DPR Desak Pemerintah Selesaikan Konflik Papua

Jakarta – DPR mendesak pemerintah segera menuntaskan konflik di papua. Adanya pergerakan di Papua yang kian membahayakan perlu segera diatasi pemerintah.

“Saya melihat dalam persoalan Papua orang tidak berdiri sendiri. Pasti ada yang mendorong baik dari dalam maupun dari luar. Ini pendekatan humanistik dan dialog. Persoalan ini sudah lama dan harusnya sudah diselesaikan pemerintah,” kata Wakil Ketua DPR Pramono Anung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/10/2011).

Menurut Pramono, penyelesaikan masalah Papua selama ini tidak kontinyu. Ada eskalasi peningkatan di Papua di daerah pergerakan namun tidak diperhatikan.

“Karena itu pendekatan humanistik harus dilakukan tapi tidak menghilangkan ketegasan. Kalau sudah makar maka langkah tegas perlu dilakukan pemerintah. Kalau dialog bukan dengan OPM tapi dengan Majelis Rakyat Papua dan tokoh papua,” tutur Pramono.

Ia memandang akar permasalahan Papua adalah kesejahteraan dan pembagian yang tidak merata. Apalagi, Pram menambahkan, di negeri kaya tambang itu dana Otsus yang besar dalam mekanismenya berhenti dan tidak sampai pada rakyat Papua.

“Akar persoalan Papua ini karena mereka sadar tanah yang kaya tapi ketika banyak investor yang masuk tapi tetap seperti itu. Saya melihat tidak adil ketika ada perusahaan mendunia tapi untuk rakyat Papua tidak kesejahteraan,” kata dia.

Namun jika ada indikasi makar, Pramono mendesak pemerintah mengambil sikap tegas. “Penambahan pasukan dan sebagainya. Kalau memang mereka makar ya silakan ditindak tegas,” ujarnya.

(van/aan) 

Papua Memanas Lagi, Mobil PT Freeport Diberondong Tembakan

Detik.com, Jakarta – Suhu di Papua, masih memanas. Sebuah mobil patroli milik PT Freeport dengan nopol RP 15 ditembak pria tidak dikenal. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

“Bahwa pada hari Rabu, tanggal 26 Oktober 2011 sekitar pukul 00.15 WIT, di Mile 35, Jl Tembagapura, telah terjadi penembakan terhadap mobil patroli RP 15, milik PT Freeport Indonesia, yang dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK),” ujar Kabid Humas Polda Papua Kombes (Pol) Wachyono dalam pesan singkat kepada detikcom, Rabu (26/10/2011).

Menurut Wachyono, di dalam mobil patroli itu terdiri dari 3 anggota Brimob yakni Bripka Bambang, Leo, dan Hartawan serta 2 satpam Freeport yakni P Pangamenan (yang menyupir) dan Benyamin Sampe. Kerugiaan materil hanya mobil yang tertembak.

Saat ini, lanjut Wachyono, pihaknya sedang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) atas insiden itu.

Sebelumnya keadaan di Papua memanas tatkala Kapolsek Mulia AKP Dominggus Awes tiba-tiba didatangi dua orang pria tak dikenal saat bertugas di Bandara Mulia. Kedua orang yang tak mengenakan alas kaki itu kemudian merampas senjata revolver milik Dominggus.

Dominggus kemudian ditembak sebanyak dua kali di bagian hidung dan dada. Kedua pelaku kemudian melarikan diri. Dominggus sempat dibawa ke RSUD Mulia. Namun nyawanya sudah tak tertolong lagi. 

Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo menyebut pelaku merupakan kelompok pengacau keamanan. Atas kejadian ini, Mabes Polri menaikkan pangkat Dominggus dari AKP menjadi Kompol.

(nik/ndr) 

Presiden Dituntut Tegas Selesaikan Persoalan di Papua

Detik.com, Jakarta – Dalam sebulan terakhir peristiwa berdarah terus terjadi di tanah Papua. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dituntut untuk tegas dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

“Kami, warga negara Republik Indonesia meminta dengan tegas kepada Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyelesaikan persoalan di Papua dengan membangun dialog sejati yang damai yang menghormati martabat dan hak budaya rakyat Papua,” tulis rilis yang dikirim oleh sejumlah LSM yang diterima detikcom, Selasa (25/10/2011).

Saat ini, Papua dinilai telah menjadi ladang subur kekerasan, ketika negara lebih memilih untuk menghadirkan aparat keamanan dalam skala masif, ketimbang meningkatkan derajat warga Papua setara dengan warga negara Indonesia lainnya. Tindakan kekerasan adalah wajah keseharian yang luput dari koreksi kehidupan pembangunan bernegara. 

Dalam sebulan terakhir, kekerasan semakin meningkat. Diawali dengan aksi demonstrasi buruh PT Freeport menuntut peningkatan kesejahteraan yang dijawab dengan pengerahan pasukan keamanan berlebihan. Dua orang buruh yang tewas dalam aksi demonstrasi serta seorang intel polisi kritis telah menunjukkan fakta aktual yang tidak bisa kita abaikan. 

“Hal ini diperburuk pula dengan penerapan logika keamanan berlebihan yang terlihat pada kasus penyerangan Kongres Rakyat Papua III. Dalam penyerangan tersebut ratusan orang ditangkap, 3 tewas dan 6 orang lainnya dituduh telah melakukan kegiatan subversif,” ujar koalisi LSM itu. 

Terkait penembakan di mil 38-39 Timika yang menyebabkan 3 orang meninggal dunia dan 1 orang kritis, koalisi LSM juga menyayangkan hal ini. Bahkan Kapolsek Mulia, Puncak Jaya juga meninggal akibat ditembak oleh pelaku yang belum diketahui.

“Apa yang terjadi di Papua adalah buah dari kegagalan pemerintah Republik Indonesia untuk menghadirkan rasa keadilan, kesetaraan, jaminan hak sipil-politik serta hak ekonomi, sosial dan budaya yang selama ini tidak pernah dinikmati oleh seluruh rakyat Papua. Tindakan pemerintah ini dikhawatirkan akan mendorong kekecewaan yang meluas di kalangan rakyat Papua.” tulis rilis tersebut.

Untuk mencegah kembali terjadinya insiden berdarah itu, Presiden SBY selaku pucuk pimpinan kepala negara diminta memerintahkan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono untuk menarik seluruh personel TNI non organik dari Tanah Papua. Gelar kekuatan berlebihan ini telah melanggar UU TNI dan tidak searah dengan kebijakan pemerintah yang menekankan pendekatan ekonomi sosial budaya untuk masyarakat Papua.

“Kami juga meminta Presiden memerintahkan kepada Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo agar segera melindungi dan menciptakan rasa aman di tengah rakyat Papua. Presiden harus memerintahkan Kapolri untuk mengevaluasi MoU antara Polda Papua dan PT Freeport terkait dengan pengamanan yang telah menempatkan personil TNI/Polri sebagai satgas Objek Vital,” imbuhnya.

Gabungan LSM tersebut diantaranya Setara Institut, WALHI, YLBHI, IMPARSIAL, ELSAM, LBH JAKARTA, KOMISI HAK KWI, PGI, HRWG, Solidaritas Perjuangan Untuk Buruh Freeport dan lain-lain.

(mpr/her) 

Freeport Umumkan Kondisi Force Majeure

Jakarta – Perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS), Freeport-McMoran mengumumkan kondisi force majeure untuk pengapalan produk pertambangan dari tambang emas dan tembaga di Indonesia. 

Juru bicara Freeport Indonesia, Ramdani Sirait mengatakan, aksi mogok kerja oleh Serikat Pekerja PT Freeport Indonesia telah berdampak terhadap produksi dan pengapalan konsentrat. Pihaknya telah bekerja sama secara kooperatif dengan para pembeli kami berdasarkan perubahan jadwal produksi dan pengapalan konsentrat Freeport. 

“Produksi konsentrat yang lebih rendah tersebut berdampak terhadap kemampuan kinerja kami untuk memenuhi komitmen-komitmen penjualan kami secara optimal, dan sebagai akibatnya kami terpaksa menyatakan ‘force majeure’ terhadap perjanjian-perjanjian penjualan konsentrat yang terkena dampak tersebut,” ujar kepada detikFinance, Rabu (26/10/2011).

Pengumuman kondisi force majeure itu berarti Freeport bisa menghindari denda biasanya karena gagal memenuhi kewajiban sesuai kontrak.

Sekitar 8.000 dari total 23.000 pekerja Freeport telah melakukan pemogokan kerja selama lebih dari 1 bulan di tambang yang berlokasi di Papua. Mereka menuntut kenaikan gaji dan kondisi kerja yang lebih baik.

Produksi emas dan tembaga Freeport dari tambang Grasberg di Papua mengalami penurunan sepanjang kuartal III-2011. Produksi tembaga di Papua sepanjang kuartal III-2011 mencapai 233 juta pounds. Turun 34% dibanding periode yang sama di2010 yang mencapai 358 juta pounds.

(qom/hen) 

Lily Wahid: Freeport Diduga Bayar Aparat US$ 14 Juta

Febrina Ayu Scottiati – detikNews

Rabu, 26/10/2011 21:18 WIB 

Jakarta – Anggota Komisi I Lily Wahid mengaku mendapat informasi PT Freeport Indonesia merogeh kocek hingga US$ 14 juta untuk mengamankan aset-aset mereka di Timika. Uang itu diduga diberikan untuk jasa pengamanan kepada aparat polisi dan TNI.

“Saya dapat berita bahwa US$ 14 juta sudah dikucurkan PT Freeport untuk pengamanan aset kepada TNI/Polri,” kata Lily, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/10/2011).

Lily juga menduga uang tersebut ada kaitannya dengan penambahan personil Brimob yang diterjunkan untuk mengamankan kerusuhan di Papua. Ia pun mengibaratkan uang tersebut adalah uang centeng.

“Bisa jadi, ada kaitan antara uang centeng US$ 14 dengan penambahan personil Brimob yang dikirim kemarin,” ujarnya.

Sebelumnya, belasan orang yang mengatasnamakan warga yang bermukim di sekitar wilayah PT Freeport mendatangi Komisi I DPR. Mereka meminta agar kondisi di wilayah sekitar Freeport kembali kondusif.

Menurut perwakilan warga tersebut, pasca bentrokan dan penembakan yang terjadi di sekitar wilayah Freeport, jalan menuju Timika ke Tembagapura, juga sebaliknya jadi tidak aman. Bila ada warga dari Timika ingin menuju ke Tembagapura harus dikawal aparat.

(feb/ndr) 

TPN-OPM Pimpinan Panglima Jenderal Goliat Tabuni Menolak Hasil Konggres Papua III

Edudanews – Puncak Jaya West Papua Senin Pagi (24/10), Pimpinan Panglima Jenderal Goliat Tabuni menolak hasil konggres III yang mengatasnamakan TPN-OPM dan Rakyat Papua Membuat Negara Federasi, Pembentukan Presiden dan wakil Presiden serta beberapa kabinet Pemerintahan Transisi yang di bentuk pada (19/10) adalah tidak kredibel dan murni kontra perjuangan dan kemerdekaan Papua Barat berbentuk Republik dan berdaulat penuh.

Tentara Pembebasan Nasional dan Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) Papua Barat bertahan berjuang sejak 1961 sampai saat detik ini mau bentuk negara merdeka. Kami tidak mau Negara Federasi, maka elemen Perjuangan Papua merdeka manapun adakan kegiatan tanpa mengetahui Tentara Pembebasan Nasional dan Organisasi Papua merdeka (TPN-OPM) Papua Barat itu ilegal maka dari itu kami menolak hasil yang di dapat dari Konggres Papua III, di adakan oleh Dewan Adap Papua (DAP) dan Organ politik lainnya.

oleh Panglima Tinggi Tentara Pembebasan Nasional dan Organisasi Papua merdeka (TPN-OPM) Papua Barat Jendaeral Tuan Goliat Tabuni disampaikan oleh sekjen Tentara Pembebasan Nasional dan Organisasi Papua merdeka (TPN-OPM) Papua Barat Jenderal Anthon Tabuni Puncak jaya Papua Barat (salam Merdeka) source”sms”

Kontras dan Polda Bahas Papua

Written by Bel/Ant/Papos    
Wednesday, 26 October 2011 00:00

JAYAPURA [PAPOS]- Kontras Pusat dan Polda Papua membahas keamanan dan kekerasan di Papua.

Koordinator Kontras, Haris Azhar, usai pertemuan tertutup itu mengatakan, pertemuan tersebut intinya mencoba mendiskusikan beberapa hal terkait soal keamanan dan kekerasan di Papua.

“Pada dasarnya kita sampaikan informasi yang kita dapat dari Kontras Papua, sekaligus membagi beberapa hal tekait hak asasi manusia mengenai situasi di Papua itu seperti apa,” kata Haris Azhar di Jayapura, Selasa.

Dia menjelaskan, masukan pihaknya adalah penemuan beberapa korban masyarakat sipil baik dalam peristiwa Abepura maupun Timika.

“Dalam pertemuan ini kita saling mengkroscek satu sama lain. Kontras sudah dapat jawaban dari pihak Polda maupun Polresta. selain itu, kita juga mendapat informasi baru dari Kapolda dan Kapolresta.Saya pikir ke depan polisi sudah membuka diri untuk menerima masukan-masukan dari kontras terkait dengan informasi tersebut,” ujarnya.

Untuk peristiwa Abepura, kata Haris, pihaknya meminta jaminan akses hukum bagi mereka yang ditangkap dan ditahan di Mapolda Papua terkait kongres Papua III.

Dia mempertanyakan pertanggungjawaban polisi terhadap beberapa orang sipil dan peserta kongres yang menjadi korban kekerasan. Menyinggung soal data jumlah korban yang dimiliki Kontras, Haris mengatakan menurut laporan yang diterima korban ada tiga orang, sementara beberapa nama belum diketahui rimbanya, apakah melarikan diri atau dilarikan.[bel/ant]

Jemput Jenazah Disambut Isak Tangis

Written by Loy/Amros/Tom    
Wednesday, 26 October 2011 00:00

DITERBANGKAN :Jenazah AKP. Dominggus Oktovianus Awes ketika hendak diterbangkan menggunakan pesawat Trigana Air Service dari Mulia ke bandara Sentani, Selasa (25/10) kemarin.

SENTANI [PAPOS]- Jenasah Kapolsek Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, AKP. Dominggus Oktovianus Awes yang tewas ditembak orang tak dikenal [OTK], Senin [24/10], akhirnya diterbangkan dari Bandara Mulia menuju bandara Sentani dengan menggunakan penerbangan twin other, Trigana Air jenis PK-YRU, Selasa [25/10] sekitar pukul 11.30 Wit.

Jasat korban yang sudah dimasukan dalam peti mayat berbalutkan bendera merah putih. Sontak saja kedatangan jenazah almarhum disambut isak tangis keluarga yang sudah sekitar satu jam menunggu. Rasa sedih sedih nampak pada setiap orang yang menunggu di pintu kedatangan gudang Trigana Air Service.

Tidak hanya pihak keluarga, aparat kepolisan Polres Jayapura yang dipimpin langsung Kapolres Jayapura, AKBP.Mathius D Fakhiri, SIK, turut aktif dalam penjemputan jenazah almarhum.

Pantauan koran ini di Bandara Sentani, Setelah jenazah diturunkan dari pesawat, tangis dan air matapun tak dapat terhindarkan dari keluarga maupun rekan kenalan almarhum.

“Tidak kami duga secepat itu, kau pergi untuk selamanya,” begitulah suara tangisan yang keluar dari bibir pihak keluarga mengekspresikan kesedihan mereka saat melihat jenazah almarhum hendak diturunkan dari pesawat ke mobil ambulance.

Jenazah almarhum langsung dimasukan kedalam mobil ambulance yang diiring-iringi mobil patroli polres jayapura, langsung diantar menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Youwari untuk kepentingan otopsi.

Pihak keluarga, yang tadinya memadati bandara sentani menjemput kedatangan jenazah almarhum, sebagiannya ikut dalam iring-iringan menuju RSUD Youwari untuk terlebih dahulu otopsi jenazah. Sedangkan sebagian keluarga lainnya ada yang langsung menunggu di rumah duka kompleks asrama polri samping polsek Sentani Kota.

Naik Pangkat

Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo memberi kenaikan pangkat Anumerta pada Kapolsek Mulia, Ajun Komisaris Dominggus Otto Awes, yang gugur saat bertugas melakukan pengamanan di Bandar Udara Mulia, Puncak Jaya, Senin [24/10] siang.

“Mabes Polri menaikkan pangkat almarhum dari AKP menjadi Kompol Anumerta, dia gugur dalam melaksanakan tugas. Skepnya tertulis sejak tanggal 24 Oktober 2011 dan baru kami terima,” ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) Wachyono saat diitemui wartawan di Mapolda Papua, Selasa [25/10] kemarin.

Kabid Humas mengakui, evakuasi jenazah Kapolsek Mulia sempat tertunda satu hari karena cuaca buruk, dan hari ini [Selasa,red] baru bisa diterbangkan ke Jayapura untuk di makamkan di Taman Makam Bahagia [TMP] Waena.  ”Jenazah almarhum Dominggus Otto Awes akan dimakamkan di Taman Makam Bahagia [TMP] Waena, hari ini, Rabu [26/10]. Rencana pemakaman almarhum akan dihadiri, Gubernur Papua, Kapolda dan Pangam XVII/Cenderawasih serta muspida,” ungkapnya.

Ketika disinggung pelaku penembakan. Wachyono mengatakan, aparat masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku. dimana ciri-ciri pelaku, baik postur atau tinggi badan sudah diketahui aparat. ”Aparat kami masih melakukan pengejaran dan pencarian lebih lanjut di Puncak Jaya,” imbuhnya.

Untuk saksi sendiri, menurut dia, penyidik Polres Puncak Jaya sudah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi yang melihat kejadiaan. Namun jumlah saksi yang diperiksa, pihaknya belum mengetahi secara pasti. ”Saya tidak tahu jumlahnya, tapi yang jelas saksi sudah diperiksa, bahkan sudah dilakukan olah TKP,” tukasnya.

Disinggung soal lemahnya pengamanan di Bandara Mulia. Kabid Humas menyebutkan bahwa jumlah bandara di Papua cuku banyak, belum termasuk lapangan terbang perintis yang minim pengamanan. Untuk itu, pihaknya akan mengevaluasi pengamanan di setiap Bandara yang ada di Papua.

Hal itu penting, mengingat para kelompok sipil bersenjata ini kerap menyerang anggota yang dalam posisi sendirian, termasuk pos-pos terpencil. ”Bandara di Papua banyak, belum lagi lapangan perintis, yang ada hanya pos polisi, tidak ada pengamanan lebih. Demikian juga patroli hanya dilakukan dua orang saja,” katanya.

Dia juga mengakui Polda Papua sering melakukan himbauan kepada anggota agar saat melaksanakan tugas tidak seorang diri. ”Sudah sering kami himbau anggota, terutama di pos-pos terpencil, apalagi medan dan jarak pos satu dengan pos lainnya jauh,” tandasnya.

Bahkan kata Kabid Humas, Polda Papua juga berencana menambah jumlah personel sebanyak 260, sebelum tangga 30 Oktober untuk menjaga kamtibmas di Paniai dan Puncak Jaya. ”Rencana akan ada tambahan 260 personel untuk melakukan pengamanan di Paniai dan Puncak Jaya, diluar anggota yang sudah ada di pos-pos di daerah baik Polri atau TNI yang sudah melekat di sana,” katanya.

Perlu Dibuktikan

Sementara itu ditempat terpisah Ketua Komis A DPR Papua Ruben Magay,S.IP mengatakan tewasnya Kapolsek Mulia Kabupaten Puncak Jaya Papua, Ajun Komisaris Polisi Dominggus Oktavianus Awes yang disinyalir dilakukan oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka [OPM] perlu dibuktikan agar tidak menimbulkan polemik yang berkembang pada masyarakat.

Aneh memang kata dia, setiap kali terjadi kekerasan dan kekacauan di tanah Papua, aparat selalu menuding OPM pelakunya, tanpa disertai pembuktian yang jelas dan kuat. Padahal pelakunya belum tentu OPM. Untuk itu, aparat diminta agar bekerja profesional tanpa memunculkan opini. Kita harus menggunakan azas praduga tak bersalah. kecuali aparat sudah melakukan investigasi dan mengetahui pelakunya barulah bisa mengarahkan pelaku untuk diproses Hukum.

Bila memang itu dilakukan OPM maka buktikan. Jangan asal bicara saja. siapa saja pun dia jika memang bersalah harus diproses hukum,’’ tegasnya.[loy/amros/tom]

Jemput Jenazah Disambut Isak Tangis

Written by Loy/Amros/Tom    
Wednesday, 26 October 2011 00:00

DITERBANGKAN :Jenazah AKP. Dominggus Oktovianus Awes ketika hendak diterbangkan menggunakan pesawat Trigana Air Service dari Mulia ke bandara Sentani, Selasa (25/10) kemarin.

SENTANI [PAPOS]- Jenasah Kapolsek Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, AKP. Dominggus Oktovianus Awes yang tewas ditembak orang tak dikenal [OTK], Senin [24/10], akhirnya diterbangkan dari Bandara Mulia menuju bandara Sentani dengan menggunakan penerbangan twin other, Trigana Air jenis PK-YRU, Selasa [25/10] sekitar pukul 11.30 Wit.

Jasat korban yang sudah dimasukan dalam peti mayat berbalutkan bendera merah putih. Sontak saja kedatangan jenazah almarhum disambut isak tangis keluarga yang sudah sekitar satu jam menunggu. Rasa sedih sedih nampak pada setiap orang yang menunggu di pintu kedatangan gudang Trigana Air Service.

Tidak hanya pihak keluarga, aparat kepolisan Polres Jayapura yang dipimpin langsung Kapolres Jayapura, AKBP.Mathius D Fakhiri, SIK, turut aktif dalam penjemputan jenazah almarhum.

Pantauan koran ini di Bandara Sentani, Setelah jenazah diturunkan dari pesawat, tangis dan air matapun tak dapat terhindarkan dari keluarga maupun rekan kenalan almarhum.

“Tidak kami duga secepat itu, kau pergi untuk selamanya,” begitulah suara tangisan yang keluar dari bibir pihak keluarga mengekspresikan kesedihan mereka saat melihat jenazah almarhum hendak diturunkan dari pesawat ke mobil ambulance.

Jenazah almarhum langsung dimasukan kedalam mobil ambulance yang diiring-iringi mobil patroli polres jayapura, langsung diantar menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Youwari untuk kepentingan otopsi.

Pihak keluarga, yang tadinya memadati bandara sentani menjemput kedatangan jenazah almarhum, sebagiannya ikut dalam iring-iringan menuju RSUD Youwari untuk terlebih dahulu otopsi jenazah. Sedangkan sebagian keluarga lainnya ada yang langsung menunggu di rumah duka kompleks asrama polri samping polsek Sentani Kota.

Naik Pangkat

Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo memberi kenaikan pangkat Anumerta pada Kapolsek Mulia, Ajun Komisaris Dominggus Otto Awes, yang gugur saat bertugas melakukan pengamanan di Bandar Udara Mulia, Puncak Jaya, Senin [24/10] siang.

“Mabes Polri menaikkan pangkat almarhum dari AKP menjadi Kompol Anumerta, dia gugur dalam melaksanakan tugas. Skepnya tertulis sejak tanggal 24 Oktober 2011 dan baru kami terima,” ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) Wachyono saat diitemui wartawan di Mapolda Papua, Selasa [25/10] kemarin.

Kabid Humas mengakui, evakuasi jenazah Kapolsek Mulia sempat tertunda satu hari karena cuaca buruk, dan hari ini [Selasa,red] baru bisa diterbangkan ke Jayapura untuk di makamkan di Taman Makam Bahagia [TMP] Waena.  ”Jenazah almarhum Dominggus Otto Awes akan dimakamkan di Taman Makam Bahagia [TMP] Waena, hari ini, Rabu [26/10]. Rencana pemakaman almarhum akan dihadiri, Gubernur Papua, Kapolda dan Pangam XVII/Cenderawasih serta muspida,” ungkapnya.

Ketika disinggung pelaku penembakan. Wachyono mengatakan, aparat masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku. dimana ciri-ciri pelaku, baik postur atau tinggi badan sudah diketahui aparat. ”Aparat kami masih melakukan pengejaran dan pencarian lebih lanjut di Puncak Jaya,” imbuhnya.

Untuk saksi sendiri, menurut dia, penyidik Polres Puncak Jaya sudah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi yang melihat kejadiaan. Namun jumlah saksi yang diperiksa, pihaknya belum mengetahi secara pasti. ”Saya tidak tahu jumlahnya, tapi yang jelas saksi sudah diperiksa, bahkan sudah dilakukan olah TKP,” tukasnya.

Disinggung soal lemahnya pengamanan di Bandara Mulia. Kabid Humas menyebutkan bahwa jumlah bandara di Papua cuku banyak, belum termasuk lapangan terbang perintis yang minim pengamanan. Untuk itu, pihaknya akan mengevaluasi pengamanan di setiap Bandara yang ada di Papua.

Hal itu penting, mengingat para kelompok sipil bersenjata ini kerap menyerang anggota yang dalam posisi sendirian, termasuk pos-pos terpencil. ”Bandara di Papua banyak, belum lagi lapangan perintis, yang ada hanya pos polisi, tidak ada pengamanan lebih. Demikian juga patroli hanya dilakukan dua orang saja,” katanya.

Dia juga mengakui Polda Papua sering melakukan himbauan kepada anggota agar saat melaksanakan tugas tidak seorang diri. ”Sudah sering kami himbau anggota, terutama di pos-pos terpencil, apalagi medan dan jarak pos satu dengan pos lainnya jauh,” tandasnya.

Bahkan kata Kabid Humas, Polda Papua juga berencana menambah jumlah personel sebanyak 260, sebelum tangga 30 Oktober untuk menjaga kamtibmas di Paniai dan Puncak Jaya. ”Rencana akan ada tambahan 260 personel untuk melakukan pengamanan di Paniai dan Puncak Jaya, diluar anggota yang sudah ada di pos-pos di daerah baik Polri atau TNI yang sudah melekat di sana,” katanya.

Perlu Dibuktikan

Sementara itu ditempat terpisah Ketua Komis A DPR Papua Ruben Magay,S.IP mengatakan tewasnya Kapolsek Mulia Kabupaten Puncak Jaya Papua, Ajun Komisaris Polisi Dominggus Oktavianus Awes yang disinyalir dilakukan oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka [OPM] perlu dibuktikan agar tidak menimbulkan polemik yang berkembang pada masyarakat.

Aneh memang kata dia, setiap kali terjadi kekerasan dan kekacauan di tanah Papua, aparat selalu menuding OPM pelakunya, tanpa disertai pembuktian yang jelas dan kuat. Padahal pelakunya belum tentu OPM. Untuk itu, aparat diminta agar bekerja profesional tanpa memunculkan opini. Kita harus menggunakan azas praduga tak bersalah. kecuali aparat sudah melakukan investigasi dan mengetahui pelakunya barulah bisa mengarahkan pelaku untuk diproses Hukum.

Bila memang itu dilakukan OPM maka buktikan. Jangan asal bicara saja. siapa saja pun dia jika memang bersalah harus diproses hukum,’’ tegasnya.[loy/amros/tom]

DPRD Biak Dukung Pembentukan Papua Tengah

Written by Bahagia/Papos    
Wednesday, 26 October 2011 00:00

BIAK [PAPOS] – DPRD kabupaten Biak Numfor mendukung rencana pembentukan provinsi Papua Tengah, bila tujuannya untuk mempercepat pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Papua.

Dukungan itu disamaikan Wakil ketua I DPRD Biak Numfor, Sefnath Rumbewas menanggapi rencana pembentukan provinsi Papua Tengah, kepada Papua Pos di Biak Selasa mengatakan, dirinya mendukung perjuangan pembentukan Papua Tengah tersebut. Apa lagi kata politisi Partai Demokrat ini, Papua Tengah kini telah diperjuangkan bersama, dan tidak lagi terkotak-kotakseperti perjuangan sebelumnya.

Untuk itu Wakil ketua I DPRD Biak Numfor, Sefnath Rumbewas menyarankan, agar tim perjuangan Papua Tengah itu segera membentuk tim peneliti yang melibatkan akademisi. Hal tersebut kata Sefnath, penting dilakukan agar dibuatkan suatu kajian atau study kelayakan untuk diajukan sebagai eksponen local, utamanya bagi pemerintah daerah di wilayahPapua tengah.

“Mereka kan butuh dukungan biaya dan sebagainya, jadi tanpa eksponen yang lengkap, bagaimana pemerintah daerah dapat mendukung. Jadi kalau sekarang perjuangan ini sudah dilakukan secara bersama-sama. Saya sarankan buatlah kajian yang lengkap, agar bisa

pemerintah dan DPRD se-wilayah Papua Tengah ini punya dasar untuk memberi dukungan,” ujarnya.

Pada 11 Oktober lalu di Jakarta, para pejuang Papua Tengah mendatangani kesepakatan bersama untuk memperjuangkan pembentukan provinsi Papua Tengah. Tokoh perjuangan Papua tengah dari Mimika,

Andreas Anggaibak, Philips Wona dari kawasan Teluk Cenderawasih, Drs.AP. Youw dari Nabire, dan Laksamana TNI [Purn] D.H Wabiser dari kepulauan Biak, sepakat untuk kembali mengaktifkan UU nomor 45 tahun 1999 tentang pembentukan provinsi Irian Jaya tengah [Papua tengah].

Sebelumnya diantara sejumlah tokoh tersebut, masih terjadi tarik menarik terkait calon ibu kota Papua tengah yakni di Biak, Nabire dan

Mimika. Sementara itu, dalam keterangan persnya, koordinator para bupati dan DPRD wilayah Papua Tengah pada Tim Komunike [Pejuang PapuaTengah], Drs. AP. Youw berharap, adanya dukungan dari masyarakat Papua, khususnya dukungan dari para Bupati dan DPRD di wilayah PapuaTengah dalam perjuangan tersebut. [gia]

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny