Pengibar Bintang Kejora Dikirim ke Nusakambangan

JAYAPURA – Dua tahanan politik (tapol) kasus pengibaran Bintang Kejora di Papua yakni Filep Karma dan Buchtar Tabuni direncanakan akan dipindahkan dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II A Abepura ke LP Nusakambangan.

Kabarnya, akibat rencana pemindahan tersebut, salah satu Tapol Filep Karma langsung melakukan aksi mogok makan, sebagai bentuk protes kepada pihak LP yang dianggap terlalu arogan dengan memindahkan tahanan atas dirinya ke LP Nusakambangan.

Filep Karma dan juga Buchtar Tabuni, pada Sabtu malam lalu dipindahkan dari Lapas Abepura ke penjara Polda Papua. dan saat ini keduanya berada di sel isolasi Polda Papua.

“Kalau mengenai kasus Filep Karma, saya belum mendapat informasi tentang itu. Karena saat ini saya masih berada di luar kota. Nanti akan saya cek ke anak buah tentang kebenarannya,” ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Wachyono saat di hubungi okezone via telepon, Senin (6/11/2010).

Sementara itu, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A, Liberty Sitinjak belum mau memberikan komentar terkait rencana pemindahan kedua tahanan kasus makar tersebut.

Filep Karma merupakan tahanan Politik yang divonis 15 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jayapura dengan tuduhan tindakan makar atas aksinya mengibarkan bendera Bintang Kejora di lapangan Trikora, Abepura pada 2004 silam.

Sementara Buchtar Tabuni adalah salah satu tokoh yang dianggap memprovokasi muncul dan menguatnya dukungan internal di Papua, khususnya dari kalangan mahasiswa dan orang muda terhadap pembentukan kaukus International Parlementary for West Papua (IPWP) di London, Inggris pada tanggal 16 Oktober 2008. Buchtar juga memimpin aksi demo di Expo Waena serta aksi demo di Uncen, pada 16 Oktober 2008.

(teb)

Tak Terima Rekannya Ditembak, Buchtar Mengamuk di Lapas

Sementara itu menyusul, tewasnya 1 rekannya di tangan aparat keamanan saat melarikan diri dari Lapas Abepura Jumat (3/12) sekitar pukul 12.00 WIT, sore harinya sekitar pukul 18.30 WIT, Buchtar Tabuni bersama Filep Karma dan diikuti puluhan orang penghuni lapas lain melakukan aksi keributan di dalam lapas.

Dari informasi yang didapat Bintang Papua bahwa hal itu dipicu saat Buctar Tabuni meminta bertemu dengan Kalapas Abepura untuk mengklarifikasi kejadian penembakan rekannya bernama Miron Wetipo. Buchtar Tabuni yang merupakan Ketua Umum KNPB (Komite Nasional Papua Barat) meminta kepada kalapas untuk menghadirkan aparat yang menembak rekannya hingga tewas di lapas Abepura.

Karena permintaannya tidak dikabulkan Kalapas Abepura Liberti Sitinjak, Bucktar Tabuni bersama Filep Karma mengkoordinir puluhan penghuni lapas Abepura melakukan keributan. Yaitu melempari petugas lapas, serta fasilitas lapas Abepura menggunakan batu. Melihat aksi tersebut, petugas dari Satbrimobda Papua yang berjaga di Lapas bersama petugas Lapas Abepura sempat memberikan tembakan peringatan. Tidak lama kemudian dua unit Truk membawa pasukan dari Brimobda Papua datang ke Lapas Abepura untuk membantu proses pengamanan. Setelah dilakukan sweeping akhirnya situasi di lapas Abepura kembali aman. Dari kejadian tersebut, lima orang narapidana masing-masing Buchtar Tabuni, Filep Karma, Dominggus Pulalo, Alex Elopere dan Dani Karobaba diamankan dan dibawa ke Polresta Jayapura.

Kalapas Abepura Liberti Sitinjak saat dihubungi Bintang papua via Ponselnya membenarkan kejadian tersebut. “Iya kita sudah berkoordinasi dengan kepolisian. Lima orang sementara kita amankan untuk dibawa ke Polresta Jayapura,” ungkapnya.(aj/don/03)

Markas OPM Tanah Hitam Digerebek, 1 Tewas

Mayat Miron Wetipo yang tewas tertembak di leher sesaat jenazahnya akan dimasukkan ke kantong jenazah untuk dievakuasi ke RS Bhayangkara.Jayapura- Upaya untuk mengungkap penembakan misteri di tanjakan Kampung Nafri oleh Polresta Jayapura yang dibakap aparat TNI dari Korem 172/PWY, POMDAM XVII/Trikora maupun dari Yonif 751/BS, tampaknya tidak sia-sia. Terbukti, sebuah rumah yang diduga digunakan sebagai markas para pelaku yang diidentifikasi dari kelompok TPN/OPM pimpinan DK (Dhani Kogoya), Kamis (2/12) sekitar pukul 02.00 WIT digerebek aparat. Dari markas yang terletak di Kompleks Perumahan BTN Atas Puskopad Tanah Hitam, aparat berhasil menyita sejumlah amunisi jenis SS 1 dan dokumen-dokumen terkait penyerangan di Nafri maupun dokumen rencana operasi kelompok tersebut. Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan,SIK saat ditemui wartawan disela-sela proses penggeledahan dan pengidentifikasian Markas TPN/OPM tersebut mengatakan dari penggerebekan markas TPN/OPM tersebut, aparat gabungan TNI/Polri berhasil mengamankan 9 orang yang dibawa ke Polresta Jayapura.

“Bahwa tadi malam saya melakukan penggerebekan dan ditemukan beberapa amunisi dan delapan orang. Delapan orang ini sedang dalam pendalaman di Polresta,” ungkapnya Jumat (3/11).
Pada Jumat (3/12) pagi harinya, saat kembali melakukan penggeledahan, menurut Kapolres ditemukan amunisi dan dokumen TPN/OPM. “Tadi pagi kita melakukan pengembangan dari yang tadi malam. Dan ternyata tadi pagi kita menemukan lagi dua kotak amunisi jenis SS 1 ditambah dokumen-dokumen dari gerakan OPM,” lanjutnya.

Dalam dokumen yang ditemukan aparat di markas yang sering dipakai sebagai tempat ibadah tersebut, menurutnya terdapat catatan bahwa tanggal 28 November peristiwa penembakan di Nafri bagian dari operasinya. “Saya sudah bilang kita akan terus mengejar,” tandasnya.
Sementara jenis amunisi yang ditemukan adalah caliber 5,56 40 butir, caliber 12 1 butir, kalibar 7,62 1 butir dan barang bukti lain berupa stempel dan cap TON/OPM serta dokumen terkait penyerangan terhadap TNI/Polri. Menurut Kapolres sejumlah barang bukti ini ditemukan di bawah tanah dengan menggunakan alat pendeteksi sinal laser (light detector). “Pada saat penggeledahan tadi, pasukan gabungan tiba-tiba diserang lima orang tidak dikenal dengan menggunakan berbagai jenis senjata.

Anggota sudah memberikan peringatan agar tidak melakukan perlawanan, dan pada saat yang genting anggota gabungan akhirnya mengeluarkan tembakan dan satu orang tewas atas nama Miron Wetipo, dan satu orang ditangkap atas nama Jack Mabel,” paparnya.

Sementara, masih menurut Kapolres bahwa tiga orang yang melakukan penyerangan kepada parat berhasil lari dan aparat masih masih berupaya melakukan pengejaran. “Rupanya kelima orang tadi adalah napi yang melarikan diri tadi pagi. Mereka kemungkinan ke rumah itu mau mengambil peluru dan bertemu dengan kita,” jelasnya.

Dalam dokumen yang ditemukan di markas OPM pimpinan DK yang masih dalam pengejaran tersebut, yang mengejutkan bahwa menurut Kapolres juga ada rencana operasi di wilayah Waena. “Dalam dokumen yang ditemukan juga terdapat rencana penyerangan di tempat lain yang salah satunya di Buper,” jelasnya.

Operasi yang tergolong cukup berhasil tersebut menurut Kapolres adalah dari kerjasama tim gabungan TNI/Polri. “Terdiri dari Satgas Korem yang di BKO kan di Polres Jayapura. Mereka di sini mulai bekerja sejak kasus Nafri, sampai sekarang yang merupakan pengembangan dari kasus Nafri,” ujarnya.

Komnas HAM Tolak Pembunuhan Terhadap Miron Wetipo

Sementara itu, tewasnya warga sipil Miron Wetipo yang tertembak mati ketika digelar operasi gabungan TNI-Polri di Abepura Gunung Jumat (3/12) yang hingga kini belum jelas alasannya, ditanggapi pihak Komnas HAM Papua. “Sesuai mandat dan tugas Komnas HAM kami menolak perilaku kekerasan dan pembunuhan di luar prosedur hukum nasional yang berlaku. Stop kekerasan dan hormatilah HAM bagi semua. Setiap orang mempunya hak untuk hidup dan berkarya diatas Tanah Papua.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua Mathius Murib kepada Bintang Papua di Jayapura, Jumat (3/12) malam. (aj/mdc/don/03)

1 Warga Papua Tewas Tertembak Aparat

JAYAPURA – Satu warga sipil di Kota Jayapura, Papua, sekira pukul 12.30 WIT tewas tertembak saat aparat gabungan TNI dan Polri melakukan penyisiran di perbukitan Tanah Hitam, Kota Abepura, Papua pasca penembakan misterius di Kampung Nafri beberapa waktu lalu.

Kapolresta Jayapura Imam Setiawan mengatakan, penyisiran dilakukan lantaran ada dugaan sekelompok orang yang berada disalah satu rumah dekat Gereja GIDI, Kampung Kamkey, Abepura, Kota Jayapura menyimpan amunisi jenis SS 1.

“Saat penyisiran di salah satu bangunan yang dijadikan sebagai tempat ibadah oleh sekelompok anggota TPN/OPM, aparat gabungan sempat melakukan kontak senjata dengan lima anggota tersebut, dan satu di antaranya tewas tertembak dibagian leher belakang,” ujar Imam di Jayapura, Jumat (3/12/2010).

Dituturkan Imam, sebelumnya aparat gabungan telah melakukan penyisiran dilokasi yang sama pada Kamis 2 November malam, dari penyisiran tersebut, aparat mendapati delapan warga sipil yang diduga anggota TPN/OPM.

Keesokan harinya, aparat kembali melakukan penyisiran dan dihadang oleh lima orang tak dikenal, yang kemudian berujung pada kontak senjata. Satu di antaranya diketahui bernama Hiron Weitipo tewas di tempat. Satu tertangkap yang diketahui bernama Jack Mebel sedangkan tiga orang lainnya masih dalam mengejaran.

“Saat ini, kedelapan orang tersebut sudah diamankan di Polresta, ” terang dia.
Dalam penyisiran yang berlangsung sejak pagi tadi, aparat gabungan TNI dan Polri menemukan dua karton amunisi jenis SS 1 serta dokumen-dokumen rangkaian penyerangan anggota TPN/OPM diantaranya di Kampung Nafri dan Kampung Buper Waena, Abepura.

(teb)

Markas OPM Tanah Hitam Digerebek, 1 Tewas

Mayat Miron Wetipo yang tewas tertembak di leher sesaat jenazahnya akan dimasukkan ke kantong jenazah untuk dievakuasi ke RS Bhayangkara.Jayapura- Upaya untuk mengungkap penembakan misteri di tanjakan Kampung Nafri oleh Polresta Jayapura yang dibakap aparat TNI dari Korem 172/PWY, POMDAM XVII/Trikora maupun dari Yonif 751/BS, tampaknya tidak sia-sia. Terbukti, sebuah rumah yang diduga digunakan sebagai markas para pelaku yang diidentifikasi dari kelompok TPN/OPM pimpinan DK (Dhani Kogoya), Kamis (2/12) sekitar pukul 02.00 WIT digerebek aparat. Dari markas yang terletak di Kompleks Perumahan BTN Atas Puskopad Tanah Hitam, aparat berhasil menyita sejumlah amunisi jenis SS 1 dan dokumen-dokumen terkait penyerangan di Nafri maupun dokumen rencana operasi kelompok tersebut. Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan,SIK saat ditemui wartawan disela-sela proses penggeledahan dan pengidentifikasian Markas TPN/OPM tersebut mengatakan dari penggerebekan markas TPN/OPM tersebut, aparat gabungan TNI/Polri berhasil mengamankan 9 orang yang dibawa ke Polresta Jayapura.

“Bahwa tadi malam saya melakukan penggerebekan dan ditemukan beberapa amunisi dan delapan orang. Delapan orang ini sedang dalam pendalaman di Polresta,” ungkapnya Jumat (3/11).

Pada Jumat (3/12) pagi harinya, saat kembali melakukan penggeledahan, menurut Kapolres ditemukan amunisi dan dokumen TPN/OPM. “Tadi pagi kita melakukan pengembangan dari yang tadi malam. Dan ternyata tadi pagi kita menemukan lagi dua kotak amunisi jenis SS 1 ditambah dokumen-dokumen dari gerakan OPM,” lanjutnya.

Dalam dokumen yang ditemukan aparat di markas yang sering dipakai sebagai tempat ibadah tersebut, menurutnya terdapat catatan bahwa tanggal 28 November peristiwa penembakan di Nafri bagian dari operasinya. “Saya sudah bilang kita akan terus mengejar,” tandasnya.
Sementara jenis amunisi yang ditemukan adalah caliber 5,56 40 butir, caliber 12 1 butir, kalibar 7,62 1 butir dan barang bukti lain berupa stempel dan cap TON/OPM serta dokumen terkait penyerangan terhadap TNI/Polri. Menurut Kapolres sejumlah barang bukti ini ditemukan di bawah tanah dengan menggunakan alat pendeteksi sinal laser (light detector). “Pada saat penggeledahan tadi, pasukan gabungan tiba-tiba diserang lima orang tidak dikenal dengan menggunakan berbagai jenis senjata.

Anggota sudah memberikan peringatan agar tidak melakukan perlawanan, dan pada saat yang genting anggota gabungan akhirnya mengeluarkan tembakan dan satu orang tewas atas nama Miron Wetipo, dan satu orang ditangkap atas nama Jack Mabel,” paparnya.

Sementara, masih menurut Kapolres bahwa tiga orang yang melakukan penyerangan kepada parat berhasil lari dan aparat masih masih berupaya melakukan pengejaran. “Rupanya kelima orang tadi adalah napi yang melarikan diri tadi pagi. Mereka kemungkinan ke rumah itu mau mengambil peluru dan bertemu dengan kita,” jelasnya.

Dalam dokumen yang ditemukan di markas OPM pimpinan DK yang masih dalam pengejaran tersebut, yang mengejutkan bahwa menurut Kapolres juga ada rencana operasi di wilayah Waena. “Dalam dokumen yang ditemukan juga terdapat rencana penyerangan di tempat lain yang salah satunya di Buper,” jelasnya.

Operasi yang tergolong cukup berhasil tersebut menurut Kapolres adalah dari kerjasama tim gabungan TNI/Polri. “Terdiri dari Satgas Korem yang di BKO kan di Polres Jayapura. Mereka di sini mulai bekerja sejak kasus Nafri, sampai sekarang yang merupakan pengembangan dari kasus Nafri,” ujarnya.

Komnas HAM Tolak Pembunuhan Terhadap Miron Wetipo
Sementara itu, tewasnya warga sipil Miron Wetipo yang tertembak mati ketika digelar operasi gabungan TNI-Polri di Abepura Gunung Jumat (3/12) yang hingga kini belum jelas alasannya, ditanggapi pihak Komnas HAM Papua. “Sesuai mandat dan tugas Komnas HAM kami menolak perilaku kekerasan dan pembunuhan di luar prosedur hukum nasional yang berlaku. Stop kekerasan dan hormatilah HAM bagi semua. Setiap orang mempunya hak untuk hidup dan berkarya diatas Tanah Papua.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua Mathius Murib kepada Bintang Papua di Jayapura, Jumat (3/12) malam. (aj/mdc/don/03)

Penembakan di Jayapura: Polisi Mengamankan 14 Selongsong Peluru

JAYAPURA – Kepolisian Resort Jayapura kembali menemukan satu selongsong peluru ketika melakukan rekonstruksi olah TKP (tempat kejadian perkara) kasus penembakan di kampung Nafri, Distrik Abepura, Jayapura, Papua, Selasa kemarin.

“Dengan demikian total selongsong peluru yang ditemukan adalah 14 selongsong. Jumlah ini ditambah dengan 10 selongsong yang ditemukan TNI,” terang Direskrim Polda Papua, Petrus Wayne di Jayapura, Rabu (2/12/2010).

Lebih lanjut dikatakan, usai proses rekonstruksi penemuan selongsongan tersebut akan diteliti oleh saksi ahli guna menentukan jenis caliber dan senjata yang digunakan para pelaku untuk menembak.

Olah TKP kemarin, dilakukan oleh Unit Satuan Indentifikasi Reskrim Polda Papua bersama jajaran Reskrim Polresta Jayapura yang dipimpin Direskrim Polda Papua, Kombes Petrus.

Di olah TKP yang berlangsung kurang lebih dua jam itu, kepolisian menghadirkan enam saksi pengendara mobil dan sepeda motor.

Sebelumnya, Minggu 28 November lalu sekira empat orang yang tak dikenal melakukan penembakan terhadap warga sipil di kampung Nafri persis di depan tempat Pemakaman umum (TPU) Nafri. Akibat penembakan menggunakan senjata SS 1 itu, satu warga sipil Kota Jayapura tewas serta empat orang lainnya luka-luka.

(teb)

Ruang Gerak Penembak Misterius, Dipersempit

Jayapura- Tak mudah mengungkap pelaku penembakan misterius di Nafri. Terbukti hingga tiga hari pasca penembakan yang menewaskan satu orang dan melukai 4 warga lainnya, siapa pelakunya belum belum juga tertengkap.Meski demikian, jajaran Kepolisian dari Polresta Jayapura dibantu pihak TNI dari Kodam XVII/Cendrawasih terus melakukan upaya penyisiran dan razia guna mempersempit ruang gerak para pelaku. Sayangnya, hingga hari ketiga ini, Polisi belum menemukan titik terang terkait keberadaan mereka.
Adanya informasi dua warga diamankan yang diduga bagian dari pelaku penembakan, Kapolresta Jayapura AKBP H. Imam Setiawan SiK enggan berkomentar lebih jauh. “Ini masih dalam tahap penyelidikan, kita belum bisa mengatakan mereka ini terlibat atau tidak” ungkap Kapolresta ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (30/11) kemarin.Diakui, saat ini fokus kepolisian tidak hanya pada upaya pengungkapan kasus penembakan, tapi juga bagaimana menormalkan kembali kehidupan masyarakat yang sempat terganggu.

“Oleh karena itu saya mengajak kepada semua masyarakat, mari bekerja sama bahu membahu untuk menciptakan rasa aman dengan cara rajin memberikan informasi kepada Polisi, baik yang di Pos POL di Yanmo maupun di Polres. Masyarakat jangan apatis, bila menemukan hal hal yang mencurigakan silahkan lapor kepada kami. Tidak perlu takut, kami akan menjamin kerahasiaan dan keamanan yang melapor,” harap Kapolresta.Sementara itu, dalam rangka pengamanan jelang perayaan 1 Desember aparat Kepolisian menyiagakan 700 personil gabungan dari Polresta, Polda Papua dan Satuan Brimob ditambah 100 personil dari Kodam XVII/Cenderawasih.

Dari Razia yang dilakukan di beberapa titik selama dua hari, Polisi menyita 13 senjata tajam seperti kapak, badik, pisau juga panah. Terkait hal ini, Kapolresta menambahkan, pemilik sajam dikenakan UU Darurat no.12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam dan bahan peledak. (ar/don03)

800 Personel TNI/Polri Siaga di 48 Titik

AKBP Imam Setiawan, SIKJAYAPURA – Terkait perayaan 1 Desember hari ini, aparat tidak mau kecolongan. Tidak tanggung-tanggung ada sekitar 800 personel yang terdiri atas 700 anggota Polri dan 100 anggota TNI akan disiagakan untuk menjaga 48 titik yang ada di Kota Jayapura.Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan, SIK mengatakan, masyarakat tidak perlu merasa panik atau gelisah karena memasuki tanggal 1 Desember ini yang dianggap sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua dan sering diwarnai dengan pengibaran bendera Bintang Kejora (BK) secara diam-diam.”Masyarakat diharapkan tenang saja,” tegasnya kepada wartawan saat ditemui di halaman Museum Negeri Expo Waena, Selasa (30/11).

Menurutnya, penjagaan oleh aparat keamanan ini telah dilakukan sejak kemarin lalu (Senin-Red) hingga hari ini tanggal 1 Desember 2010. Untuk itu, lanjutnya, dengan adanya kegiatan-kegiatan masyarakat seperti pengobatan massal atau pembagian sembako seperti yang dilakukan oleh Persatuan Gereja Kota Jayapura dapat memperlihatkan bahwa kondisi dan situasi aman.

“Pensosialisasian bahwa situasi Kota Jayapura aman dapat terlihat dari kegiatan-kegiatan sosial yang digelar oleh masyarakat sendiri,” tandasnya. (dee/03)

TNI Grebek Rumah Tokoh Organisasi Papua Merdeka di Keerom

TEMPO Interaktif, Jayapura – Anggota Tentara Nasional Indonesia menggerebek sebuah rumah milik tokoh Organisasi Papua Merdeka, Lamberth Paikikir, di Arso, Kabupaten Keerom, Jumat dini hari (26/11) tadi. Kodam XVII/Cenderawasih menyatakan, penggerebekan tersebut belum bisa dipastikan, namun harus diverifikasi kembali.

“Saya sudah dapat info itu, tapi nantilah, saya cek dulu kebenarannya sehingga tidak terjadi salah penulisan berita,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Czi. Harry Priyatna, Jumat (26/11).

Sebelumnya istri Lamberth Paikikir membenarkan jika telah terjadi penangkapan oleh tentara terhadap suaminya. Penangkapan tersebut terjadi dinihari tadi. Warga lain di Arso menyebut, penggerebekan itu bisa saja benar. “Ada tentara yang datang pegang senjata. Tapi kurang tahu apa ada penggerebekan atau tidak,” kata Gode, warga Arso.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Sektor Arso Kota, AKP. Yoseph Goran mengatakan belum mengetahui penangkapan tersebut. “Saya bahkan belum dapat informasinya, nanti saya cek dulu,” ujarnya.

Hingga laporan ini diturunkan, Kodam XVII/Cenderawasih belum memastikan berapa banyak orang tertangkap dalam penggerebekan tersebut dan apakah penggerebekan benar terjadi seperti disebut sejumlah saksi. Kodam XVII/Cenderawasih belum bersedia menyimpulkan apakah terjadi perlawanan saat penangkapan atau tidak.

Jum’at, 26 November 2010 | 10:21 WIB
TEMPO/Wahyu Setiawan

Diduga Lindungi OPM, Rumah Warga Digeledah TNI

JAYAPURA – Satu kompi aparat TNI dari Kostrad 330, dini hari tadi, menggeledah rumah salah satu warga kampung Workwana, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Kota Jayapura, Papua.

Penggeladahan rumah milik Lukas Menigir ini dilakukan karena warga Kabupaten Keerom tersebut dilaporkan melindungi salah satu dari anggota DNPB (Dalam negeri Papua Barat) atau yang lebih dikenal dengan sebutan TPN/OPM yaitu Lambert Pekikir.

Namun, penggeledahan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam, mulai pukul 04.30 sampai pukul 05.30 WIT ini sama sekali tak membuahkan hasil.

Karena sebetulnya, Lambert Pekikir yang tak lain adalah Panglima TPN/OPM wilayah Kabupaten Keerom, tak berada di rumah Lukas Menigir seperti yang dilaporkan selama ini.

Tak ada kerusakan yang dilakukan aparat pasca-penggeledahan tersebut, namun warga sekitar mengaku trauma dengan penggeledahan yang dianggap semena-mena itu.

“Kita minta untuk diberikan jaminan perlindungan keamanan, karena sebagai warga kita merasa terancam dengan kecurigaan para aparat, “ ujar Lukas di Jayapura, Jumat (26/11/2010).

Sementara itu, pihak TNI belum mau memberikan keterangan kepada media terkait dengan penggeledahan tersebut. (teb)

Jum’at, 26 November 2010 – 15:05 wib
Nurlina Umasugi – Okezone

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny