Waspadai Kepulangan ‘Eks Separatis’

TIBA : Yunus Wanggai bersama Putrinya Anike Wanggai tiba di bandara Soekarno Hatta – Cengkareng, Sabtu (29/11) lalu

Jakarta (PAPOS)– Tiga aktivis mahasiswa dari Kelompok Cipayung, mengingatkan pemerintah mewaspadai gelombang kepulangan para eks separatis atau orang-orang yang pernah minta suaka politik di luar negeri, karena dikuatirkan jangan sampai kepulangan mereka merupakan bagian dari skenario asing untuk merusak kondisi di tanah air dari dalam.

Ketiga aktivis tersebut, masing-masing mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kenly Poluan, mantan Sekjen Presidium Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Donny Lumingas, dan mantan Ketua Umum DPP Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Emmanuel Tular. Selain itu juga mereka, mengingatkan para pihak tertentu, agar jangan menjadikan para ‘eks separatis’ Papua sebagai alat untuk naik pangkat atau mendapatkan proyek tertentu.

“Dalam dua bulan terakhir, kami memonitor adanya pengumuman di berbagai media massa mengenai kembalinya warga Papua yang sempat ‘lari’ ke negara tetangga Papua New Guinea (PNG) atau yang sempat minta suaka politik ke Australia,” ujar Kenly Poluan seperti dirilis dari Antara, tadi malam (Jumat 5/12).

Ia dan Donny Lumingas menyorot kritis kegiatan tersebut, karena ada indikasi, atau dugaan kuat, ‘proyek’ ini dulu sempat dijadikan alat untuk cari keuntungan pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.

“Bagi kelompok tertentu, ini biasa dipakai untuk mendapat kenaikan pangkat, karena dianggap berhasil menjalankan operasi di wilayah perbatasan RI-PNG. Tetapi di pihak yang lain, ini proyek dengan nilai rupiah bahkan dolar menggiurkan. Itu indikasi kuat yang kami nilai,” kata Donny Lumingas.

Sementara itu, Emmanuel Tular juga mengingatkan, agar kepulangan para ‘eks separatis’ atau mereka yang terlanjur minta suaka politik di luar negeri, harus ditangani lebih cermat, jangan sampai hal ini hanya akan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu sesuai skenario dan agenda asing.

Ketiganya juga minta pemerintah bersama instansi berkompeten, agar tidak mudah percaya atas berbagai kejadian itu, tetapi tidak pula bersifat kaku untuk menerima kembali warga yang sungguh-sungguh mau bergabung dengan Republik Indonesia.(nas/ant)

Ditulis Oleh: Ant/Papos
Sabtu, 06 Desember 2008
http://papuapos.com

BMP Kecam Pendiskreditkan NKRI

Catatan SPMNews:
Ingatlah banga Papua, bahwa Gueteres Papua yang dulunya kita pikir orang dari tempat lain itu sudah muncul di ibukota Papua Barat, bernama Ramses Ohee. Coba dia maju lawan kalau bisa????
—————————

Ramses Ohee
JAYAPURA (PAPOS) –BMP (Barisan Merah Putih), mengecam ulah pihak-pihak yang mengatasnamakan organisasi seperti DAP (Dewan Adat Papua), KNPB (Komite Nasional Papua Barat), ONPB (Ototitas Nasional Papua Barat) yang selama ini mendiskreditkan NKRI dan memprovokasi masyarakat.

“Kami minta tindakan sekelompok organisasi yang telah memprovokasi masyarakat agar segera dihentikan, karena itu adalah upaya untuk memisahkan Papua dari NKRI,” kata Ketua BMP Ramses Ohee kepada wartawan usai acara pembacaan pernyataan BMP kepada wartawan kediamannya, Jumat (5/12).
Sekelompok organisasi tersebut lanjut dia, telah memutarbalikan fakta dengan pernyataannya seakan pemerintah negara Vanuatu, Newzeland dan anggota parlemen dan lain-lain sebagainya mendukung untuk penentuan nasib bagi Papua Barat.

Menurutnya, pernyataan itu pernyataan yang menyesatkan karena sampai saat ini pemerintah Newzeland, tidak pernah mengeluarkan surat dukungan secara resmi kepada organisasi Papua Merdeka (OPM).

Bahkan pelaksanaan Pepera 1969 yang dinyatakan cacat, dan meminta PBB mengakui kemerdekaan Papua Barat pada tanggal 1 Desember 1961, oleh sekelompok organisasi tersebut juga merupakan pernyataan yang salah, karena pada tahun 1969 rakyat Papua telah memutuskan untuk bergabung dengan NKRI.

Ramses mengatakan, pernyataan bahwa Papua Barat merupakan tanah darurat adalah pembohongan publik yang cenderung tendensius, karena status tanah Papua berstatus tertib sipil dan situasi Papua hingga saat ini aman dan kondusif.

Untuk itu BMP sebagai barisan yang peduli terhadap tanah Papua dan juga NKRI meminta kepada TNI/Polri agar menindak tegas tokoh perorangan maupun kelompok yang selama ini telah mengeluarkan statement anti republik Indonesia, yang menyatakan suatu pernyataan pilitik dalam memisahkan diri dari NKRI.

“Aksi sekelompok massa yang berlangsung pada tanggal 1 Desember di makan Theys juga merupakan aksi Makkar,” terang Ranses lagi.

Dikatakan, BMP dalam situasi apa pun siap mempertahankan Papua agar tetap bersatu dengan NKRI, meski ada upaya sekelompok orang yang ingin memisahkan Papua dari NKRI.

“Silahkan jika ada organisasi-organisasi yang mau menentang NKRI, atau mau memisahkan Papua dari NKRI, kami BMP siap melawan mereka,” ucap Ramses Ohee.

Sebagai anak-anak Papua, BMP, kata Ramses telah bertemu sekelompok organisasi tersebut membicarakan tentang keinginan mereka memisahkan diri dari NKRI, namun mereka tetap pada pendapatnya yang menginginkan Papua tetap merdeka.(lina)

Ditulis Oleh: Lina/Papos
Sabtu, 06 Desember 2008

http://papuapos.com

Utusan Khusus Gen. TRPB Mathias Wenda bertemu Panglima TRPB di Biak

Baru-baru ini ada kunjungan khusus dari utusan khusus Panglima Tertinggi Tentara Revolusi Papua Barat (TRPB) ke Markas Pertahanan Kordap di Biak dan telah terjadi upcara penerimaan dan pelepasan secara resmi (militer).

Telah dilakukan sejumlah pembicaraan yang bersifat interaksi antara keuatan yang ada, untuk saling mengenal dan saling berkuktar pikiran. Demikian sekilas info kepada SPMNews per SMS dari Marpas Pertahanan Pusat trpb.

Gus Dur Kecewa dengan Demokrasi di Indonesia

Didit Majalolo

Ketua Komite Bangkit Indonesia, Rizal Ramli (kiri), mantan Ketua DPR, Akbar Tandjung (tengah), dan mantan Presiden, Abdurrahman Wahid, berbincang saat deklarasi Gerakan Kebangkitan Rakyat di Kantor Wahid Institute, Jakarta, Rabu (3/12). Deklarasi ini dihadiri Yenny Wahid dan sejumlah tokoh politik, seperti Hariman Siregar dan Sutiyoso.

[JAKARTA] Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengaku kecewa dengan proses demokrasi di Tanah Air. Atas dasar itu, dia mendeklarasikan Gerakan Kebangkitan Rakyat (Gatara). Organisasi masyarakat ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk menegakkan demokrasi, hukum, dan politik di Indonesia.

“Selama ini, saya terusik. Di antara kita seolah-olah tidak ada jembatan penyambung untuk mencapai tujuan bersama. Inilah yang menjadi alasan lahirnya Gatara,” kata mantan presiden RI tersebut ditemui SP di Jakarta, Rabu (3/12).

Dalam naskah deklarasinya yang dibacakan Direktur The Wahid Institute sekaligus putri Gus Dur, Yenny Wahid mengatakan, Gatara akan meneruskan cita-cita proklamasi dalam mewujudkan bangsa yang merdeka, bersatu, cerdas, adil, dan makmur.

Dia berharap, kekuatan sosial, politik, dan ekonomi dari pendukung mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini dapat diarahkan melalui satu komando. Pendeklarasian Gatara dihadiri mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, Ketua Umum Partai Buruh Muhtar Pakpahan, mantan Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli, dan Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Akbar Tandjung menyampaikan harapannya agar Gatara dapat mendorong terwujudnya kesejahteraan rakyat melalui demokrasi substansial. Selama ini, di Indonesia, demokrasi prosedural lebih berkembang ketimbang demokrasi substansial.

Sedangkan, Yenny Wahid sempat mengutarakan, langkah Gus Dur membentuk Gatara tidak terlepas dari keinginannya untuk merebut kembali Partai Kebangkitan Bangsa PKB). “PKB tetap punya kami dan akan direbut kembali,” ujarnya.

Dikatakan, Gatara akan menjadi wadah konsolidasi bagi Gus Dur dan pendukungnya. Yenny pun mengajak pendukung Gus Dur yang kecewa untuk bergabung. [CNV/O-1]

BI Rate Turun 0,25 Basis Poins Sinyal Positif Perbaikan Ekonomi

[JAKARTA] Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) 0,25 basis poins (bps) menjadi 9,25 persen dari 9,5 persen, memang sangat kecil, namun penurunan itu sangat positif bagi dunia usaha. Pasar akan menilai bahwa penurunan itu merupakan sinyal positif perbaikan ekonomi Indonesia, dengan makin terkendalinya inflasi.

“Bagi perbankan ini juga cukup bagus. Namun, kami berharap penurunan itu tak berhenti sampai di situ saja, tapi terus berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya,” kata Direktur Treasury Bank Tabungan Negara (BTN), Saut Pardede kepada SP di Jakarta, Kamis (4/12) di sela-sela penyerahan beasiswa kepada anak-anak nasabah BTN oleh Sampoerna Foundation.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Abdul Salam. Penurunan BI Rate tersebut, memberikan sinyal positif kepada pasar, bahwa tingkat bunga dana akan turun dan pada gilirannya suku bunga pinjaman ikut turun. Pada akhirnya, kebijakan tersebut, dapat mendorong sektor riil untuk berkembang.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaadmadja, menyatakan, penurunan suku bunga acuan tersebut, sangat membantu perbankan untuk menyesuaikan suku bunga dana dan pinjaman. Akan tetapi, dikarenakan penurunannya baru 0,25 persen, maka belum terlalu banyak dampaknya.

Senada dengan hal itu, Chief Financial Officer PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Pahala Mansyuri memperkirakan, pergerakan suku bunga kredit secara umum pasca penurunan BI Rate tersebut, berada di kisaran 11-16 persen.

Likuiditas Melonggar

Di tempat terpisah, Direktur Treasury dan International PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Bien Subiantoro mengatakan, penurunan bunga fasilitas pinjaman harian (overnight) perbankan melalui transaksi repo menjadi BI Rate plus 50 bps dan penyesuian bunga Fasilitas BI (Fasbi Rate) menjadi BI Rate minus 50 bps, dinilai dapat melonggarkan likuiditas rupiah di sektor perbankan. Dia menambahkan, adanya ketentuan perolehan valas dengan kewajiban menunjukkan dokumen keperluan (underlying transaction) mempersempit ruang gerak spekulan yang ingin memborong dolar AS menggunakan likuiditas rupiah, yang bakal tersedia karena kebijakan pemotongan bunga tersebut.

Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono mengatakan, kombinasi penurunan BI Rate dan biaya bunga repo serta Fasbi tersebut, ungkapnya, diharapkan dapat memberikan sinyal agar kegiatan ekonomi bergerak lebih bergairah dan seimbang. Apalagi tekanan inflasi telah turun. Sekaligus, mengatasi segmentasi di pasar uang antarbank, sehingga bank bisa melakukan manajemen likuiditas hariannya.

“Jadi, bisa memecahkan masalah credit crunch karena risiko tinggi sehingga bank menahan dananya,” ucap Hartadi. Pada Jumat (4/12), Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk turunkan BI Rate-nya menjadi 9,25 persen, dengan pertimbangkan perkembangan perekonomian, yakni penurunan harga minyak dan berbagai komoditas telah mengurangi tekanan inflasi domestik. BI memperkirakan, penurunan tekanan inflasi tersebut, akan terus berlanjut pada 2009. [RRS/N-6]

Disinyalir Akibat Korsleting Pada Genset Kapal

JAYAPURA (PAPOS) – Kapolresta Jayapura AKBP Roberth Djoenso SH mensinyalir bahwa kebakaran KM Satria Wijaya 02 yang mengangkut bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin ini, diduga kuat akibat korsleting pada genset yang ada di kapal bagian belakang tersebut. “Kami menduga kebakaran ini, akibat konsleting pada genset dan langsung meledak. Hal ini dikuatkan dengan keterangan saksi-saksi,” ungkap Kapolresta Roberth Djoenso.

Kapolresta mengakui dari kasus terbakarnya kapal itu, pihaknya telah memintai keterangan terhadap 2 orang saksi.Apalagi, setelah ada ledakan dan muncul api membakar bagian dalam kapal, lalu api merambat ke atas kapal yang memuat 25 drum bensin sehingga langsung membuat bensin meledak dan menghanguskan kapal hingga karam, apalagi kapal tersebut merupakan kapal kayu.

Lebih lanjut, ada 5 orang termasuk nahkoda kapal yang sempat dilarikan ke RSUD Dok II Jayapura untuk mendapatkan perawatan akibat mengalami luka-luka.”Yang tahu persis adalah nahkoda dan KKM yang ada dalam kapal, namun belum dapat dimintai keterangan karena masih dirawat intensif,” ujarnya.

Kapolresta mengatakan bahwa kapal tersebut dicarter untuk membawa BBM jenis bensin ke Memberamo Raya. “Pemilik kapal akan kami panggil untuk dimintai keterangan,” imbuhnya.

Sementara itu, dari Pantauan di Ruang Bedah Pria RSUD Dok II Jayapura tampak Musa (40) warga Sentani dan M Raup (42) nahkoda KM Satria Wijaya warga Sentani baru saja mendapatkan perawatan dan menempati ruangan perawatannya.

Terlihat Musa mengalami luka bakar serius di hampir sekujur tubuhnya dan terlihat tampak muka korban menghitam terbakar, leher hingga ke bawah tubuhnya dibalut perban.Begitu juga, M Raup yang ditunggui istrinya, Samsiah juga mengalami luka bakar serius dari wajah hingga kakinya. Bahkan, keduanya masih diinfus.

Sedangkan, Takim warga Sentani juga masih dirawat di ICU, yang diduga menderita luka bakar yang parah. “Takim menderita luka bakar hampir 80 persen di tubuhnya, ia masih di ICU dan belum bisa bergerak karena luka bakar hingga tembus dagingnya,” kata Pak Bas, teman korban yang menjenguknya.

Menurut Bas, yang biasanya bekerja di bagian mesin kapal naas tersebut, ia tidak mengetahui secara persis kejadian tersebut. Hanya saja, kapal hendak berangkat ke Memberamo Raya.

“Saat itu, ada teman yang mau menghidupkan mesin kapal. Tapi tidak bisa, bahkan sempat ditarik-tarik mesinnya, namun tiba-tiba meledak,” ujarnya.

Sedangkan, Meki Ale, Juru Mudi KM Satria Wijaya tersebut, menambahkan saat itu ia tidak berada di kapal.”Saat itu kapal mau berangkat dengan posisi berada di belakang KM Tabi II. Tapi tiba-tiba meledak ketika genset dinyalakan, yang diduga akibat penguapan bensin yang terkena percikan api dari genset,” tuturnya.

Akibatnya, 5 orang yang ada di kapal tersebut langsung menghambur menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan diri, meski ada yang terkena luka bakar. (feri)

Ditulis Oleh: Feri/Papos
Jumat, 05 Desember 2008

Papua Tak Bisa Dipisahkan dari NKRI

[JAYAPURA] Barisan Merah Putih dan Komponen Masyarakat Peduli Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Tanah Papua menyatakan Papua tak bisa dipisahkan dari NKRI. Sebab, Indonesia adalah negara yang memiliki keagaman suku dan ras antara lain Melayu, Arab, Tionghoa, dan Melanesia.

Karena itu Papua adaah bagian sah dari Indonesia Raya sejak integrasi 1 Mei 1963. Jadi pernyataan bahwa ras Melanaesia yang ada di Papua adalah provokatif dan tidak berdasar.

Hal itu disampaikan Ketua Barisan Merah Putih, Ramses Ohee didampingi sekretarisnya Yonas A Nussy dalam pernyataan sikap kepada wartawan di Jayapura, Papua, Jumat (5/12) petang.

Pernyataan ini disampaikan Rames Ohee terkait atas Deklarasi Bangsa Papua Barat yang dibacakan Sekjend Presedium Dewan Papua, Thaha Alhamid, pada perayaan ibadah peringatan 1 Desember, hari yang disebut-sebut Hari Kemerdekaan Papua Barat, di Taman Peringatan Kemerdekaan dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (Memori Park Freedom and Human Right Abuse) di Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (1/12) lalu.

Diungkapkan seperti kita ketahui ras Melanesia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia, karena bukan hanya masyarakat Papua saja yang memiliki ras Melanesia. Tetapi, di daerah Indonesia lainnya seperti Nusa Tenggara Timur dan Pulau Maluku juga ras Melanesia. Mereka hidup rukun dan damai bersama saudara-saudara-nya sebangsa dan setanah air Indonesia, yang berideologikan Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Sedangkan pelaksanaan Pepera 1969 cacat hukum dan moral, serta tidak sah serta meminta Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mengakui kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961. Kami barisan Merah Putih di Tanah Papua menyatakan bahwa pernyataan tersebut tidak berdasar, karena saya selaku Ketua Umum yang juga sebagai pelaku sejarah Pepera 1969, mengetahui secara persis bagaimana pelaksanaan Pepera 1969,”ujar Ramses.

Pembohongan Publik

Ditegaskan Ramses, rakyat Papua saat itu memutuskan untuk bergabung dengan NKRI dan telah disetujui dan ditetapkan PBB melalui resolusinya Nomor 2504 Tanggal 19 November 1969.

“Yang berarti, Papua adalah mutlak bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI. Pernyataan deklarasi politik yang menyatakan Pepera tidak sah adalah pembohongan publik, untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu yang ingin agar pembangunan di Papua melalui Otsus tidak berjalan lancar, “ujarnya.

Sedangkan Papua tanah darurat, menurut Ohee, adalah pernyataan pembohongan publik dan cenderung tendensius, karena sampai saat ini status Tanah Papua merupakan tertib sipil dan tanah damai.

Dia menilai pernyataan PDP yang meminta PT Freeport ditutup dan eksploitasi gas alam oleh British Petrolium Indonesia di Tangguh, Bintuni, Papua Barat, harus ditutup karena melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan genoside di Tanah Papua adalah sangat tidak benar.

Barisan Merah Putih dan komponen masyarakat peduli NKRI meminta Tom Beanal yang mengklaim dirinya sebagai Pemimpin Bangsa Papua Barat, adalah salah satu komisaris PT Freeport yang digaji sekitar Rp 50 juta per bulan, dan telah menikmati fasilitas yang diberikan Freeport harus menolak rencana penutupan tersebut.

Selain itu, Ramses mempertanyakan, masyarakat tujuh suku di sekitar area tambang PT Freeport yang menerima dana 1 persen dari pendapatan perusahaan tersebut PT Freeport, berniat menutupnya.

“Sangatlah aneh apabila tujuh suku dengan tokohnya Tom Beanal sendiri ingin menutup PT Freeport, sementara yang bersangkutan menikmati fasilitasnya. Itu berarti Tom Beanal melakukan pembohongan terhadap diri sendiri,” ujarnya.

Menanggapi dukungan dari berbagai Negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Vanuatu, Negara Kepulauan Pasifik, dan Anggota Parlemen Australia terhadap penentuan nasib sendiri bagi Papua Barat, adalah pernyataan yang tidak mendasar.

Karena tidak ada negara yang mengeluarkan surat dukungan secara resmi pada organisasi Papua Merdeka. ” Sampai saat ini, negara-negara tersebut masih mendukung keberadaan Papua sebagai bagian dari NKRI, “ujarnya.[154]

Pencarian Jejak Penemu Teori Evolusi di Ternate

Ternate (ANTARA News) Ketenangan keluarga Paung Tjandra bakal berubah ketika pencarian jejak naturalis Alfred Russel Wallace, penemu teori evolusi, berakhir di rumah yang mereka tinggali sejak 1974.

Rumah Paung Tjandra di Jalan Nuri, Ternate, diyakini cocok dengan sejumlah informasi yang dikumpulkan Pemerintah Kota Ternate berdasarkan catatan Wallace, terutama keberadaan sumur di samping kanan rumah itu.

Sumur tersebut memang sudah ditutupi lantai semen. Tapi menurut pengakuan sang pemilik rumah, sebagai sumber air sumur itu masih utuh dan letaknya ditandai oleh sebuah pipa yang mencuat di lantai tersebut.

Sumur tersebut mendapat catatan khusus oleh Wallace dalam suratnya kepada Charles Darwin (1858), dengan menyatakan, di tempat tinggalnya di Ternate, dia memiliki sumur yang memenuhi kebutuhan hidup. Bagi dia, sumur itu merupakan barang mewah dan airnya dapat langsung diminum.

Menurut kesaksian sejumlah tetangga, pada 1980an, juga datang sejumlah peneliti dari Inggris dan Jepang yang khusus memeriksa sumur di rumah tersebut.

“Kami mengira, mereka meneliti untuk mencari terowongan ke benteng oranye,” kata seorang ibu tetangga rumah itu.

“Mengapa selalu sumur itu yang diperiksa,” kata ibu itu.

Tapi, Wakil Walikota Ternate Amas Dinsie menolak adanya “sesuatu” di balik pencarian sumur tersebut. Bagi dia, sumur itu merupakan bukti otentik yang dapat menjadi petunjuk tempat tinggal Wallace selama empat tahun di Ternate.

Yang lainnya sudah berubah jauh dari yang digambarkan Wallace. Rumah itu sudah direnovasi menjadi rumah bata pada tahun 1980an. Atapnya juga sudah berganti menjadi genteng, bukan rumbia.

Menurut kesaksian sejumlah tetangga, sumur itu memang terkenal sejak dulu, karena menjadi sumber mata air bagi sebagian warga.

Memang ada sebuah lagi sumur serupa di kawasan yang sama, namun yang tepat dengan gambaran bahwa lokasi rumah hanya lima menit perjalanan ke pasar dengan arah berlawanan dengan gunung, seperti ditulis Wallace, memperkuat keyakinan rumah itulah yang dimaksud.

Selain itu, kata Amas Dinsie, Jalan Nuri merupakan jalan lama, ketika di Kota Ternate belum banyak jalan raya. Dan, sumur lain yang disebut masyarakat sebagai sumur kuno juga, tidak terdapat di pinggir jalan dan tidak cocok dengan kondisi geografis yang disebut dalam catatan Wallace.

Maka, pada Rabu (3/12), halaman rumah Paung Tjandra digali selebar lebih dari satu setengah meter dengan kedalaman sekira semeter. Di sana, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Umar Anggara Jenie, Walikota Syamsir Andili dan wakilnya Amas Dinsie bergantian menanam batu pertama bagi pembangunan Monumen Wallace.

Selesai upacara peletakan batu pertama itu, mereka meresmikan penggantian nama jalan yang melintas di depan rumah itu, dari Jalan Nuri menjadi Jalan Alfred Russel Wallace.

Rumah milik Paung ramai dikunjungi orang. Sang pemilik hanya duduk menyaksikan semua itu dari sebuah kursi plastik di teras rumahnya setelah dia diperkenalkan kepada khalayak oleh Walikota.

Dia mengaku siap melepas rumah itu asalkan harganya sesuai. “Bergaining dulu saja,” katanya.

Inspirasi

Seperti dikutip dalam makalah Dr Abdurrahman Hoda (Universitas Khairun) yang disampai pada pra-simposium “Letter from Ternate”, Wallace menemukan tempat tinggal yang menyenangkan di Ternate setelah berpetualang di Nusantara selama delapan tahun (1854-1862).

Wallace antara lain menulis: “Aku menempati rumah ini selama tiga tahun. Saya sangat senang mempunyai tempat untuk pulang setelah perjalananku ke berbagai pulau di Maluku dan Nugini. Aku bisa mengemasi koleksiku, mengembalikan kesehatanku, dan membuat persiapan untuk perjalanan selanjutnya.”

Selama perjalanan berkeliling nusantara, Wallace mengoleksi ribuan contoh flora dan fauna.

Suatu kali, Wallace jatuh sakit karena malaria dan beristirahat di rumah yang kini dimiliki Paung tersebut. Ketika sakit itulah dia memiliki waktu untuk merenungi semua yang telah dia lakukan dalam pengembaraan intelektualnya.

Di sana pula dia menulis makalah singkat yang di dalamnya menguraikan teori seleksai alam.

Menurut Hoda, dari sana pula Wallace berkorespondensi dengan Charles Darwin mengenai pemikirannya tentang evolusi jenis yang didasarkanoleh seleksi alam yang dikenal dengan teori “Survival Of The Fittes”: siapa kuat dialah yang menang.

Wallace menyatakan keyakinannya bahwa seleksi alam adalah metode utama, bahkan mungkin satu-satunya metode, yang dapat menerangkan teroi evolusi makhluk hidup di bumi. Pernyataan Wallace itu yang kemudian menempatkan dirinya bersama Darwin sebagai penemu teori evolusi.

Tulisan Wallace, bagi Hoda, merupakan inspirasi dan semangat. Setidaknya untuk menjadikan Ternate sebagai pusat observali alam Wallace.

Selain melahirkan teori evolusi selama di rumah itu, Wallace juga memaparkan pengamatannya bahwa di Kepulauan Indonesia terdapat perbedaan besar antara fauna yang hidup di barat dengan yang di timur.

Wallace menempatkan garis imajiner antara Lombok dan Bali dan antara Kalimantan dan Sulawesi. Garis itu sebagai tanda bahwa Kalimantan, Jawa, dan Sumatera dulunya merupakan bagian Asia, Timor, Maluku, Irian, dan Sulawesi pernah menjadi bagian Pasifik-Australia.

Garis itu dikenal dengan Garis Wallace.

Pencarian jejak rumah Wallace dan pra-simposium di Ternate pada awal Desember itu merupakan bagian dari upaya mengenalkan kembali sosok Wallace sebagai penemu teori evolusi.

Itu juga sekaligus mengangkat nama Ternate, sebagai tempat yang ditinggali Wallace dalam pengembaraan intelektualnya. Sebuah rumah di kota itu pula yang disebut Wallace sebagai tempanya menghabiskan hari-hari bahagia.

Semua itu dilakukan untuk mengenang 150 tahun surat yang dikirim Wallace dari ternate kepada Charles Darwin, yang kemudian disebut “Letter from Ternate”.

Bagi Kepala LIPI Umar Anggara Jenie, pencarian jejak ilmuwan Inggris itu di Ternate diharapkan mampu mengajak warga setempat khususnya untuk meneladani sosok ilmuwan besar Alfred Russel Wallace, yang pengembaraan intelektualnya dikota itu memunculkan ide besar yaitu Teori Evolusi.

Pertemuan pra-simposium di Ternate itu kemudian menghasilkan enam poin Deklarasi Ternate.

Satu dari enam poin itu menyebut bahwa masyarakat Ternate merekomendasikan untuk membuat monumen di kota itu sebagai penghormatan atas jasa-jasa Wallace di bidang ilmu pengetahuan.

Itu untuk menghormati semangat kepioniran dalam mengangkat ilmu pengetahuan yang dilakukan Wallace, yang kemudian menghasilkan teori yang fenomenal.

Monumen yang dimaksud dapat berupa pembangunan kembali rumah Wallace dan penetapan nama Jalan Alfred Russel Wallace.

Juga disebutkan, sebagai tindak lanjut dari pra-simposium itu, diserukan kepada masyarakat, khususnya ilmuwan nasional dan intenasional agar, melakukan dan mengembangkan riset di wilayah Ternate untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat. (*)

COPYRIGHT © 2008 ANTARA

PubDate: 05/12/08 16:47

Pesan dari Panglima Tertinggi TRPB: OPM tetap Ada dan Berkarya!

Mendengar banyak orang Papua mengisyukan OPM sudah tidak ada dan tidak bergigi lagi, maka Panglima TRPB, Gen. TRPB Mathias Wenda menyerukan kepada setiap insan orang Papua yang berhatinurani untuk merdeka dan berdaulat di Luar NKRI agar berbenah diri dan terus siap-siaga, karena Tentara Revolusi Papua Barat sekarang ini tidak bekerja secara sporadis dan tidak profesional seperti sediakala.

Angkatan bersenjata untuk Papua Merdeka kini telah memantapkan diri dan bekerja sesuai petunjuk dan garis kerja bersama Organisasi Papua Merdeka. Oleh karena itu, untuk sepuluh tahun terakhir TRPB tidak melakukan kegiatan apa-apa berdasarkan kesepakatan dan arahan bersama.

Kalau seandainya saja terjadi apa-apa, maka jangan pernah orang Papua-Indonesia menganggap bahwa OPM sudah mati. OPM tidak akan pernah mati sampai satu orang Papua-pun masih hidup.

MERDEKA HARGA MATI!

Per “SMS” ke SPMNews

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny