Warga Doyo Baru, Ditemukan Tewas Tengkurap

Kapolsek Sentani Kota, AKP. Charles Simanjutak, S.H., bersama anggotanya saat membungkus mayat korban, Absalom Toam dengan menggunakan kulit pisang, Selasa (10/12) kemarin di jalan Sosial, Sentani.SENTANI – Sesosok pria paruh baya dengan identitas, Absalom Toam berusia 56 tahun ditemukan tewas tengkurap di Jl. Sosial, tepatnya, di tanjakan samping pemancar, Kampung Manado, Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura sekitar pukul 08.00 WIT Selasa (10/9) kemarin.

Dari data yang diperoleh Bintang Papua, peristiwa itu berawal dari salah seorang warga yang enggan dikorankan namanya menyampaikan bahwa, ketika dirinya hendak berangkat kerja sempat melihat seorang pria yang sedang tidur di tengah jalan.

Namun karena penasaran, langsung menyampaikan kepada tetangga lainnya serta warga setempat untuk mengecek kepastian pria tersebut dan setelah di dekati, ternyata korban sudah tidak bernyawa, sehingga saat itupula langsung menghubungi petugas Polsek Sentani.

Mendapat laporan itu, Kapolsek Sentani Kota, AKP. Charles Simanjutak, S.H., bersama tim penyidik Reskrim langsung menuju ke lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.

Dari hasil olah TKP, korban yang merupakan warga Doyo Baru, Distrik Waibu itu tidak ditemukan satupun luka didalam tubuh, melainkan polisi hanya menemukan 1 Botol minuman beralkohol jenis Wisky Robinson, 3 kaleng Bir Putih dan 1 gelas air Fit, yang selanjutnya Jenazah korban langsung di evakuasi ke RSUD Yowari.

Kapolsek Sentani Kota, AKP. Charles Simanjuntak saat ditemui Bintang Papua, mengatakan, penemuan mayat seorang pria paruh baya ini berdasarkan laporan dari salah seorang warga.

“Ya, ada penemuan mayat itu dan sekarang jenazah korban sudah diamankan sementara di RSUD Yowari sambil menunggu keluarganya, apakah dilakukan otopsi atau tidak, nanti kita lihat”

katanya kemarin.

Sementara dari hasil keterangan saksi yang dimintai dilokasi kejadian, jelas Kapolsek Charels, awalnya, Senin (9/12) malam sekitar pukul 21.00 WIT korban bersama kedua rekannya sedang pesta miras di dekat rumah miliknya hingga tengah malam.

“Pada esok harinya, saksi tersebut hendak berangkat kerja dan melihat salah satu dari ketiga orang yang sedang pesta miras di malam harinya sudah dalam keadaan tidak bernyawa,”

jelasnya.

Kapolsek Chalres, mengungkapkan, dari hasil olah TKP ditubuhkan korban tidak menemukan satupun kekerasan ataupun luka-luka yang dialami korban. “Kita akan terus mendalami kasus ini, dengan mencari kedua rekan korban yang sedang pesta miras pada malam hari itu,” tandasnya. (Loy/don/l03)

Rabu, 11 Desember 2013 02:55, BinPa

Teror Penembakan di Freeport Terus Berlanjut

Aparat Kepolisian Densus 88 Anti-Terror
Aparat Kepolisian Densus 88 Anti-Terror

JAYAPURA[PAPOSSalah satu korban penembakan, Senin (9/12) lalu Agustinus Weiyai sopir truk tangki (paling kiri) memberikan kesaksian terkait insiden yang menimpanya kepada anggota B Brimob Timika.]-Teror penembakan yang dilakukan orang tak dikenal di areal PT Freeport terus berlanjut. Kali ini orang tak dikenal menembaki konvoi jenis Toyota LWB dengan nomor lambung 01-4758 yang dikemudikan H Ridwan, Selasa (10/12) sekitar pukul 13.00 WIT. Dalam peristiwa penembakan tersebut tidak ada korban jiwa.

Mereka ditembaki dari arah kanan jalan sekitar 50 meter sebelum pos mil 40. Akibat penembakan ini, terdapat 3 buah lubang bekas tembakan, masing-masing 2 di bodi kanan kendaraan dan satunya di kaca spion kanan.

Sebelumnya pada Senin (9/12) lalu, sopir water truk yang diketahui bernama Agustinus Weyai ditembaki di sekitar lokasi yang sama yakni mile 40. Begitupun dengan anggota TNI ditembaki saat melitas di kawasan tersebut.

Pasca-insiden penembakan siang tadi, konvoi truk pengangkut bahan peledak terpaksa tertahan di pos mil 40. Sementara tim Brimob dari Detasemen B Timika, langsung mengejar pelaku penembakan.

”Pelaku terus dikejar anggota kami, pelaku diduga bersembunyi di sekitar hutan”

ucap Kabidhumas Polda Papua, AKBP Sulistyo Pudjo Hartono,SIk saat dikonfirmasi Papua Pos via ponselnya, Selasa (10/12).

Kabid Humas mengatakan polisi sudah melakukan olah TKP mengamankan barang bukti berupa , 1 unit kendaraan LWB No Lambung 01-4758.

Pihak kepolisian mencurigai pelaku penembakan merupakan orang yang sama yang sebelumnya melakukan penembakan di lokasi yang sama.

”Pelaku kemungkinan orang yang sama, hanya motifnya masih didalami,”

ujarnya.

Disinggung kondisi karyawan Freeport, pasca aksi penembakan yang sudah berlangsung 3 hari berturut-turut ini, Kabid Humas mengatakan kondisi ini tentu membuat karyawan PT Freeport terganggu dalam menjalankan aktivitas mereka,” ucapnya.[tom]

Rabu, 11 Desember 2013, Ditulis oleh Tom/Papos

Penembakan Freeport, Jangan Tuduh OPM

Penembakan_karyawan__freeport_indonesiaDUA rentetan kasus penembakan di areal PT Freeport Indonesia tiga hari terakhir, Minggu (8/12) sekitar pukul 12.56 wit dan Senin (9/12), pukul 02.00 wit, terhadap seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay, dipandang memiliki muatan kepentingan bisnis. Apakah benar pelakunya berasal dari kelompok sipil bersenjata?

“Saya melihat tidak demikian, menurut saya dalam kasus ini ada muatan tertentu, bukan masalah politik, ini perebutan lahan bisnis,” kata Matius Murib, Pembela HAM, Direktur Baptis Voice Papua,

kepada SULUH PAPUA, Senin.

Baginya, pelaku dalam kejadian tersebut bisa saja kelompok sipil bersenjata ataupun korps berpangkat yang memiliki akses dalam areal Freeport. “Kita tidak bisa bilang OPM atau bukan, atau OTK yang mengarah ke OPM, karena sejak Kelly Kwalik meninggal dunia dua tahun lalu, rasanya tuduhan kepada OPM sebagai pelaku sudah tidak bisa diterima,” katanya.

Ia memandang, siapa saja kelompok dapat ‘bermain’ demi mempertahankan kepentingannya. Apalagi areal Freeport menawarkan peluang meraup rupiah tidak sedikit. “Sekarang menjadi tugas dari kepolisian untuk mengungkap siapa dibalik aksi, pelakunya harus ditangkap dan diadili, kalau tidak segera diungkap, bisa saja terror ini akan terjadi setiap saat,” katanya.

Murib memperkirakan, sepanjang pelaku belum menemukan atau mencapai keinginannya, sejauh itu pula penembakan akan terus terjadi.

“Bisa saja, ini masalah kepentingan usaha, bukan politik,”

tegasnya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Papua, AKBP Sulistyo Pudjo Hartono mengatakan, seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay ditembak kelompok bersenjata, Senin (9/12), sekira pukul 02.00 wit.

Pudjo Hartono menambahkan, Waiyay merupakan seorang driver yang mengendarai water truck dengan nomor lambung 021010 menuju Mil 41, tujuan pos pengamanan internal PT Freeport Indonesia. “Sekitar 200 meter sebelum tiba untuk mengisi air, korban ditembak sebanyak enam kali dari arah kiri jalan.”

Menurutnya, berdasarkan pengakuan, korban mendengar tembakan lebih dari satu sumber. Terdapat lima bekas tembakan yang mengarah ke pintu radiator atas ban. “Meski demikian kasus penembakan misterius tersebut tidak menimbulkan korban jiwa,” kata Pudjo.

Pudjo menuturkan, pasca insiden, anggota Satgas Amole bersama penyidik Reserse dan Kriminal Polres Mimika langsung menuju lokasi kejadian untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). “Kapolres Mimika AKBP Jermias Rontini bersama Satgas Amole sudah melakukan identifikasi.”

Sehari sebelumnya, kelompok tak dikenal juga memberondong kendaraan anggota TNI Brigif 20 Ima Jaya Karamo Praka Warsidi saat melintas menggunakan Inova dengan Nopol S739WG, dari arah Timika menuju mil 50. “Setibanya di mil 41, korban ditembak dari kanan dan kiri jalan. Kejadian itu mengakibatkan kaca mobil sebelah kiri retak. Tidak ada korban,” kata Pudjo.

Kepolisian telah melakukan olah TKP, sedangkan barang bukti telah diamankan di Polres Mimika.

Kapolres Mimika AKBP Jermias Rontini mengatakan, hingga kini pihaknya masih mendalami kasus penyerangan misterius.

“Tim penyidik Reskrim sudah menangani dengan melakukan olah TKP,”

kata Jermias.

Pada September 2009 hingga Februari 2012, rangkaian penembakan di Freeport menghentak banyak pihak. Gangguan keamanan di wilayah tambang terbesar di dunia itu mengakibatkan sebanyak 20 pekerja PT Freeport, pendulang tradisional, pekerja asing bahkan aparat keamanan, tewas.

Satu dari sekian korban tewas itu adalah anggota Brimob Detasemen B Polda Papua di Timika yaitu Briptu Ronald Sopamena. Korban tewas dalam operasi penyergapan kelompok bersenjata tak dikenal di kawasan Kali Kopi ruas jalan Tanggul Timur pada Februari 2012. (JR/K6/R4/L03)

Selasa, 10-12-2013, SuluhPapua.com

Menyambangi “Markas Raja Cycloop” di Hutan Distrik Ravenirara (Bagian 1)

Laporan : Ibrahim S/Walhamri Wahid

Eduard Okoseray Korban Penembakan di Kampung YongsuSEBUAH pesan singkat masuk di handphone saya Selasa malam (3/12/2013), instruksi dari Pemimpin Redaksi (Pimred) untuk menghubungi beberapa kontak person yang bisa mengantarkan saya untuk masuk ke markas tempat persembunyian Adrianus Apaseray dan beberapa orang rekannya yang belakangan ini ramai di juluki sebagai “Raja Cycloop” oleh polisi.

Beberapa daftar pertanyaan yang harus saya konfirmasi, plus petunjuk teknis liputan demi keamanan saya menjadi bekal dari Pimred via SMS itu.

Sehari pasca penyerbuan dan penyisiran polisi di Kampung Yonsu Spari saya mencoba bertemu “Raja Cycloop”, namun karena masih di liputi suasana duka dan amarah pasca tertembaknya Eduard Okoseray salah satu rekan seperjuangan mereka, sehingga beberapa kontak person yang coba saya hubungi tidak berani menjamin keamanan saya nantinya.

Rabu (4/12/2013) saya berhasil berjumpa dengan beberapa kontak person Adrianus Apaseray yang masih kerabatnya juga, meski awalnya mereka masih ragu untuk mempertemukan saya, karena selain khawatir akan keselamatan saya, nampaknya juga ada sedikit keraguan terhadap saya yang nantinya akan membocorkan rahasia keberadaan “Raja Cycloop” yang masih menjadi buruan polisi tersebut.

Selama perjumpaan dengan kontak di daerah Sentani tersebut, saya aktif berkomunikasi dengan Pimpinan Redaksi sejauh mana peluang untuk bertemu, menjelang siang saya di khabari oleh si penghubung bahwa tidak ada peluang untuk bertemu Adrianus Apaseray, karena situasinya belum kondusif, jadi semua rencana batal, dan saya diminta untuk memberitahukan hal tersebut kepada Pimpinan Redaksi via SMS.

“demi keamanan kamu, kalau sikonnya tidak aman, sebaiknya batalkan saja”, pesan singkat yang saya terima dari Pimred, namun berselang 30 menit kemudian saya di minta untuk mematikan HP dan si penghubung mengajak saya untuk berjalan – jalan ke Depapre sambil membaca sikon katanya, dan semenjak itu kontak saya dengan kantor dan keluarga putus sama sekali.

Namun rupanya hal itu merupakan bagian dari strategi si penghubung untuk memastikan bahwa saya cukup steril untuk di bawa masuk ke hutan tempat persembunyian Adrianus Apaseray.

Kami sampai di Kampung Dormena sudah sore hari, dengan dalih menunggu kontak dari “orang dalam”, kami bermalam di Kampung Dormena, dan pagi – pagi sekali kami berjalan kaki menuju ke Kampung Yonsu Spari Distrik Ravenirara, sesekali kami melalui jalan setapak yang penuh dengan becek karena di guyur hujan, kadang kala kami harus naik ke ketinggian tebing menyusuri jalan berbatu, kurang lebih 1 jam berjalan akhirnya kami sampai di Kampung Yonsu Spari.

Suasana lengang, rumah – rumah warga masih tak berpenghuni, ada sekitar 4 orang laki – laki dewasa yang saya lihat berada di dalam kampung, tapi mereka hanya sekedar melihat – lihat saja.

Saya mencoba memastikan apakah ada patroli polisi atau aparat yang berjaga – jaga di kampung tersebut, namun tidak satupun aparat yang saya temukan, padahal sehari sebelumnya di salah satu media lokal, Kabidhumas Polda Papua mengatakan bahwa untuk menjamin keamanan warga telah ditempatkan satu peleton anggota polisi di Kampung Yonsu Spari pasca penyerbuan.

Setelah duduk beristirahat di dekat salah satu rumah warga yang di bakar, akhirnya kami dijemput oleh “orang dalam” anak buah Adrianus Apaseray dan perjalanan kami lanjutkan kembali membelah rerimbunan hutan Distrik Ravenirara. Semak belukar lebat, dan bebatuan yang tajam di tambah perasaan was – was menjadi satu symphoni yang bergemuruh dalam hati saya. Saya baru terpikir, bahwa sudah sehari saya tidak ada kontak dengan keluarga maupun kantor, bisa jadi mereka akan cemas memikirkan keberadaan saya, namun sepanjang jalan, dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga ini bukan perjalanan terakhir dan tugas terakhir saya sebagai wartawan.

Kurang lebih 1 jam kami berjalan kaki akhirnya kami tiba di sebuah gubuk – gubuk kecil tanpa dinding yang menjadi “markas” kelompok ini, tanpa komando kami bertiga langsung merebahkan diri di tanah, melepas segenap penat, peluh bercucuran memancing rasa dahaga.

“mari minum teh dulu, pasti haus dan capek to”, kata beberapa orang pemuda yang berada di pondok tersebut sembari menyuguhkan teh hangat kepada kami usai bersalaman.

Hati saya plong melihat penerimaan mereka yang bersahabat terhadap saya, tidak ada tampang sangar, apalagi mencurigai saya, mereka memeluk saya erat seperti bertemu teman lama, dan kami akhirnya bercengkerama untuk mencairkan suasana.

Beberapa saat kemudian dari balik rerimbunan pohon di belakang pondok kecil tersebut muncul sosok lelaki bertubuh tegap postur semampai dengan sepucuk senapan menggelayut di pundaknya menyapa kami.

“selamat siang, bagaimana capek kah ?”, tanyanya mengulurkan tangan sambil tersenyum memperkenalkan diri, saat itulah baru saya tahu bahwa dia adalah Adrianus Apaseray, yang di juluki oleh polisi sebagai Raja Cycloop selama ini.

Saya memberinya oleh – oleh berupa koran – koran lokal yang mengulas pemberitaan tentang dirinya yang dijuluki sebagai Raja Cycloop dan kronologis penyerbuan kampung Yonsu di penghujung November kemarin, semua koran yang ada ia baca habis.

“tidak benar semua yang dikatakan polisis, tidak ada kontak senjata”, katanya dengan mimik sedikit menahan emosi sambil mengoper koran yang sudah ia baca kepada rekan lainnya.

Sejurus kemudian ia mulai menceritakan ihkwal penyerbuan polisi di pagi hari Jumat (29/11) lalu, dimana menurutnya saat itu ia tengah berada di dalam rumahnya, ketika terdengar bunyi rentetan tembakan dari ujung kampung, ia berlari keluar rumah dan menuju ke hutan dengan membawa senjata, bahkan ia sendiri tidak mengetahui dari arah mana bunyi tembakan tersebut, namun saat itu ia meyakini bahwa yang datang adalah polisi dan targetnya adalah dirinya.

“mereka bukan menyergap, targetnya kan saya, kalau memang saya yang mereka mau sergap mestinya rumah – rumah kami yang di kepung, tapi yang polisi lakukan adalah menyerbu kampung, menghambur tembakan sehingga warga panik dan berlarian menyelamatkan diri, jadi tidak benar kalau polisi bilang kami ada melawan, karena penyerbuaan itu mendadak, di pagi hari, jadi tidak ada yang melawan, semua warga karena takut langsung panik dan lari meninggalkan kampung”,

kata Adrianus membantah pernyataan polisi soal adanya kontak senjata dan hujan anak panah dari masyarakat ke arah polisi.

Saat itu semua masing – masing warga berpikir menyelamatkan diri dan keluarga masing – masing, setelah kampung kosong, barulah anggota polisi beraksi menggeledah bahkan merusak rumah – rumah warga yang mereka curigai sebagai pengikut Adrianus.

“saya sudah di tengah hutan pinggiran kampung dan bertemu beberapa warga lainnya dan mereka menceritakan kepada saya bahwa Eduard Okoseray tertembak dan jatuh di jalan kampung kok, di depan mata aparat, dan mereka semua tahu yang mereka tembak itu manusia, jadi kalau mereka menyangkal tidak ada korban itu sama saja pembohongan publik, atau mereka pikir yang mati itu bukan manusia kah ?”,

katanya dengan nada tinggi menahan geram.

Ia juga sangat menyesalkan, bahwa setelah Eduard tertembak, jasadnya di biarkan tergeletak hingga tengah hari, padahal menurutnya teroris saja yang sudah nyata – nyata membunuh orang jasadnya pasti masih di hargai aparat, di angkat atau di tangani secara layak.

“Tidak, kami tidak melakukan perlawanan, itu polisi dong’ tipu hanya untuk menutupi kesalahan dan membenarkan diri mereka. Kami sama sekali tidak melakukan kontak senjata mengingat ada warga yang takut pada saat itu untuk menyelamatkan diri. Kalau kitong baku tembak tentu warga banyak yang mati dan pasti polisi akan menuduh kami yang melakukannya, padahal kami tidak mungkin membunuh warga yang tidak tahu apa-apa”,

katanya ketika saya mencoba mengejar apa benar ia tidak melakukan perlawanan pagi itu.

Ia kembali menegaskan bahwa ketika itu mereka semua tanpa kecuali memilih menyelamatkan diri, karena polisi yang datang langsung mengarahkan senjata kepada mereka sebagai target.

“Tidak ada tembakan peringatan atau seruan untuk menyerah layaknya sebuah penggerebekan, tapi tembakan polisi itu sudah mengarah langsung ke sasaran sehingga dari pagi masuk polisi sudah menembak Eduard Okoseray ketika lari kurang lebih 100 meter jatuh di jalan mobil, karena Eduard Okoseray lari untuk menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil serta istrinya namun ia ditembak mati jatuh di jalan mobil”,

katanya lagi.

Menjelang tengah hari setelah mereka memastikan bahwa polisi sudah meninggalkan kampung, akhirnya Adrianus dan beberapa warga lainnya memutuskan kembali ke kampung, dan menguburkan jenazah Eduard Okoseray dengan di pimpin oleh seorang pendeta.

“memang kami marah ketika itu setelah tahu teman ada yang mati, jadi kami bakar beberapa rumah yang kami duga kuat sebagai informan polisi sehingga terjadi penyerbuan kemarin”,

katanya mengakui bahwa ia memang yang membakar beberapa rumah warga.

“Kapolda dan Kapolres Jayapura stop tipu sudah kalau tidak ada korban, mereka harus mengakui bahwa telah menembak Eduard Okoseray teman kami. Kalau tidak percaya datang sendiri lihat kuburannya, atau tanyakan langsung kepada keluarganya atau Pendeta yang telah memakamkan jenazah teman kami setelah aparat meninggalkan kampung Yongsu”.

kata Adrianus Apaseray.

Lantas bagaimana asal muasal julukan Raja Cycloop yang kini melekat di sosoknya dan bagaimana ia menggambarkan aktivitas maupun perjuangan kelompoknya dimana ia mengaku anak buah dari Brigjen Hans Yoweni, Panglima TPN/OPM Wilayah Mamta ? Nantikan laporan perjalanana eksklusif saya di edisi esok yah ! (Bersambung)

Selasa, 10-12-2013, SuluhPapua.com

Insiden Kampung Yongsu, TPN-OPM Klaim Rekayasa TNI-Polri

Eduard Okoseray Korban Penembakan di Kampung YongsuJayapura (Sulpa) – Penyergapan dan penyisiran yang dilakukan aparat Jumat (29/11) dan Sabtu (30/11) di kampung Youngsu Sapari, Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura yang mengejar kelompok bersenjata “Raja Cycloop” Cs dinilai sebagai rekayasa TNI/POLRI untuk mengacaukan perjuangan TPN/OPM yang selama ini selalu mengedepankan penyelesaian dengan jalan damai.

Hal itu dikatakan juru bicara TPN/OPM Jonah Wenda melalui surat edaran dengan kop surat Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yang diterima SULUH PAPUA, Sabtu (07/12). Dalam rilis yang ditandatangani juru bicara TPN/OPM tersebut disebutkan beberapa poin, seperti, pertama, di kampung Yongsu tidak ada kelompok sipil bersenjata dengan nama “Radja Cycloop, seperti yang disampaikan oleh pihak Kepolisian Indonesia, dimana nama Radja Cycloop adalah nama yang digunakan pihak TNI-Polri, yang dianggap untuk mengacaukan perjuangan damai Papua Merdeka yang selama ini dilakukan dengan cara-cara damai.

Kedua, sejumlah senjata rakitan yang ditemukan dalam operasi yang dilakukan oleh TNI/POLRI di kampung Younsu yang dikatakan bahwa senjata-senjata rakitan tersebut adalah milik TPN/OPM adalah tidak benar, dimana sebelumnya telah ada kesepakatan antara TPN/OPM dan utusan khusus Presiden RI, Farid Muhamad bahwa penyelesaian masalah Papua Barat diselesaikan dengan cara-cara damai. Dan sudah hampir 2 tahun belakangan ini belum ada jawaban soal penyelesaian masalah Papua Barat, oleh pemerintah Indonesia, dan situasi di Papua Barat sama sekali tidak ada perubahan, malah yang terjadi, TNI/POLRI melakukan banyak pendekatan kekerasan, yang mengakibatkan kematian masyarakat sipil, baik Papua, maupun non Papua.

Ketiga, penyerangan di Kampung Youngsu adalah permainan pihak TNI/POLRI, untuk mengacaukan kegiatan damai yang dilakukan bangsa Papua Barat, untuk memperingati hari atribut bangsa Papua Barat, 1 Desember.

Karena itu, TPN/OPM mendesak pemerintah Indonesia untuk segera menarik seluruh pasukannya dari wilayah Papua Barat dan segera membuka ruang untuk berunding dengan bangsa Papua Barat.

Diberitakan sebelumnya, pihak Kepolisian pada Jumat (29/11) dan Sabtu (30/11) lalu, di kampung Youngsu Sapari, Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura melakukan penggebrekan terhadap kelompok sipil bersenjata “Radja Cycloop” diwilayah itu. Insiden itu akhirnya menewaskan Eduard Oktoseray. Kepolisian juga menyita senjata api rakitan yang diduga digunakan Radja Cycloop yang beroperasi di wilayah tersebut.

Terkait dengan surat bantahan dari pihak TPN/OPM melalui juru bicaranya, Jonah Wenda, pihak Kepolisian dari Polda Papua belum bisa dimintai klarifikasi terkait surat bantahan tersebut. (d/k7/r5)

Senin, 09-12-2013, Sulpa

Selamat Jalan Nelson Mandela dari Rakyat Papua

Belasungkawa Papua untuk Nelson Mandela
Belasungkawa Papua untuk Nelson Mandela di Kedubes Afsel Jakarta

JAYAPURA [PAPOSMahasiswa dan aktivis Papua Barat se-Jakarta dan Bogor menghantarkan krans bunga tanda turut beduka cita ke kantor Dubes Afrika Selatan.] – Masyarakat di seluruh dunia, termasuk rakyat Papua Barat berkabung atas kepergian Nelson Madiba Mandela. Dia dihormati atas kesetian dan kerelaan dalam perjuangan melawan politik apartheid di Afrika Selatan.

Dia juga sebagai simbol perlawanan rakyat Afrika Selatan, bahkan menjadi tokoh kemanusiaan di abad-21 ini. Untuk mengenang Mandela, mahasiswa dan aktivis Papua Barat di Jakarta dan Bogor menghantarkan krans bunga tanda turut beduka cita dari seluruh rakyat Papua.

Belasan mahasiswa dan akvitis Papua Barat, Minggu (08/12), sekitarpukul 11.30 Wib,mewakili rakyat dan Bangsa Papua Barat menyampaikan ungkapan berdukacita dan menyerahkan krans bunga kepada perwakilan pemerintah Afrika Selatan di Kedutaan Besar Afrika Selatan untuk Indonesia di Jakarta.

Perwakilan rakyat dan Bangsa Papua Barat diterima oleh sekretaris satu (first Secretary) atase politik Kedutaan Besar Afrika Selatan untuk Indonesia, Mr. Moses Phahlane, di Kantor Kedutaan Besar Afrika Selatan, Suite 705, 7th floor 7, Wisma GKIB, Jln. JendSudirman No.28, Jakarta 10210.

“Kami atas nama rakyat dan Bangsa Papua Barat menyampaikan turut berdukacita atas kepulangan Nelson Mandela, tokoh perjuangan pembebasan bagi Afrika Selatan juga bagi dunia,” ucap aktivis Papua Elias Petege dalam rilis yang dikirim ke dapur Papua Pos.

“Dia adalah bapak bagi rakyat tertindas di berbagai bangsa di dunia, termasuk bagi rakyat Papua. Dia juga tokoh inspirasi bagi kami,”

ungkap Darmince Nawipa, salah satu perwakilan mahasiswa Papua dari Bogor.

“Kami tentu terinspirasi dari perjuangan rakyat Afrika Selatan, termasuk dari bapak Nelson Mandela,”

ujar Darmince.

Pages: 1 2

TPN PB Sebut “Raja Cyclop” Rekayasa

JAYAPURA—Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) Jonah Wenda mengeluarkan tudingan bila istilah “Raja Cylop” di Kampung Yongsu, Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura, tidak pernah ada dan dimunculkan atas rekayasa dari pihak TNI-Polri.

Hal ini dinyatakannya melalui surat resmi TPN PB yang dikirimkan ke Redaksi Bintang Papua yang ditanda tangani oleh Jonah Wenda.

“Di Yonsu Spari tidak ada kelompok dengan nama RajaCylop, namun ini nama yang digunakan oleh pihak TNI-Polri yang selama ini mau mengacaukan perjuangan bangsa Papua Barat yang telah mengedepankan penyelesaian dengan jalan damai.”

tulis Jonah.

Dikatakan, senjata rakitan yang diamankan pihak Polda Papua dari hasil operasi di Yonsu pun dikatakan Jonah bukan milik TPN OPM.

Dijelaskannya sejak 11 November 2011 telah ada kesepakatan antara pihak TPN-PB dengan utusan Presiden RI (dr. Farid) yang bersepakat masalah politik Papua Barat harus diselesaikan dengan cara-cara damai.

Namun kesepakatan tersebut ditegaskan Jonah tidak ada lanjutannya, justru TNI-Polri selama dua tahun belakangan kerap menggunakan pendekatan kekerasan yang mengakibatkan kematian masyarakat sipil, baik itu orang asli Papua maupun masyarakat pendatang.

Dan operasi yang dilakukan di Kampung Yongsu dinilai Jonah merupakan permainan pihak TNI-Polri yang justru ingin mengacaukan upaya damai.

“Kegiatan penyerangan di Kampung Yongsu adalah permainan pihak TNI-Polri untuk mengacaukan kegiatan damai yang akan dilakukan oleh bangsa Papua Barat untuk memperingati hari atribut bangsa Papua Barat yang jatuh pada tanggal 1 Desember.”

Tulisnya lagi.

Pada bagian akhir, Jomah yang mengatasnamakan Ketua Dewan Militer TPN-PB dan bangsa Papua Barat mendesak pemerintah NKRI untuk menarik semua pasukannya dari wilayah Papua Barat dan segera membuka ruang untuk berunding.

Pages: 1 2

Lambert Mau Berunding, Purom Ngotot Merdeka

Pasukan TRWP, Rimba New Guinea
Pasukan Tentara Revolusi West Papua di Markas Pusat Pertahanan saat Kongres I TPN/OPM 2006 yang memisahkan Organ militer dari organ Politik

Lambert Pekikir : Masalah Papua harus diselesaikan dengan perundingan. Antara Indonesia, Papua dan pihak ketiga.

TPN-OPM_dari_dailyUSAHA mendorong perundingan damai antara Papua dan Indonesia untuk penyelesaian akar masalah di Bumi Cenderawasih, yang digagas Koordinator Umum OPM Lambert Pekikir, menuai beragam pendapat. Salah satunya datang dari Panglima Tinggi Tentara Pertahanan Nasional OPM Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Purom Okiman Wenda.

“Silahkan OPM bicara begitu, kami dari TPN hanya minta kedaulatan penuh, kemerdekaan, bukan perundingan atau apapun,”

kata Purom Okiman Wenda kepada SULUH PAPUA, Ahad.

Menurut dia, perundingan damai tidak akan membawa harapan bagi kebebasan Papua. Sebaliknya yang terjadi adalah konflik tak berkesudahan dan jatuhnya korban jiwa.

“Masalah Papua tidak selesai dengan perundingan, kita tegas, kedaulatan, kalau ada yang ingin perundingan, kami tidak setuju,”

ujarnya.

Ia menambahkan, apapun resikonya, pihaknya tetap menuntut merdeka. “Kami bukan minta pemekaran atau kesejahteraan, kami minta kedaulatan, dari dulu TPN selalu begitu.”

Purom termasuk orang yang dicari setelah sejumlah aksinya menewaskan petugas. “Saya tidak takut, saya kuat, anak buah saya banyak,” katanya.

Ia mengatakan, jumlah personelnya mencapai ratusan. “Wilayah Operasi saya di Puncak Senyum, Puncak Jaya dan di Tiom, ada juga operasi di Sinak, anak buah saya, ada yang kentara, ada yang diam diam (bersembunyi),” katanya.

Purom mempunyai sejumlah senjata otomatis hasil rampasan. Salah satunya didapat saat penyerangan terhadap Markas Kepolisian Sektor Distrik Pirime, Kabupaten Lany Jaya, Selasa, 27 November 2012. Tiga polisi tewas ketika itu. ”OPM tembak. Saya yang pimpin penyerangan itu,” kata Purom.

Purom disebut juga sebagai orang yang bertanggungjawab atas penyerbuan rombongan polisi, Rabu 29 November 2012 di daerah pegunungan. “Mereka (rombongan polisi) menggunakan sekitar 22 mobil. Ada lima yang kami tembak,” katanya.

Purom pandai menyamar. Kalau lagi butuh logistik, ia berani turun sendiri ke Kota Mulia, Ibukota Kabupaten Puncak Jaya.

“Tentara tidak tahu, kami jadi orang (warga) biasa saja.”

Purom akan terus mengangkat senjata demi Papua Merdeka. “Saya waktu bulan Juli kemarin, ada naikan Bintang Kejora, itu bukti bahwa saya masih ada, kita akan berjuang sampai mati.”

Aksi terakhir Purom, adalah ketika memberondong mobil ambulans yang sedang mengevakuasi warga sakit. Akibat kejadian itu, 1 orang tewas. Penembakan terjadi di Puncak Senyum, Puncak Jaya, Rabu 31 Juli 2013, sekitar pukul 14.10 WIT. “Iya, itu kami yang tembak, mobil ambulans itu membawa tentara, bukan orang sakit,” katanya.

Puron adalah bekas anak buah Goliat Tabuni. Mereka berpisah sejak Kabupaten Lany Jaya terbentuk. Purom Wenda memboyong anak buahnya, dan kemudian mendirikan markas di Puncak Senyum yang dinamai Kodap (Komando Daerah Operasi) Pilia.

Pages: 1 2

Ini Bukan Penembakan Misterius, Ini Rekayasa Oleh TNI/Polri dalam Rangka Tambahan Uang Saku

Menanggapi berita dua hari terakhir tentang penembakan misterius yang kembali terjadi di areal pertambangan PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika (seperti dilansir BintangPapua.com, SuluhPapua.com dan  PapuaPos.com, maka dari Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua (TRWP) lewat Sekretaris-Jenderal Lt. Gen. Amunggut Tabi per SMS (sebanyak 5 buah SMS) dengan isi pesan yang disampaikan kepada PMNews bahwa:

1. Penembak misterius yang muncul lagi saat ini ialah sama otaknya, dari kesatuan yang sama, dan dengan tujuan yang sama.

2. Otak penembakan misterius ini ialah aparat TNI/Polri binaan TNI Kopassus dan BIN, di bawah komando kesatuan yang bertugas di wilayah pertambangan, di mana antara TNI dan Polri berkerjasama;

3. Pelaku penembakan misterius ini ialah anggota dari kesatuan TNI/ Polri;

4. Sasaran penembakan misterius ialah salah satu dari anggota TNI/Polri;

5., Tujuan dari kegiatan ini ialah sekedar mencari uang tambahan untuk sesuap nasi, yang sering disebut uang kaget atau uang saku, atau uang dadakan. Karena mereka tahu dengan sekali peluru ditembakkan saja, PT Freeport Indonesia akan kuncurkan ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk mengejar pelaku, melakukan penyelidikan, mengamankan keadaan, dan seterusnya.

Oleh karena itu disampaikan kepada semua orang Papua agar tidak terpengaruh oleh permainan-permainan murahakn yang selalu dimulai mengawali Bulan Desember, bulan Suci orang Papua dan orang Kristen di Tanah ini. Awal bulan ini selalu diwarnai dengan pertumpahan darah, kekacauan dan penembakan-penembakan tanpa hentinya.

Orang Papua harus bertanya kepada diri sendiri siapa yang senang dan berharap cemas agar Papua selalu ada kekacauan kalau bukan TNI/Polri? Siapa yang dapat uang tambahan mendadak saat ada kekacauan di Tanah Papua selain TNI/Polri? Oleh karen itu, siapa yang jelas-jelas ingin Papua tetap kacau? Siapa yang tidka menghargai bulan Suci orang Kristen ini, kalau bukan teroris, jaringan Jihad yang bekerjasama dengan TNI/Polri dan Kopassus di Tanah Papua?

Namanya orang Papua, namanya orang Kristen, tidak akan mengacaukan Bulan Desember, karena itu BIN/Kopassus sudah salah waktu dalam menyusun skenario mereka. Namanya orang Papua tidak akan menembak dan membiarkan target penembakan masih hidup dan sanggup melarikan diri dengan santainya.

 

Dari Markas Pusat Pertahanan,

 

TTD

 

 

Amunggu Tabi, Lt. Gen.  TRWP
BRN: A.001076

 

Per November 2013, 537 Penangkapan Politik dan 71 Tapol di Papua

Para Tahanan Politik Papua. Foto: Tapol / PMC

Jayapura — Intensitas politik di tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) meningkat pada tahun 2013. Seiring dengan itu, jumlah penangkapan dan tahanan politik (tapol) ikut meningkat.

Sebuah situs Tapol Papua, papuansbehindbars.org merilis, per November 2013 telah terjadi penangkapan politik  sebanyak 537. Dari jumlah itu, sebanyak 112 penangkapan politik terjadi pada tiga peristiwa terpisah.

“Ini merupakan peningkatan 165% jumlah penangkapan politik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2012, yang menandakan penurunan tahap kebebasan berekspresi dan berkumpul di Papua,”

tulis lamanpapuansbehindbars.org.

Penangkapan politik ini membuat jumlah Tapol di penjara tanah Papua meningkat. Pada bukan sebelumnya, September 2013, terdapat 54 Tapol dalam penjara di Papua. Tetapi, dalam satu bulan, akhir November 2013 meningkat menjadi  71 Tapol  di Papua.

“Tindakan kepolisian terhadap kegiatan demonstrasi yang semakin teratur dan berkoordinasi di Papua menjadi perhatian bulan ini, termasuk beberapa penangkapan massa sewenang-wenang, penggunaan berulang kali kekerasan yang berlebihan, menghalangi pengacara hukum mengakses tahanan, melakuan tindakan kejam dan menghina tahanan, dan menangkap dan memaksa aktivis mahasiswa untuk menandatangani perjanjian untuk menghentikan unjuk rasa,”  tulisnya.

Lebih lanjut ditulis, “Mahasiswa Universitas Cenderawasih (UNCEN) tersandera dalam bentrok dengan pihak universitas atas keterlibatan dosen dalam kegiatan kontroversial, yakni penyusunan perubahan draft RUU Otonomi Khusus. Otoritas kampus tampaknya aktif mengundang polisi untuk memberangus aktivitas politik di kampus, yang menyebabkan banyak penangkapan dan pemukulan mahasiswa. Sejumlah pemimpin Papua telah menyatakan keprihatinan atas apa yang mereka anggap sebagai usaha polisi untuk secara sistematis menutup ruang politik, khususnya menjelang tanggal penting seperti 1 Mei, dan dalam hal ini 1 Desember.”

Dijelaskan media Tapol itu, pada 26 November, sebanyak 80 orang ditangkap di empat kota yang berbeda karena mendukung pembukaan kantor Kampanye Papua Barat Merdeka di Papua Nugini dan kampanye Sorong ke Samarai. Satu orang demonstran tewas dan tiga lainnya telah menghilang.

Sementara di Biak, sidang untuk enam tahanan 1 Mei Biak masih berlanjut dan Yohanes Boseren tetap dalam tahanan meskipun sakit mental. Pengacara HAM dan LSM telah menyerukan pembebasannya. investigasi juga berlanjut atas kasus empat tokoh masyarakat Sorong yang menghadapi tuduhan konspirasi untuk melakukan makar.(GE/papuansbehindbars.org/MS)

Minggu, 08 Desember 2013 12:22,MS

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny