Mulia Tegang, Baku Tembak Terjadi

Written by Bel/Ant/Papos    
Wednesday, 26 October 2011 00:00

JAYAPURA [PAPOS]- Saling kontak tembak antara TNI/Polri dan kelompok sipil bersenjata [KSB] terus terjadi di dalam kota Mulia, ibukota kabupaten Puncak Jaya, Selasa [25/10]siang.

Usai jenazah Kapolsek Mulia, AKP Dominggus Awes diterbangkan dari bandara Mulia ke Bandara Sentani Jayapura, kemarin suara baku tembak terdengar di kota Mulia. Aparat TNI dan Polri tampak siaga penuh. Sontak saja kota Mulia mendadak sepi dari manusia setelah mendengar terjadinya kontak senjata.

Selain terjadi tembakan, Kantor Ketahanan Pangan kabupaten Puncak Jaya, yang terletak di kampung Wondeng Gobak, distrik Mulia, terbakar, diduga pelakunya oleh Kelompok Sipil Bersenjata [KSB].

Pantauan di Mulia, Selasa siang, tampak seluruh bangunan kantor yang berlokasi di tempat para KSB bertahan dari serangan aparat itu, sudah terbakar api. “Itu kantor Ketahanan Pangan yang terbakar,” kata bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe di Mulia, kemarin.

 

 

Status Siaga

Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo menyatakan saat ini semua kepolisian sektor di Provinsi Papua, terutama Kabupaten Puncak Jaya, berada dalam status siaga. “Semua dalam kegiatan siaga, terutama pada lokasi Puncak Jaya,” ujar Kapolri sebelum menghadiri pelantikan Ketua Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) di Istana Negara, Jakarta, Selasa.

Menurut dia, Polri tengah mengaktifkan dan mengoperasionalkan tim pemburu pelaku penembakan Kapolsek Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Ajun Komisaris Dominggus Otto Awe, pada Senin 24 Oktober 2011.

Dia meminta masyarakat memberi Polri kesempatan untuk menyelidiki kasus penembakan tersebut. “Tim sudah melakukan langkah-langkah penyelidikan dan pengejaran, kita tunggu hasilnya,” ujarnya.

Kapolri mengatakan penyelidikan itu dibantu Tentara Nasional Indonesia dan satuan-satuan lain.

Sampai saat ini, menurut dia, polisi belum mengetahui motif penembakan, namun dipastikan mereka adalah kelompok pengacau keamanan yang sering beraksi di wilayah Papua.

“Pasti yang bersangkutan kelompok pengacau keamanan,” katanya.

Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman menyatakan pihak intelijen sedang berupaya semaksimal mungkin mencegah terjadinya aksi kekerasan yang bisa menimbulkan korban lagi di Papua.

Marciano menyebut aksi penembakan Kapolsek Papua sebagai kriminal murni.”Kejadian itu adalah murni kejadian kejahatan kriminal di mana dia merebut senjatanya kapolsek itu kemudian menembak, sehingga kita harus meningkatkan kewaspadaan kita,” tuturnya.

 

Kirim Tim

Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri mengirimkan tiga tim ke Papua, guna melacak para pelaku penembakan Kapolsek Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, AKP Dominggus Oktavianus Awes.

“Terkait dengan kasus penembakan Kapolsek Mulia masih dalam penyelidikan dan ada tiga tim kami yang di sana untuk melakukan pelacakan terhadap para pelaku,” kata Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol Sutarman di Depok, Selasa.

Dia menyebut tantangan bagi tugas itu adalah medan Papua yang terlalu berat bagi reserse sehingga diperlukan tim-tim yang bisa mengetahui posisi para pelaku.”Untuk melakukan penangkapan kami harus ada tim yang kuat. Bahkan kami perlu bantun TNI untuk melakukan pengejaran, di mana kemungkinan pelaku lari ke hutan,” kata Sutarman.

Tiap tim dari Bareksrim terdiri dari 10 orang. Hari ini dikirim juga satu batalyon Brimob Kelapa Dua, Depok, sebanyak 300 orang, yang semuanya di bawah kendali Kapolda Papua.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam menyatakan pelaku penembakan Kapolsek Mulia adalah kelompok separatis.

 

Ranah polisi

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan, insiden penembakan di Papua merupakan ranah polisi.

Di sela rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Selasa, Purnomo mengungkapkan insiden itu berkaitan dengan penembakan Kapolsek Mulia, AKP Dominggus Awes.

Dia menyebut insiden itu sebagai ancaman terhadap keamanan publik, namun belum menjadi ancaman integrasi bangsa.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI, Helmy Fauzi menilai insiden di Abepura dan Timika itu meningkatkan eskalasi politik di daerah tersebut sehingga harus segera dideteksi dan dicegah agar tidak berkembang lebih luas.

“Memang masih terlalu dini, tapi kalau dibiarkan bisa menjadi potensi konflik,” katanya.

Menurut dia, Komisi I DPR RI akan segera mengundang Menko Polkam Djoko Suyanto untuk menjelaskan dan merespons masalah ini secara cermat. “Jangan menyepelekan insiden di Papua,” katanya.

 

Waspadai Bendera OPM

Menko Polhukam Djoko Suyanto mengatakan pemerintah dalam hal ini aparat keamanan mewaspadai upaya pengibaran bendera organisasi Papua Merdeka (OPM) karena hal tersebut merupakan tindakan melawan hukum.

“Dengan dinamika seperti itu, pasti aparat TNI akan tingkatkan kewaspadaan. Dan kejahatan seperti itu masih ada. Itu yang harus balance,” kata Djoko di Istana Presiden Jakarta, Selasa.

Ia mengaku merasa prihatin atas serangkaian tindakan kekerasan berupa penembahakan terhadap warga di Timika dan juga pembunuhan Kapolsek Mulia di kawasan Jaya.

“Saya kira kita menyesalkan penembakan terhadap Kapolsek Mulya, juga tiga orang warga kita di Timika. Jadi masyarakat publik harus tahu bahwa tindakan kekerasan juga dilakukan oleh kelompok-kelompok itu terhadap masyarakat dan aparat. Jangan lalu beritanya isinya kekerasan aparat saja, itu riil, petugas diserang, masyarakat di bunuh. Kalau TNI/Polri melakukan pengejaran jangan dikaitkan dengan Hal lainnya,” katanya.

Menko Polhukam mengatakan sejauh ini masih dilakukan penyelidikan dan belum ada informasi adanya dukungan pihak asing atas sejumlah insiden tersebut.

Ia menambahkan tentu ada peningkatan kewaspadaan.

Sementara itu ditempat yang sama, Kepala BIN Marciano Noorman mengatakan pihaknya terus bekerja keras untuk menyelesaikan dan mencegah kejadian serupa terulang.

“Masalah Papua kita sekarang sedang bekerja keras. Mengatasi perkembangan disana. Kita coba semaksimal mungkin untuk tidak terjadi lagi. Kemudian masalah yang berkaitan dengan Timikia semua pihak berusaha agar manajemen dan karyawan bisa mendapat satu titik temu,” paparnya.

Sementara mengenai penembakan terhadap Kapolsek Mulia, Marciano mengatakan sejauh ini indikasinya adalah kriminal.

“Kejadian itu murni kejahatan, kriminal itu dimana dia merebut senjata kapolsek, kemudian menembak. Kita harus tingkatkan kewaspadaan,” katanya.[bel/ant]

Di Perumnas III, Seorang Mahasiswa Ditemukan Tewas

JAYAPURA – Rabu (26/10), sekitar pukul 05.30 WIT, warga di sekitar Jalan Lorong Asrama Kabupaten Keerom digegerkan dengan ditemukannya seorang mahasiswa dalam keadaan tewas dengan sejumlah luka di tubuhnya.

Mahasiswa yang diketahui bernama Very Tebay (24) yang tinggal di Asrama Paniai, Perumnas III tersebut, tewas akibat luka robek pada wajah dan kepala bagian belakang, serta luka lecet pada telinga kiri.)

Korban diduga meninggal akibat pembunuhan, namun hingga berita ini diturunkan pihak Kepolisian dari Polsekta Abepura belum diketahui identitas pelakunya. “Kita masih berupaya melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelakunya,” ungkap Kapolsekta Abepura Kompol Arie S Sirait.

Korban, ditemukan pertama kali oleh rekannya bernama Kristian Rumere (20) yang hendak ke kios untuk membeli perlengkapan mandi.

Kristian yang juga tinggal di Asrama Mahasiswa Paniai Perumnas III Waena tersebut, saat melihat ada orang yang sedang tertidur telungkup di pinggir jalan dengan kepala mengeluarkan darah, mencoba membangunkannya.

Namun, orang tersebut sudah tidak bisa bergerak sama sekali, sehingga langsung melaporkan kejadian tersebut ke Pos Patmor Perumnas III Waena.

Anggota Patmor yang langsung menuju Tempat kejadian Perkara (TKP)langsung melakukan pengecekan terhadap korban, mengetahui bahwa korban sudah tidak bernyawa lagi.)
Tidak lama kemudian anggota Polsekta Abepura yang dipimpin Kepala SPK Aiptu Agus Nuswantoro tiba di TKP untuk melakukan olah TKP, dan membawa jenazah tersebut ke Rumah Sakit Abepura guna mendapat visum dari dokter.(aj/don/l03)

Polri: Kondisi Papua Masih Rawan, Puncak Jaya Siaga Satu

Detik.com, Jakarta – Kondisi Papua masih belum kondusif hingga kini. Baku tembak kembali terjadi Rabu (26/10) dini hari.

Mobil yang ditumpangi oleh sejumlah anggota Brimob dan petugas security PT Freeport ditembaki oleh orang tak dikenal. Akibat insiden ini, kaca belakang mobil yang ditumpangi pecah.

“Tadi malam sekitar 00.15 WIT dini hari, itu di mile 35, anggota kita brimob sedang patroli bersama security Freeport itu dihadang, ditembak. Ada tiga kali tembakan. Kemudian anggota kita juga berhenti, melakukan balasan, kemudian pelakunya kabur,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (26/10/2011).

“Mobilnya ditembak kena kacanya, pecah. Kaca belakang. Pelaku diduga 3 orang. Patroli kita ada 5 orang,” terangnya.

Diterangkan Anton, para pelaku diduga menggunakan senjata laras panjang. Sebab, bunyi tembakan terdengar cukup keras.

“Mereka mengeluarkan tembakan dengan senjata yang diduga laras panjang, mengenai kaca,” ucapnya.

Insiden ini menandakan situasi Papua, terutama di Puncak Jaya dan sekitar Freeport, masih rawan. Polri mensiagakan sejumlah personel Brimob dari Kelapa Dua yang berangkat semalam ke Papua. Mereka diminta untuk melakukan patroli di sekitar wilayah Timika.

“Jadi memang masih rawan daerah Freeport itu. Karena tiap mobil yang lewat ditembak,” tuturnya.

Status keamanan di Puncak Jaya ditetapkan dengan status Siaga Satu. Kepolisian terus meningkatkan pengamanan, di samping melakukan pengejaran terhadap para pelaku penembakan sebelumnya.

“Memang di Puncak Jaya itu kita tetapkan Siaga Satu, yang lainnya Waspada. Agak menurun dikit,” kata Anton.

“Kita siap siaga kalau ada apa-apa. Kita imbau kepada petugas kita, khusus di Puncak Jaya itu, kita tidak perkenankan anggota kita dalam jumlah minoritas, minimal 5,” tambahnya.

Hasil identifikasi sementara menyebutkan, para pelaku penembakan memiliki modus untuk mencari senjata api. Mereka diduga berkelompok, di mana setiap kelompoknya terdiri atas 30-an orang.

“Mereka ini memang kelompok-kelompok yang teridentifikasi suka mengacaukan keamanan di sana. Kelompok-kelompok ini berjumlah sekitar 30-an. Nah di antara kelompok itu mereka ada yang punya senjata 9, ada yang megang 10 dan sebagainya,” jelas Anton.

(nvc/gun)

Sorakpak Yakin Korban Tewas Bukan Dibacok

Elias Petege dan rekan-rekannya saat memberi keterangan pers
Elias Petege dan rekan-rekannya saat memberi keterangan pers

JAYAPURA – Daniel Kadepa yang oleh pihak kepolisian dinyatakan tewas akibat terkena benda tajam atau sejenis parang, dibantah oleh Elias Petege yang menyatakan diri sebagai aktifis HAM Independen. Karena, Ia menyatakan punya saksi yang melihat bagaimana peristiwa disaat Daniel Kadepa tewas bersimbah darah dengan luka di kepala bagian belakangnya. “Kapolda mengatakan bahwa tewasnya warga sipil itu luka bacok dan bukan luka tembakan. Pernyataan itu saya bantah,” tegasnya bersama tiga orang rekannya, Izen Suffi dan Benny Goo dari Forum Independen mahasiswa, serta satu orang mahasiswa Fakultas Hukum Uncen, Anis Mambrasa, yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Papua Anti Kekerasan (Sorakpak) saat menggelar jumpa pers di Prima Garden Abepura, Senin (24/10).

Dikatakan, dari saksi mata yang menceritakan kepadanya, Daniel Kadepa ditembak tepat di kepalanya oleh anggota yang berjaga-jaga di belakang STFT Fajar Timur. “Di bawah dikejar oleh aparat kepolisian dan brimob, diatas sudah dijaga terlebih dahulu oleh TNI AD. Sehingga saat Almarhum Daniel Kadepa yang lari lebih awal, sudah dibidik. Sehingga dapat tembakan di kepala,” ungkapnya lagi.

Ia pun dengan tegas bahwa tidak benar bila dikatakan luka bacok, meski belum melihat hasil visum et repertum maupun hasil outopsi dari dokter yang menanganinya. “Dan dua anggota Petapa lain adalah itu bukan luka bacok, tetapi luka tembakan. Daniel Kadepa itu juga bukan anggota Petapa, melainkan mahasiswa STIH Umel Mandiri, yang datang sebagai partisipan,” jelasnya.

Disinggung apakah pihaknya bersedia menghadirkan saksi tersebut di depan penyidik kepolisian untuk memudahkan pengungkapannya, Elias menyatakan bersedia. “Kami sangat siap menghadirkan jika diminta,” jelasnya.

Terkait pembubaran Konggres sendiri, menurutnya melanggar UUD 45, kovenan, maupun Undang-undang tentang Hak Asasi Manusia.

“Apa yang mereka (pelaksana kongres) lakukan itu adalah bagian dari kebebasan berekspresi sebagai warga Negara. Mereka dijamin oleh UUD 45 pasal 28 dan turunan UU lainnya,” ungkapnya.

Bahkan termasuk mendirikan sebuah Negara di dalam Negara, dikatakan sah-sah saja, karena dijamin oleh konfensi internasional tentang hak-hak politik tentang hak menentukan nasib sendiri.(aj/don/l03)

Kapolda dan Pangdam Diminta Bertanggung Jawab

JAYAPURA- Dewan Perwkilan Rakyar Papua (DPRP) meminta Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih, bertanggung jawab atas jatuhnya sejumlah korban jiwa, saat pembubaran Kongres Rakyat Papua 3, Rabu lalu. ‘’Tindakan aparat keamanan dalam pembubaran kongres rakyat Papua sudah melampaui batas, kewenangan mereka dan jelas melanggar aturan dan UU, karena menimbulkan jatuhnya korban. sehingga komandan tertinggi dan pengendali aparat di lapangan yakni Kapolda dan Pangdam harus bertanggung jawab dengan jatuhnya korban tersebut,’’tegas Yan Mandenas Ketua Fraksi Pikiran Rakyat DPR Papua,’’Senin 24 Oktober di ruang kerjanya. Lanjutnya, aparat melampaui kewenangan karena memukuli dan menembak warga, padahal warga yang ada di sekitar lokasi belum tentu semua terlibat dan ikut kongres. ‘’Kalau memang ada tindakan makar, ya tangkap dalang dan aktornya, jangan malah memukuli dan menembaki warga. Kan tidak semua warga yang menjadi korban ikut kongres, ini malah main babat, seperti tak terkendali, ini pelanggaran HAM dan harus diusut tuntas,’’tandasnya.

Sambungnya, persoalan ini bukan hal yang sepele, karena menyangkut harga diri orang Papua. Sebab, sangat terkesan setiap menangani persoalan Papua, aparat tidak terkendali dan asal main tembak. ‘’Membunuh orang tak berdosa, jelas sangat tidak manusiawi, dan orang Papua selalu menjadi korban. Kalau mau membangun Papua mari dengan hati dan semangat NKRI, bukan asal main gebuk, sepertinya orang Papua tidak ada arti,’’ucapnya.
Mengenai klaim Kapolda Papua, bahwa korban yang tewas karena tertikam bukan tertembak, Yan Mandenas mengatakan, jika itu benar, silahkan umumkan hasil otopsinya secara terbuka dan transparan. ‘’Kenapa hasil otospi terhadap sejumlah korban tidak diumumkan secara terbuka, biar jelas kalau memang itu ditikam dan bukan ditembak,’’imbuhnya.
Papua itu bagian dari NKRI yang tidak terpisahkan, tapi tambahnya, kerap dijadikan sebagai lahan konflik. ‘’Mereka mengambil keuntungan dengan konflik yang terjadi. Sejumlah penembakan misterius hingga kini tidak pernah bisa diungkap, tapi kalau menembaki rakyat yang tak berdaya ‘paling hebat’,’’ketusnya.

Yan juga menyatakan, agar secepatnya dibentuk tim investigasi untuk melakukan penyelidikan. ‘’DPR Papua akan mendorong dibentuk tim, untuk melakukan penyelidikan, kalau memang terjadi penyimpangan, Kapolda dan Pangdam harus dicopot,’’ujarnya.

Hal senada juga ditandaskan Ketua Komisi A membidangi Polhukam DPR Papua, Ruben Magay, bahwa ada penyimpangan dalam aksi itu, yang dilakukan aparata keamanan. ‘’Kalau memang ada yang bertindak makar. Ya tangkap dan proses aktornya dan deklaratornya, jangan menembaki rakyat yang tak berdosa,’’tukasnya.
Tambahnya, ‘’Sebelum aksi pemukulan dan penembakan terjadi, saya sudah meminta Kapolres menarik pasukannya, Karena sudah selesai. Tapi yang terjadi, meski sudah bubar dan pentolan kongres sudah ditangkap, aparat masih terus melakukan pengejaran dan memukuli serta menembaki warga yang ada disekitar. Padahal, mereka sama sekali tidak melakukan perlawanan. Ini kan jelas pelanggaran, orang bersenjata dengan seenaknya memukuli rakyat yang tidak melawan dan memiliki senjata,’’imbuhnya.

Namun, kata dia, biarkan lembaga yang berwenang melakukan investigasi menyeluruh, untuk membuktikan adanya pelanggaran dalam insiden itu. ‘’Biarkan Komnas HAM sebagai lembaga yang berkopoten melakukan penyelidikan dan memutuskan apakah telah terjadi pelanggaran HAM atau tidak, tapi yang jelas DPR Papua juga akan mendorong dibentuknya tim investigasi,’’tukasnya.

Sementara salah seorang warga bernama Yosep Nawipa, yang menjadi korban dan sempat ditahan di Mapolda selama sehari mengatakan, dirinya menjadi korban poporan senjata aparat dan sempat diseret ke mobil untuk di giring ke Polda. ‘’Saat itu saya dari Sentani menuju Angkasa, ketika pembubaran terjadi saya melintas di lokasi, kemudian saya ikut dipukuli dan diseret ke mobil, hingga kepala bocor,’’ujar Nawipa sambil menunjukkan luka bocor di bagian ubun-ubunnya.(jir/don/l03)

Senjatanya Dirampas, Kapolsek Mulia Ditembak Mati

Korban penyerangan dan penembakan di Bandara Mulia, Senin (24/10) kemarin. Inzet : Foto almarhum yang sedang dipegang salah satu keluarga
Korban penyerangan dan penembakan di Bandara Mulia, Senin (24/10) kemarin. Inzet : Foto almarhum yang sedang dipegang salah satu keluarga
JAYAPURA- Kabupaten Puncak Jaya, Papua sepertinya tidak pernah sepi dari aksi -aksi penembakan. Entah sudah berapa korban jiwa yang jatuh, baik di pihak aparat maupun di pihak kelompok OPM akibat aksi penembakan. Kabar terbaru Senin (24/10) kemarin, Kapolsek Mulia Kabupaten Puncak Jaya Papua, AKP Dominggus Otto Awes NRP 65100665 dilaporkan, ditembak kelompok separatis OPM, tepat di depan pesawat milik MAF (Mission Aviation Followship), yang saat itu sedang mendarat di Bandara Mulia. “Ia ditembak saat berdiri di depan pesawat MAF yang sedang parkir di apron Bandara Mulia. Kapolsek berada disana, untuk memonitor langsung kegiatan bandara,,” ujar Kombes wachyono Juru Bicara Polda Papua.

Saat sibuk memantau kegiatan bandara, tiba-tiba dua pelaku yang diduga anggota kelompok separatis OPM mengeroyok korban hingga jatuh terlentang. “Ketika korban terjatuh, salah seorang pelaku kemudian menindih dan seorang lagi merampas senjata revolver jenis Taurus dengan nomor seri XK 25609. Kemudian pelaku menembak korban sebanyak dua kali di hidung sebelah kiri dan leher kiri, yang mengakibatkan korban tewas ditempat,” jelasnya.

Pada saat penembakan terjadi, yang terlihat jumlah pelaku hanya dua orang. “Sesuai keterangan sejumlah saksi, pelaku hanya dua orang dengan ciri-ciri 1 orang menggunakan pakaian warna merah, tinggi badansekitar 150 cmQþkurusQþ tidak menggunakan sepatu. 1 orang lagi menggunakan pakaian warna hitam, tinggi badan sekitar 160 cmQþ kurus, tidak menggunakan sepatu,” terangnya.

Setelah melihat korban terkapar dan berhasil merampas senjatanya, para pelaku langsung melarikan diri ke arah Gunung Nenas di sekitar bandara. “Mereka kabur dan menghilang di balik Gunung Nenas,” jelasnya.
Sementara korban, saat itu juga di evakuasi ke RS Mulia. Dan hingga kini akibat cuaca yang tidak bersahabat, belum bisa diterbangkan ke Sentani Jayapura.

Kata Wachyono, pihaknya sudah melakukan olah TKP dan sempat menuntup penerbangan dari dan ke Mulia. Namun, saat ini aktivitas kembali berjalan normal.

Menurut Wachyono, pelaku adalah kelompok separatis OPM yang selama ini kerap melakukan aksi penembakan. “Mereka ini separatis OPM yang selalu mengacau keadaan di Puncak Jaya,”tukasnya.

Semebtara itu, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Puncak Jaya, AKBP Alex Korwa dalam laporannya kepada pihak Kepolisian Daerah Papua menuturkan, peluru tersebut belum berhasil dikeluarkan dari kepala korban, dan diharapkan bisa dikeluarkan oleh tim medis RS Bhayangkara, Jayapura, saat jenazah dievakuasi kesana, Selasa (25/10) hari ini.

“Proyektil peluru masih ada dalam kepala almarhum. Belum berhasil dikeluarkan,” kata Kapolres dalam percakapan telepon genggamnya.

Dia juga mengatakan, evakuasi baru bisa dilakukan esok hari karena terkendala cuaca yang tidak bersahabat.
Berdasarkan pantauan koresponden ANTARA Jayapura, di Mulia, Senin sore, jenazah AKP Dominggus Awes saat ini sedang disemayamkan di aula kantor Polres Puncak Jaya, setelah dimandikan di Rumah Sakit Mulia.
Tampak Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya beserta pihak keluarga korban dan masyarakat umum berada di dekat jasad AKP Dominggus Awes.

Sementara itu, Polres Puncak Jaya menaikkan bendera setengah tiang di halaman kantornya.
Kapolsek Mulia AKP Dominggus Awes tewas ditembak di bagian hidung (kepala) oleh kelompok separatis bersenjata di Bandara Mulia pada Senin pagi.

Aparat keamanan masih terus melakukan pengamanan di lokasi penembakan dan melakukan pengejaran di kawasan pegunungan.

Kabupaten Puncak Jaya adalah salah satu daerah yang terletak di Pegunungan Papua, yang baru genap berusia 15 tahun pada tanggal 8 Oktober 2011 lalu.

Topografinya yang sulit serta cuaca relatif ekstrim seperti daerah di Pegunungan Papua lainnya, membuat daerah ini hanya bisa dijangkau dengan penerbangan perintis pesawat berbadan kecil.(jir/ant/don/l03)

Insiden KRP III Lukai Hati Orang Papua

Siaran PERS : Sorakpak saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di Prima Garden, Senin [24/10]JAYAPURA [PAPOS]- Ketua Fraksi Pikiran Rakyat, Yan Mendenas,S.Sos meminta secara tegas agar aparat Kepolisian dan TNI bertanggung jawab atas terjadinya insiden KRP III beberapa waktu lalu, sebab tindakan aparat tersebut dinilai telah melukai hati orang asli Papua.

Apalagi kata politisi ulung Hanura ini masyarakat tidak menggunakan apa-apa. andaikan pun pada saat itu masyarakat ditemukan menggunakan senjata hendaknya dilakukan tindakan persuasive, bukan asal tangkap begitu saja dan melakukan kekerasan. ‘’Saya paling tidak setuju atas tindakan aparat terhadap masyarakat sipil,’’ kata Yan Mandenas kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin [24/10].

Tindakan aparat yang sampai melakukan penembakan dan diarahkan

kepada orang perorangan sudah masuk pelanggaran HAM berat. Insiden KRP III bukan masalah sepele, tetapi masalah yang menyangkut harga diri orang Papua, dimana sampai saat ini orang Papua masih mengakui dirinya sebagai warga Negara Indonesia.

Untuk itu, bangsa Indonesia perlu menghargai orang Papua dan bila memang bangsa Indonesia tidak menghargai orang Papua lebih baik orang Papua dibiarkan Merdeka diatas tanah sendiri. ‘’Tugas aparat keamanan khan melindungi, bukan menyakiti hati rakyat Papua,’’ imbuhnya.

Apa yang dilakukan aparat keamanan tersebut menurutnya, adalah pelecehan terhadap orang Papua. Itu menimbulkan ketersinggung bagi rakyat Papua. ‘’Tidak ada alasan TNI dan Polri untuk embuat rakyat Papua tersinggung karena, rakyat Papua masih bagian dari NKRI,’’ tegasnya.

Oleh karean itu, ia meminta kepada pemerintah melakukan evaluasi terhadap kinerja aparat TNi dan Polri di Papua sehingga kedepan aparat kepolisian dan TNI dalam penanganan permasalahan yang terjadi di tanah Papua tidak menimbulkan korban jiwa.

Hentikan Kekerasan

Ditempat terpisah hal senada pula dikemukakan Solidaritas Rakyat Papua Anti Kekerasan [SORAKPAK], Izen Zuffi dari Forum Independent Mahasiswa menyebutkan peristia tersebut telah menodai perjalanan demokrasi dan Hak Azasi Manusia di Indonesia.

Sebelumnya kata dia, pihaknya sudah memprediksi akan terjadi kekerasan. hal ini bisa dilihat saat parade aparat keamanan memamerkan kekuatannya dengan senjata lengkap, 7 mobil Baracuda, 5 panser dilengkapi dengan senjata mesin caliber 50 mm, mobil tahanan dan mobil identifikasi korban hilir mudik melintasi jalan masuk menuju kongres. Ditambah lagi dengan dua ribuan aparat gabungan TNI dan Polri yang menyebar di sekitar areal Kongres. Itu semua bertujuan untuk meneror mental dan psikis atau menakut-nakuti peserta kongres yang hadir.“Sebenarnya pendekatan keamanan bukanlah pendekatan yang tepat, karena pendekatan keamaanan sering terreduksi menjadi keamanan pihak tertentu , bukan keamaanan masyarakat Papua,’ tegasnya dalam siaran pers yang diterima Papua Pos, kemarin.

Pada kesempatan yang sama Elias Petege, Aktivis HAM Independen yang juga anggota (SORAKPAK) mengatakan, peristiwa KRP III menganut asas kebebasan untuk berkumpul, mengemukakan pendapat dan menyebarkan gagasan, itu semua merupakan hak rakyat sipil dan berpolitik yang sudah diatur dalam undang-undang No 12 Tahun 2005. Jadi hak untuk mengemukakan pendapat dan menyebarkan gagasan adalah hak dasar bagi setiap warga Negara, itu semua demi memajukan setiap orang dan meningkatkan martabat manusia serta pintu bagi terpenuhinya hak manusia lainnya.

Oleh karean itu, pihaknya meminta penangkapan dan penahanan terhadap proses kebebasan berpendapat harus di hentikan, serta tahanan yang terlibat dalam KRP III juga harus di bebaskan karena kongres tersebut merupakan kebebasan berpendapat dan menyebarkan gagasan. ‘’Tidak seorangpun dapat ditangkap dan ditahan karena pikiran politiknya. Keamanan nasional hanyalah alasan bagi pemerintah untuk membatasi sikap kritis rakyat Papua,” katanya.

Bahkan pihaknya meminta secara tegas agar menghentikan tindakan dan kebijakan yang berpotensi mencabut rasa aman dan hak hidup seseorang, menghilangkan nyawa orang, penembakan dan perbuatan kejam tidak manusiawi harus di hentikan.

Polri Selidiki

Mabes Polri akan menyelidiki dugaan penyalahgunaan wewenang dan tindak kriminal dalam penanganan ricuh Kongres III Papua medio pekan ini, kata Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar di Jakarta, Sabtu.

“Kami sama sekali tidak menghendaki jatuhnya korban jiwa dalam setiap penanganan konflik, di pihak mana pun termasuk dalam penanganan ricuh pasca Kongres III Papua,” katanya kepada wartawan.

Kombes Boy menuturkan menjelang pelaksanaan Kongres III Papua, pihaknya sudah melakukan pendekatan dan langkah antisipasi agar pelaksanaan kegiatan itu berjalan aman dan tertib. “Namun dinamika di lapangan apa yang kami harapkan tidak terjadi, kadang harus terjadi tanpa kita kehendaki. Karena itu, kita akan selidiki dan evaluasi dinamika di lapangan saat itu dan penanganannya seperti apa,” ujar Boy.

Saat ini Kepolisian Negara RI telah menetapkan enam tersangka makar terkait Kongres Papua III di Jayapura yakni FY, EW, DS, AM, GW dan SB. “Keenam tersangka diduga kuat melanggar hukum positif negara kita pasal 106 dan 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai makar dengan ancaman pidana penjara. Sebanyak 18 orang diperiksa sebagai saksi dari 360 orang peserta yang mengikuti Kongres III Papua, “ujarnya.

Boy menambahkan “Keenam tersangka adalah pimpinan dari gerakan tersebut. Dan kita sudah menemukan beberapa barang bukti,”.Ia menjelaskan barang bukti yang ditemukan di antaranya kartu peserta, surat pemberitahuan pelaksanaan acara, surat perekrutan. Serta bukti lain berdasarkan fakta-fakta dari pemeriksaan 18 saksi.

Sementara itu terdapat pula 300 orang yang mengalami penyiksaaan dan beragam intimidasi serta perusakan sejumlah kendaraan roda empat dan dua, serta asrama di sekitar lokasi kejadian.

Menanggapi itu, Kombes Boy mengatakan pihaknya terus melakukan penyelidikan dan identifikasi terhadap warga yang diduga meninggal dunia, hilang atau mengalami luka-luka serta intimidasi.

“Jika ada perbedaan data dengan yang diperoleh lembaga swadaya masyarakat dan Komnas HAM, tentu kami akan pula bekerja sama. Yang jelas kami tidak menghendaki adanya korban jiwa di pihak mana pun. Kami telah berupaya mengantisipasi agar kegiatan dan penanganan rusuh tidak mengarah pada kekerasan, namun perkembangannya terjadi hal demikian,” ujarnya.

Boy menekankan, dalam penanganan beragam konflik atau insiden di Papua pihaknya harus bersandar pada penegakkan hukum, penegakkan keamanan dan penegakkan kedaulatan.[ant/cr-64/tom]

Written by Ant/Cr-64/Tom
Tuesday, 25 October 2011 00:00

Buru Separatis, Polri Tambah Pasukan 300 Personel

Anggota Brimob Siap Diterjunkan Meneror Rakyat Papua - inilah.com/Ardhy fernando
Anggota Brimob Siap Diterjunkan Meneror Rakyat Papua - inilah.com/Ardhy fernando
INILAH.COM, “Kita sudah menahan enam orang pelaku yang ingin makar terhadap NKRI. Kita harus melaksanakan penegakan hukum,” tegasnya usai mengikuti upacara pembukaan Latihan Kesiapsiagaan dan Ketanggapan TNI–Polri Dalam Penanggulangan Aksi Terorisme di Mako Brimob Kepala Dua, Selasa (25/10/2011).

Terkait penembakan Kapolsek Mulia, AKP Dominggus Octavianus, pihaknya kembali menegaskan bahwa saat ini polisi tengah melakukan penyelidikan. Ada tiga tim yang diturunkan dan didukung oleh tim lain untuk melakukan pelacakan terhadap dua pelaku yang lari ke arah hutan.

Beratnya medan di Papua, diakuinya memperlambat proses penyidikan dan pengejaran pelaku. Karenanya guna memantu tim yang telah diturunkan, rencananya hari ini akan kembali dikirimkan pasukan 300 personil tambahan. “Ya, tadi ada sekitar 300-an personil. Dari Bareskrim ada 3 tim, 1 tim 10 orang jadi ada 30,” terang Sutarman. [mah]

Panglima TNI: Kopassus Cuma Latihan

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono - inilah.com/Ardhy fernando
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono - inilah.com/Ardhy fernando
INILAH.COM, Bahkan Agus mengaku heran dengan kabar adanya pasukan Kopassus yang diperbantukan untuk mengamankan sejumlah pergolakan yang terjadi. “Saya tidak mengerti dari mana anda dapat informasi soal Kopassus,” ujarnya di gedung DPR Jakarta, Selasa (25/10/2011).

Panglima mengatakan, pengiriman yang dilakukan hari ini bukan dalam konteks menjaga keamanan di Papua melainkan hanya latihan semata. “Kopassus yang diminta untuk yang latihan pada hari ini,” bantahnya.

Agus mengatakan bahwa sejauh ini belum ada permintaan untuk perbantuan keamanan. Penjagaan keamanan masih dilakukan oleh aparat Kepolisian. Menurutnya, keamanan di Papua masih sebatas darurat sipil. Dengan itu, penjagaan keamanan dilakukan oleh aparat kewilayahan dalam hal ini Polda dan Kodam.

“Belum ada permintaan (pasukan TNI, red). Insiden di Papua ditangani pasukan kewilayahan yakni dari Polda dan Kodam, melakukan sinergitas untuk melakukan pencegahan-pencegahan yang diperlukan,” jelasnya.

Terkait dengan dugaan adanya keterlibatan anggota TNI yang membuat jatuhnya korban ketika Kongres III, Agus membantahnya. “Nanti kita tunggu hasil Kepolisian seperti apa,” katanya.

Dia yakin, anggotanya tidak akan terlibat dalam aksi pengamanan kongres tersebut. Apalagi, hingga dikabarkan kalau TNI turut terlibat yang menyebabkan jatuhnya korban tewas hingga enam orang.

“Semua yang dilakukan oleh TNI ada aturannya. Manakala ada anggota yang melakukan kesalahan pasti ada proses hukumnya. Saya bisa jamin itu (TNI tidak terlibat, red) tidak ada,” tegasnya. [mah]

Jenazah Kapolsek Dominggus Dimakamkan Besok

INILAH.COMMenurut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam, Selasa (25/10/2011), jenazah almahum saat ini berada di RS Polri setempat setelah sebelumnya di berada di Jayawijaya dan dipindah lagi ke Jayapura.

Hasil autopsi sementara, pihaknya menemukan satu butir peluru di bagian kepala belakang. Sedangkan satu butir peluru lainnya yang ditembakkan ke leher korban tidak ditemukan.

“Yang didapat satu, yang satu belum ditemukan. Kita belum tahu apakah masih di TKP apa tidak. Tapi yang jelas sudah dapat satu butir di tempurung kepalanya,” terang Anton.

Mengenai motif pelaku, pihaknya belum bisa memastikan karena masih dalam proses pencarian. Dia menambahkan, penyerangan yang disertai perebutan senjata api milik aparat di daerah ini sudah terjadi dua kali sejak Juni lalu. “Disitu terjadi dua kali. Ada anggota kita juga yang diambil senjatanya,” tambahnya.

Polri sendiri nanti malam rencananya akan mengirimkan 170 personelnya dari Mako Brimob Kelapa Dua. Datangnya pasukan tersebut untuk membantu Polda setempat dalam melakukan pengamanan.

“Kita juga dibantu dan bekerjasama dengan TNI, sama-sama kita mengamankan. Intinya memberi rasa aman dan sekaligus ingin menangkap pelaku-pelakunya,” ujar Anton. [mvi]

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny