobil Operasional Polres Paniai Dibakar

Ilustrasi Truk Polisi Terbakar. (IST)
Ilustrasi Truk Polisi Terbakar. (IST)

Jayapura — Mobil operasional Polisi Resort (Pores) Paniai dengan nomor polisi 5516-XVII dibakar Orang Tak Dikenal (OTK). Dari data yang didapat tabloidjubi.com diketahui pembakar terjadi saat mobil dalam tahap perbaikan di bengkel Kurnia Sari, Kampung Madi, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai Papua, Kamis dini hari (17/1) sekitar pukul 03.00 WIT.

Diduga pelaku membakar mobil dengan cara menaruh rumput kering di bawah kepala mobil lalu dibakar. mobil itu sendiri sejak, Selasa (15/1) diperbaiki di bengkel karena mengalami kerusakkan dibagian ban,namun alat yang rusak sedang di pesan di ke Nabire.

Kronologis kejadian, pukul 03.00 WIT,  seorang pekerja bengkel, Martinus (27) mendengar suara ledakkan, namun yang bersangkutan tidak menduga mobil tersebut terbakar. Saat ledakkan ke dua, barulah yang bersangkutan terbangun dan keluar rumah. Tapi api sudah melahap bagian depan mobil.

Pukul 03.15 WIT, Martinus meminta bantuan tetangganya, Tasya (41) untuk memadamkan api. Pukul 03.30 WIT api dapat dipadamkan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Kapolda Papua, Irjen Pol Tito Karnavian saat dikonfirmasi membenarkan terbakarnya mobil operasional Polres Paniai. “Memang benar ada kendaraan truk Dalmas Polres Paniai yang rusak dimasukkan ke bengkel dan malam tadi terbakar. Kalau dilihat ada kemungkinan dibakar karena ada bekas-bekas rumput kering dibawah truk, padahal awalnya itu tidak ada,” kata Tito Karnavian, Kamis (17/1).

Menurutnya, terbakarnya mobil operasional Polres Paniai kemungkinan ada kaitannya dengan kelompok yang ada di wilayah itu. “Kemungkinan itu dibakar dan mungkin ada kaitannya dengan kelompok yang ada disitu, karena beberapa waktu lalu ada gesekan dan camp mereka terbakar. Kita akan lakukan langkah-langkah penegakan hukum dan langkah-langkah komunikasi,” tandas Irjen Pol Tito Karnavian. (Jubi/Arjuna)

 Thursday, January 17th, 2013 | 19:01:05, TJ

Inisial Pelaku Bom Wamena, Bukan Anggota KNPB

Wim Medlama Topi Biru didampinggi Hakim Pahabol Anggota PNWP dan Anggota KNPB saat jumpa pers (Jubi/Mawel)
Wim Medlama Topi Biru didampinggi Hakim Pahabol Anggota PNWP dan Anggota KNPB saat jumpa pers (Jubi/Mawel)

Jayapura — Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mengungkap inisial pemilik dan pelaku kasus bom di Kota Wamena beberapa waktu lalu. Pemilik dan pelaku bom bukan anggota atau oknum struktural KNPB, melainkan oknum yang dimanfaatkan menggiring KNPB ke organisasi teroris.

“Pemboman di Jalan Satlantas dan DPRD dan penemuan bom di Sekretariat KNPB Balim di Wamena, itu bukan anggota KNPB, tetapi oknum tertentu sengaja diskenariokan menghancurkan perjuangan rakyat Papua,”

kata juru bicara KNPB pusat, Roky Medlama ke tabloidjubicom, di Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (14/1).

Menurut Medlama, pemilik bom dan yang melakukan pemboman di dua tempat, serta pemilik bom yang ditemukan di Sekretariat KNPB Balim di Wamena, adalah HK.

“Dan orang berinisial HK ini, bukan sturuktur KNPB. Tapi pihak ketiga yang memanfaatkan HK untuk menggiring KNPB ke wilayah teroris. Kepentingan aksinya, menggiring KNPB ke teroris,”

kata pria asal pengunungan tengah Papua ini.

Selain HK, Medlama mengungkap eksekutor peledakan bomnya.

“Pemiliknya HK, kemudian yang melaksanakan peledakan orang yang berinisial NE. Sedangkan siapa yang menyuruh dan otak dibelakang HK dan NE ini, kami dari pihak KNPB tidak tahu. Secara struktural, kami tak tahu menahu dari mana. Siapa pemiliknya, kami di KNPB tak bertanggungjawab,”

jelasnya.

Semua keterangan kepemilikan dan peledakan ini sudah dijelaskan Ketua KNPB Balim di Wamena, menurut Medlama.

“Simeon Daby sudah menjelaskan semua ini kepada polisi setelah dirinya ditangkap polisi. Simeon yang ditahan polisi, kini bersiap-siap menjalani persidangan di PN Wamena. Secara struktural, KNPB tidak pernah merencakan kejahatan. Simeon ditahan tanpa alasan yang jelas,”

terangnya.

Sehingga, menurut Medlama, Simeon Daby seharusnya dibebaskan bersama beberapa anggota KNPB yang ditahan.

“Simeon tidak tahu persoalan karena waktu peledakan dan penemuan bom dirinya ada di luar Wamena,”

tegas Medalama.

Sementara itu, Victor Yeimo, ketika diminta komentar melalui pesan singkat telepon genggam, Ketua Umum KNPB pusat tidak dapat dihubungi, hingga berita ini diturunkan. (Jubi/Mawel)

Tuesday, January 15th, 2013 | 20:17:54, TJ

Aparat Gabungan Lanjut Operasi Penyisiran di Paniai

Paniai — Keberadaan kelompok John Magai Yogi di Kabupaten Paniai terus diburu aparat keamanan militer Indonesia. Bahkan hingga kini, aparat gabungan TNI dan Polri masih mengejarnya setelah awal pekan ini baku tembak di Waidide, Kampung Pugo, Distrik Paniai Timur.

Digelarnya operasi penyisiran terhadap John Magai Yogi dan kelompoknya, Kapolres Paniai, Antonius Diance belum memberikan keterangan resmi. Saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, tidak terhubung.

Meski begitu, sumber tabloidjubi.com menyebut masih berlanjutnya operasi penyisiran tersebut akan berdampak buruk di pihak warga sipil.

“Apalagi di puncak Gunung Ekaugi ada pos. Mereka saling jaga itu,”

katanya.

Anggota Brimob, polisi dan tentara bertugas di pos itu. Setiap kendaraan yang lewat di jalan raya dirazia aparat keamanan.

“Saat ini situasinya tidak aman. Di Pugo tidak ada orang, karena lagi mengungsi. Semua ketakutan. Rumah juga dibakar. Aparat lagi kejar TPN OPM,”

kata Pdt. Nico Degei, pemuka umat Kingmi Papua di Paniai, Rabu (9/1).

Pasukan Brimob dari Kelapa II Depok, Makassar dan Polda Papua yang dikirim untuk memperkuat personil Polres Paniai, menurut Nico, belum ditarik. Padahal pengiriman pasukan tersebut hanya kepentingan pengamanan 1 Desember 2012.

“Sampai saat ini Paniai aman-aman saja. Tapi kenapa ditambah banyak-banyak, terus belum juga ditarik kembali?”

katanya bertanya.

Koordinator National Papua Solidarity (NAPAS), Marthen Goo di Jakarta, Selasa (8/1) kemarin, mengecam terjadinya penyisiran oleh gabungan TNI dan Polri di Kampung Pugo, Paniai. Ia juga menyatakan, mendesak institusi militer segera hentikan aksi kekerasan di Tanah Papua.

Sebelumnya, Senin (7/1) siang, terjadi kontak senjata di Kampung Pugo. Rentetan tembakan saat itu mengagetkan warga setempat. Takut, mereka segera memilih mengungsi ke Madi, Enarotali, dan kampung terdekat lainnya.

Berdalih memburu TPN OPM, warga sipil justru diperlakukan kasar. Terus diinterogasi untuk menunjuk keberadaan John dkk. Menuduh warga setempat ikut membantu dan menyembunyikan kelompok separatis.

“Masyarakat Paniai khususnya di Pugo dan sekitarnya tidak salah. Jadi, sebaiknya kedua kelompok ini menahan diri. Jangan saling kejar, jangan baku tembak, karena masyarakat yang nanti korban,”

ujarnya.

Tak hanya terjadi pengungsian. Pagar dan tanaman di kebun milik warga setempat rusak akibat aksi baku tembak di pinggir Jalan Trans Papua poros Paniai-Deiyai. Dalam operasi penyisiran di Kampung Pugo, 13 buah rumah warga terbakar. Satu rumah yang dibakar dicurigai dihuni John Magai Yogi.

Sempat terjadi kontak senjata. Namun belum ada data mengenai korban di kedua kubu. Hari ini, aksi penyisiran oleh militer masih berlanjut. Situasi tegang sejak dua hari lalu belum redah. Warga Pugo tak bisa kembali ke rumah mereka. (Jubi/Markus You)

 Wednesday, January 9th, 2013 | 15:32:53, TJ

Lagi, Keluarga Pertanyakan Proses Hukum Oknum TNI Yang Tembak Mati Pendeta

TNI-AD

 Merauke – Anis Jambormase, keluarga dari pendeta wanita Frederika Metalmeti (38), kembali mempertanyakan proses hukum terhadap kedua oknum anggota TNI yang telah melakukan penembakan terhadap anak mereka, pada 21 November 2012, di Boven Digoel, Papua.

“Sampai saat ini janji dari Danrem 174/ATW Merauke, dan Pangdam XVII/Cenderawasih masih kami pegang, di awal tahun yang baru ini kami sangat berharap proses hukum dapat segera dituntaskan.”

Pernyataan tersebut disampaikan Jambormase, ketika menghubungi suarapapua.com, Senin (7/1/2013) siang tadi, dari Tanah Merah, Boven Digoel, Papua.

Menurut Jambormase, pihak TNI melalui Danrem 174/ATW Merauke telah memastikan bahwa pelaku penembakan adalah oknum anggota TNI, dan telah berjanji akan di hukum yang seberat-beratnya, bahkan juga berjanji memecat oknum anggota tersebut.

“Kami keluarga akan terus menunggu kapan proses persidangan di Mahkamah Militer TNI di Jayapura dilangsungkan,”

kata Jambormase.

Sementara itu, secara terpisah Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Jansen Simanjuntak, ketika dihubungi wartawan media ini siang tadi, mengaku semua berkas perkara tersangka sudah di serahkan ke Mahmil TNI.

“Saat ini Mahmil sedang pelajari kelengkapan berkas-berkas tersebut, jika sudah benar-benar lengkap, maka proses persidangan akan segera digelar dalam waktu dekat,”

katanya melalui sambungan telepon seluler.

Menurut Kapendam, sejak awal Panglima telah berjanji akan memproses kasus tersebuah sampai ke ranah persidangan, dan oknum anggota yang melakukan perbuatan tersebut akan dihukum seberat-beratnya.

“Kami minta keluarga dapat percaya pada janji bapak panglima, beliau tidak main-main dengan kasus ini, proses hukum akan tetap digelar,”

ungkapnya.

Sebelumnya, seperti diberitakan media ini (baca: Ironis, Dua Oknum Anggota TNI Tembak Mati Pendeta), pada tanggal 21 November 2012, dua orang oknum anggota TNI dikabarkan menembak mati pendeta wanita Frederika Metalmeti tak jauh dari markas kepolisian Tanah Merah, Boven Digoel.

Ketika keluarga menemui salah satu petugas Rumah Sakit yang melakukan otopsi terhadap jenazah korban, ditemukan luka tembak, serta luka memar di sekujur tubuh korban.

Ada tiga tembakan, dikepala korban, dada sebelah kiri, lengan sebelah kanan, kemudian ada luka memar dan sayatan alat tajam di muka korban.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjend TNI Christian Zebua, ketika bertemu dengan Komnas HAM RI, pada 30 November 2012 lalu, juga berjanji akan menghukum seberat-beratnya oknum anggota TNI tersebut, dan bahkan sampai pada proses pemecatan yang bersangkutan.

Monday, January 7, 2013, 14:07, SP

 

 

Aparat Militer kepung Markas Tpn-Opm dan Membakar Rumah Warga Sipil Pugo Paniai

Militer Indonesia di Papua
Militer Indonesia di Papua
PANIAI — Tim Gabungan Aparat Militer (Tni-Polri) sebanyak lima Kompi, Pengepung Markas Besar Tpn-Opm wilayah Paniai Pimpinan Jhom M. Yogi. Awalnya di Tahun 2011 di Eduda, kali ini markas besar Waidide Pugo. Di Kabupaten Paniai, saat ini Kontak senjata kedua belah pihak masih berlanjut siang ini terdengar bunyi tembakkan.
Menurut pihak masyarakat setempat, Rumah warga sipil di wilayah Pogo Kecapaten Paniai Timur  Kabupaten Paniai, di Bakar oleh oknum Militer Indonesia, yang perpakian lengkap dan Pakian Biasa (Preman/Intel). pada Senin (07/01/2013). Pesan singkat kirim ke media ini melalui sms.
Awalnya Sejak 13 desember 2011 lalu, Aparat  Militer Indonesia membongkar dan membakar Markas besar Tpn-Opm  Devisi II Makodam Pembela keadilan IV Paniai di Eduda.
kemudian saat itu, Pimpinan Tpn-Opm  Wilayah Paniai Jhon M Yogi, Pindah ke daerah Pogo.  Lalu keberadaan mereka di ketahui oleh Militer maka, saat Ini Militer  Indonesia Menggunakan Alat perang lengkap mengepung Markas baru mereka. Begitu disampakan oleh warga setempat kejadian perkara (Tkp).”Ungkapnya.
Hal ini dibenarkan oleh salah satu Guru Sekolah Dasar (SD) di Inpres Pugo, Menyatakan, kejadian ini bermula pada Pukul 10:00 waktu Papua,  kemudian mereka masuk langsung membakar rumah warga setempat sambil mencari dimana tempat markas Tpn-Opm berada, sehingga rumah Warga sipil jadi Korban di bakar hangus oleh oknum Aparat Militer,  bunyi Smsnya.
“Menurut Salah satu Mahasiswa asal Paniai (MG), juga menyatakan, sejak tadi pagi Aparat siaga satu, baik dari penyiriman dari kelapa dua Depok Jakarta, Polda Papua, dan Petugas setempat mereka memasuki di wilayah Pogo, mereka saling penyerang kontak senjata hingga bunyi tembakan terdekar di bukit ekaugi dekat Rumah sakit Umum daerah (RSUD) Paniai Uwibutu Madi,”
menurutnya
Hingga saat ini Kondisi Masyarat Paniai, dalam keadaan yang sangat  Panik trauma, karena keadaan kondisi yang tidak aman.
Korban sementara kedua bela pihak, dari Tni-Polri maupun dari Tpn-Opm belum di ketahui. Yang kami Mendapatkan Informasi terakhir hanya Rumah warga sipil dan Harta benda yang korban. Masyarakat setempat menghimbau semua pihak memohon untuk advokasi. (Ag)
 Sunday, January 6, 2013 | 11:38 PM, MP

Komnas HAM Desak Polda Papua Ungkap Pelaku Penembakan

NATALIS PIGAI
NATALIS PIGAI

Jayapura – Natalius Pigai, Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Indonesia meminta Kapolda Papua dan jajarannya agar  segera mengungkap pelaku penembakan terhadap Melage Tabuni (40) pada hari Selasa (1/1) lalu di Halte Taman Mandiri, samping Purasko Satkamla Lantamal X Jayapura.

“Kapolda beserta jajarannya harus segera mengungkap siapa pelaku penembakan walaupun di media cetak hari ini bahwa Kapolresta Jayapura, AKBP Silas Papare mengatakan, korban bukanlah korban penembakan, melainkan korban peluru nyasar,”

kata Pigai saat menghubungi tabloidjubi.com, Kamis(3/1).

Menurut Pigai, sebenarnya Kapolresta Jayapura sudah tahu siapa pelakunya sehingga pihaknya meminta Kapolda Papua dan jajarannya untuk segera mengungkap pelaku penembakan tersebut. Ditegaskan persoalan itu harus tetap diproses.

“Bila itu memang peluru nyasar akibat dari euphoria tahun baru seperti yang diungkapkan oleh Kapolresta Jayapura maka tidak mungkin ada peluru tanpa ada yang menembakannya. Saya ingin meminimalisir pandangan orang bahwa saat ini Papua dijadikan sebagai area baru terorisme. Apalagi kelompok pejuang HAM di Papua dijadikan teroris,”

kata Pigai lagi.

Pigai meminta Kapolda, jangan karena berada di lingkungan Densus 88 lau kemudian menerapkan Pasal Terorisme di Papua. Untuk memberlakukan pasal terorisme di Papua, harus dibaca dengan baik.

Terkait pemberitaan di media nasional terkait isu masuknya jaringan teroris pimpinan Santoso yang merupakan kelompok Komando Mujahidin Indonesia Timur (KMIT) ke Papua seperti juga yang diberitakan tabloidjubi.com, bagi Pigai itu bukanlah alas an menjadikan terorisme sebagai kambing hitam dalam peristiwa penembakan di Papua.

“Pelarian teroris dari Posso itu berbasis identitas agama yaitu agama Islam, sedangkan apa yang dilakukan perjuangan yang dilakukan Perjuangan Orang Papua berdasarkan identitas ideologi politik dan hak-hak dasar Orang Asli Papua,”

ungkap Pigai lagi.

Pigai berpendapat, peristiwa penembakan tidak boleh dijadikan alat justifikasi untuk membenarkan masuknya kelompok teroris ini ke Papua. Pihaknya berjanji untuk terus memantau kondisi HAM di Papua karena peristiwa penembakan yang terjadi di hari pertama Tahun 2012.

“Apa yang akan terjadi pada 363 hari berikutnya di Papua?”

tanya Pigai mengakhiri wawancara. (JUBI/Aprila Wayar)

Thursday, January 3rd, 2013 | 15:10:24, TJ

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny