Delegasi Uni Eropa Temui DPR Papua

JAYAPURA [PAPOS]- Ingin belajar tentang situasi politik dan situasi sosial di Papua, dua orang Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam menemui DPR Papua, Rabu (17/2) kemarin.

Kedua Delegasi Uni Eropa tersebut melakukan pertemuan tertutup dengan Wakil Ketua DPRP, Yunus Wonda di ruang kerja Ketua DPR Papua.

Usai melakukan pertemuan, Sekretaris pertama Kepala Bidang Politik, Pers dan Informasi delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Charles Whiteley mengatakan, kunjungannya ke Papua dalam hal ini menemui DPRP ingin belajar tentang situasi yang berkembang sekarang ini di Papua, baik itu tentang situasi politik dan situasi sosial.

PEMEKARAN DAERAH DI PAPUA BERMASALAH

JAKARTA. Rupanya, selama ini pemekaran daerah tidak tepat sasaran. Parahnya, menurut Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, banyak daerah yang dimekarkan adalah daerah tertinggal, bukan daerah yang benar-benar memiliki potensi menjanjikan.

Menurut Gamawan, pemekaran daerah yang tidak berjalan lancar banyak terjadi di Provinsi Papua. “Ada kabupaten yang belum memiliki pendapat asli daerah, ada yang penduduknya hanya 46.000 jiwa,” ujar Gamawan di kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa.

Oleh sebab itu, kata Gamawan, Gubernur Papua Barnabas Suebu telah meminta agar Pemerintah menghentikan sementara izin pemekaran di Provinsi bagian timur Indonesia itu. “Pak Barnabas mengatakan kalau bisa Papua jangan ada pemekaran dalam satu atau dua tahun ini,” kata Gamawan mengutip ucapan Barnabas Suebu, Gubernur Papua.

http://www.kontan.co.id/
Ditulis oleh Hans Henricus
Rabu, 04 November 2009 06:54

Tinggal Menyisakan 3 Langkah Lagi

MERAUKE- Perjuangan pemekaran Pemerintah Kota Merauke dan Pemekaran Kabupaten Muyu Mandobo (Muman) di Kabupaten Boven Digoel, tinggal menyisakan 3 langkah lagi. Sebab, Pemekaran Pemerintah Kota dan Kabupaten Muman di Boven Digoel telah diharmonisasi oleh Badan Legeslasi di DPR RI.

Menkokesra serahkan 390 rumah untuk mantan OPM

Timika–Menko Kesra Aburzal Bakri, Selasa, menyerahkan 390 unit rumah yang dibangun untuk mantan anggota Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) di dua kabupaten di Papua.

Kedua kabupaten yang memperoleh bantuan itu yakni Kabupaten Pegunungan Bintang sebanyak 264 unit rumah dan Kabupaten Lani Jayasebanyak 126 unit rumah.

Selain membantu membangun rumah-rumah untuk mantan TPN-OPM, dikawasan itu juga dilengkapi dengan gedung sekolah dasar, Puskesmas pembantu, air bersih dan listrik tenaga surya dan micro hydro.

Penyerahan yang langsung di serahkan secara simbolis itu diterima kedua bupati masing masing Bupati Pegunungan Bintang Welington Wenda dan Bupati Lani Jaya Ir.Pribadi, bertempat di Timika. Menko Kesra dalam sambutannya mengatakan, dalam melakukan pendekatan khususnya kepada mantan anggota TPN-OPM, pemerintah melakukan pendekatan kesejahteraan rakyat.

“Untuk membiayai kegiatan tersebut dibutuhkan dana yang tidak sedikit namun tidak bisa menggunakan dana APBN, sehingga dalam melaksanakan kegiatan tersebut digunakan dana yang berasal dari rekening khusus,” ungkap Ical, panggilan akrab Aburizal Bakri.

Menko Kesra juga mengharapkan kedepan Pemda Papua dapat menggunakan dana otonomi khusus (otsus) untuk membangun daerah pedalaman yang masih terpencil dan miskin.

“Saya sebetulnya ingin berkunjung kesalah satu tersebut namun saat ini tidak dapat dilaksanakan karena terbatas masalah waktu dan cuaca,” kata Ical.

Ia juga mengharapakan agar para mantan anggota TPN-OPM yang kini sudah kembali dan membaur dengan masyarakat dapat menyebarkan kabar gembira ini sehingga mereka yang masih berada dihutan mau mengikuti jejak dan kembali dalam NKRI dengan prinsip otsus di Papua.

264 unit rumah yang dibangun di Kabupaten Pegunungan Bintang itu tersebar di Distrik Batom, Iwur, Walatkubun dan Ewenkatop. Sedangkan sisanya 126 unit yang dibangun di Kab.Lani Jaya tersebar di Distrik Kuyawage, Balingga, dan Distrik Mlagaineri.
Ant/tya

Gubernur, DPRP dan MRP Harus Bicara

JAYAPURA-Bergulirnya wacana untuk merevisi Undang-undang 21 tahun 2001 tentang Otsus Papua, tampaknya tinggal menunggu respon pemerintah Provinsi Papua.

Anggota Perkumpulan Masyarakat Jakarta Peduli Papua (Pokja Papua), Frans Maniagasi juga berpendapat dengan melihat perjalanan Otsus selama ini, tidak ada alasan lagi menunda-nunda perwujudan wacana itu. Bahkan bagi dia, yang paling cocok dilakukan adalah mengamandemen UU nomor 21 tersebut, karena ada beberapa pasal yang tidak relevan dengan kondisi yang ada di Papua.

Antara lain, perkembangan lain munculnya Papua Barat yang perlu diakomodir, misalnya apakah MRP tetap satu sebagai perwakilan kultur orang Papua atau dipisahkan menjadi dua. “Karena UU Otsus Papua dan Aceh berbeda, Aceh lebih pada syariat Islam, kita di Papua lebih pada kultural, MRP menjadi symbol sekaligus penyatu kultural budaya Papua,” katanya saat ditemui di sela perayaan HUT Kodam di PTC, Kamis (28/5).

Dikatakan, Otsus sudah 8 tahun jalan, namun belum bisa maksimal, karena itu harus diamandemen agar jauh lebih bagus lagi supaya ada keleluasan. “Apakah model seperti Aceh itu, harus diatur dengan baik,”jelasnya.

Tapi lanjutnya, kalau dilihat dari Otsus sendiri MRP harus satu. Harus membuat satu peraturan induk yang menjadi referensi untuk membuat Perdasi dan Perdasus.

“Jadi di Papua perdasus yang utama apa sih orang asli Papua dan hak ulayat seperti apa. Itu yang penting, dari situ baru kita bisa jabarkan orang Papua itu seperti apa, karena dalam UU otsus ras Malanesia, sehingga itu yang perlu dilihat kembali,” tambahnya.

Demikian juga hak ulayat itu perlu diamandemen, sehingga ada penambahan-penambahan pasal dan ayat, tetapi dengan catatan tetap harus menjaga roh dari pada otsus itu sendiri.

Hanya saja lanjutnya persoalannya adalah apakah setelah amandemen ini akan dilaksanakan dengan baik. “Jadi ini harus perlu dibicarakan, baik antara Gubernur, DPR Papua dan MRP serta stakeholder terkait, setelah itu kita bahwa ke pemerintah pusat,”ujarnya.

Sementara itu secara terpisah Ketua MRP Drs Agus A. Alua, M.Th dan Gubernur Papua Barat Bram O Atururi juga memberikan komentar mengenai wacana tersebut.

Kendati baru mendengar wacana itu, tetapi Agus Alua mengaku setuju jika UU yang merupakan jalan tengah penyelesaian masalah Papua itu direvisi kembali. Agus menyerahkan semuanya pada keinginan rakyat Papua, sehingga kalau memang rakyat Papua ingin agar UU Otsus di rekonstruksi karena sudah tidak relevan dengan kondisi Papua sekarang ini maka pihaknya juga tentu setuju.

TNI Tak Mau Gegabah

Jenderal TNI Djoko Santoso

JAKARTA (PAPOS) -Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, pihaknya tidak akan gegabah menghadapi kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM), termasuk yang masih menduduki bandara perintis Kapeso sejak 19 Mei. “Kami tidak mau gegabah, karena di sana kan juga ada warga sipil. Di sekitar bandara ada 300 orang. Jadi, jangan sampai kita gegabah hingga menimbulkan korban jiwa,” kata Panglima TNI usai menghadiri seminar “Memahami Indonesia Yang Asing: Realitas Sosial Budaya di Perbatasan RI-Malaysia, di Jakarta, Kamis (28/5) kemarin,

Jenderal Djoko Santoso mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk terus mengadakan pendekatan persuasif terhadap para anggota kelompok separatis OPM yang hingga kini masih menduduki bandara perintis Kaisiepo tersebut.

“Kami sudah sepakat untuk tetap mengedepankan cara-cara persuasif. Kita tidak mau gegabah, menjadi perhatian internasional dan dinyatakan sebagai pelanggar HAM. Kita tetap kedepankan komunikasi yang baik, meski itu menyangkut kedaulatan tetapi kita tetap persuasif dulu..gak mungkin lalu kita tembaki semua,” katanya.

Tentang batas waktu yang ditetapkan untuk para OPM yang menduduki bandara, Djoko mengatakan, itu sangat tergantung pada kepolisian. “Yang berada di depan, kini masih kepolisian. Jadi tentang batas waktu bagi OPM ya tergantung mereka. Tanyakan saja ke polisi,” ujar Djoko.

Sementara itu, Kepala Polda Papua Inspektur Jenderal Polisi F.X. Bagus Ekodanto mengaku pihaknya sudah mengirimkan pasukan ke Membramo. Pengiriman pasukan itu menyusul laporan dan permintaan dari masyarakat Membramo dan Bupati Membramo Raya atas pendudukan Bandara Perintis Kapeso oleh kelompok bersenjata.

Bagus mengatakan, untuk menuju lokasi dibutuhkan waktu tempuh selama dua hari. Dan itu pun hanya bisa ditempuh dengan pesawat perintis dari Jayapura. Menurut Bagus, kondisi di Membramo memang cukup genting. Sekelompok masyarakat sudah menguasai lapangan terbang dan melarang warga sekitar untuk ke luar wilayah.

Selain mengirim pasukan, Bagus mengatakan, Polda Papua sudah berkoordinasi dengan gereja dan tokoh masyarakat serta pemangku adat setempat. Polda memberi kesempatan kepada mereka untuk berunding dengan kelompok yang menduduki bandara.

“Jika negosiasi tidak berbuah hasil, Polda Papua akan mengambil tindakan untuk merebut kembali bandara dan menormalisasikan situasi Membramo Raya,” demikian Bagus. Selain menduduki bandara, kelompok bersenjata itu juga mengibarkan Bendera Bintang Kejora.(ant)

Ditulis oleh Ant/Papos
Jumat, 29 Mei 2009 00:00
Jenderal TNI Djoko Santoso

Program Respek Belum Optimal

WAMENA-Kepala Biro Pemerintahan Kampung Provinsi Papua, Drs Nataniel Aragai mengatakan, program Rencana Strategis Pembangunan Kampung (Respek) khususnya di wilayah Kabupaten Pegunungan Tengah belum optimal. Hal itu diungkapkannya di depan para peserta Rakerda bupati/walikota se Pegunungan Tengah di Gedung Sosial GKI Wamena, Selasa (19/5).

Dikatakan, belum optimalnya program tersebut disebabkan masih rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) aparat kampung sehingga mereka tidak mampu menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung (APBK), Bank Papua hanya berada di ibukota kabupaten sehingga untuk mencairkan dana bagi kampung-kampung yang jauh membutuhkan biaya besar, masih banyak kampung yang belum mempunyai rekening, sosialisasi program PNPM belum maksimal sehingga sebagian masyarakat belum memahaminya.

Disamping itu, pengawasan dari tiga tunggu dan dari masyarakat belum berjalan dengan baik, kurangnya dana operasional pendamping dibanding dengan kondisi daerah, adanya pendamping yang belum bekerja secara maksimal, alokasi dana kegiatan distrik belum mempertimbangkan jumlah kampung bahkan yang sangat disayangkan masih ada kampung hasil pemekaran dari Kabupaten Tolikara dan Yahukimo tidak mendapatkan alokasi dana Respek Tahun 2007 dan 2008.

Lebih lanjut diungkapkan, perlu koordinasi secara berjenjang, juga perlu dilakukan optimalisasi pengawasan berjenjang, perlu peningkatan dana operasional kepada pendamping oleh Pemkab setempat, kemudian pendamping yang tidak melakukan tugas supaya dilakukan pemutusan kontrak kerja dan lainnya. “Solusi atau rekomendasi di atas perlu ditindaklanjuti oleh kedua pemerintah baik Pemprov Papua maupun masing-masing Pemkab setempat sehingga pelaksanaan Respek ini bisa berjalan secara maksimal,”jelasnya. (nal)

Pangdam Tidak Bedakan Orang Gunung dan Pantai

JAYAPURA (PAPOS)- Panglima Kodam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI A.Y Nasution menegaskan bahwa Kodam XVII/Cenderawasih tidak pernah membedakan orang gunung maupun orang pantai. Apakah itu putra daerah maupun pendatang, semua sama.

‘’Karena itu, mari sama-sama kita bersatu untuk membangun Papua menuju masyarakat sejahtera,’’kata Panglima Kodam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI A.Y Nasution kepada wartawan usai acara tatap muka Pangdam bersama keluarga besar (KB) TNI di Makodam, Kamis (23/4). Dikatakan kasus-ksus penyerangan yang terjadi selama ini baik di Tingginambut, terbakarnya Pom Bensin di Biak, penyerangan Polsekta Abepura hingga membawa korban jiwa, serta terbakarnya kampus Uncen, ada orang-orang yang sengaja melakukan tindakan seperti itu untuk mengacaukan tanah Papua. ‘’Kasus ini jangan sampai dijadikan permusuhan besar bagi kita semua. Kita harus tetap bersatu demi membangun NKRI seterusnya,’’ kata Pangdam.

Bahkan Pangdam tidak setuju kasus yang terjadi saat ini dikaitkan dengan orang gunung. ‘’Bicara tentang orang Gunung, saya juga orang gunung. Kasus yang terjadi selama ini murni tindakan criminal. Sekarang siapapun pelaku pengacau harus di kejar tapi jangan sampai menyinggung orang gunung semua. Kita jangan membedakan orang gunung dan orang pantai semuanya bagi kita sama, tidak ada perbedaan baik pendatang maupun Putra daerah,’’ katanya.

Untuk itu, ia meminta semua pihak persoalan yang muncul saat ini jangan dikait-kaitkan dengan suku dan putra daerah maupun dengan pendatang. Mari kita berpegang erat antar sesamadan selalu memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Indonesia ini.

Menyangkut keluhan-keluhan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Menurut Pangdam, semua saran yang disampaikan dalam pertemuan itu cukup baik. Untuk itu, kedepan akan memperbaiki prajurit.Masukan itu akan dikomunikasikan ke Jakarta, khususnya yang menyangkut kebijakan.(cr-50)

Ditulis oleh Cr-50/Papos
Jumat, 24 April 2009 00:00

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny