MERAUKE- Masyarakat Kampung Wasur II, Kabupaten Merauke digemparkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki yang sudah mulai membusuk di dalam sebuah bekas galian. Informasi yang diperoleh Koran ini menyebutkan jenasah tersebut bernama Agus Katobi, kelahiran Jawa Timur 1985. Continue reading “Mayat Membusuk Ditemukan di Kampung Wasur II”
Di Hamadi, Dua Anggota TNI AL Dikeroyok – Satu Pelaku Langsung Ditangkap
JAYAPURA-Naas bagi kedua anggota TNI AL, Lantamal X Jayapura, masing-masing bernama Eri Enggar (23) dan Abdul Kholik. Keduanya dikeroyok sejumlah orang di Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Sabtu (5/7) sekitar pukul 20.00 WIT. Continue reading “Di Hamadi, Dua Anggota TNI AL Dikeroyok – Satu Pelaku Langsung Ditangkap”
10 Tahun ” Biak Berdarah” Diperiganti
BIAK-Tragedi 10 tahun “Biak Berdarah” diperingati, Minggu 6/7) kemarin. Peringatan itu dilakukan dalam bentuk doa bersama sekitar 100 orang. Doa bersama itu dipusatkan ditempat peristiwa 10 tahun lalu, tepatnya di bawa menara air minum, Tower Puskesmas Biak Kota. Continue reading “10 Tahun ” Biak Berdarah” Diperiganti”
Pangdam dan Kapolda Sesalkan Insiden di Tingginambut
JAYAPURA-Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto menyesalkan terjadinya insiden yang diduga melibatkan oknum anggota kepolisian yang terjadi di Pos Polisi Tinggi Nambut, Kabupaten Puncak Jaya, Rabu (25/6) kemarin.
“Pimpinan (Kapolda Papua, red) tentu sangat menyesalkan, jika memang insiden itu terjadi,” kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Drs Agus Rianto kepada Cenderawasih Pos dikonfirmasi terkait dugaan penganiayaan terhadap Anto Asse (28) salah seorang staf Pemkab Puncak Jaya yang diduga melibatkan oknum anggota polisi tersebut. Continue reading “Pangdam dan Kapolda Sesalkan Insiden di Tingginambut”
Oknum Polisi dan TNI Aniaya Staf Pemkab Puncak Jaya
PUNCAK JAYA – Nasib naas dialami seorang staf bagian Infokom Pemkab Kabupaten Puncak Jaya, Anto Asse (28), ia dianiya oleh oknun anggota polisi di daerah Tingginambut, Rabu (25/6).
Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami luka memar di bagian wajah, bengkak di bagian mata sebelah kanan dan nyeri di bagian leher belakang serta kepala pusing akibat pukulan yang keras sehingga korban langsung dilarikan ke RSUD Mulia guna mendapat perawatan medis Kepada Cenderawasih Pos, Continue reading “Oknum Polisi dan TNI Aniaya Staf Pemkab Puncak Jaya”
Mayat Misterius Akhirnya Dimakamkan
Kapolsekta: Tidak Bisa Ditahan Lama Karena Kondisinya Sudah Membusuk
JAYAPURA-Setelah disemayamkan selama empat hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, mayat misterius yang ditemukan terapung di Kali dekat Pasar Youtefa Kotaraja, Sabtu (20/6), akhirnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Kristen Tanah Hitam, Distrik Abepura, Selasa (24/6) sekitar pukul 18.00 WIT. Continue reading “Mayat Misterius Akhirnya Dimakamkan”
UNJUK RASA DI KANTOR DPR RUSUH
Rabu, 25 Juni 2008
Papua Pos, Jakarta- Unjuk rasa elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Selasa (24/6), memanas sehingga terjadi bentrokan dengan aparat keamanan Pendemo melempar 3 bom molotov ke arah polisi yang bertahan di halaman gedung DPR. Polisi pun balas melawan dengan balik melempari massa dengan batu. Akibatnya, jalan seputar gedung DPR lumpuh total. Tiga (3) Bom molotov yang dikemas dalam botol tampak mengeluarkan percikan api dan asap hitam. Bom molotov itu tepat ’meledak’ pada jarak 10 meter dari depan barisan polisi. Namun tak ada ledakan keras yang membahayakan. Pletaaak…!
Polisi kompak bergerak mundur. Namun tidak lama kemudian, polisi yang bermodal helm dan tameng merangsek maju dengan balas melempari massa dengan batu. Perang batu pun berlangsung sengit dari dua kubu, dibatasi pagar gedung DPR setinggi 4 meter. Polisi dan pendemo tidak berhadapan head to head. Belum ada korban luka dari insiden ini.
Bentrokan mahasiswa dengan aparat kepolisian terjadi setelah mahasiswa merangsek brigade pertahanan polisi yang menjaga gedung parlemen. Mahasiswa kemudian menjebol pagar pembatas jalan tol dalam kota di depan gedung parlemen dan memblokir jalan tol yang mengakibatkan kemacetan kendaraan.
Di ruas jalan tol dalam kota, mahasiswa membakar ban bekas. Mahasiswa juga melemparkan batu ke arah brigade polisi. Aparat kepolisian yang mengerahkan lebih dari sepuluh kendaraan “water canon” termasuk kendaraan pemadam kebakaran kemudian menyemprotkan air ke kelompok pengunjuk rasa.Mahasiswa kucar-kacir terkena semprotan air dan polisi kemudian memburu mahasiswa sampai ke dalam ruas jalan tol. Setelah mahasiswa kabur, polisi kemudian membersihkan jalan tol dari ban bekas dan bebatuan dengan menyemprotkan air.
Polisi akhirnya membuka kembali arus jalan tol dalam kota di depan gedung DPR/MPR setelah bersih dari bebatuan dan ban bekas yang dibakar. Selanjutnya, tiga kendaraan “water canon” yang dikerahkan di ruas jalan tol, dan semua kendaraan “water canon” yang dikerahkan untuk menyemprot mahasiswa ditarik kembali ke dalam gedung DPR/MPR.
Aparat kepolisian yang bersenjata pentungan dan melindungi diri dengan tameng dan helm, juga ditarik lagi ke balik pagar dalam gedung DPR/MPR.
Di beberapa tempat, pagar pemisah tol dalam kota rusak terkoyak. Kerusakan paling parah terjadi di pagar jalan tol di depan gedung DPR/MPR yakni sejauh 30 meter. Arus jalan tol dalam kota perlahan-lahan mulai bergerak, tetapi ruas jalan dari Semanggi menuju Slipi masih tertutup.
Aksi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM itu, tidak saja memporak-porandakan pagar pembatas jalan tol, tetapi juga membobol dan merobohkan pagar gedung DPR/MPR. Pagar kokoh yang terbuat dari besi dengan tiang-tiang beton berkonstruksi kuat, dijebol massa pengunjuk rasa, sebelum mereka dibuat kocar-kacir oleh polisi dengan semprotan air. Petugas Pamdal DPR berusaha mendirikan kembali pagar yang roboh.
Kelompok pengunjuk rasa yang menolak kenaikan harga BBM tersebut terdiri atas beragam unsur, antara lain Solidaritas Mahasiswa Universitas Nasional (Unas), Jaringan Aktivitas Pro-Demokrasi (Prodem), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), dan Solidaritas Buruh Maritim dan Nelayan Indonesia (SBMNI). Mereka datang ke lokasi demo dengan menggunakan sekitar 30 kendaraan angkutan umum bus sedang seperti metromini dan kopaja.
Delapan Diamankan
Polisi menangkap lagi delapan orang di depan gedung DPR RI, Jakarta Pusat karena mereka berbuat anarkhis saat melakukan aksi unjuk rasa untuk menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Kedelapan orang ini kini dibawa ke Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Selasa malam dengan satu bus yang dikawal ketat polisi.
Selain itu, polisi mengumpulkan batu-batuan dan sandal sebanyak setengah bak mobil pick up. Kini delapan orang itu masih diperiksa intensif polisi. Dengan begitu, jumlah yang ditangkap di depan gedung DPR RI telah sebanyak 13 orang karena Selasa sore tadi, polisi juga menangkap lima orang.
Saat menangkap lima orang itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti antara lain puluhan batu/batako, tiga ban bekas, puluhan botol, sejumlah bom molotov, belasan tongkat dan puluhan bendera organisasi massa.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ketut Untung Yoga Ana mengatakan mereka ditangkap sebab telah berbuat anarkhis dengan melempari polisi dengan batu. “Polisi yang memar banyak. Ada satu polisi yang luka tadi bahkan ada wartawan yang luka pula,” katanya.
Seputar DPR Macet
Akibat aksi mahasiswa di depan Gedung DPR, buntut kemacetan sudah sampai depan Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta. Kendaraan yang berada di jalanan seputar Gedung DPR juga terjebak kemacetan.
Kendaraan dari arah Polda Metro Jaya menuju Slipi sudah sangat padat. Untuk menghindari depan Gedung DPR, pengendara banyak juga yang membelokkan kendaraannya ke arah Gedung TVRI. Namun banyak pengemudi yang berpikiran serupa sehingga macet juga tak terhindarkan di sepanjang jalan tersebut.
Dari pantauan sekitar pukul 15.30 WIB, pertigaan Jl Asia Afrika (depan Hotel Mulia), juga terjadi kemacetan. Kendaraan dari Plasa Senayan yang hendak menuju Jl Gatot Subroto arah Pancoran agak lancar selepas pertigaan tersebut.
Sementara itu, dari Palmerah menuju Jl Gatot Subroto, hanya tersendat di belakang Gedung DPR. Dari pertigaan Asia Afrika yang menuju Palmerah juga macet total.
Hingga pukul 15.40 WIB, pintu keluar tol Senayan masih ditutup oleh polisi. “Ini untuk menghindari kemacetan bertambah parah di depan Gedung DPR,” kata Yohanes, petugas TMC yang dihubungi.**
24/06/08 12:25 Jakarta (ANTARA News) – Ratusan orang yang tergabung dalam Jaringan Aktivis Lintas Generasi
24/06/08 12:25
Jakarta (ANTARA News) – Ratusan orang yang tergabung dalam Jaringan Aktivis Lintas Generasi melakukan aksi jalan kaki di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, sehingga membuat Jalan HR Rasuna Said di jalur dari arah Menteng ke Mampang menjadi macet.
Para pengunjuk rasa itu bermaksud untuk menuju Kantor PT Freeport yang terletak di Plaza 89 di Jalan HR Rasuna Said Kavling X-7 No 6, Jakarta Selatan.
Mereka menginginkan agar perusahaan pertambangan Freeport segera dinasionalisasi sehingga bisa digunakan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat.
Setelah sampai di depan Plaza 89, para pendemo melakukan aksi coret-coret mengecam Freeport dan juga mencoba menjatuhkan gerbang gedung tersebut. Dari Plaza 89, massa berencana bergerak ke Gedung DPR/MPR.
Tidak tampak adanya pengawalan yang ketat dari pihak kepolisian berseragam. Namun, Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya mengemukakan, aksi tersebut dijaga dari kejauhan oleh petugas Polsek Metro Setiabudi dibantu jajaran petugas Polda Metro Jaya.
Massa berjalan kaki sambil meneriakkan yel-yel dan menyanyikan sejumlah lagu perjuangan.
Selain itu, terdapat pula berbagai spanduk dan banyak bendera kuning sebagai bentuk duka cita atas meninggalnya mahasiswa Unas, Maftuh Fauzi, di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada 20 Juni 2008.
Maftuh yang merupakan mahasiswa Unas angkatan 2003 itu juga merupakan salah seorang mahasiswa yang ditangkap saat petugas kepolisian menyerbu demo kenaikan harga BBM di kampus Unas di Pejaten, Jaksel, pada 24 Mei 2008.
Sebelumnya, ratusan orang dari Jaringan Aktivis Lintas Generasi itu telah menginap di Tugu Proklamasi Menteng, Jakarta Pusat, sejak Minggu (22/6). Mereka bermaksud untuk mendemo Kantor PT Freeport dan Gedung DPR/MPR pada Selasa (24/6) ini.
Mereka menuntut agar pemerintah membatalkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan agar kasus wafatnya mahasiswa Unas, Maftuh Fauzi, segera diusut tuntas.
Selain itu, mereka juga menuntut agar aset perusahaan pertambangan asing seperti Freeport dan Exxon segera dinasionalisasi oleh pemerintah untuk digunakan sepenuhnya bagi kepentingan rakyat.(*)
Surat Terbuka Gereja di Papua Barat kepada Gereja, Lembaga Internasional, Keluarga dan Perorangan
Kepada Yang Terhormat,
Pemerintah (Negara-Negara), Gereja-Gereja dan Lembaga-lembaga Internasional, Keluarga dan Perorangan
Di Seluruh Dunia.
Perihal: Suara Gereja Memohon Perlindungan Penduduk Asli Papua Barat.
Papua Barat, 24 Juni 2008
Semua Yang Terkasih dan Terhormat,
Ijinkanlah saya atas nama umat Tuhan yang tertindas selama 45 tahun sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang ini, saya mau menggambarkan situasi terkini di Tanah Papua Barat yang dihadapi dan dialami oleh penduduk asli Papua. Seruan ini bagian yang terpenting dan tak terpisahkan dari suara Gereja dari Tanah Papua Barat bagi rakyat yang tak bersuara dan yang membisu akibat kekejaman dan kekerasan Pemerintah Indonesia melalui kekuatan TNI, POLRI, dan Perangkat Hukum, PP dan Keppres. Continue reading “Surat Terbuka Gereja di Papua Barat kepada Gereja, Lembaga Internasional, Keluarga dan Perorangan”
Kopassus Minta Tidak Dikaitkan Penahanan Muchdi
JAKARTA-Komandan Jendral Komando Pasukan Khusus ( Kopassus) TNI AD Mayjen Soenarko meminta masyarakat tidak mengkaitkan penahanan Muchdi Purwoprajono dengan institusi Kopassus. Sebab, meski pernah menjabat sebagai orang pertama di tubuh pasukan elit TNI AD (Danjen Kopassus 1998-1999), Muchdi sudah berstatus purnawirawan.
“Sama sekali tidak ada kaitannya,” ujar Mayjen Soenarko saat dihubungi melalui telepon tadi malam (23/06). Jenderal bintang dua yang sebentar lagi akan berpindah jabatan menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda Nanggroe Aceh Darussalam itu menegaskan secara institusi, Kopassus tidak berhubungan apalagi melindungi Muchdi Pr.
Mabes Polri memang memperketat pengamanan sejak penahanan Muchdi Pr Kamis lalu ( 19/06). Beberapa penyidik menceritakan, standar pengamanan ditingkatkan menjadi siaga satu. Itu artinya, senjata siap kokang dan ditambah. Pengawalan terhadap Kabareskrim Komjen Bambang Hendarso Danuri juga diperketat. Ketatnya pengamanan itu karena Muchdi bukan orang sembarangan. Selain bekas petinggi BIN, Muchdi juga seorang perwira komando yang sangat disegani pada saat menjabat. Polisi juga mengkhawatirkan keselamatan jiwa Muchdi karena kasus Munir adalah kasus yang sangat sensitif.
Soenarko menegaskan, Korps Baret Merah tidak ikut campur meski salah seorang seniornya ditahan polisi. “Dia sudah bukan orang Kopassus. Pada saat kejadian itu (pembunuhan Munir, September 2004) dia juga sudah bukan orang Kopassus,” tegasnya. Muchdi, alumnus AMN 1970, saat itu menjabat sebagai Deputi V/ Penggalangan Badan Intelijen Negara dan sudah berstatus purnawirawan mayor jenderal .
Dari pengamatan koran ini (Grup Cenderawasih Pos), seharian kemarin, sebuah mobil Toyota Land Cruiser warna hitam gelap stand by di depan Rutan Brimob, Kelapa Dua, Depok. Mobil tersebut berplat TNI-AD warna hijau tua dengan nomor 119-02. Dua angka belakang berkode 02 lazimnya digunakan oleh institusi Kopassus.
Sekitar pukul 16.45, seorang wanita setengah baya dan dua anak muda, yang satu wanita dan seorang laki-laki dengan mengenakan topi dan baju kotak-kotak dengan kancing dibuka, keluar dari Blok B ( tempat penahanan Muchdi). Yang pertama kali masuk mobil wanita muda, disusul wanita tua yang duduk di bagian tengah. Kemudian laki-laki bertopi duduk di bagian depan bersama sopir.
Diduga mereka adalah istri Muchdi P.R., Puji Astuti dan anak-anaknya yang tengah menjenguk ke rutan. Kehadiran mereka dikawal sekitar enam pria berbadan tegap dengan mengenakan pakaian safari serba hitam. Selain mobil no 119-02, terdapat pula sebuah mobil Nissan Terrano warna hitam nopol B 8916 CH. Mobil itu ditumpangi para pengawalnya. Saat hendak ditanya koran ini, pengawal itu mencegah dan mobil melaju pergi.
Seorang sumber di Kopassus menjelaskan mobil itu bukan mobil dinas. Sebab, kendaraan dinas pasukan khusus itu biasanya menggunakan empat angka atau dua angka untuk perwira tingi, bukan tiga angka di depan kode 02.
Sumber tersebut menambahkan, tidak ada kendaraan resmi Kopassus bernomor 119-02. Apalagi platnya tidak timbul (relief). Biasanya kendaraan petinggi Kopassus nomor platnya timbul. Kemungkinan besar mobil mewah itu milik Muchdi secara pribadi.
Bagaimana dengan kode plat 02 milik Kopassus? “Setingkat mantan danjen Kopassus (seperti Muchdi, Red) memiliki keistimewaan sendiri, sehingga dapat memakai plat tersebut (119-02, Red) untuk mobil pribadinya. Sama halnya dengan menteri yang memiliki keistimewaan, meski sudah menjadi rakyat sipil,” ujar sumber itu.
Situasi di rutan masih dijaga ketat sejumlah anggota Brimob berpakaian safari warna krem. Anggota tersebut sempat mengawal kehadiran Muchdi, Sabtu (21/6) siang. Sekitar empat anggota terlihat duduk di depan ruang Blok B.
Dihubungi tadi malam, pengacara Muchdi Pr, Luthfi Hakiem menjelaskan pihaknya akan segera mengajukan penangguhan penahanan. “Kalau tidak Senin ( hari ini) ya Selasa. Maksimal Rabu,” katanya.
Luthfie menegaskan, Muchdi tidak pernah meminta jaminan dari pihak lain selain keluarga. “Yang menjamin istri beliau dan putranya,” katanya.
Sebelumnya, salah seorang pengacara Zaenal Maarif pernah mengungkapkan kalau Muchdi akan meminta jaminan penangguhan penahanan dari Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Salah satu alasannya Muchdi adalah Ketua Umum PP Tapak Suci, lembaga beladiri pencak silat onderbouw Muhammadiyah.
Kemarin (23/06), Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menolak menjadi penjamin penangguhan penahanan Muchdi PR jika eks Deputi BIN itu memintanya.
“Kami sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah banyak diminta oleh pihak-pihak yang menjalani proses hukum. Tapi, tidak ada tradisi dalam organisasi Muhammadiyah untuk menjaminkan atau ikut terlibat. Tidak ada preseden di organisasi Muhammadiyah yang seperti itu. Jadi tidak dapat kami terima,” ujar Din di kantornya kemarin.
Din mengajak masyarakat agar menyerahkan sepenuhnya kasus Muchdi kepada proses hukum yang berjalan dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. “Seandainya kasus ini tidak terbukti, harus ada rehabilitasi nama, karena bagaimana pun pasti ada perusakan nama dengan ditetapkannya dia (Muchdi) menjadi tersangka,” kata Din.
Luthfie prihatin dengan pernyataan Din itu. “Seharusnya beliau tidak usah menanggapi karena memang tidak ada permintaan langsung dari pak Muchdi,” katanya.
Kemarin, Muchdi tidak menjalani pemeriksaan. “Saya tidak tahu secara pasti siapa saja yang membesuk. Kalau dari keluarga bisa saja,” katanya.
Luthfie menceritakan, kondisi sel penahanan Muchdi perlu diperbaiki. “Saya sudah meminta agar kassa nyamuk yang sudah jebol-jebol segera diganti. Itu hak beliau meskipun pak Muchdi tidak mengeluh,” katanya.(aro/rdl)