Aksi Mahasiswa Papua di Surakarta Dihadang Oleh Aksi Bayaran Indonesia

Massa Aksi AMP Dihadang Oleh Massa Bayaran Saat Aksi di Solo (rk)

Surakarta (19/12/2013) – Ratusan massa Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] menggelar aksi demonstrasi sepanjang  jalan Slamet Riadi hingga dan diakhiri sekitar 100 meter dari patung Slamet Riadi, kota Surakarta. Aksi Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] kali ini dilakukan sebagai bentuk penyikapan dan mengutuk dikumandangkannya Tiga Komando Rakyat ( TRIKORA ) yang dikumandangkanoleh Ir. Soekarno 52 tahun silam tepatnya pada tanggal 19 Desember 1961 di Alun – Alun Utara Kota Yogyakarta, yang dimana dengan dikumandangkannya TRIKORA inilah yang menjadi awal Penjajahan dan Pencaplokan yang dilakukan oleh Indonesia atas Bangsa Papua.

Aksi yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, awalnya berjalan aman dan lancar – lancar saja, namun ketika long mars massa aksi Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] mendekati titik akhir aksi ( Patung Slamet Riadi ) massa aksi dikagetkan dengan adanya aksi tanding (aksi bayaran ) yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatas namakan GEMPAR yang dikordinir oleh Barisan Merah Putih [BMP], yang dimana massa aksinya diselubungi oleh beberapa Intel dari Kepolisian dan TNI.

Melihat situasi ini, AMP mengirimkan beberapa negosiator untuk melakukan negosiasi dengan koordinator aksi GEMPAR untuk melakukan negosiasi, namun upaya negosiasi yang dilakukan oleh AMP dengan Koordinator GEMPAR tidak menuai kesepakatan, pada saat negosiasi,  koordinator GEMPAR menyatakan bahwa “ Bubarkan massa kalian dan jangan melakukan aksi disini, seegerah lepas semua atribut Bintang Kejora yang massa aksi kalian kenakan, kami tetap akan melarang kalian untuk melakukan aksi – aksi untuk memisahkan diri dari NKRI“ tegasnya, karena tidak adanya kesepakatan yang dicapai dari hasil negosiasi yang dilakukan, akhirnya negosiator yang diutus oleh AMP menyatakan bahwa “ Kami akan tetap melakukan aksi dan akan tetap menyampaikan akspirasi kami disini “ tegasnya.

Dengan tidak adanya kesepakatan yang dicapai dari upaya negosiasi yang dilakukan, massa aksi AMP akhirnya memutuskan untuk tetap melakukan orasi – orasi Politik dan pembacaan Pernyataan Sikap sekitar kurang lebih 100 meter dari titik aksi yang telah direncanakan sebelumnya, sebab adanya pemalangan dan upaya – upaya provokasi yang dilakukan oleh kelompok massa bayaran yang sudah melakukan pemalangan sebelum massa AMP tiba.

Massa GEMPAR ini sempat berupaya maju kearah massa AMP untuk berupaya melakukan provokasi dan bentrokan, namun upaya mereka dihalangi aparat Kepolisian Surakarta yang telah bersiaga dilokasi aksi. Melihat situasi ini dan untuk menghindari terjadinya bentrokan, Aliansi Mahasiswa Papua memutuskan untuk mempercepat pembacaan pernyataan sikap dan menyudahi aksinya.

Dalam pembacaan pernyataan sikap, Aliansi Mahasiswa Papua [ AMP ] dengan tegas mengutuk Tiga Komando Rakyat ( TRIKORA ) dan menyatakan sikap :

  1. 1.      Berikan Kebebasan dan Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua Sebagai Solusi Demokratis.
  2. 2.      Tarik Militer (TNI-Polri) Organik dan Non-Organik dari Seluruh Tanah Papua Sebagai Syarat Damai.
  3. 3.      Tutup Freeport, BP, LNG Tangguh dan MNC lainnya Yang Merupakan Dalang Kejahatan Kemanusiaan di Atas Tanah Papua.

Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] ketika dimintai keterangan mengenai aksi ini menerangkan bahwa

“ Aksi ini dilakukan murni untuk menyikapi dan mengutuk TRIKORA yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno 52 tahun silam dan menyatakan Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua, kami mendesak rezin SBY – Boediono selaku Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk segerah memberikan kebebasan kepada Rakyat Papua untuk menentukan nasib sendi, sebab segalah macam produk politik yang dirancang oleh Indonesia seperti : Otonomi Khusus, UP4B, Otsus Plus untuk diberlakukan di Papua itu sangatlah tidak bermanfaat dan tidak berguna bagi Rakyat Papua, dan selain itu, yang dituntut oleh Rakyat Papua adalah Kemerdekaan, bukanlah masalah makan dan minum, untuk it, kami Mahasiswa Papua sebagai tulang punggung Bangsa Papua, akan tetap menyuarakan aspirasi Rakyat Papua hingga KEMERDEKAAN itu kami peroleh”

tegasnya.

Ditambahkannya bahwa

“ Kami tidak akan pernah berhenti menyuarakan kebenaran hanya karena adanya upaya – upaya teror, provokasi dan Intimidasi yang dilakukan oleh Indonesia seperti yang mereka lakukan saat ini, kita lihat mereka ( Indonesia-red ) sedang kebingungandan ketakutan dengan kebenaran yang kami seruhkan, sehingga mereka melegalkan segalah cara, termaksud membayar massa untuk melakukan aksi – aksi tandingan terhadap aksi yang kami lakukan, seperti yang mereka lakukan saat ini “,

tambahnya. [rk]

Komandan Perang Organisasi Papua Merdeka Meninggal di PNG

VIVAnews – Komandan regional Organisasi Papua Merdeka (OPM), Danny Kogoya, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu, 15 Desember 2013 lalu. Namun, hingga kini penyebab kematiannya masih belum diketahui.

Stasiun berita ABC News, Kamis 19 Desember 2013, melansir bahwa Kogoya meninggal di kota Vanimo, tempat di mana selama ini dia berlindung agar tidak ditahan kembali oleh otoritas Indonesia. Kogoya sudah menjadi buronan pihak Kepolisian RI sejak Mei lalu.

Laporan awal menyebut infeksi kaki sebelah kanan paska diamputasi paksa oleh polisilah yang dianggap menjadi penyebab kematian Kogoya. Namun, seorang dokter di RS General Vanimo mengatakan Kogoya pernah dirawat akibat menderita gagal hati.

Sementara juru bicara keluarga Kogoya, Jeffrey Bomanak, menuduh pihak Konsulat Jenderal Indonesia turut campur dalam rencana RS Vanimo untuk mengautopsi jasad Kogoya. Bomanak menuduh Konsuljen Vanimo meminta pihak RS agar tidak melakukan autopsi terhadap jenazah Kogoya.

Pihak keluarga sendiri menginginkan agar jasad Kogoya dibawa kembali ke Jayapura,  di mana kakinya yang diamputasi dikuburkan. “Separuh dari kakinya telah dikubur di sana. Jadi, tidak mungkin kami memakamkan jasadnya di sini. Itu merupakan tindakan yang keliru,” kata Bomanak.

Namun, hingga kini belum diketahui dengan pasti, kapan jasad Kogoya akan dimakamkan.

Kogoya ditangkap oleh Polisi karena terlibat dalam aksi penembakkan dan pembacokan di Nafri yang menewaskan empat orang pada tahun 2011-2012 silam. Dia tertangkap saat dilakukan penggrebekan di Hotel Dany, Entrop pada 2 September 2012.

Ketika hendak melarikan diri, polisi berhasil menembak kaki kanannya. Oleh sebab itu, kaki kanannya harus diamputasi saat dia dibui, karena timah panas yang dimuntahkan memecahkan tulang kering.

Kepada ABC News yang pernah mewawancarainya, Kogoya mengaku proses amputasi kakinya dilakukan secara paksa, karena sebenarnya dia tidak menginginkan hal itu. “Kaki ini diamputasi demi OPM. Saya meminta kemerdekaan dan menuntut agar Papua Barat keluar dari Republik Indonesia,” ungkap Kogoya saat itu.

Menurut data ABC News, pada Juli lalu, Kogoya memimpin tentara OPM sekitar tujuh ribu orang. Sebanyak 200 orang di antaranya merupakan pejuang aktif.

© VIVA.co.id

Komandan Perang Organisasi Papua Merdeka Meninggal di PNG

VIVAnews – Komandan regional Organisasi Papua Merdeka (OPM), Danny Kogoya, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu, 15 Desember 2013 lalu. Namun, hingga kini penyebab kematiannya masih belum diketahui.

Stasiun berita ABC News, Kamis 19 Desember 2013, melansir bahwa Kogoya meninggal di kota Vanimo, tempat di mana selama ini dia berlindung agar tidak ditahan kembali oleh otoritas Indonesia. Kogoya sudah menjadi buronan pihak Kepolisian RI sejak Mei lalu.

Laporan awal menyebut infeksi kaki sebelah kanan paska diamputasi paksa oleh polisilah yang dianggap menjadi penyebab kematian Kogoya. Namun, seorang dokter di RS General Vanimo mengatakan Kogoya pernah dirawat akibat menderita gagal hati.

Sementara juru bicara keluarga Kogoya, Jeffrey Bomanak, menuduh pihak Konsulat Jenderal Indonesia turut campur dalam rencana RS Vanimo untuk mengautopsi jasad Kogoya. Bomanak menuduh Konsuljen Vanimo meminta pihak RS agar tidak melakukan autopsi terhadap jenazah Kogoya.

Pihak keluarga sendiri menginginkan agar jasad Kogoya dibawa kembali ke Jayapura,  di mana kakinya yang diamputasi dikuburkan. “Separuh dari kakinya telah dikubur di sana. Jadi, tidak mungkin kami memakamkan jasadnya di sini. Itu merupakan tindakan yang keliru,” kata Bomanak.

Namun, hingga kini belum diketahui dengan pasti, kapan jasad Kogoya akan dimakamkan.

Kogoya ditangkap oleh Polisi karena terlibat dalam aksi penembakkan dan pembacokan di Nafri yang menewaskan empat orang pada tahun 2011-2012 silam. Dia tertangkap saat dilakukan penggrebekan di Hotel Dany, Entrop pada 2 September 2012.

Ketika hendak melarikan diri, polisi berhasil menembak kaki kanannya. Oleh sebab itu, kaki kanannya harus diamputasi saat dia dibui, karena timah panas yang dimuntahkan memecahkan tulang kering.

Kepada ABC News yang pernah mewawancarainya, Kogoya mengaku proses amputasi kakinya dilakukan secara paksa, karena sebenarnya dia tidak menginginkan hal itu. “Kaki ini diamputasi demi OPM. Saya meminta kemerdekaan dan menuntut agar Papua Barat keluar dari Republik Indonesia,” ungkap Kogoya saat itu.

Menurut data ABC News, pada Juli lalu, Kogoya memimpin tentara OPM sekitar tujuh ribu orang. Sebanyak 200 orang di antaranya merupakan pejuang aktif.

© VIVA.co.id

Komandan Perang Organisasi Papua Merdeka Meninggal di PNG was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Berharap Jenazah Dani Kogoya Dipulangkan dari PNG

JAYAPURA – Ketua Parlemen Jalanan (Parjal) Yusak Pakage mengatakan, atas nama Tentara Pembebasan Nasional – Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) menyampaikan kepada seluruh masyarakat Papua baik itu orang asli Papua (OAP) maupun orang Non Papua (pendatang) bahwa pada pekan ini dari Keluarga Besar TPN-OPM sedang dalam suasana berduka atas meninggalnya Jenderal Panglima TPN-OPM Dani Kogoya.

Demikian diungkapkan ketika menggelar jumpa pers di Kantor Pos Abepura dalam rangka menyikapi meninggalnya’ Jenderal Panglima TPN-OPM Dani Kogoya di PNG, Rabu (18/12) kemarin pagi sekitar pukul 10.00 WIT.

“Jadi, kami sampaikan kepada pihak aparat keamanan dalam hal ini Polda Papua dan Kodam XVII/Cenderawasih untuk tidak khawatir terkait dengan keamanan di Tanah Papua pada umumnya dan di Jayapura pada khususnya,”

ucap Yusak Pakage.

Yusak demikian sapaan akrabnya menyatakan, bahwa pihak keluarga juga berharap agar jenazah Dani Kogoya bisa dibawa pulang untuk dimakamkan di Distrik Abepura, Kota Jayapura. Namun setelah berkoordinasi dengan pihak keamanan merasa khawatir jika keamanan akan terganggu.

Lanjut Yusak, bahwa hingga saat ini keluarga masih menunggu kedatangan jenazah Alm. Dani Kogoya. Dimana, pihak keluarga juga belum mengetahui atas meninggalnya Alm. Dani Kogoya itu karena apa?.

“Maka itu kami sangat mengharapkan supaya proses pengiriman jenazah dapat diijinkan dan melalui proses damai, sehingga disini (Abepura) pihak keluarga juga menjamin soal keamanan saat jenazah hendak dipulangkan,”

tukasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Bintang Papua dari sumber terpercaya bahwa Dani Kogoya meninggal karena menderita penyakit infeksi kanker hati.
Sekedar diketahui, polisi menembak Dani Kogoya pada beberapa waktu lalu dalam sebuah operasi penggerebekan di Hotel Danny, Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan (Japsel). Dan, selain itu juga polisi menangkap empat rekannya.

Dimana, mereka diduga terlibat dalam aksi kekerasan yang terjadi di Kota Jayapura. Dani Kogoya dikenal sebagai salah satu tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan pangkat Jenderal Panglima TPN-OPM.

Dani Kogoya juga diduga terkait aksi penembakan terhadap WN Jerman Pieter Dietmer di pantai Base-G, 29 Mei 2012 lalu. Dia juga diduga terlibat dalam penembakan dan pembakaran mobil di kawasan tempat pemakaman umum (TPU) Waena, Kota Jayapura.

Dani Kogoya sempat mendekam beberapa waktu di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Jayapura, namun dibebaskan karena surat perpanjangan penahanannya terlambat dikirim ke Lapas Klas II A Jayapura atau lebih dikenal dengan Lapas Abe. (Mir/don/l03)

Kamis, 19 Desember 2013 02:09, BinPa

Enhanced by Zemanta

100 ‘Prajurit’ Goliat Tabuni Membelot

Henock Ibo, Bupati Puncak Jaya
Henock Ibo, Bupati Puncak Jaya

WAMENA – Sebanyak 100 anak buah (baca : prajurit) Goliath Tabuni dan Okiman yang selama ini beroperasi di wilayah Puncak Jaya dan sekitarnya membelot dengan turun dari gunung/ hutan bergabung menjadi masyarakat biasa di Kabupaten Puncak Jaya. Demikian diungkapkan Bupati Kabupaten Puncak Jaya, Henock Ibo.

Ditegaskan, bergabungnya 100 anak buah Goliath Tabuni tersebut, tidak lain karena mereka selama ini merasa sudah dibohongi oleh Goliath Tabuni mengenai Papua Merdeka, sehingga ke-100 orang ini menyatakan keinginannya untuk kembali bergabung dengan NKRI. Atas hal itu, kebijakan Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya, telah mendidik mereka menjadi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)

“Dari pengakuan anak buah Goliath Tabuni, bahwa mereka sudah sangat bosan tinggal di hutan selama bertahun-tahun. Mereka sudah sangat bosan sekali,”

ungkapnya kepada wartawan di Hotel Baliem Pilamo Wamena, Rabu, (18/12).

Dijelaskannya, 100 orang pengikut Goliat Tabuni ini pada 11 Desember 2013 lalu telah merayakan Natal bersama dengan masyarakat Puncak Jaya, sekaligus bersama merayakan satu tahun pasangan Bupati Puncak Jaya Henok Ibo dan Wakil Bupati, Yustus Wonda, memimpin di kabupaten ini. Perayaan Natal ini pernah pihaknya berupaya menghadirkan Goliath Tabuni, hanya saja Goliath Tabuni tidak memenuhi undangan pihaknya.

Terhadap hal itu, kebijakan lain dirinya adalah direncanakan pada Tahun Anggaran 2014 dengan anggaran APBD, Pemerintah Puncak Jaya membangun 100 unit rumah layak huni bagi para mantan OPM yang sudah bergabung tersebut. Dimana, 50 unit rumah dibangun di Distrik Tingginambut. Sedangkan sisanya 50 unit rumah lagi dibangun di sejumlah wilayah.

“Sevara khusus Gubernur Papua juga ada membantu mereka (Mantan OPM) untuk rumah yang layak huni. Tujuan mereka membantu untuk dapat pelayanan yang baik,”

tandasnya.

Untuk Distrik Tingginambut, Pemerintah Puncak Jaya sudah membangun kantor distrik, sekolah yang rusak dan dibakar kelompok Goliath Tabuni. Termasuk telah membangun penerangan listrik bagi masyarakat di wilayah tersebut.

“SD yang hancur juga sudah dibangun. Rencana pada Januari 2014 listrik sudah menyala di Tingginambut dan kami akan berikan kepada mereka TV biar masyarakat juga menyaksikan siaran TV, seperti masyarakat umum lainnya,”

imbuhnya.

Lanjutnya, dengan bergabungnya 100 anak buah Goliath Tabuni ini ke NKRI, itu meandakan sebuah kabar yang menggembirakan. Dan ini tentunya, sudah mulai mengarah pada arah yang lebih baik untuk stabilitas keamanan yang lebih baik di Kabupaten Puncak Jaya yang selama ini, sering mendapat gangguan keamanan dari Kelompok Sipil Bersenjata.

“Saat ini persoalan hanya pada Goliath Tabuni dan Okiman saja, dan kami perkirakan anak buah Goliath Tabuni, hanya sekitar 15 orang saja. Saya melihat keadaan sekarang sudah membaik. Walaupun ada persoalan tetapi hanya sedikit saja. Saat ini kelompok bersenjata yang masih sering mengganggu di lajuran Mulia-Illu. Tetapi secara keseluruhan keadaan masyarakat tidak terganggu.(Nls/don/l03)

Kamis, 19 Desember 2013 02:13, BinPa

Enhanced by Zemanta

Tapol Napol Harus Dapat Pelayanan Manusiawi

JAYAPURA – Kunjungan Jeremy Bally aktivis Tapol Napol yang melakukan kunjungan simpati dan solidaritas ke Lembaga Pemasyarakatan Abepura juga mendapat tanggapan dari Tokoh Intelektual Papua, Franzalbert Joku.

Kepada Bintang Papua, Rabu (18/12), Franzalbert Joku mengungkapkan, para tahanan termasuk Tapol Napol adalah warga negara yang hanya untuk sementara dibatasi kebebasannya bergerak secara leluasa, karena satu dan lain hal. Untuk itu, Tapol Napol harus mendapatkan pelayanan dan perhatian manusiawi.

Menurut Franzalbert Joku, semua tahanan perlu diberikan perhatian dan perlindungan yang sama sesuai hukum negara yang berlaku, walaupun perbuatan dan hukumannya berbeda beda.

“Namun hak asasi tetap melekat pada diri Tapol Napol sampai kapanpun. Mereka-Tapol Napol memang harus diberikan perhatian dan pelayanan sama,”

ujarnya singkat.

Sementara itu, DPRP menegaskan pemerintah jangan selalu menganggap Tapol/Napol Papua seperti musuh negara, karena mereka adalah orang-orang yang betul-betul dengan sadar dan hati ikhlas membela apa yang mereka rasa hak mereka.

Sekretaris Komisi A DPRP yang membidangi masalah Hukum, HAM dan Luar Negeri Julius Miagoni, S.H., menyampaikan ketika dikonfirmasi Bintang Papua di Jayapura, Rabu (18/12). Hal ini terkait Jeremi Bally (27), aktivis Kanada kepada Tapol/Napol Papua, yang mengunjungi Tapol/Napol yang selama ini ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Abepura dengan tuduhan tindakan pidana makar, antara lain : Filep Karma, Forkorus Yaboisembut, Selpius Bobii, Dominikus Serabut, Viktor Yeimo dan lain-lain.

Jeremi Bally juga menyampaikan 40 kartu pos dan pesan lain, yang dikumpulkanya dari aktivis Papua di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia dan New Zealand, guna memberi dukungan kepada Tapol/Napol di Papua, ketika bersepeda keliling dunia selama 6 bulan terakhir sejak Juli 2013 lalu.

“Kami memberikan apresiasi kepada aktivis Kanada yang mengunjungi Tapol/Napol Papua, karena dia juga seorang manusia yang datang menyampaikan kepedulian kepada manusia lain di Papua,”

kicau Miagoni.

Sedangkan terkait harapan aktivis internasional, agar pemerintah Indonesia memperlakukan Tapol/Napol Papua secara manusiawai, sebagaimana disampaikan Plt. Sekretariat Komnas HAM Perwakilan Papua Fritz B Ramandey, S.Sos., M.H., dikatakan Miagoni, pihaknya sependapat. Tapi, ujar Miagoni, Tapol/Napol Papua perlu diperlakukan khusus.

Pertama, Tapol/Napol Papua tak memenuhi unsur-unsur tindak pidana makar. Kedua,Tapol/Napol Papua tak melakukan pelanggaran dan kejahatan terhadap negara. Tapi mereka hanya membela apa yang mereka rasa punya hak. Ketiga, harus ada perubahan sikap setelah keluar dari tahanan.

Miagoni menjelaskan, Tapol/Napol Papua harus diperlakukan secara khusus, karena definisi makar mempunyai kriteria bahwa seorang betul-betul melakukan tindakan makar, seperti ada unsur sudah pegang alat tajam dan menyerang negara.

“Secara logika Tapol/Napol Papua tak melakukan sebuah kejahatan. Mereka itu orang-orang yang sehat jasmani sehingga tak perlu dibina, sehingga pemeritah harus mengerti out-put yang akan diperoleh setelah orang keluar dari tahanan, lanjut Miagoni.

Sesungguhnya, ujar Miagoni, Tapol/Napol Papua selama ini ditahan dengan alasan makar. Padahal mereka belum memenuhi unsur-unsur tindak pidana makar.

“Dan selama ini negara ini kan menahan orang itu kan tak jelas. Ini semacam balas dendam saja, karena seharusnya sebagai sebuah negara dia harus perhitungkan setelah dia ditahan kira-kira orang itu setelah keluar seperti apa, karena tujuan orang ditahan kan dibina setelah dia bebas dia tak lakukan hal-hal yang sama,”

beber Miagoni.

Dikatakan, selama ini negara tak memperhatikan Tapol/Napol, karena Indonesia menyangkut tahanan-menahan siapa saja atas nama negara mau tahan boleh saja. Tapi perlu juga dipertimbangkan setelah dia bebas dari tahanan harus ada perubahan.

“Jangan setelah dia keluar dari tahanan dia malah tambah jahat lagi,”

tukas Miagoni. (ven/mdc/don/l03)

Kamis, 19 Desember 2013 02:09, BinPa

Enhanced by Zemanta

Berdukacita Sedalam-dalamnya atas Meninggalnya Dani Kogoya, Pimpinan Gerilyawan Papua Merdeka di Markas Victoria

Setelah manusia di dunia dan khususnya di Tanah Papua menundukkan kepala dan berdukacita atas meninggalkan tokoh hitam Afrika, Nelson Mandela yang menutup usianya dan beristirahat untuk selamanya, kini tanah dan bangsa Papua ditimpa duka kembali dengan meninggalnya salah satu tokoh gerilyawan Papua Merdeka; Dani Kogoya.

Atas berita duka ini, kami segenap perwira dan pasukan Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua mengucapkan

BERDUKA SEDALAM-DALAMNYA

Dani Kogoya ketika di Rimba New Guinea
Dani Kogoya ketika di Rimba New Guinea

atas kepergian salah satu tokoh Papua Merdeka
Dani Kogoya

Perjuangan yang ditinggalkannya akan kami lanjutkan, kami sebagai sesama gerilyawa, sebangsa dan setanah air, anak, cucu, orang tua, anak muda, lelaki, perempuan, sampai titik darah penghabisan, sampai Papua Merdeka.

Disampaikan pada tanggal: 17 Desember 2013
Disampaikan dari: Markas Pusat Pertahan

Markas Pusat Pertahanan,
Sekretariat-General

 

 

Amunggut Tabi, Lt. Gen. TRWP
BRN: A.001076

Sumber Berita: TabloidJubi.com

Penembakan Misterius di Freeport Skenario Asing?

Jayapura – Serangkaian aksi penembakan misterius di areal tambang PT Freeport Tembagapura Timika Papua, terus menjadi sorotan sejumlah pihak. DPR Papua tak henti-hentinya menyoroti aksi misterius yang hingga kini belum terungkap siapa pelakunya. Bahkan mensinyalir, aksi itu bisa saja skenario dari pihak asing.

”Perlu diwaspadai, kemungkinan serangkai aksi di Freeport bukan ulah lokal, tapi bisa saja pihak asing, dengan tujuan ingin mengeruk kekayaan alam kita, tanpa di awasi,”ujar Wakil Ketua Komisi A DPRP Bidang Politik Hukum dan HAM, Yanni , S.H., Senin 16 Desember.

Sinyalemen bahwa pihak asing bisa saja terlibat, lanjutnya, karena mudahnya pelaku dengan berbagai senjata dan amunisi yang dimiliki, masuk areal Freeport. “Pengawasan di areal Freeport kan sangat ketat, namun pelaku dan senjata yang dimilikinya, seperti mudah dimasukan untuk melakukan teror, ini salah satu yang mengindikasikan kemungkinan pihak asing bermain, dan seolah-olah OTK atau OPM sebagai pelakunya, “kata dia.” terangnya.

Apalagi, peristiwa penembakan misterius di Areal Freeport, sudah kerap terjadi, tapi pelaku belum pernah bisa diungkap. “Penembakan sudah sering terjadi, korban juga sudah cukup banyak, tapi siapa pelakunya tidak pernah terungkap.”paparnya.

Untuk itu, kata dia, aparat keamanan harus segera mengungkap pelaku serangkaian aksi penembakan misterius di areal Freeport, agar tak memunculkan berbagai persepsi atau opini yang kurang baik. “Persepsi publik kan jadinya negatif, karena pelaku teror tak pernah bisa diungkap dan ditangkap, jadi harus diungkap secepatnya,” tandasnya.
Ia juga meminta aparat keamanan dalam hal ini Kepolisian, untuk meningkatkan aksi razia atau sweeping senjata api, tajam maupun bahan peledak di Timika. “Dengan gencar menggelar razia, ruang gerak pelaku akan semakin sempit,”terangnya.

Mengenai pernyataan KSAD yang memerintahkan tembak ditempat bagi pelaku aksi teror di Freeport, harus di apresiasi, karena aksi itu sangat meresahkan dan mengganggu kegiatan tambang. “Kalau KSAD perintah ditempat, kita harus meresponnya, karena memang serangkaian aksi sudah sangat meresahkan,”pungkasnya.

Serangkaian aksi penembakan itu, sangat berimbas bagi kondisi keamanan di seluruh Papua, pasalnya, opini yang terbentuk khususnya di luar Papua, bahwa secara keseluruhan Papua tidak aman. “Kan yang dirugikan seluruh Papua, karena dianggap tidak aman, padahal kejadian hanya di Freeport,”tandasnya.

Sebelumnya, KSAD Jenderal TNI Budiman menganggap, eksistensi pengacau keamanan di Papua masih berjalan. Meski sudah memerintahkan Kodam XVII Cenderawasih dan jajarannya melakukan pendekatan persuasif.

“Penembakan yang diarahkan ke rombongan Komanda Korem 174/Anim Ti Weninggap atau ATW Brigadir Jenderal Bambang Haryanti dianggap, merupakan aksi melawan simbol negara. Selama ini kami anggap mereka saudara. Kalau mereka menggunakan senjata saya perintahkan hadapi juga dengan senjata. Sekalipun penyelidikan ditangani polisi, saya juga memerintahkan agar TNI ikut mengusut pelaku yang meresahkan masyarakat itu. Penembakan terhadap TNI juga harus dihadapi oleh anggota TNI,” kata Kasad Jenderal TNI Budiman.

Sementara itu Juru Bicara Polda Papua AKBP Pujo Sulistyo saat dikonfirmasi terkait perkembangan pengungkapan pelaku aksi teror penembakan di Freeport, mengatakan, pihaknya masih terus memburu para pelaku. “Kami masih kejar pelaku, bahkan guna mempersempit ruang geraknya, juga memperketat pengamanan di sepanjang areal Freeport,”ucapnya.

Selain itu, kata dia, pengawalan terhadap kendaraan perusahaan ditingkatkan. “Kendaraan perusahaan yang hilir mudik dari Timika ke Tembagapura dan sebaliknya, pengawalannya kami perketat,”ucapnya. (jir/don/l03)

Selasa, 17 Desember 2013 06:43, Binpa

Aktivis Papua Merdeka Asal Kanada ke Papua

Aktivis Papua Merdeka asal Kanada Jeremi BallyBersepeda Keliling Dunia menyampaikandukungan Internasional kepada Tapol dan Napol Papua ketika dijumpai di Gedung Dewan Kesenian Papua di Jayapura, Senin (16/12).JAYAPURA— Aktivis Papua Merdeka asal Kanada Jeremi Bally (27) “Bersepeda Keliling Dunia” menyampaikan sebanyak 40 kartu pos dan pesan dukungan internasional dari para aktivis Papua merdeka yang dia kumpulkan selama enam bulan terakhir sejak Juli 2013 seperti dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia dan New Zealand kepada Tapol dan Napol Papua.

ParaTapol/Napol itu masing-masing Filep Karma, Forkorus Yaboisembut, Selpius Bobii, Domunikus Serabut, Viktor Yeimo dan lain-lain yang kini ditahan dengan tuduhan makar di Lembaga Pemasyarakatan Abepura, Jayapura, Senin (16/12).

“Saya ke Papua untuk bertemu Tapol dan Napol Papua untuk menyampaikan kartu pos dan pesan yang saya kumpulkan dari aktivis Papua merdeka di luar negeri yang saya jumpai saat bersepeda keliling dunia,”
ujar Jeremi Bally kepada Bintang Papua yang menjumpainya di Gedung Dewan Kesenian Papua di Jayapura, Senin (16/12).

Jeremi Bally menandaskan ia dari Jakarta dan tiba di Jayapura pada Senin (16/12) pagi.

Ketika Bintang Papua mendaulatnya naik diatas sepeda miliknya untuk difoto Jeremi Bally menyambut dengan senang hati. Kemudian, Jeremi Bally naik ke sepeda mini warna biru didepan keranjang bertuliskan “Bersepeda untuk Papua. Jeremi Bally ketika itu mengenakan kaos You Can See berwarna abu-abu tengah memetik gitar kecil menyanyikan lagu dari daerah Asmat berjudul Mambo Simbo.

Dikatakan Jeremi Bally, diri telah bertemu Tapol dan Napol Papua di Lembaga Pemasyarakatan Abepura untuk menyampaikan kartu pos dan pesan berupa dukungan internasional dari aktivis Papua merdeka seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia dan New Zealand kepada para Tapol/Napol Papua.

Ditanya bersepeda keliling dunia untuk kampanye Papua merdeka, tegas Jeremi Bally, dirinya ke Papua bukan melakukan kampanye Papua merdeka, tapi hanya untuk menyampaikan kepada para Tapol/Napol berupa dukungan melalui 40 kartu pos dan pesan dari aktivis Papua di luar negeri.

Apakah tak takut ditangkap Polisi, tandas Jeremi Bally, poda awalnya dia kwatir ditangkap Polisi aktivitasnya menemui para Tapol/Napol Papua, tapi setelah itu dirinya makin yakin bahwa aktivitasnya tak melanggar hukum di Indonesia.

Menurut Jeremi Bally, dirinya telah dua kali berkunjung ke Papua sebagai turis diawali tahun 2011 silam. Sedangkan kunjungannya kali ini adalah aktivis terakhirnya untuk menyampaikan kartu pos dan pesan dukungan dari aktivis Papua merdeka di luar negeri yang saya jumpai saat bersepeda keliling dunia.

“Saya akan segera kembali ke Kanada, tapi suatu saat saya ingin kembali lagi ke Papua,”
tutur Jeremi Bally dalam Bahasa Inggris yang fasi.(Mdc/don/l03)

Selasa, 17 Desember 2013 06:47, BinPa

Korban Tragedi Biak Berdarah, Dibakar, Dimutilasi, Dan Diperkosa Secara Brutal

Dua kapal yang berlabuh di perairan Biak pada saat tragedi Biak Berdarah ini diduga terlibat mengangkut mayat warga yang menjadi korban tembakan aparat keamanan saat itu (biak-tribunal.org)

Jayapura – Pemerintah Indonesia menghadapi opini publik yang berkembang paska pengadilan warga yang dilakukan di Sidney, Australia bulan Juli lalu. Aparat keamanan saat itu, dibuktikan oleh para saksi telah melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan penyiksaan terhadap lebih dari 150 warga sipil di pulau Biak, Papua Barat 15 tahun yang lalu.

Ringkasan temuan kunci dalam pengadilan warga yang diketuai oleh mantan jaksa agung NSW John Dowd, sekarang presiden Komisi Ahli Hukum Internasional ini menemukan bahwa dalam tragedi Biak Berdarah, 15 tahun lalu itu “sejumlah besar” orang Papua Barat telah disiksa dan dimutilasi. Diperkirakan lebih dari 150 orang tewas dan mayat mereka dibuang di laut setelah insiden tersebut. Namun Indonesia, dianggap tidak pernah mengakui hal tersebut. Pemerintah Indonesia mengklaim hanya satu orang yang tewas, sedangkan mayat-mayak lainnya yang ditemukan disebut sebagai korban tsunami.

“Pengadilan warga ini pada akhirnya berkesimpulan harus ada jaksa penuntut khusus yang melakukan investigasi di Indonesia .Ada kesempatan bagi Indonesia untuk memberikan kompensasi kepada korban.”

kata John Dowd yang memimpin pengadilan warga pada tanggal 6 Juli itu kepada Jubi, Senin (16/12).

“Pengadilan ini meminta Indonesia untuk melakukan penyelidikan itu. Mutilasi spesifik terhadap perempuan adalah kebijakan teror tertentu. Sulit untuk percaya manusia bisa berperilaku seperti para prajurit itu,”

kata Dowd melalui sambungan telpon.

Yuda Korwa, Eben Kirksey dan Tineke Rumkabu, tiga orang diantara para saksi dalam pengadilan warga di Pusat Studi Perdamaian dan Konflik , University of Sydney tanggal 6 Juli itu memberikan kesaksian mereka dalam insiden Biak Berdarah.

“Saya melihat banyak orang dibunuh oleh militer. Saya melihat orang-orang tua, wanita hamil dan anak kecil tewas. Salah satu tentara memukul saya dengan pistol dan wajah saya penuh dengan darah, Saya berpura-pura mati saat itu dan bersembunyi selama dua hari di gorong-gorong jalan. Saya mendengar ada orang yang berteriak minta pertolongan.”

kata Yuda Korwa yang saat itu masih berusia 17 tahun.

Dr Eben Kirksey, antropolog dari UNSW, lima belas tahun yang lalu sedang berada di Biak. Ia juga memberikan kesaksian dalam pengadilan warga itu.

“Seperti orang yang sedang bernyanyi, pasukan mulai menembak ke kerumunan. Orang-orang mulai berjatuhan dan sebagian lainnya berlarian,”

kata Eben.

“Orang-orang yang selamat digiring ke pelabuhan dan dinaikkan di kapal-kapal. Mereka bisa melihat orang mati dan sekarat karena tembakan aparat sedang dimuat ke truk. Wanita diperkosa dan dimutilasi setelah melihat teman mereka dipenggal.”

lanjut Eben dalam kesaksiannya.

Sedangkan Tineke Rumkabu, seorang perempuan Biak yang bersaksi untuk pertama kalinya, mengakui menyaksikan temannya dipenggal. Dia sendiri, mengalami penyiksaan yang hebat.

Bersaksi untuk pertama kalinya, Tineke Rumakabu mengaku melihat temannya dipenggal. Dia sendiri disiksa secara mengerikan .

Mantan jaksa NSW, Nicholas Cowdery yang membantu di pengadilan warga ini turut membantu Tineke Rumakabu mendeskripsikan penyiksaan yang dialami oleh dia dan temannya.

“Dia dibakar, dia dimutilasi – dipotong kelaminnya – diperkosa, diperlakukan dengan cara yang paling brutal dan oleh polisi Indonesia,”

kata Nicholas Cowdery tentang apa yang terjadi pada Tineke Rumakabu dan temannya.

John Dowd yang memimpin pengadilan tersebut menyebutkan tragedi Biak Berdarah ini menjadi terlupakan karena tak lama setelah insiden tersebut, Indonesia memulai tindakan militer di Timor Timur – yang akhirnya gagal, meskipun kekejaman serupa terbukti dilakukan terhadap warga sipil tak bersenjata. Inilah yang membuat perhatian dunia tertuju pada Timor Timur, tragedi Biak tidak pernah diselidiki.

“Kami ingin orang-orang yang bertanggung jawab harus dibawa ke pengadilan. Kami ingin penyelidikan, kami ingin penuntutan pidana dan kami ingin pemerintah untuk membayar kompensasi atas apa yang mereka lakukan kepada orang-orang di Biak saat itu.”

kata Tineke Rumakabu dan Yuda Korwa.

Pemerintah Indonesia menolak untuk mengomentari pengadilan warga ini. Indonesia juga telah meminta Australia mengambil tindakan terhadap pengadilan warga ini. Namun pihak Universitas Sidney yang menyelenggarakan pengadilan warga ini meminta pemerintah Australia untuk ikut bertanggungjawab terhadap segala bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk tragedi Biak Berdarah ini.

“Pemerintah Australia memiliki kewajiban terhadap orang-orang yang meninggal dan keluarga mereka untuk mengekspos apa yang telah terjadi saat itu. Ini untuk menghentikan hal itu terjadi lagi, ”

kata Dowd. (Jubi/Victor Mambor)

Author : on December 17, 2013 at 06:08:19 WP,TJ

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny