Setelah Papua, Riau Pun Ingin ‘Merdeka’

Pembangunan seharusnya dijalankan berbasis pada potensi daerah.

JAKARTA, Jaringnews.com – Ketidakpuasan terhadap Jakarta tak hanya disuarakan oleh masyarakat Papua. Kalangan usahawan dari Riau dan Nusa Tenggara Timur pun mengungkapkan kekecewaannya.

“Perkenalkan saya Viator Butar-butar, sekretaris KADIN Provinsi Riau yang sebentar lagi akan berubah jadi KADIN negara Riau,” kata Viator Butar-butar ketika diberi kesempatan menyampaikan pendapat pada Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2012 Efektivitas Fiskal, Percepatan Infrastruktur dan Intermediasi Perbankan yang diselenggarakan KADIN dan INDEF di Jakarta hari ini (19/6).

Cara memperkenalkan dirinya yang unik itu digunakannya sebagai pelampiasan kekecewaan atas cara pembicara pada seminar itu yang menurutnya melihat Indonesia secara Jakarta sentris saja, tanpa melihat berbagai kekhasan daerah.

Tampil sebagai pembicara pada kesempatan itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis, Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, Mulya Nasution, Ahmad Erani Yustisa dan Enny Sri Hartati, keduanya peneliti di INDEF.

Seharusnya, menurut Viator, pembangunan dijalankan berbasis pada potensi daerah. “Kami di Riau sering sekali heran. Di Jakarta ini banyak sekali jembatan tetapi tidak ada sungainya. Tetapi di Riau, banyak sungai tapi sangat sedikit jembatannya,” kata Viator memberikan analogi.

Contoh lain yang dikemukakannya untuk menunjukkan kekhasan daerah adalah dalam pembangunan jalan. “Kenapa truk kelapa sawit kami diharuskan mengurangi muatan karena dianggap melewati beban yang bisa ditopang oleh jalan itu. Seharusnya, justru daya jalan tersebut yang ditingkatkan sehingga dapat menyangga truk-truk yang membawa kelapa sawit,” kata dia.

Viator mewanti-wanti bahwa kekecewaan di daerah sudah sedemikian besar, apalagi bila melihat betapa timpangnya perkembangan ekonomi antara Jawa dan luar Jawa. Menurut dia jangan salahkan bila suatu saat bukan hanya Papua yang meminta merdeka.

“Saya sendiri bingung, darimana sebenarnya uang yang ada di Jakarta ini. Sebab tidak ada aktivitas produksi di sini tapi 80 persen uang repubik berada di sini,” kata Viator lagi.

Ketua KADIN Nusa Tenggara Timur, Abraham Paul Liyanto menyuarakan hal senada. Menurut dia, perlu ada upaya ekstra Pemerintah untuk membangun infrastruktur di daerah untuk mengejar ketertinggalan.

“Sudah bisa dipikirkan bila kantor pusat kementerian disebar ke berbagai provinsi sehingga pembangunan lebih merata,” kata Abraham.

Ia memberi contoh, Kementerian Perikanan dan Kelautan sepantasnya berkantor pusat di wilayah yang kaya akan laut dan perikanan. Demikian juga kementerian lain, disesuaikan dengan potensi pendukungnya.

“Di Afrika Selatan hal itu terjadi. Antara satu kementerian dengan kementerian lain bisa berjarak 3 jam penerbangan. Memang jauh tetapi dengan demikian penyebaran infrastruktur juga terjadi,” kata Abraham.

Menanggapi hal itu, Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, Mulya Siregar mengatakan, pihak BI sekarang ini sedang menggodok aturan mengenai multiple license.

Dengan aturan ini, BI akan dapat mengarahkan bank dalam pembukaan cabang. “Sehingga BI nanti bisa meminta bank membuka cabang di daerah-daerah yang masih terpencil,” kata Mulya.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Harry Azhar Azis mengatakan, selama ini memang ada kecenderungan Jakarta harus ‘digertak’ dulu baru mau memperhatikan daerah. Itu sebabnya ia menyarankan agar daerah lebih keras lagi menyuarakan aspirasinya.

“Saya sendiri setuju bila setiap provinsi di Indonesia digilir lima tahun sekali sebagai ibukota negara,” kata Harry Azhar, bercanda.
(Ben / Deb)

Eben Ezer Siadari, Selasa, 19 Juni 2012 16:28 WIB, JaringNews.com

 

Enhanced by Zemanta

PRESIDEN SBY MEMUTAR BALIK KATA DEGAN MENGHIRAUKAN ASPIRASI PAPUA IBARAT PAPUA MINTA IKAN JAKARTA PAKSA KASI BATU

( Setelah Permainan Geme Teror dan Penembakan Terjadi, Jakarta Mulai Menyinggung Pembagunan Di Papua)

Perlu kita kaji secara baik dan secara tersirat kepada Presiden Indonesia (SBY ) degan sudut pandang budaya jawa, penyataan presiden lewat staf khusus Wilayah Papindo Velix Wainggai
Ternyata bisa dapat dilihat dari sisi tersiratnya bahwa Jakarta tidak mementingkan manusia Papua dan aspirasinya tetang beberapa usulan tokoh gereja baru-baru ini justru balik menekan untuk melakukan kebijakan pembagunan secara paksa di Papua.

Penyampaian terlulis lewat staf khusus untuk wilayah Papua Velix Wainggai yang dimuat di media Detik News pada minggu 17 juni 2012 bahwa; Situasi memanas di Papua disebut-sebut karena faktor sosial ekonomi yang tak kunjung selesai. Pemerintah menolak informasi itu degan menegaskan suda ada program jangka panjang untuk peningkatan kesejahteraan Papua.

Dalam penyampaian ini ternyata ada pihak yang menyatakan bahwa” situasi memanas di Papua disebut-sebut karena faktor sosial ekonomi yang tak kunjung selesai” pernyataan ini ada yang menyebut maka prersiden menolak , berarti dalam pemberitaan ini siapa yang mengatakan ? subjeknya tidak dijelaskan dan terjadi pengkaburan untuk membantah pernyataan yang kabur itu presiden mengatakan melalui staf khusus wilayah Papua Velix Wainggai bahwa “ Pemerintah menolak informasi itu degan menegaskan suda ada program jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan Papua” rupanya ada dua kubu yang terjadi bertolak belakang dalam pemerintahaan SBY, karena pemerintahaanya menolak informasi tentang masalah faktor sosial ekonomi yang tak kunjung selesai, perlu dipertanyakan bahwa oknum yang menyatakan informasi tertebut pemerintahan SBY tidak secara tegas menolak dan menyebutkan oknum tersebut bahwa kepada siapa pemerintah SBY membantah? Ataukah yang mengimforamsikan itu dikategorikan sama degan OTK alias orang tak dikenal? Ataukah presiden SBY sedang bermain wayang dwi fungsi di pentas? Dan Ataukah ada kekuatan tertentu di Jakarta yang sedang melawan pemerintahan presiden SBY ?

Dari kedua pernyataan konroversi ini sebenaranya maksud apa yang dimainkan oleh Jakarta untuk rakyat Papua?, karena dalam mengungkapkan kasus di Papua belum lama ini, presiden SBY katakan tuntaskan kasus di Papua degan segerah maka untuk penanganan kasus ini polisi melakukan tindakan tanpa prosedur yang tidak jelas sehingga mengkambing hitamkan dan menembak mati ketua I aktifis KNPB Mako Tabuni, terus disisi lain dalam pemberitaan pada tertulis oleh Velix Wainggay bahwa “Berulang kali, Presiden SBY selalu memberikan direktif kepada Kementerian/Lembaga, termasuk TNI/Polri untuk mengelola Papua dengan hati, tidak berpikir business as usual, perlu terobosan, dan bahkan thinking outside the box,” tutur Velix dalam pernyataan tertulis, Minggu (17/6/2012).
Rupanya sesudah bermain di lapangan lain berbicara di media lain pula belakang untuk megkaburkan dan meniadakan isu-isu pelanggaran Ham yang terjadi di Papua, maka jelas semua pelanggaran adalah Perintah presiden.

Pernyataan ini keluar karena banyak tekanan kepada presiden SBY dalam menagani kasus papua secara konfehensip dan mengedepankan prinsip kemanusian dan demokrasi melalui menenerima aspirasi dari beberap tokoh agama dari Papua guna penyelesaian masalah mendasar di Papua, namun sebaliknya presiden mengeluarkan perintah untuk mengamankan Papua kepada institusi terkait seperti yang dikutip diatas namun ada yang bertolak belakang maka ada pembantahan terhadap informasi yang menyatakan Papua memanas karena faktor masalah sosial dan ekonomi perlu dilihat secara jernih dan kritis terhadap permainan antar kepentingan sehingga aspirasi dan masalah kemanusian di Papua tidak diperhatikan oleh Jakarta.

Dari pernyataan yang kontroversional diatas maka untuk saling mempertahankan kepentingan lahan bisnis mereka, manusia Papua menjadi korban bulan-bulanan aparat kemanan Indonesia TNI/PORLI di Papua, karena Jakarta tidak mementingkan manusia Papua tetapi Jakarta mementingkan tanah dan hasil kekayaan masyarakat Papua di tanah Papua, oleh sebab itu bangsa Papua menjadi korban kepentingan Jakarta. Dari pemberitaan media masa yang tidak saling singkronisasi menyatakan bahwa sebenarnya pemerintah Indonesia tidak mementingkan Manusia Papua melainkan mementingkan kekayaan alam bangsa Papua degan slogan “PEMBAGUNAN” slogan pembagunan ini yang menjadi ladang perebutan oleh kelompok berkempentingan di Jakarata dan berdampak dari itu masyarakat Papua menjadi korban dengan menstikmasisasi OPM dan separatis maka layak dikatakan Pemerintah Indonesia tidak serius melihat nilai kemanusiaan dan mengabaikan HAM di Papua malahan mementingkan Pembagunan dan mengedepankan pembagunan ibarat “ orang Papua minta ikan Jakarta paksa berikan batu” sama saja pemerintah Indonesia sama sekali tidak menghargai hak-hak dan aspirasi orang asli Papua maka Pemerintah Indonesia bukan berupaya membagun Manusia Papua melainkan Memusnahkan manusia Papua diatas tanah warisan leluhur mereka atas nama kebijakan Pembagunan.

INDONESIA POLICE MUST BE ABLE TO PUBLICITY THE PROJECTIL OF BULLET GAME TO TERROR AND SHOOTING DURING THE TECHNIQUE SCENE OF LOCATION

the Conduct of professionalism Indonesia police have to declare of public about the projectile of bullet from the murder as well as how they publishing to the public about shot dead of Mako Tabuni. The Indonesia police must be able to declare loudly trough proportional and professional work from which the type of bullet projectile and who the real actor behind the executor of the murder as long terror and shooting teken place in Jayapura Papua.
In this case Police not only can be considered that Makho Tabuni as an actor and puppeteer behind all these events. It is considered to close up the democratic space throgh repressive way by the Government of Indonesia to the people of West Papua.

Indonesia police soon as possible to publish either sample of projectile bullet taken from the victim through the manner of the scene, then all citizens and residents of Papua could also learn the results of police performance in revealing the actor was shooting for. If not still be indicate in this circumstatnce all shapes and effort in revealing cases of terror and shooting are part of close up democratic space and part of the reduce democratic process of the Papuan people.

The public can judge that the police action is only a form camouflage of the police operation carried out by a special team of Regional Police in Papua, performance and professional police disproportionately targeted because it is clear that the KNPB activist group that has being loudly voices the aspirations of the West Papuan. Indonesia can not afford to absorb this aspiration, although some Papuan are seeking dialogue Papua with Jakarta mediate by other neutral country but Indonesia addressed precisely this aspiration neglected forms of special operations contained in an clandestine intelligence operation this was to reduce the quasi-democratic form of expression.

Expectation to the near future the police should be able to reveal a bullet projectile of any incident in the city of Jayapura, if the government still considers Papua part of the Unitary Republic of Indonesia, police must be alleged the bullet projectile about the first shooting of the one of KNPB activist Terjoli Weya in front of KOREM Padambulan Jayapura last months ago and the shooting of foreigner in Base-G beach rivals.
Police performance in the eyes of the international community and the public can judge the professional Indonesia police, if all of these cases in unloading from the beginning to avoid the police understand the discrimination performance.

Indonesian police are not only shooting the Mako Tabuni with stated that had prosecute the masterminds and perpetrators of the shooting in order to obfuscate the truth in the eyes of publicity through various media, but the bullet has not been announced projectile means finding out where the bullets and weapons that can be obtained and the actors can use it?, then keep track of who the provider of weapons and bullets? It must be published, but the police are not able to reveal it then, clearly indicated police have camouflage, or the government of Indonesia twisting facts just to muffle the democratic space in the land of Papua.

Based on the assessment is appropriate to say the nation of Papua in colonization and neo-colonial Homeland of Papua, this was approve and the firing was part of the terror and intimidation by Indonesia government against Papuans to suppress democracy.

Ulil Abshar Abdalla dukung Papua Merdeka

JAKARTA (Arrahmah.com) – Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) yang kini menjabat Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, kembali membuat ulah. Terkait memanasnya situasi di Papua, Ulil justru menyatakan menyetujui separatisme yaitu kemerdekaan Papua.

Ulil dikenal sering bersuara nyaring soal gerakan Islam radikal di Indonesia. “FPI adalah organisasi yang melakukan kekerasan sistematis tetapi bukan separatis. Watak kekerasannya mengarah pada suatu kelompok,” tegas Ulil seperti dikutip dari itoday.co.id, Jakarta, Sabtu (16/6).

Ulil yang getol mendorong pembubaran Front Pembela Islam (FPI) ini, kini secara terang-terangan justru membela kelompok separatis. Dengan tegas Ulil mendukung tujuan gerakan Organisasi Papua Merdeka, yang ingin memerdekakan Papua.

Melalui akun twitter Ulil Abshar Abdalla ‏@ulil, menantu KH Mustofa Bisri ini menyatakan: “Apakah kita masih harus mempertahankan Papua? Bagaimana kalau dilepaskan saja? Rumit!”

Mengapa Papua sebaiknya dimerdekakan, Ulil beralasan: “Biaya mempertahankan Papua mahal sekali. Sudah begitu, apapun yg diperbuat pemerintah pusat, akan dianggap salah terus. Capek!”

Menurut pandangan Ulil, masalah Papua tak akan selesai dalam waktu dekat. Butuh proses lama. Itu fakta politik yg harus disadari semua pihak. Masalah Papua bukan semata2 soal keadilan ekonomi. “The problem is, many people there feel they don’t belong to Indonesia!” tegas Ulil.

“Ibarat kehidupan perkawinan, kalau salah satu pasangan tak mau lg bertahan dlm ikatan perkawinan, masak hrs dipaksa,” sambung Ulil. (bilal/arrahmah.com)

POLISI INDONESIA HARUS MAMPU MENGUNGKAPKAN PROJECTIL PELURU DARI HASIL OLAH TKP SELAMA TEROR DAN PENEMBAKAN DI KOTA JAYAPURA

Kinerja polisi Indonesia harus mampu menyatakan kepada publik secara lantang ebagaimana ungkapan dalam proses penembakan Mako Tabuni di Perumnas III Waena, agar prolisi harus bekerja proporsional dan profesional, dari mana jenis projectil peluru dan siapa sebenarnya aktor dari pada semua serangkaian peristiwa ini, jika bukan demikian polisi tidak hanya bisa dianggap bahwa Makho Tabuni sebagai aktor dan dalang dibalik semua peristiwa ini. Hal ini dianggap menutup ruang demokrasi secara refresif oleh Pemerintah Indonesia kepada rakyat Papua.

Kepolisian Indonesia segerah mempublikasikan hasil projektil peluru yang diambil baik itu dari korban melalui ola tempat kejadian, maka semua warga Papua maupun warga Indonesia bisa mengetahu hasil dari kinerja kepolisian Indonesi dalam mengungkap kasus dan aktor penembakan selama ini. Jika tidak tetap dianggap semua bentuk dan upaya dalam mengungkapkan kasus teror dan penembakan adalah bagian dari menutup ruang demokrasi di tanah Papua dan bagian dari proses meredam ruang penyaluran demokrasi masyarakat Papua.

Publik bisa menilai bahwa tindakan polisi hanya suatu kamoplase dari bentuk operasi polisi yang dilakukan oleh tim Kusus POLDA Papua, kinerja polisi tidak proporsional dan profesional karena jelas yang diincar justru kelompok aktivis KNP yang selama ini degan keras menyuarakan aspirasi bangsa Papua. Indonesia tidak mampu untuk meredam aspirasi ini walaupun sebagian bangsa Papua sedang mengupayakan dialog degan Jakarta justru aspirasi ini diabaikan ditanggapi degan bentuk-bentuk operasi khusus yang dimuat dalam operasi klendestin inteligen Indonesia guna meredam semu bentuk ungkapan secara demokrasi.

Diharpakan dalam waktu dekat polisi Indonesia harus mampu mengungkapkan projectile peluru dari setiap kejadian di kota jayapura, jika pemerintah Indonesia masih menganggap Papua bagian dari NKRI buktikan projektil penembakan pertama terhadap saudara Terjoli Weya di depan KOREM Padambulan lalu belanjut kepada penembakan terhadap Warga Asing di pantai Base-G dan seterunya. Kinerja polisi dimata masyarakat internasional dan masyarakat Indonesia bisa menilai kenerja polisi Indonesia apabila semua kasus ini di bongkar dari awalnya agar tidak terjadi paham diskriminasi kinerja polisi.

Polisi Indonesia tidak hanya degan penembakan MAKO TABUNI dinyatakan bahwa suda mengusut dalang dan pelaku penembakan guna mengaburkan yang sebenarnya di mata publi lewat berbagai media masa tetapi projetil pelurunya belum diumumkan berarti harus mencari tahu dari mana peluru dan senjata yang dapat diperoleh dan pelaku dapat memakainya?, lalu melacak siapa penyedia senjata dan peluru tersebut? Itu harus dipublikasikan jika polisi tidak mampu mengungkap hal tersebut maka, jelas diindikasikan polisi berkamoplase, atau pemerintah Indonesia memutarbalik fakta hanya guna meredam ruang demokrasi di tanah Papua.

Berdasarkan penilaian tersebut layak dikatakan bangsa Papua dalam Penjajahan neo-kolonial NKRI dan Papua bukan bagian dari NKRI semua bentuk teror dan penembakan adalah bagian dari teror dan intimidari oleh NKRI terhadap warga asli Papua untuk membungkam ruang demokrasi.

Ulil Abshar: Biarkan Saja Papua Merdeka!

Saturday, 16 June 2012 11:38 F. Hadiatmodjo

itoday – Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) yang belakangan menjabat Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, kembali membuat ulah.  Terkait memanasnya situasi di Papua, Ulil justru menyatakan menyetujui kemerdekaan Papua.

Ulil dikenal sering bersuara nyaring soal gerakan Islam radikal di Indonesia. “FPI adalah organisasi yang melakukan kekerasan sistematis tetapi bukan separatis. Watak kekerasannya mengarah pada suatu kelompok,” tegas Ulil.

Ulil yang getol mendorong pembubaran Front Pembela Islam (FPI) ini, kini secara terang-terangan justru membela kelompok separatis. Dengan tegas Ulil mendukung tujuan gerakan Organisasi Papua Merdeka, yang ingin memerdekakan Papua.

Melalui akun twitter Ulil Abshar Abdalla ‏@ulil menantu KH Mustofa Bisri ini menyatakan: “Apakah kita masih harus mempertahankan Papua? Bagaimana kalau dilepaskan saja? Rumit!”

“Saya dulu jg berpikir, Papua harus dipertahankan dg harga apapun. Tp saya merasa pikiran saya itu kok naif,” sambung Ulil.

Mengapa Papua sebaiknya dimerdekakan, Ulil beralasan: “Biaya mempertahankan Papua mahal sekali. Sudah begitu, apapun yg diperbuat pemerintah pusat, akan dianggap salah terus. Capek!”

Menurut pandangan Ulil, masalah Papua tak akan selesai dlm waktu dekat. Butuh proses lama. Itu fakta politik yg harus disadari semua pihak. Masalah Papua bukan semata2 soal keadilan ekonomi.  “The problem is, many people there feel they don’t belong to Indonesia!” tegas Ulil.

“Ibarat kehidupan perkawinan, kalau salah satu pasangan tak mau lg bertahan dlm ikatan perkawinan, masak hrs dipaksa,” sambung Ulil.

FPI: Usulkan Papua Merdeka, Ulil Lacurkan Diri Ke AS

Saturday, 16 June 2012 16:30, Achsin, itoday

Bukti Dukungan asing ke Papua Merdeka (IST)
Bukti Dukungan asing ke Papua Merdeka (IST)

itoday – Pernyataan pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) Uli Abshar Abdalla yang menginginkan Papua lepas dari Indonesia menjadi bukti orang-orang liberal corong Amerika Serikat (AS).

“Ini membuktikan orang-orang liberal menjadi corong AS untuk melepaskan Papua dari Indonesia. Ulil sudah melacurkan diri ke AS,” kata Ketua Bidang Dakwah dan Hubungan Lintas Agama FPI Habib Muhsin Alattas kepada itoday, Sabtu (16/6).

Menurut Habib Muhsin, kelompok-kelompok liberal termasuk Ulil selalu membawa tameng atas nama demokrasi, HAM tetapi mempunyai agenda melepaskan wilayah Indonesia.

“Buktinya Timor-Timur lepas itu provokatornya Hendardi, dia orang liberal. ke depannya, orang-orang liberal termasuk Ulil mendorong wilyah-wilayah Indonesia lepas. Dengan begitu AS secara mudah menguasainya,” jelasnya.

Ia juga mengutarakan, pemerintah di bawah Presiden SBY sangat lemah sehingga orang-orang liberal yang membahayakan NKRI begitu mudah melakukan aktivitasnya. “Ini akibat pemerintahan SBY yang begitu lemah, sehingga orang-orang liberal begitu mudah melakukan aktivitasnya di Indonesia. Padahal mereka ini penghianat bangsa,” pungkas Habib Muhsin.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya melalui akun twitter Ulil Abshar Abdalla ‏@ulil menyatakan: “Apakah kita masih harus mempertahankan Papua? Bagaimana kalau dilepaskan saja? Rumit!”

“Saya dulu jg berpikir, Papua harus dipertahankan dg harga apapun. Tp saya merasa pikiran saya itu kok naif,” sambung Ulil.

Mengapa Papua sebaiknya dimerdekakan, Ulil beralasan: “Biaya mempertahankan Papua mahal sekali. Sudah begitu, apapun yg diperbuat pemerintah pusat, akan dianggap salah terus. Capek!”

Menurut pandangan Ulil, masalah Papua tak akan selesai dlm waktu dekat. Butuh proses lama. Itu fakta politik yg harus disadari semua pihak. Masalah Papua bukan semata2 soal keadilan ekonomi. “The problem is, many people there feel they don’t belong to Indonesia!” tegas Ulil.

“Ibarat kehidupan perkawinan, kalau salah satu pasangan tak mau lg bertahan dlm ikatan perkawinan, masak hrs dipaksa,” sambung Ulil.

BIG LIE, MAKO TABUNI SHOT DEAD WHEN THREATEN OFFICIALS

PAPUAN, Jakarta — Related news Mako Tabuni shot, Chairman of the National Committee of West Papua (KNPB) by the police in Waena , Jayapura, received responses from Dorus Wakum, Human Rights Activist (HAM) in Jakarta.

“Mako Tabuni shot shows the character of the security forces and the government of Indonesia is very barbaric and inhumane.

This is a gross human rights violations, and officers who did the shooting should be prosecuted, “said Dorus, when contacted suarapapua.com, this afternoon, Friday (15/6).

By Dorus, thugs or terrorists is not even worthy of being shot to death in place, let alone use a type of long-barreled firearm.

“Mako shot with a long-barreled weapon by plainclothes police officers. He did not take the fight against the authorities, let alone have a firearm as alleged security forces, “said Wakum.

Based on the information obtained, further Dorus, Mako did not take the fight, let alone seize weapons belonging to officers returned fire.

“The news spread a lie that high-ranking police that Mako Tabuni was shot for trying to fight, this is totally untrue,” Dorus defense.

Warpo Wetipo, one of the administrators KNPB said that Mako was shot while eating betel nuts in the third round of the ojock station in Waena Perumnas III together with a second cab colleagues.

“Without question, the plainclothes officers got out of the car died instantly embank Mako Tabuni. This event is witnessed by the mass and spin around a few activists KNPB taxi III Housing Authority, “added Warpo.

When this body was interred Mako Tabuni at the funeral home on post 7 Sentani, and the funeral will be conducted tomorrow.

TURUT BERDUKA CITA SEDALAM-DALAMNYA ATAS TERTEMBAKNYA PEMIMPIN AKTIVIS KNPB, MAKO TABUNI

Dari Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua (MPP-TRWP), atas nama Panglima Tertinggi Komando Revolusi Gen. TRWP Mathias Wenda, kami dari Kantor Secretariat-General bersama segenap pejuang kemerdekaan bangsa dan Tanah Papua menyampaikan

BERDUKACITA SEDALAM-DALAMNYA

atas tewasnya Pimpinan Aktivis KNPB pejuang Hak-Hak Dasar Bangsa Papua di tangan aparat penjajah NKRI yang telah lama dan terus-menerus membunuh banyak anggota masyarakat Papua yang berteriak menuntut hak-haknya yang telah diperkosa, berawal dari peristiwa penyerahan wilayah West Irian dari penjajah Kerajaan Belanda kepada UNTEA, yang kemudian mengantar kepada pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang kita kenal dan tentang karena penuh dengan pelanggaran HAM, cacat secara hukum dan praktek demokrasi universal.

Para Almarhum Pimpinan Aktivis KNPB pejuang bangsa telah meninggalkan kita dan bergabung bersama para pahlawan yang telah tiada, demi hargadiri, harkat dan martabat sebagai sebuah bangsa dan tanah leluhur kita, bukan sekedar untuk kedamaian, keamanan, kesejahteraan, kemabukan, yang bermuara kepada kedagingan dalam rangka melayani ego dan kerakusan belaka, bertujuan jangka pendek dan keuntungan pribadi belaka, seperti pandangan dan perbuatan kaum pendukung NKRI. Kita berjuang bukan untuk sesenduk atau sepiring nasi, bukan meminta belas kasihan, bukan juga meminta perhatian. Karena itu kita tidak menuntut pengusutan atas pembunuhannya kepada penjajah yang datang bukan untuk menghargai dan mengakui, tetapi untuk merampok, menjarah, memperkosa dan membunuh.

Jangan Takut! Jangan ragu dan bimbang! Jangan menyerah! Karena sejarah perjuangan telah mengajar kita dan kita telah belajar dari kesalahan untuk berbenah dan maju. Kita telah ada dalam rel perjuangan yang benar. Dan kita pasti akan mencapai cita-cita kita yang mulia, karena harga telah dibayar oleh para pahlawan kita.
Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan
Pada Tanggal: 15 Juni 2012
==============================
Secretary-General,

FUNGSIONARIS OPM TETAP MENUDING INDONESIA MELAKUKAN TEROR NEGARA TERHADAP WARGA PAPUA MELALUI OPERASI KLENDESTIN GUNA MELUMPUHKAN AKTIVIS PAPUA

( Sejumlah Kasus Penembakan di Akhir Pekan Merupakan Operasi Klendestin Intelijen Indonesia )

Kasus penembakan dan teror terjadi di beberapa tempat di Papua pada umumnya dan di kota jayapura beberapa pekan merupahkan bentuk dan skenario operasi klendestin yang telah di organisir oleh inteligen Indonesia degan tujuan memojokan dan melumpuhkan gerakan aktivis yang selama ini telah menyuarahkan hak-hak dasar bangsa Papua degan mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi.

Dalam rangka mengungkap kasus ini ada bebera modus operasi yang dilakukan oleh Indonesia terhadap perjuagan rakyat Papua, operasi klendestin ini dilakukan degan beberapa kasus teror dan penembakan yang terjadi di kota Jayapura terutama pada saudara Theryoli Weya anggota KNPB ditembak sejak pulang dari orasi dan kasus ini belum diungkap oleh aparat kepolisian Indonesia, terjadi beberapa penembakan terhadap warga asing dan warga asli papua dan non Papua dalam rangka menuduh dan membumkam perjuangan aktivis KNPB yang selama ini vocal untuk memperjuangkan hak-hak dasar bangsa Papua.

Sebelum melakukan penembakan terhadap salah satu pemimpin aktivis KNPB Musa Tabuni, kepala intelijen Indonesia ( BIN ) telah menlontarkan pernyataan yang menyatakan pihak OPM dari hutan telah bergabung dengan aktivis didalam Kota maka dilakukan operasi untuk tertuju kepada para aktivis KNPB yang akhinya menembak mati MAKO TABUNI dan kedua rekanya, kedua rekanya ditembak mati tempat sementara Mako Tabuni ditembak dan dibawa kedalam mobil.

Untuk mengkleim dan menyatakan kepada publik oleh Mengkopolkam Indonesia menyatakan MAKO TABUNI di tembak mati oleh POLISI karena saat penangkapan berupaya melawan akhinya polisi melumpuhkan Mako Tabuni, ini adalah salah satu bantuk pembohongan publik dan mendiskriditkan perjuangan aktivis KNPB karena dilihat kedua rekanya ditembak mati ditempat, guna mengaburkan bukti bahwa Mako Membawa bebearapa peluru dan satu alat Pistol.
OPM tetap menilai tindakan operasi ini dalam rangka membungkam perjuangan rakyat Papua degan cara-cara meneror, mengintimidasi dan menembak aktivis pejuang HAM di tanah Papua, Indonesia berupaya dalam memperburuk perjuagan KNPB di publik Internasional.

Polisi juga menembak kedua rekan mako dalam rangka mengkelabui bukti, karena mako tidak membawa pistol dan beberap amunisi, untuk mengkleim bahwa mako melakukan perlawanan degan senjata api, polisi juga menembak mati kedua rekan yang bersama degan MAKO TABUNI di tempat kejadian.
Indonesia jelas bertanggung jawab terhadap semu aksi penembakan sampai pada penembakan aktivis KNPB MAKO TABUNI merupahan Operasi Klendestin untuk membungkam perjuangan rakyat Papua secara democrasi untuk menuntut hak-hak dasar bangsa Papua yang diperjuangka oleh Aktivis KNPB.

Contributed: Fungsionaris OPM

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny