Keanggotaan ULMWP di MSG Terancam, TRWP Menuduh ini Kesalahan Pemimpin ULMWP

Dari Sekretariat-Jenderal Tentara Revolusi West Papua (TRWP) Lt. Gen. TRWP Amunggut Tabi menyatakan pernyataan Direktor Jenderal MSG di Fiji baru-baru ini bahwa isu politik West Papua tidak akan dibahas lagi di MSG menunjukkan kekalahan telah ULMWP dan bangsa Papua atas hasil maneuver politik NKRI yang telah gencar dilakukan lewat laki-laki, perempuan dan duit, sampai berpengaruh ke dalam negara-negara pendukung seperti Solomon Islands dan Vanuatu.

TRWP menilai kemenangan NKRI ini mengancam keberhasilan mendasar dan berarti yang telah diraih oleh ULMWP selama kepemimpinan pertama sejak ULMWP dibentuk beberapa tahun lalu merupakan sebuah tamparan berat. Kata Tabi,

Di satu sisi memang kita harus akui secara terus-terang bahwa kepemimpinan pertama dari ULMWP sejak pembentukannya patut disyukuri dan dijadikan sebagai teladan yang harus diikuti oleh semua pemimpin ULMWP hari ini.

Dukungan dari Solomon Islands, Vanuatu dan bahkan Fiji dan PNG lebih kuat, pembentukan koalisi Pasifik sudah ada dengan begitu kuat menyuarakan aspirasi bangsa Papua di forum-forum internasional. Tetapi setelah kepengurusan berganti menurut Konstitusi ULMWP, maka gaung Papua Merdeka menjadi padam, terpecah-belah dan banyak saling menyerang terjadi di dalam tubuh para aktivis, tokoh dan organisasi perjuangan Papua Merdeka. Ini jelas-jelas merupakan permasalahan yang harus diselesaikan pemimpin ULMWP.

Amunggut Tabis elanjutnya mengatakan bahwa kalau kondisi ini berlanjut, maka bukan hal yang tidak mungkin perjuangan bangsa Papua untuk merdeka dan berdaulat di luar NKRI akan kembali ke titik Nol, dan orang Papua harus mulai berjuang lagi dari titik Nol.

“Inikan konyol!”, katanya. Lanjutnya,

“Kesalahan-kesalahan ini sudah berulang-kali dilakukan oleh generasi pendahulu, dan kesalahan itu sebenarnya tidak usah diulangi sama-sekali oleh generasi sekarang. Kalau ia terulang, itu menunjukkan ada yang salah fatal dalam diri kita sebagai pemimpin, yang mau tidak mau harus diperbaiki

Menurut pendapat TRWP, hal yang harus dilakuan ialah membangun komunikasi terbuka dengan semua pihak bangsa Papua, menghindari saling menunjuk jari sebagai yang benar dan yang lain sebagai yang salah, menghindari saling menuduh dan mencurigai, menghentikan saling menceritakan dan menggosipkan, dan belajar saling menerima, saling memahami, saling menghormati dan menghargai, saling mendukung dan bersalut-sapa.

Sesuatu yang sulit dibayangkan kalau kesebelasan sepak bola Persipura masuk lapangan dan setelah berada di lapangan mereka mulai saling menceritakan, saling mencurigai, saling menggosip dan bahkan saling menyerang dengan kata-kata kasar, tidak sopan, dan tidak manusiawi. FATAL!

Yang harus dilakukan pemimpin ULMWP saat ini ialah saling membuka diri, membentuk Tim Komunikasi antar Biro dan Pengurus di dalam ULMWP dan melakukan pertemuan-pertemuan operasional dan teknis secara rutin, baik secara Online, lewat media sosial, maupun secara face-to-face.

Hasil yang diharapkan dari diskusi terbuka seperti ini ialah saling menerima, saling mengakui, saling menghormati demi kebersamaan dalam menghadapi lawan politik: NKRI.

Hasilnya ialah semua kekuatan bangsa Papua akan menyatu, dukungan dari kawasan Melanesia yang susak saat ini akan dibenahi dan diperkuat kembali. Paling minimal keterlibatan Aktiv dari tokoh Papua Merdeka, Oktovianus Motte untuk kampanye Papua Merdeka kawasan Melanesia akan berdampak positif dan sungguh berarti bagi perjuangan kita untuk merdeka dan berdaulat di luar NKRI.

PS Koanapo says issue of West Papua now gone beyond the region

 

  • By Jonas Cullwick
PS Koanapo says issue of West Papua now gone beyond the region
PS Koanapo says issue of West Papua now gone beyond the region

The issue of West Papua self-determination and violations of human rights has now progressed beyond the South Pacific islands region, says the Parliamentary Secretary (PS) for the Prime Minister’s Office, Johnny Koanapo. He said the issue that had Vanuatu as its lone advocator for many years and then Solomon Islands during the last two years now has the support of six other countries of the region from Micronesia and Polynesia.

PS Koanapo met the media with the intention of the government is to brief the people on how much work government has undertaken on the issue of West Papua.

“I wish to say that the government has done a lot of work on the issue of West Papua since the Charlot Salwai government came in in 2016 and the issue remains high on government’s international political agenda.

“There are a lot of arguments that government has not done enough on the issue of West Papua, but when we look at the events that government through the Prime Minister and the Council of Ministers have endorsed Vanuatu’s participation, there were many.”

In March this year, the Council of Ministers under the leadership of Prime Minister Salwai, appointed Honorable Ronald Warsal (Minister of Justice and Community Services) to attend the Human Rights Council meeting in Geneva and Koanapo went with him when Vanuatu delivered a statement on behalf of the Pacific Islands Coalition for West Papua.

“May be, many people who have been dealing with the issue of West Papua, especially our former leaders like Barak Sope, Donald Kalpokas, the late Edward Natapei, Joe Natuman former Prime Minister now Deputy Prime Minister, have been walking with the people of West Papua for a very long time.

“And when we look at the political backup the people of Vanuatu give to the colonized people of West Papua, there’s only one country in the world that has been standing behind people who living under colonization by Indonesia. That country is Vanuatu. Vanuatu is the only country in the Pacific that is standing behind the people of West Papua.

“And then at the Melanesian Spearhead Group (MSG) Leaders’ summit held in 2015 in Honiara, at that time Solomon Islands government through Prime Minister Manasseh Sogovareh came on board. And then as PM Sogovareh said to me when I represented government at that time when I was Director General of Foreign and also represented the country at the minister’s level that the position or stand the government of Solomon Islands is taking is inspired by the position and stand the Vanuatu government has taken since day one on the since to West Papua to this day.

“So, instead of just one I the Pacific, there was two. That’s the Vanuatu government and the Solomon Islands government. Then the Solomon Islands government spearheaded with the support of Vanuatu on the margins of the meeting of June July last year when PM Charlot Salwai attended the establishment of what we call the Pacific Islands of West Papua (PIWP) and then other countries of Micronesia and Polynesia have come on board. Altogether eight countries – Vanuatu, Solomon Islands, Nauru, Marshall Islands, Palau, Tuvalu, Kiribati and Tonga. So, Vanuatu, as the lone fighter, now has seven countries behind it for backup on the issue of West Papua.

“As a result in March this year, government through the Council of Ministers appropriated for Vanuatu’s participation at the Humans Rights Council meeting this year in Geneva. So, Minister Warsal and I went to the meeting where Honorable Warsal delivered a very strong statement. It was a political statement on behalf of BIGWIP members in the Pacific.

“I also wish to mention that when we have this coalition, Vanuatu’s strategy is for us to try shift advocacy for the issue of West Papua beyond the region. When we were introducing the issue at MSG, Vanuatu was the only country behind it.

“I am briefing us today as a former director general of the Ministry of Foreign Affairs, who has been behind much of the speeches and writings, to say that I’ve never seen before a government that has taken the issue of WP so strongly as the government of Charlot Salwai and Joe Natuman is making today.

“There are reasons for this. In the past governments tended to take different kinds of approaches. Some prefer for us to take a stronger diplomatic approach at the international level to lobby. Some prefer we have more dialogue with the colonizing power, Indonesia since 1962 to today that they continue to colonize the people of West Papua.

“So, the government of Charlot Salwai also appointed a special envoy. This special envoy was our Ambassador at the European Union, Ambassador Roy Micky Joy, to help lobby at the European Union jurisdiction and he also helped to lobby at the African Union. And he also helped to lobby at the Caribbean. We have divided this task and it is the first time.

“During my 16 years in office at the Foreign Affairs, I see that this government is very serious about the issue of West Papua.”

“Maybe the Opposition has some views that government may not be advancing, but I have not seen any opposition in the past with the credentials to advance this issue, except this government today has moved this issue on more than ever. I say this with a lot of confidence that the issue of West Papua today has already moved beyond the region,” the PS for the PM’s Office said.

“This government when it came in, it took this issue from being a bilateral issue just of Vanuatu, but a regional issue, which we have moved beyond the level of MSG in which we have differences of opinion on how we deal with the issue of West Papua because the diplomatic of Indonesia is strong. This made Vanuatu the only country in MSG to push the issue ahead. But the issue has now moved beyond the jurisdiction of MSG,” he said.

“It has moved to the level of the Forum and has become a regional issue. And if you see how the issue was listed in the South Pacific Islands Forum meeting last week to deal with out of 14 issues, one of them is West Papua.”

“I wish to take this opportunity to commend the Secretary General of the Pacific Islands Forum, Dame Meg Taylor, a very proactive SG who understands the situation of the people of West Papua who are colonized and continued to face human rights abuses on the own land. I note too that when we were at the Pacific Islands Forum last year, PM CS made a lot of bi-laterals with many countries and he talked about the issue of West Papua, for it to come before the Forum Leaders retreat. And at the retreat, PM Salwai took the lead on the issue of West Papua. Because the PM of Solomon Islands was not present so PM Salwai had to do the lobby and he continued to put the issue on the table and he continued to advocate for the issue to come before the United Nations.

“On the level of the work that the government has done, PM Salwai also appointed me as his Special Emissary for me to undertake shuttle diplomacy in the region, starting last month when the Pacific Islands Foreign Ministers meeting was held in Suva, I went there special emissary of the PM to present a case at bi-laterals of member countries to talk about the importance of how PM Salwai and PM Sogovareh see the issue of West Papua.

“I also wish to mention to the people of Vanuatu to understand that when the government of today says that we are shifting the issue of West Papua beyond MSG and beyond the region, it simply means also the level of work government is making outside of the region. In around June this year, at the ACP Ministerial meeting in Brussels, the government assigned me to attend this ministerial meeting with Minister Ralph Regenvanu, and because Minister Regenvanu was engaged with other assignments, I undertook this assignment on behalf of Vanuatu where I tabled the issue of West Papua for the first time in history as an agenda at the ACP Ministerial in Brussels, Belgium.

“I also wish to place on record for the people of Vanuatu to know that government also assigned Ambassador Roy Mickey Joy to do this work in his capacity at the Committee of Ambassadors at the process of ACP to table the issue of West Papua at the Committee of Ambassadors level. The Committee of Ambassadors is comprised of Ambassadors and senior officials of countries based in Brussels to continue to discuss the agenda and formulate resolutions to come to the Ministerial level and at the Ministerial they took up this agenda before it reached the leaders’ level.

“It was the first time too I lobbied with the Secretary General of ACP to continue to maintain this agenda item at the ACP.

“I believe strongly that the government will continue to participate at upcoming ministerial meetings and this issue continues to feature prominently in the agenda of ACP.

“At the same too, with the help provided by the Vanuatu government mission in Brussels, we see a website totally dedicated to ACP and European members to access information on what is happening in West Papua. We all know that today West Papua is a flashpoint, an area of conflict between Melanesia and the Asians, but not country is willing to take this up. We all know too that West Papuans today face a reality of genocide including cultural genocide where thousands of Indonesians everyday flock into West Papua with their immigration policy, which means that the Melanesians will find themselves already a minority in their own land. This is the reason why the people at the time of the New Hebrides were afraid of at that time pushed to have our independence because our land was alienated so much that we were afraid of losing it and our identify. This is an opportunity that the West Papuans have today.

“West Papuans continue to be exposed to human rights abuse and it is sad to see that not every country want to take up this issue.”

“I wish to assure the people of Vanuatu that PM Salwai is making everything necessary and we work under him, the PM assigns us with the mandate to make sure that the voice of the voiceless is heard around the world. And today for the first time, in the last two months the lobby pushed by Vanuatu has reached the Caribbean and today I also wish to say that seven countries in the Caribbean out of 15 are behind the issue of West Papua today. And we continue to lobby with the African Union and I believe that in the coming months the government of Vanuatu will continue to push in the African Union so the countries of Africa are more aware of the issue of West Papua.

“Interestingly, when I conducted a bilateral in June with the government of Belgium, they said they were never aware of West Papua. The issue of West Papua is an issue hidden under a carpet because the press was never allowed to go freely to see the people and to hear from them what happened and their views on the destiny they see for themselves. It is a sad reality that is there.

“The issue now has progress to the international stage and I say this with a lot of confidence that the issue has never taken so much international attention as it is today simple because the government is serious about, there is no second opinion on it as to whether the government will take up the issue or not.

“The government has taken on this role because it is a global country and we are global citizens with obligations to defend such things as human rights, which are parts of the rights of a human being.

In addition to all these, the Prime Ministers of Vanuatu and Solomon Islands are organizing a side event at the UN General Assembly in New York next week to continue to lobby for West Papua, so that when leaders make their political statements at the GA these will reflect these efforts.

Jonas Cullwick, a former General Manager of VBTC is now a Senior Journalist with the Daily Post. Contact: jonas@dailypost.vu. Cell # 678 5460922

 

Tim Kerja ULMWP: ULMWP dan Indonesia Setara di MSG

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) sebagai  wadah representatif rakyat Melanesia yang mendiami provinsi Papua dan Papua Barat dan Indonesia setara dalam forum Melanesian Sperhead Group (MSG).

Hal ini disampaikan Markus Haluk, salah satu tim kerja ULMWP dalam negeri kepada suarapapua.com tidak lama ini. Menurut Haluk, sekalipun ULMWP belum menjadi anggota penuh MSG namun sesuai pertemuan para menteri luar negeri MSG di Lautoka Fiji pada Mei 2016 memustukan beberapa hal.

Kata Haluk, pada pertemuan MSG tahun 2016 lalu, para pemimpin negara di dalam MSG teah memutus hal-hal yang meyebutkan ULMWP dan Indonesia setara di forum kawan Melanesia itu.

“Jadi diputuskan bahwa pertama partisipasi resmi ULMWP dan Indonesia di seluruh rapat MSG. Kedua, ULMWP duduk setara baik ketika mengambil foto bersama Meneteri luar negeri MSG dengan mengenakan baju seragam yang sama. Ketiga, Indonesia dan ULMWP duduk berhadap-hadapan di dalam setiap ruangan pertemuan ikut terlibat dalam semua agenda umum,” ungkap Haluk menjelaskan.

Lanjut dia, “ Ke empat, ULMWP maupun Indonesia juga diberikan kesempatan yang sama uuntuk membacakan/menyampaikan pidato pada pembukaan dan penutupan pertemuan di tingkat para pejabat senior (SOM), para Menlu (FMM) dan para Leaders. Kelima, alam kegiatan resmi akomodasi Sekjen ULMWP menjadi tanggungjawab Sekretiat MSG,” paparnya.

Dikatakan, tetapi pada poin ke enam disebutkan bahwa menyangkut keanggotaan penuh untuk ULMWP maupun Indonesia diminta untuk tinggalkan ruangan dan hanya anggota tetap MSG yang mengambil keputusan.

“Keenam, hanya ketika menyangkut keanggotaan baik ULMWP maupun Indonesia diminta meninggalkan ruangan dan hanya limna anggota penuh MSG mengambil keputusan secara tertutup,” katanya.

Menurut pandangan Haluk, inilah suatu kemajuan besar yang rakyat Melanesia di West Papua capai melalui ULMWP dalam dua tahun ini setelah perjuangan panjang 55 tahun memperjuangkan hak penentuan nasib sendir.

“Dari Nakamal, Honai, Yamewa, Gamei, Kunume, Nduni yang sama dengan Rumah Melanesia kita melangkah ke berbagai kawasan lain dunia. Maka saat ini kita harus terus berdoaagar pengorbanan kita membawa harapan yang mulia semua bagi penyelamatan manusia dan alam yang sisa ini bagi anak cucu kita,” katanya.

Sementara itu, hal yang sama disampaikan Yan Christian Warinussy, direktur eksekutif LP3BH Manokwari, melalui surat elektroniknya kepada media ini mengatakan, sejak diterimanya ULMWP sebagai anggota peninjau (observer member) di dalam MSG telah memiliki posisi hukum yang kuat saat ini.

Posisi hukum yang kuat tersebut adalah bahwa ULMWP sudah menjadi salah satu anggota atau sebagai bagian dari MSG itu sendiri, sehingga pada setiap event pertemuan atau rapat-rapat organisasi tersebut, ULMWP dan juga Republik Indonesia yang diterima sebagai anggota asosiasi MSG sama akan ikut serta hadir dan duduk serta ikut terlibat dalam setiap proses pembuatan keputusan-keputusan dari MSG.

Posisi hukum ULMWP sebagai wadah yang telah memperoleh dukungan politik dari mayoritas masyarakat asli Papua melalui tuntutan memperoleh Hak Menentukan Nasib Sendiri, sesungguhnya jelas dan faktual.

“Maka seharusnya saat ini Pemerintah Indonesia dapat mempertimbangkan untuk melakukan dialog secara terbatas dengan ULMWP, demi masa depan seluruh rakyat dan tanah Papua sebagai bagian dari masyarakat adat/pribumi yang memiliki hak yang dilindungi dalam Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal tentang HAM) serta Deklarasi PBB mengenai Masyarakat Adat/Pribumi Tahun 2006,” katanya.

 

Pewarta: Arnold Belau

MSG chair postpones PNG leg of Melanesia tour

The chairperson of the Melanesian Spearhead Group, Solomon Islands Prime Minister Manasseh Sogavare has postponed the PNG leg of his Melanesia tour.

Manasseh Sogavare
Manasseh Sogavare Photo: RNZI

 

The tour, his second as chairperson, is to discuss the restructuring of the MSG Secretariat in Vanuatu and the revision of MSG Membership Guidelines with other MSG leaders.

Earlier this week Mr Sogavare met with his Vanuatu counterpart, Charlot Salwai in Port Vila and also with FLNKS spokesperson Victor Tutugoro.

Today he is to meet with the Fiji’s Prime Minister Frank Bainimarama in Suva.

The Fiji Prime Minister Frank Bainimarama at Government House in Auckland
Fiji’s Prime Minister, Frank Bainimarama. Photo: RNZ/ALEX PERROTTET

Following that meeting Mr Sogavare was supposed to fly to Port Moresby to meet with PNG’s prime minister Peter O’Neill.

But this leg of the tour has now been postponed until February.

Mr Sogavare, who flys back to Solomon Islands on Sunday, said he would not be releasing a statement on the outcome of the tour until he completes the PNG leg in February.

The MSG secretariat in Port Vila has been plaqued by issues with funding and its overhaul was recommended by an independent review commissioned because of persistent funding problems and the review of membership guidelines has arisen over the issue of West Papuan membership to the Melanesian Spearhead group.

Solomon Islands and Vanuatu favour West Papuan Membership while Fiji and Papua New Guinea support Indonesia’s view that it should represent West Papuan interests in the group.

Source: http://www.radionz.co.nz/

Nafuki kecewa MSG tak segera pastikan keanggotaan ULMWP

Jayapura, Jubi – Pastor Allan Nafuki, Ketua Organisasi Free West Papua Vanuatu, mengungkapkan kekecewaanya kepada para pemimpin Melanesian Spearhead Group (MSG) karena todak memenuhi janji mereka mendorong keanggotaan penuh ULMWP.

Namun demikian, seperti dikatakannya pada Daily Vanuatu, Sabtu (31/12/2016), dirinya tetap mengapresiasi sikap Perdana Menteri Vanuatu, Charlot Salwai yang tetap teguh tak berubah menegaskan dukungannya  terhadap West Papua.

Pimpinan Pertemuan Tingkat Menteri Urusan Luar Negeri di Port Vila minggu lalu, Milner Tozaka mengatakan pertemuan yang baru lalu itu memang tidak membahas baik keanggotaan Asosiate Indonesia maupun keanggotaan Peninjau ULMWP di MSG.

Pertemuan itu mengajukan pedoman baru atau rekomendasi untuk menetapkan syarat pemohon menjadi anggota MSG.
Pedoman baru ini akan dipertimbangkan oleh pertemua para Perdana Menteri MSG yang kemungkinan besar akan diselenggarakan Januari ini di Papua Nugini.

Namun Nafuki berpendapat seharusnya pertemuan itu tetap dilakukan di Vanuatu karena menurut dia para pemimpin tersebut telah membuat janji yang tampaknya belum berhasil mereka penuhi.

“Para pemimpin dan rakyat West Papua telah selesai menggelar karpet bagi para pemimpin MSG untuk dapat duduk diatasnya dan mendukung aplikasi kenggotaan penuh ULMWP di MSG,” ujar Nafuki.

Terpisah, ULMWP melalui Juru Bicara, Benny Wenda, sebelumnya dalam pesan natal dan tahun barunya sudah menegaskan bahwa perjuangan pengakuan hak penentuan nasib sendiri Papua sangat bergantung pada dukungan berbagai pihak di tingkat internasional untuk menggelar referendum ulang dibawah pengawasan internasional.

Strategi ULMWP, dan juga tampak dari upaya-upaya Koalisi Pasifik untuk West Papua (PCWP) sudah semakin mengarah ke wilayah Mikronesia, Polinesia dan bahkan Afrika. Keanggotaan penuh MSG, bagi ULMWP, adalah salah satu jalan diantara jalan lainnya, guna mendukung kedaulatan politik West Papua.

Tekanan suara untuk mendesak dunia internasional serta  bersikap atas persoalan West Papua di Majelis Umum PBB, Dewan HAM PBB, Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial badan PBB adalah jalan lainnya.(*)

Komite MSG Bertemu Bahas Keanggotaan ULMWP

PORT VILA, SATUHARAPAN.COM – Sebuah komite Melanesian Spearhead Group (MSG) mengadakan pertemuan di Port Vila, Vanuatu, untuk membahas pedoman mengenai keanggotaan di organisasi regional itu.

Sub komite Hukum dan Isu Institusional merupakan komite yang ditugaskan oleh para pemimpin MSG pada KTT Juli lalu, untuk menjelaskan panduan dan kriteria bagi tingkatan keanggotaan seperti peninjau (observer), associate dan anggota penuh.

MSG adalah organisasi negara-negara di Pasifik Selatan, terdiri dari Solomon Islands, Vanuatu, Fiji, Papua Nugini dan gerakan kemerdekaan Kanak (FLKNS) Kaledonia Baru. Indonesia menjadi anggota associate sedangkan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menjadi peninjau.

Perlu diperjelasnya perihal kriteria keanggotaan itu dikarenakan lima anggota penuh selama ini berselisih paham dalam mempertimbangkan permohonan ULMWP untuk menjadi anggota. Indonesia menolak keanggotaan ULMWP karena menganggap rakyat Melanesia di Indonesia diwakili sendiri oleh Indonesia. Sedangkan ULMWP yang selama ini berjuang menentukan hak menentukan nasib sendiri, menganggap mereka merupakan perwakilan dari Melanesia di Indonesia. Papua Nugini dan Fiji mendukung sikap Indonesia sementara Vanuatu, Solomon Islands dan FLKNS mendukung ULMWP.

ULMWP mendapat status peninjau pada KTT MSG tahun lalu namun permohonan untuk menjadi anggota penuh terus tertunda karena belum jelasnya kriteria keanggotaan.

Dalam pertemuan selama dua hari itu, seorang pejabat luar negeri Solomon Islands, William Soaki mengatakan pedoman keanggotaan itu diperlukan agar kriteria tersebut memberikan kontribusi pada tujuan keseluruhan kelompok.

Ia memperkuat pendapat yang baru-baru ini dilontarkan oleh Perdana Menteri Vanuatu, Charlot Salwai, bahwa sejak tahun lalu kriteria keanggotaan MSG telah dikembangkan dengan tidak mencerminkan prinsip-prinsip awal pendirian kelompok itu, yang berkisar di seputar upaya dekolonisasi Melanesia.

Soaki mengatakan pedoman diperlukan untuk memberikan ruang lingkup yang lebih ramping dan jelas bagi para pemimpin untuk digunakan dalam menilai ekspresi kepentingan atas berbagai bentuk keanggotaan dalam MSG.

Direktur Jenderal Sekretariat MSG, Amena Yauvoli, mendorong komite untuk memberikan “resolusi yang bisa diterapkan ke depan”.

Ia mengatakan pembahasan panitia adalah “sangat penting bagi masa depan organisasi” karena isu keanggotaan Papua bisa membuat atau menghancurkan organisasi.

Belum jelas kapan KTT MSG akan dilangsungkan kembali, setelah selama ini sempat tertunda  untuk mengambil keputusan atas permohonan keanggotaan ULMWP. Beberapa waktu lalu, sekretariat MSG mengusulkan KTT MSG dilakukan pada 20 Desember ini, namun belum ada tanggapan atas usulan tersebut.

Pemuda Gereja Kingmi Katakan “Kami Dukung ULMWP Masuk di MSG

Ketua Pemuda Klasis  Kota Jayapura Naftali Yogi. (Foto: Hendrik T/KM)
Ketua Pemuda Klasis Kota Jayapura Naftali Yogi. (Foto: Hendrik T/KM)
Timika, (KM)—Tokoh Pemuda Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, mendukung penuh ULMWP agar diterima Menjadi Full Members di MSG.
Ketua Pemuda Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, Klasis Kota Jayapura, Naftali Magay, mengatakan, Kami sebagai pemuda dan pemudi  Gereja, pada pertemuan yang akan diselenggarakan di Honiara, sangat mendukung ULMWP agar diterima di MSG. Tapi, diingatkan juga membahas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Papua.
“Seluruh Pemuda Gereja Kingmi di Tanah Papua, kami sanggat sport pertemuan para pemimpin negara-negara MSG di Honiara Ibu kota Solomon Island yang akan menjadi pembahasan ras Melanesia tertanggal 14-16 Juli 2016 Melalui KTT MSG, ULMWP agar diterima menjadi Status keanggotaan Penuh di MSG,”Kata Yogi Kepada kabarmapegaa.com, Kamis, (14/07/16) dari Jayapura.
Dalam pembahasan itu, ia menambahkan sekaligus diharapkan, para Pemimpin MSG, musti jelih melihat semua Pelanggaran HAM berat di Papua yang terjadi Sejak 1969 hingga kini
“Seperti, peristiwa penembakan kilat, yang terjadi di Paniai, 8 Desember 2014, Biak-Sorong-Wamena-Timika-Yaukimo dan Jayapura sekaligus Penculikan toko, Perjuangan (Theis H Eluai) hingga kini,”bebernya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Lembaga Swadaya Masyarkat (YLSM) Wilayah Meepago, Servius Kedepa, menyatakan, pada prinsipnya rakyat Papua sangat mendukung penuh ULMWP agar diterima sebagai Anggota penuh di MSG.
Pewarta    : Hendrikus Tobai
Editor        : Alexander Gobai

Solomon Islands Signs Melanesian Free Trade Agreement

Prime Minister Sogavare signing the new MSG Free Trade Agreement. Looking on are the Minister for Foreign Affairs and External Trade, Hon Milner Tozaka, Deputy Director-General of the MSG Secretariat, Mr Kilpak and an Administrative Officer from the Office of the Prime Minister and Cabinet, Ms Joy Tealiklava.
Prime Minister Sogavare signing the new MSG Free Trade Agreement. Looking on are the Minister for Foreign Affairs and External Trade, Hon Milner Tozaka, Deputy Director-General of the MSG Secretariat, Mr Kilpak and an Administrative Officer from the Office of the Prime Minister and Cabinet, Ms Joy Tealiklava.

Prime Minister Manasseh Sogavare became the first Melanesian leader to sign the MSG Melanesian Free Trade Agreement, pledging his government’s full support for ratification of the Trade Agreement, as formalities are set down.

The MSG Free Trade Agreement is an expansion of the former agreements and includes trade in services, investment and labour mobility.

Prime Minister Sogavare who is also the MSG Chair, was elated at the new development in the sub-regional trade deal saying the agreement signals a new area for trade within the Melanesian region.

“Solomon Islands is happy to sign. Strategically, it is the right thing to do now”, he said when signing the new Melanesian Free Trade Agreement last Friday in Honiara.

He hailed the new trade agreement as ‘one of the answers’ to aid the economies of the Melanesian bloc, praising the contributions of the MSG Secretariat, as he thanked the MSG delegation. “Melanesia countries have more to gain out of this opportunity and I am excited as MSG Chair,” he said.

He said the signing of the new free trade agreement will harness the strengths and tap the opportunities of the Melanesian economies as they move to implement a free and integrated trade zone.

“It is just appropriate that we conclude this signing process,” he said, “As the Pacific island countries are moving towards completing the regional PACER- PLUS with Australia and New Zealand”.

The Melanesia Free Trade Agreement will come into force as long as two MSG Members ratify the Agreement.

Minister of Foreign Affairs and External Trade, Hon Milner Tozaka said the Cabinet of Solomon Islands agreed to ratify the Trade Agreement once ratification processes are put in place.

Deputy Director General of MSG Secretariat Molean Kilepak said the next countries to sign will be Fiji and Papua New Guinea followed by Vanuatu.

Mr Kilepak thanked Prime Minister Sogavare on behalf of the Director General Amena Yauvoli, for taking the lead as the first country to ink the milestone achievement.

“It is a milestone for the MSG Secretariat and a great achievement for Melanesia”, said Mr Kilepak.

The signing was witnessed by Minister Tozaka, Acting Permanent Secretary of the Ministry of Foreign Affairs, Mr Joseph Ma’ahanua, Special Secretary to MSG Chair, Mr Rence Sore and MSG Secretariat Programme Manager, Trade and Investment, Mr John Licht.

Tantangan penentuan nasib sendiri West Papua, ULMWP harus kerja keras

Masyarakat Papua melakukan pengucapan syukur untuk kerja ULMWP hingga tahun 2016 - Dok. Jubi
Masyarakat Papua melakukan pengucapan syukur untuk kerja ULMWP hingga tahun 2016 – Dok. Jubi

Jayapura, Jubi – Sinyal positif akan diterimanya ULMWP sebagai anggota penuh MSG pada Desember 2016 mendatang adalah pengakuan paling signifikan terhadap identitas politik West Papua sejak administrasi United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) 1960-an.

Patrick M. Walsh, peneliti di Observer Research Foundation, seperti dilansir eastasiaforum.org Sabtu (5/11/2016), mengatakan hal itu seiring meningkatkan pembicaraan isu West Papua di kawasan Pasifik.

“Peluang keputusan oleh MSG itu kaya makna politik sekaligus menambah rumit mosaik hubungan (antar negara) yang memang sudah rumit di kawasan Pasifik,” ujar peneliti yang berbasis di New Delhi, India tersebut.

Menurut dia, kampanye Free West Papua terhadap hak penentuan nasib sendiri disamping sudah menunjukkan kemajuan nyata, juga harus cermat karena berada di tengah MSG yang sekaligus sedang bergelut dalam politik internalnya.

Dinamika baru di Forum Kepulauan Pasifik (PIF) akibat masuknya French Polynesia dan Kaledonia Baru, juga harus diperhitungkan, yang tampaknya tak berdaya atas isu West Papua.

“Meskipun kampanye Free West Papua telah mendapatkan momentum dan dukungan popular beberapa tahun belakangan ini, namun tuntutan penentuan nasib sendiri telah lama dan cukup tragis diabaikan oleh komunitas internasional, bahkan hingga saat ini,” ujar Walsh.

Hal itu, kata dia, disebabkan oleh pengabaian komunitas internasional terhadap pelanggaran Act Of Free Choice (Pepera), atau yang biasa disebut juga ‘Act of No Choice’  1969 akibat tidak adanya pilihan dan
partisipasi bebas.

“Sejak Pepera, kedaulatan Melanesia di West Papua dikucilkan menjadi sekadar memori  dan pergerakan perlawanan pinggiran. Hak rakyat untuk kedaulatan seperti yang dijamin PBB ditumbangkan oleh politik perang dingin, kontrak tambang bawah meja dan teror atas agresi,” ungkap Walsh.

Terlepas dari situasi yang menantang tersebut, Walsh meyakini bahwa peluang diterimanya West Papua sebagai anggota penuh di MSG akan membuat MSG menjadi kekuatan regional penting pendukung penentuan nasib sendiri, sekalipun PNG dan Fiji kemungkinan besar tidak akan mendukungnya.

“Sangat jelas bahwa rakyat West Papua telah berhasil menarik perhatian publik terhadap isu yang terus menggantung di berbagai Forum tersebut, yaitu pendirian kolektif mereka atas dekolonisasi,” tegas Walsh.

Terpisah, Budi Hernawan, peneliti di Abdurrahman Wahid Centre, seperti dilansir liveencounters.net meramalkan status keanggotaan penuh di MSG tersebut masih rentan. “Perkembangan terkait isu ini menunjukkan perbedaan tak terdamaikan di dalam MSG seiring keputusan yang harus diambil berbasis konsensus,” ujar Hernawan
.
Dalam konteks ini, lanjutnya, ditambah dengan tidak adanya perubahan respon dari Jakarta, membut ULMWP harus kerja lebih keras.

“Di satu sisi, mereka (ULMWP) harus mengarahkan negosiasi dengan kekuatan politik di Jakarta dan Pasifik, secara domestik mereka juga harus menjawab ekspektasi konstituennya. Jika pemimpin ULMWP bisa menjawab tantangan ini, mereka akan bisa membuktikan kesolidannya. (*)

Menuntut NKRI Selesaikan Soal HAM Papua sama dengan Minta Ikan Terbang ke Udara

Lt. Gen. TRWP Amunggut Tabi kembali memprotes wacana dan pandangan pejuangan Papua Merdeka  Khususnya tokoh Papua Merdeka yang pernah ditahan dan dipenjarakan oleh NKRi mentuntut supaya NKRI menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran HAM yang pernah dilakukan penjajah Indonesia terhadap orang Papua.

Tabi mengatakan,

Bagaimana bisa mengharapkan, dan memaksa ikan terbang ke udara? Masing-masing makhluk punya habitat, masing-masing negara punya kemampuan dan ketidak-mampuan. DNA NKRI tidak sanggup menyelesaikan pelanggaran HAM, jadi memaksa NKRI menyelesaikan kasus-kasus HAM, di mana saja di Indonesia, tidak bisa pernah diselesaikan, jangankan kasus-kasus HAM di Papua.

Berikut wawancara singkat.

PMNews: Belakangan ini sudah ramai ada Tim Pencari Fakta, ada tuntutan penyesaian kasus-kasus HAM disampaikan oleh tokoh Papua Merdeka, ada wacana dialog, ada Tim Pencari Fakta bentukan pemerintah kolonial Indonesia dan ada Tim Pencari Fakta Komnas HAM, ada Time Pencari Fakta Gereja, ramai, tetapi semuanya tidak melaporkan hasil yang jelas.

Amunggut Tabi (TRWP): Minta maaf, kami tidak punya keahlian atau tugas yang kami emban untuk bicara pelanggaran HAM. Tanya kepada Tokoh Gereja atau orang-orang LSM.

PMNews: Ya benar, kami sangat paham. Minta maaf, tetapi ada tokoh Papua Merdeka yang sekarang ini sudah ramai minta Jakarta untuk menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran HAM. Itu sebabnya kami minta tanggapan.

TRWP: OK jelas sekarang. Tetapi prinsipnya masih tetap, kami tidak punya kewenangan bicara masalah HAM. Cuman kami mau kasih tahu, “Jangan paksa ikan terbang, dan jangan paksa burung menyelam dan tinggal di dalam air. Itu kesalahan fatal.”

PMNews: Maksudnya mohon diperjelas.

TRWP: Ada beberapa negara di dunia, seperti Inggris dan Perancis, Jerman dan Swedia, dan lain sebagainya, mereka sudah dewasa berdemokrais, atau dengan ilustrasi tadi, mereka sudah bisa menjadi ikan dan pada waktu yang sama sudah bisa menjadi burung. Jadi kalau ada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara, maka pasti akan diselidiki, walaupun akhirnya negara harus bayar denda, walaupun akhirnya negara harus minta maaf, walaupun akhirnya ada resiko yang menimpa negara atau pemerintah secara institusi.

Hal itu tidak akan pernah terjadi di pemerintahan negara-negara berkembang. Jangankan Indonesia, Malaysia dan Singapura yang terlihat seperti lebih demokratis saja masih belum bisa melakukan apa yang dituntut orang Papua. Itu sebabnya kita bilang “Bagaimana bisa mengharapkan, dan memaksa ikan terbang ke udara?”

PMNews: Kalau kita tidak menuntut, siapa yang nanti menuntut?

TRWP: Setelah NKRI angkat kaki dari WestPapua, Negara West Papua yang akan tuntut kepada Negara KRI. Kesalahan Negara dituntut ganti-rugi atau permintaan maaf oleh Negara West Papua.

Jadi, biarkan masyarakat sipil bicara tentang pelanggaran HAM, walaupun kami tahu tidak akan ada penyelesaian. Pejuang Papua Merdeka fokus kepada agenda-agenda perjuangan Papua Merdeka dalam payung ULMWP.

PMNews: Ada dua hal muncul dari kalimat tadi. Pertama, biarkan masyarakat sipil bicara tentang HAM, dan kedua pejuang Papua Merdeka fokus kepada agenda ULMWP. Jadi apa agenda ULMWP sekarang?

TRWP: Untuk ULMWP, tanyakan kepada ULMWP, ada Motte dan Ada Benny Wenda, mereka yang bisa jawab agenda mereka sekarang apa? Hanya berputar-putar menunggu diterima menjadi anggota MSG atau ada agenda lain yang harus dijalankan oleh berbagai organisasi perjuangan dan para tokoh Papua Merdeka baik di luar negeri dan di dalam negeri.

Kita tidak punya platform dan program perjuangan Papua Merdeka sebagai Roadmap yang jelas. Masing-masing masih jalan seperti kebiasaan orang Papua di desa dan kampung. Padahal hari ini kita bermain di tingkat internasional.

Kalau untuk masyarakat sipil Papua, kami kasih tahu saja, NKRI tidak akan menyelesaikan itu pelanggaran HAM, tetapi daripada tidak ada pekerjaan, silahkan saja sibuk minta ini dan minta itu dari NKRI. Kami jamin, tidak akan dikasih apa-apa dari Jakarta.

Jakarta ada di Tanah Papua bukan untuk memberi, tetapi untuk mengambil.

Catat itu baik. Hafal itu di luar kepala sebelum berpikir, berharap atau bertindak meminta apa-apa kepada NKRI

PMNews: Terimakasih banyak atas waktu dan nasehat. Apakah ada saran penutup?

TRWP: Semua anak-anak bangsa Papua, semua pejuang Papua Merdeka, semua tokoh Papua Merdeka, semua orang Papua, kami harus sadar, sesadar-sadarnya, dan menerima realitas yang sebenarnya, bahwa kiblat perjuangan Papua Merdeka bukan menjaring angin ke Asia, tetapi ke Pasifik Selatan, bukan ke Melayo-Indos, tetapi ke Melanesia.

Hapus mimpi-mimpi kemerdekaan West Papua di dalam NKRI dan oleh NKRI. Buang ke tong sampah penyelesaian HAM oleh NKRI.

Kita tidak punya kekuatan apa-apa menuntut NKRI dengan kekuatan negara dan tentara terbesar di kawasan ASEAN untuk tunduk kepada masyarakat tradisional terisolir, suku-suku yang tidak ada hitungannya dalam hitungan negara-bangsa modern.

NKRI tidak punya belas-kasihan. NKRI sebuah negara, tujuan  utama negara bukan untuk melindungi HAM. Jadi, otak kita harus di-bolak-balik. Jangan salah berpikir. Jalan salah sangka.

Mari berkiblat ke Melanesia. Kita bukan sendirian di planet Bumi. Kita punya teman-teman yang sudah menukung kita. Mari kita menuntut penyelesaian pelanggaran HAM kepada PNG, kepada Solomon Islands, kepada Vanuatu, kepada Fiji, dan MSG sudah memberikan forum resmi kepada kita.

Kok, ada lagi orang Papua yang masih berkiblat Melayo-Indos? Itu mereka-mereka yang kita sebut Papindo, mereka Papua di kulit, tetapi NKRI darah mereka.

Up ↑

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Kopi Papua

Organic, Arabica, Single Origins

Melaneia News

Just another WordPress site

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

PAPUAmart.com

MAMA Stap na YUMI Stap!

Koteka

This is My Origin and My Destiny

Melanesia Web Hosting

Melanesia Specific Domains and Web Hosting

Sem Karoba Tawy

Patient Spectator of the TRTUH in Action

Melanesia Business News

Just another MELANESIA.news site

Sahabat Alam Papua (SAPA)

Sahabat Alam Melanesia (SALAM)

Melanesian Spirit's Club

Where All Spirit Beings Talk for Real!

Breath of Bliss Melanesia

with Wewo Kotokay, BoB Facilitator

Fast, Pray, and Praise

to Free Melanesia and Melanesian Peoples from Satanic Bondages