Di Kali Pasar Youtefa, Sesosok Mayat Ditemukan Mengapung

Berjenis Kelamin Laki-laki Diperkirakan Meninggal 3 Hari Lalu

JAYAPURA-Warga di sekitar Pasar Youtefa Kotaraja, dikejutkan dengan adanya penemuan sesosok mayat mengapung di Kali dekat Pasar Youtefa Kotaraja, Distrik Abepura, Sabtu pagi (21/6) sekitar pukul 06.30 WIT. Hingga kini, mayat yang diketahui berjenis kelamin laki-laki itu belum diketahui identitasnya dan belum diketahui siapa keluarganya. Karena itu, jenazahnya hingga kemarin sore masih berada di Kamar Mayat RSUD Dok II Jayapura.

Menurut keterangan yang diperoleh Cenderawasih Pos di lapangan, penemuan mayat dalam posisi terlungkup ke bawah itu berawal dari adanya seseorang yang sedang mencari ikan di kali tersebut, pencari ikan tersebut selanjutnya melaporkannya ke aparat kepolisian yang bertugas di Pos Polisi Pasar Youtefa.

Sekitar pukul 07.30 WIT, aparat kepolisian dari Polsekta Abepura tiba di tempat kejadian dan kemudian mengevakuasi jenazah itu ke RSUD Dok II Jayapura. Karena identitasnya yang belum jelas, jenazah itu belum diotopsi dan masih menunggu kejelasan siapa keluarganya.
Kapolresta Jayapura AKBP Robert Djoenso saat dikonfirmasi membenarkan adanya penemuan mayat itu. “Karena belum ada keluarganya, mayat itu sementara masih diamankan di Kamar Mayat RSUD Dok II,” paparnya.

Saat ditanya soal penyebab kematian jenazah itu, pihaknya belum bisa memastikannya, namun diduga korban sebelumnya dalam keadaan mabuk dan kemudian jatuh ke sungai, sehingga ia tidak bisa berbuat banyak dan akhirnya tewas di sungai itu.

Sementara itu, Kapolsekta Abepura AKP Dominggus Rumaropen S.Sos menambahkan, mayat tersebut berusia sekitar 50 tahun dan memiliki tinggi sekitar 155 Cm. Kepada masyarakat yang merasa kehilangan keluarganya agar segera ke Kamar Mayat RSUD Dok II Jayapura guna mengidentifikasi jenasah tersebut apakah merupakan salah satu dari anggota keluarganya atau bukan.

“Saat ini belum dilakukan otopsi, karena belum ada keluarga yang mengakui kehilangan ataupun kerabat dari mayat itu, saat ditemukan menggunakan baju biru dan celana hitam dengan ikat pinggang bertuliskan Korpri dan setelah dilakukan pemeriksaan luar tidak ditemukan adanya kekerasan pada tubuh korban, diperkirakan telah 3 hari meninggal,”tambahnya. (fud/lie)

Di Biak, Kerangka Manusia Ditemukan – Identitasnya Blum Diketahui, Polisi Masih Menyelidiki

BIAK- Sesosok kerangka manusia ditemukan di Panbari, Biak Numfor, Selasa (17/6) kemarin. Penemuan itu menghebohkan warga yang kebetulan tengah menonton Kejuaraan Daerah (Kerjurda) Road Race Panbari Biak Numfor, karena lokasi penemuan hanya beberapa meter dari tempat kegiatan road race itu berlangsung.
Kerangka manusia yang belum diketahui identitasnya itu pertama kali ditemukan oleh anak-anak tengah menonton road race. Ciri-ciri yang terlihat, pada kerangka terdapat kaos putih serta celana loreng coklat yang sudah robek-robek, sehingga dugaan sementara kerangka itu berjenis kelamin laki-laki.
Wakapolres Biak Numfor Kompol Ulung Sampurna Jaya, S.IK, didampingi Kabag. Ops Reinhard L mengatakan, awalnya kerangka manusia itu ditemukan oleh anak-anak yang hendak nonton road race lewat pagar karena tidak punya karcis. Continue reading “Di Biak, Kerangka Manusia Ditemukan – Identitasnya Blum Diketahui, Polisi Masih Menyelidiki”

Di Merauke, Milisi Piaraan Polri-TNI Bikin Resah Warga Papua

Oleh : MaroNet

Merauke, MaroNet – Warga Papua yang hidup di pinggiran kota Merauke (Mangga Dua, Kelapa Lima, Kuda Mati, Kampung Baru, Kampung Domba, Mopah Lama dan Sayap 1 & 2) saat ini tidak bebas beraktifitas seperti biasanya karena hidup mereka terancam setiap hari. Ancaman tersebut datang dari sebuah kelompok milisi piaraan Kepolisian Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia (Polri-TNI). Mereka tidak segan-segan membacok siapa saja tanpa alasan yang jelas.

Kelompok ini bergerak dengan leluasa, diberi makan, dilindungi dan diberi fasilitas komunikasi berupa telepon seluler (HP) dan sarana serta jalur transportasi oleh Polri-TNI. Sejak meningkatkan aksi-aksi kriminal mereka pada pertengahan tahun 2007 lalu sampai saat ini, kelompok ini tidak pernah tertangkap. Belum jelas apa motif sesungguhnya dibalik kejahatan ini.

Dari data yang berhasil dihimpun MaroNet, setidaknya sudah 10 orang yang menjadi korban kebuasan mereka. Beberapa perempuan diperkosa dan dibunuh, ada juga yang dianiaya sampai cacat permanen karena berusaha meloloskan diri dari upaya pemerkosaan. Ada juga laki-laki yang dibacok sehingga mengalami cacat permanen. Mereka yang kena bacok biasanya menjalani perawatan di RSUD Merauke dengan tebusan biaya yang tidak sedikit.

Tindakan milisi ini, yang boleh dibilang cukup sadis jika dilihat dari kerusakan tubuh dan gangguan mental yang dialami para korban, telah membuat warga Papua lainnya tidak bebas beraktifitas. Mereka setiap hari dihantui rasa takut yang luar biasa.

Anehnya, yang menjadi sasaran kejahatan dan teror permanen hanyalah orang-orang Papua, berasal dari kelas terhisap, menjalani hidup di pinggiran kota Merauke karena disingkirkan secara sistematis dan tidak manusiawi oleh kelas penghisap-rasis yang menguasai seluruh pusat kota yang dibangun selama lebih dari satu abad diatas kehancuran kaum pribumi.

Warga non Papua yang mayoritas, kelompok elit dan segelintir orang Papua yang berasal dari kelas penghisap tidak pernah dibacok kelompok ini. Keamanan mereka terjamin, hidup mereka diwarnai seribu satu macam kemudahan tanpa berpikir sedikitpun tentang nasib orang Papua di pinggiran kota yang rawan kena bacok kapan saja, tanpa dugaan dan persiapan untuk menyelamatkan diri atau sekedar membela diri.

Adalah Wilibrodus Tikuk yang disebut-sebut sebagai pemimpin kelompok ini. Pemuda kerempeng asal suku Muyu yang akrab dipanggil Willy ini selalu lolos bersama kelompoknya setelah melakukan aksi-aksi kriminal mereka. Sebenarnya aksi-aksi kriminal kelompok ini sudah dijalankan sejak tahun 2005, tetapi volumenya baru ditingkatkan sejak pertengahan tahun 2007 lalu.

“Sejak pertengahan 2007 lalu kelompok mereka mulai pegang HP dan beberapa anggota kelompok tersebut biasa terlihat akrab dengan Tim Buser (Buru Sergap) dari Polres Merauke,” tutur sumber terpercaya kepada MaroNet.

Kepada MaroNet, banyak saksi mata menyebutkan, beberapa anggota Buser sempat terlihat beberapa kali menikmati Miras Lokal, Sopi, bersama tiga anggota kelompok Willy di Mopah Lama dan Mbuti Laut. Mereka terlihat sangat akrab. Suasana kekeluargaan dan pertemanan mereka begitu sempurna sehingga tidak ada kesan bahwa sebenarnya yang duduk bersama-sama menikmati Miras menggunakan satu gelas takaran saat itu adalah Polisi dan anggota sebuah kelompok milisi yang terkenal sadis dan sudah banyak menelan korban.

Saksi mata lain yang tinggal di SP 2 Tanah Miring (pemukiman para transmigran) mengatakan, kelompok Willy biasa diberi makan oleh beberapa orang Intelijen TNI yang bersarang di Markas Korem 174/Anim Ti Waninggap. “Terus terang saja, semua orang disini sudah tahu, dorang (mereka-red) diberi makan oleh Intel Korem yang suka menyamar dan berkeliaran siang-malam di Tanah Miring sini,” jelas seorang saksi mata yang meminta dengan sangat agar namanya tidak ditulis di Weblog MaroNet.

Aksi kelompok Willy yang terakhir terjadi berturut-turut pada hari Minggu (1/6) sekitar pukul 07.00 WPB dan hari Senin (2/6) malam sekitar pukul 21.00 WPB di tempat terpisah dengan korban yang berbeda. Korban bacok pada hari Minggu adalah seorang pemuda warga Kampung Domba bernama Amandus Nenggereng asal suku Muyu. Ia dibacok kelompok Willy di pasar Mangga, sebuah pasar tradisonal Papua di kawasan Kuda Mati, saat sedang tidur dalam keadaan mabuk.

“Setelah membacok Amandus dengan parang, Willy dan kelompoknya kabur sambil baku telepon dengan HP,” ungkap seorang saksi mata yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari tempat kejadian. Akibat bacokan itu, Amandus mengalami luka yang cukup parah. Daun telinga kirinya putus, telapak tangan kanan robek, tulang kering kaki kanan retak, bagian dahi dan tengkorak belakang juga robek akibat bacokan parang. Saat ini, Amandus Nenggereng masih dirawat secara intensif di RSUD Merauke.

Korban lainnya adalah seorang warga Kelapa Lima bernama Julius Lindep. Pria kekar asal suku Muyu yang akrab disapa Juli Di ini dibacok kelompok Willy pada hari Senin malam, dengan luka yang tidak terlalu serius. Beberapa orang saksi mata menyebutkan, Willy dan kelompoknya langsung kabur sambil berkomunikasi via HP setelah membacok Juli Di.

Seperti korban-korban lainnya, Amandus dan Juli Di sama sekali tidak mempunyai masalah dengan kelompok Willy maupun kelompok-kelompok lain. “Amandus bilang dia tidak punya masalah dengan siapa-siapa dan dia kaget ketika dibacok kelompok Willy,” tutur seorang kerabat Amandus kepada MaroNet. Pernyataan bernada serupa juga disampaikan oleh beberapa kerabat Juli Di kepada MaroNet ketika dikonfirmasi via HP.

Warga di sekitar tempat kejadian menyebutkan bahwa sepertinya ada kelompok tertentu yang mengatur semua operasi kriminal kelompok Willy dengan fasilitas komunikasi dan transportasi untuk memudahkan mereka meloloskan diri dari kejaran warga di sekitar tempat kejadian. Menurut warga, kelompok yang mengatur kebutuhan milisi pimpinan Willy jelas berasal dari pihak Polri-TNI karena banyak bukti keakraban satuan-satuan Polri-TNI dengan kelompok milisi ini.

“Jelas sekali, pemangsa orang Papua itu (maksudnya Polri-TNI-red) ada di belakang kelompok milisi Willy karena dari dulu mereka selalu lolos walaupun kota Merauke ini kecil, orang Papua sedikit, sementara jumlah anggota militer (Polri-TNI) sudah menembus angka ribuan, sistem intelijen mereka bagus dan sarana transportasi untuk mengejar penjahat sangat lengkap,” ujar seorang warga Kuda Mati sambil berteriak ketika MaroNet meminta pendapatnya.

Warga lainnya dengan nada sangat menyesal mengatakan, “Kelihatan sekali Tim Buser dari Polres Merauke selalu datang terlambat karena memang mereka sengaja memberikan kesempatan kepada pelaku untuk kabur dari tempat kejadian. Cara seperti ini sudah basi karena berulang kali dilakukan oleh Polisi dalam hampir setiap kasus kriminal yang dilakukan milisi piaraan mereka.”

Keluarga korban yang ingin membalas dendam tidak pernah menemukan kelompok Willy. “Kami selalu cari mereka untuk bunuh-mentah tapi tidak pernah ketemu, kami kira mereka pakai ilmu gaib untuk menghilang secara tiba-tiba, tetapi setelah kami lacak, mereka sebenarnya dibeking Polisi dan Tentara. Polisi dan Tentara menyiapkan segala sesuatu yang mereka perlukan, mulai dari makan-minum, tempat sembunyi, sampai saat ini mereka dikasih HP sehingga koordinasi kelompok mereka semakin mudah,” jelas seorang pria yang mengaku kerabat dekat Gervin Wonopka.

Gervin Wonopka, pemuda asal suku Muyu, adalah salah satu korban yang pernah dibacok langsung oleh Willy beberapa waktu lalu dan mengalami cacat permanen setelah menjalani proses perawatan yang cukup lama dan banyak menelan biaya.

Dari keluhan warga, tampaknya mereka sudah muak dengan berbagai propaganda Polri-TNI. Polri yang selalu mengaku sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat sementara TNI yang selalu mengaku sebagai Ksatria Pelindung Rakyat ternyata di mata rakyat Papua tidak lebih dari kelompok penjahat yang sedang menjalankan fungsinya sebagai mesin pembasmi rakyat Papua.

“Omong kosong, tidak pernah ada pelindung rakyat yang jahat, bernaluri kanibal, suka minum darah kaum lemah, lihai menipu dan pandai membenarkan diri seperti mereka ini,” kata seorang Mahasiswa Unimer.

Terhadap aksi bacok yang menimpa Amandus Nenggereng, seperti biasanya, pihak Kepolisian Resort Merauke berlagak tidak tahu dan berpura-pura serius menyelidiki kasus ini sambil bersiap-siap mengejar pelaku. Sebagaimana dilansir SKH Cenderawasih Pos Edisi Selasa, 03 Juni 2008, Kapolres Merauke AKBP Drs. I Made Djuliadi, SH mengatakan pihaknya masih mnyelidiki siapa pelaku dan apa latar belakang penganiayaan ini.

“Kita masih lakukan penyelidikan karena pelakunya belum diketahui,” ujarnya kepada Yulius Sulo dari Cenderawasih Pos. Penipuan publik melalui saluran media dan jasa para wartawan ini langsung diamini Kasat Reskrim Polres Merauke Iptu Fahrurozi yang saat itu mendampingi sang Kapolres ketika memberikan keterangan pers.

Kalau pihak Kepolisian Resort Merauke berlagak tidak tahu sebagaimana terungkap dari pernyataan Kepala Suku Perang di jajaran ini, para Kepala Suku Perang di jajaran TNI lebih memilih diam karena memang alasan mereka pasti masuk akal dan sejalan dengan logika kejahatan yang mereka bangun selama ini: Kamtibmas menjadi urusan Polisi, Tentara menjaga kedaulatan Negara. Demikianlah, skenario busuk “si kembar siam” ini dipastikan akan terus berlanjut dari hari ke hari.***

Bisnis Miras TNI-Polri di Boven Digoel Telan Korban

Oleh : Tengget Digoel

Tanah Merah Digoel, Bodipost – Masih ingatkah anda akan aksi pembasmian rakyat Papua melalui Biomiliterisme (Peracunan makanan dan minuman) yang digelar Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia (TNI-Polri) di hampir seantero Papua beberapa waktu lalu? Kejahatan yang sukses mengantar ratusan orang Papua ke liang kubur dan ratusan lainnya mengalami gangguan kesehatan serius itu ternyata belum sepenuhnya dihentikan karena rupanya daya pembasmi dan dampak hukumnya dinilai lebih efektif ketimbang menggunakan senapan mesin. Di Boven Digoel, sebuah wilayah yang rakyat pribuminya pernah menjadi sasaran Operasi Biomiliterisme, sejak tiga bulan terakhir ini beredar sebuah minuman beralkohol dengan nama Aleksander.

Minuman Aleksander dibuat oleh TNI-Polri dan beberapa orang pengusaha non Papua melalui sebuah usaha yang bersifat patungan. Pabrik mereka didirikan secara tersembunyi di Assikie (area HPH Korindo Group). Menurut sebuah sumber BodiPost, bahan dasar minuman Aleksander adalah Air Hujan, Miras Jenis Robinson (RB), Alkohol 100%, Cairan zat tertentu (namanya belum diketahui) dan Teh Celup sebagai pewarna. Cara membuatnya, semua bahan dasar tadi disatukan dalam sebuah baskom atau loyang kemudian diaduk sehingga bahan dasarnya tercampur secara baik dengan rasa dan aroma yang bisa membangkitkan selera para pemabuk.

Masih menurut sumber tadi, label Miras Aleksander dibuat di Jakarta hanya untuk menipu pembeli seolah-olah pabriknya ada di Jakarta. “Para pembeli biasa tertipu, mereka pikir Aleksander dibuat di Jakarta oleh sebuah pabrik tertentu dan dipasarkan di seluruh Indonesia, padahal pabriknya ada di Assikie, dikelola secara bebas oleh TNI-Polri dan Miras jenis ini hanya dikhususkan untuk masyarakat Papua yang ada di kabupaten Boven Digoel,” ujarnya menjelaskan.

Selama tiga bulan terakhir, peredaran minuman Aleksander sangat marak di wilayah ini, terutama di Ibu Kota Tanah Merah dan sangat meresahkan penduduk setempat karena kadang-kadang penjualnya memaksa dan mengintimidasi penduduk agar membeli Miras jenis ini. Di hampir seluruh pelosok kota Tanah Merah, ribuan liter minuman Aleksander dipasarkan secara gelap oleh Intelijen TNI-Polri dari berbagai kesatuan dan benar-benar telah menelan korban jiwa.

Dari penelusuran BodiPost, semua korbannya tidak ada satupun yang non Papua. Semuanya orang Papua, pribumi Boven Digoel. Korban-korban ini langsung meninggal dunia setelah mengkonsumsi Aleksander. Mereka adalah (1) Geradus Omba, asal suku Wambon, warga Kampung Persatuan, Tanah Merah; (2) Fransiskus Kabagaimu, asal suku Yahray (Mappi), warga Kampung Sokanggo, Tanah Merah; (3) Ferdinandus Metemko, asal suku Muyu, warga Kampung Sokanggo, Tanah Merah; (4) Abraham Waken, asal suku Muyu, Kampung Sokanggo, Tanah Merah. Para korban ini meninggal dunia setelah mengkonsumsi minuman Aleksander yang dijual oleh Intelijen TNI-Polri.

Sedangkan ratusan korban lainnya tidak meninggal dunia tetapi mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius. Pada umumnya mereka mengalami gangguan pernafasan, gangguan pencernaan, sakit kepala berkepanjangan, gangguan ingatan, disfungsi seksual, gangguan pengelihatan (gejala kebutaan), sakit tulang, nyeri pada lutut (gejala lumpuh) dan berkurangnya nafsu makan. Mereka mengalami gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi Alexander dan beberapa jenis Miras lainnya seperti RB dan Cap Tikus.

Mahalnya biaya pengobatan akibat penghisapan Pemerintah Kabupaten atas rakyat setempat lewat sektor kesehatan dan infrastruktur kesehatan yang tidak memadai seperti dijanjikan para pejabat dalam kampanye-kampanye politik mereka turut menambah beban bagi para korban maupun keluarga keluarga mereka yang harus putar-otak mencari biaya pengobatan dan pemulihan kesehatan.

Beberapa suster dan mantri asli Papua yang tidak lagi mampu membungkus kejahatan TNI-Polri mengatakan bahwa para korban yang menderita sakit ini (nama-nama mereka masih didata) diperkirakan kondisi mereka tidak akan stabil seperti sebelum terserang racun yang sengaja disebar lewat minuman Aleksander, RB dan Cap Tikus.

Sampai berita ini ditulis, minuman Aleksander masih dijual secara bebas tetapi karena dampaknya yang fatal, para pembeli beralih membidik Miras jenis lain seperti RB dan Cap Tikus. RB dan Cap Tikus diketahui tidak bisa langsung menyebabkan kematian seperti Aleksander. Kedua jenis minuman ini dipasok dari Merauke, Timika dan dari luar Papua oleh TNI-Polri dan pedagang gelap lainnya yang dibeking TNI-Polri. Beberapa saksi mata menyebutkan, untuk memudahkan penyelundupan dan menghindari pemeriksaan di depan publik, Miras selundupan ini selalu diangkut bersama logistik Militer TNI-Polri melalui jalur darat, laut maupun udara sehingga tidak ada satupun petugas yang boleh memeriksa.

Salah satu pedagang gelap yang dibeking TNI-Polri secara berlapis adalah istri bupati Yusak Yaluwo, Ny. Ester Lambey Yaluwo. Ketua Dharma Wanita kabupaten Boven Digoel yang sering dijuluki “Mama Boven Digoel” ini merupakan pemasok terbesar RB dan Cap Tikus yang langsung didatangkan dari Manado. Ia secara diam-diam telah meraup keuntungan yang besar dari bisnis gelap yang bersifat merusak ini.

Dilihat dari peluang bisnis, wilayah pemasaran dan konsumen yang ada, rupanya wanita Manado ini akan terus dengan leluasa mengembangkan bisnisnya untuk meraup keuntungan yang tidak sedikit dari hancurnya mental generasi muda, konflik keluarga, gangguan kesehatan yang serius dan kematian rakyat setempat akibat mengkonsumsi RB dan Cap Tikus yang dipasok secara langsung dari tanah leluhurnya dan dipasarkan secara bebas di tanah leluhur suaminya.

Sejumlah kalangan berprediksi bahwa bisnis Miras yang ditekuninya mempunyai prospek yang sangat cerah. Bisnisnya dipastikan akan meroket dengan omzet yang meningkat dari hari ke hari diiringi dengan jumlah korban yang pasti terus berjatuhan karena dirinya mendapat dukungan modal, jalur bisnis gelap, keamanan, jaminan hukum dan propaganda media massa untuk putar-balik fakta. Dukungan ini diperoleh dari suaminya sebagai orang nomor satu di kabupaten Boven Digoel, sebuah kabupaten yang mempunyai reputasi jelek karena manajemen pemerintahannya amburadul, korup, rasis dan anti rakyat pribumi.***

Peneliti Namru Masa Bodoh pada Prioritas Kesehatan Indonesia

Jakarta – Menjalin kerjasama dengan The US Naval Medical Reseach Unit (Namru)-2 dinilai banyak ruginya. Para peneliti AS masa bodoh pada prioritas penelitian kesehatan di Indonesia.

“Mereka enggan untuk mencari tahu prioritas permasalahan kesehatan di Indonesia. Sehingga topik penelitian lebih ke arah minat dan keperluan mereka sendiri,” ujar Kepala Litbang Departemen Kesehatan Triono Soendoro.

Continue reading “Peneliti Namru Masa Bodoh pada Prioritas Kesehatan Indonesia”

MRP Harus Minta Maaf kepada TNI

JAYAPURA- Ada yang menarik dari puncak peringatan HUT ke-45 Kodam, Sabtu (17/5). Itu, tidak lain hadirnya pimpinan MRP Agus Alua, yang belum lama ini mengeluarkan Skep ( Surat Keputusan) tentang sikapnya terhadap PP 77 Tahun 2007 tentang lambang daerah yang dinilai menyudutkan TNI di Papua. Tak pelak Skepnya itu menyulut reaksi keras pimpinan TNI di Papua, bahkan mengancam akan melakukan somasi. Continue reading “MRP Harus Minta Maaf kepada TNI”

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny