Perjuangan Papua Merdeka dan Kriminalisasi Tokoh OAP Kaki-Tangan NKRI: Apa Respon Kita?

Retrospect

Suara Papua Merdeka News (SPMNews) mencatat sejumlah peristiwa di Tanah Papua yang perlu dicermati oleh semua orang Papua (OAP), baik yang ada sebagai kaki-tangan NKRI ataupun rakyat umum, baik yang mendukung Papua Merdeka, maupun yang menolak Papua Merdeka ataupun yang tidak mau tahu dengan kedua-duanya dan memilih diam-diam saja berjuang dalam hati.

Yang pertama, bahwa NKRI dan orang Indonesia selalu melihat West Papua dan bangsa Papua itu sebagai tanah dan bangsa jajahan. Hanya segelintir orang Papua yang bermimpi mereka akan menjadi orang Indonesia. Itupun jumlahnya kecil. Itupun dilakukan hanya dalam rangka mencari jabatan dan kedudukan di dalam NKRI. Itupun bertujuan kepada berapa piring nasi dan botol yang masuk ke perut pribadi. Jadi, tidak ada hubungannya dengan Tanah dan bangsa Papua.

Yang kedua, NKRI mau, pada 100 tahun mendatang, semua OAP harus punah dari tanah leluhur kita. Entah anda pendukung NKRI, promotor Otsus ataupun pejuang Papua Merdeka, NKRI dan orang Indonesia berkehendak dan telah bergerak sejal Soeharto untuk secara terstruktur dan sistematis membasmikan ras Melanesia dari pulau New Guinea bagian barat. Bahkan bukan hanya di bagian barat, akan tetapi di seluruh Melanesia proyek Melayunisasi telah ada dari sejak dulu. Sudah ada orang Melayu di Papua New Guinea, Solomon Islands, Fiji, dan Kanaki. Itu yang nyata hari ini. Sebentar lagi akan ada di Vanuatu dan Wallis-Futuna. Jangan sebut West Papua, karena mereka telah menjadi mayoritas di sini.

Yang ketiga, dan ini yang paling hangat saat ini, yaitu bahwa semua pejabat OAP yang kelahiran tahun 1960-an sampai tahun 1990-an harus dibasmikan dari muka Bumi, secara kasar ataupun secara halus. Kalau diracuni tidak mati, mereka dipenjarakan saja. Itu telah terjadi kepada Barnabas Suebu dan Lukas Enembe. Yang lain diracun langsung mati, seperti Kelemen Tinal, Neles Tebai, Habel Suwae, Abraham Atururi, dan sebagainya. Banyak Pastor mati mendadak, banyak pejabat NKRI OAP mati mendadak, sekarang marak pejabat OAP dituduh korupsi oleh NKRI: Kemarin Ricky Ham Pagawak, Omaleng, dan kini Lukas Enembe.

Kesalahan Orang Papua Mati Merdeka dan Pasrah Otsus

Kita berbicara untuk dua jenis atau dua kelompok OAP, karena kedua-duanya menghadapi nasib yang sama, yaitu dimusnahkan dari tanah leluhur mereka bernama: West New Guinea.

Keduanya pasti dimusnahkan dari Tanah Papua, dan West Papua akan menjadi tanah leluhur orang Melayu (Batak, Manado, Bugis, Makassar, Madura, Jawa, Toraja, dan sebagainya), dan orang Melanesia akan bergeser ke kotak-kotak museum untuk diajarkan kepada anak-anak sekolah antropologi dan sejarah dengan isi pesan bahwa dulu pernah ada orang-orang berkulit hitam dan berambut keriting seperti gambar-gambar dalam etalase ini, akan tetapi mereka telah punah oleh karena mereka tidak sanggup mempertahankan diri mereka sebagai sebuah entitas makhluk manusia. Mereka mati oleh karena malaria, mereka mati oleh karena dikikis zaman, mereka mati oleh karena tidak sanggup menghadapi perubahan global, dan banyak alasan lainnya.

Kesalahan orang Papua Pasrah Otsus ialah mereka mengira bahwa dengan menerima paket Otsus, kita akan menjadi maju, memiliki rumah bagus-bagus, mobil mewah-mewah, dan hidup makmur, baru dalam kemakmuran kita minta lepas dari NKRI.

Untuk itu kita sementara menunggu Papua Merdeka turun, kita harus berdemokrasi di dalam NKRI. Jangan terlalu membuat kacau. Kita hidup aman-aman saja. Kita banyak berdoa. Tuhan pasti akan memberikan kemerdekaan bangsa Papua. Kita jangan berjuang dengan kasar, nanti Tuhan marah, nanti Indonesia bunuh kita tambah banyak lagi. Jangan bikin kacau. Kita akan minta baik-baik saja supaya mereka keluar setelah kita semua sama bisa, sama kaya, sama hebat dengan orang Indonesia.

Kesalahan pemikiran ini ialah OAP Pasrah Otsus berpikir NKRI punya rencana, atau dapat dipaksa atau akan merasa harus, atau merasa malu dan akan keluar dari NKRI. Mereka tidak melihat NKRI sebagai penjajah, yang datang untuk menduduki dan mengambil-alih tanah adat orang Papua, dan akhirnya memusnahkan semua OAP dari Tanah Papua. Ini kesalahan fatal. Benar-benar gagal paham!

Sementara itu orang Papua Merdeka berpendapat bahwa semua orang Papua yang mendukung Papua Merdeka, yang menjabat sebagai Gubernur, Bupati, Camat, Desa adalah kaki-tangan NKRI dan mereka adalah bagian dari NKRI. Oleh karena itu, kalau Papua Merdeka, mereka juga harus diusir dari Tanah Papua.

Dengan sikap ini OAP Papua Merdeka memperbanyak lawan, dan lebih parah lagi, yang dijadikan lawan dalam hal ini ialah orang Papua sendiri, dan lebih-lebih parah lagi, yaitu orang Papua yang ada di dalam Tanah Papua, dan lebih dari itu lagi, orang Papua yang sudah tahu menjalankan pemerintahan, yang sudah berpengalaman mengelola pemerintahan. Kalau mereka yang dimusuhi, nanti negara West Papua siapa yang jalankan?

Akibatnya kedua-duanya memperpanjang penderitaan bangsa Papua di tanah leluhur mereka, dan karena itu jelas dua-duanya salah.

Apa yang harus dilakukan?

OAP tidak boleh dan jangan memusuhi sesama OAP atas dasar karena seorang mendukung Merah-Putih dan yang lain mendukung Bintang-Kejora. Itu hukum pertama dan utama. Ini fondasi yang akan membawa bangsa Papua menjadi sanggup mengusir penjajah NKRI keluar dari Tanah Papua.

Perhatikan dan camkanlah hari bangsa Papua,

“Pada saat OAP Papua Merdeka dan OAP Otsus saling menerima dan saling mengampuni, berhenti saling memusuhi, maka saat itu Tuhan akan turun tangan langsung can men-cap perjuangan kita, doa kita akan dijawab dan NKRI pasti akan angkat kaki!”

Sebaliknya, saat permusuhan di antara OAP masih ada, maka kita sendiri menunda NKRI keluar dari Tanah Papua. Kita sendiri menahan NKRI tinggal lama-lama di Tanah Papua.

Adakah Prospek bagi keberlangsungan hidup bangsa Papua di Tanah Papua?

Sama dengan nasib sial yang dihadapi bangsa Papua seperti dipetakan di atas, ada juga prospek yang harapan bagi bangsa Papua. Kalau ada siang, pasti ada malam. Matahari pasti akan terbit esok hari. Sang Bintang Fajar akan mendahuluinya. Harapan bagi bangsa Papua tetap dan pasti ada.

Dulu Jawa pernah dijajah 350 tahun lebih, kini Jawa menjajah banyak suku-bangsa di dalam negara bernama NKRI. Dulu Melayu dijajah banyak suku-bangsa lain, kini Melayu menjajah Melanesia. Bukan sekedar hubungan West Papua – Indonesia, akan tetapi dalam konteks global juga kita dapati rumus yang sama. Itulah hukum alam, yaitu kehidupan dalam siklus, seperti roda berputar, tanpa henti-hentinya.

Yang harus dilakukan bangsa Papua secara sosial, ekonomi politik ialah bersatu dan bersatu. Dalam mengupayakan persatuan itu, kita hindari dan hentikan sikap saling menganggap diri penting dan benar, dan dengan demikian lahir sikap meremehkan yang lain dan apalagi menyalahkan satu sama lain. Pertama-tama dan terutama bibit ini harus dihilangkan, karena bibit ini berasal dari surga, di dalam hati Lucifer, yang telah menentang Allah, dan yang akibatnya telah diusir dari hadapan Allah. Virus yang sama telah mengotori Adam dan Hawa, dan mereka terusir dari Taman Eden.

Hal kedua, yang penting untuk dilakukan ialah menyatukan kekuatan sosial, ekonomi dan politik; dengan menata sistem perjuangan perlawanan secara sistemik dan terstruktur dengan baik, operasional menurut waktu dan paradaban hari ini, sehingga dengan demikian memudahkan, sekaligus menjaga kebersamaan dalam eksklusivitas di antara orang Papua dalam membela hak-hak fundamental bangsa Papua.

Dalam konteks ini harus ada komunikasi yang lancar tanpa hambatan antara orang Papua pendukung Papua Merdeka dan orang Papua pendukung Otsus, antara tokoh Papua tokoh Demokrati dan orang Papua tokoh PDIP; antara tokoh Gereja Papua dan tokoh politik di West Papua, antara tokoh Papua Merdeka dan tokoh organisasi Papua Merdeka.

Harus dihadirkan sistem dan mekanisme yang merangkul semua pihak dan pada waktu yang sama menjaga kerahasiaan semua pihak.

Last Words

Akhir kata, marilah kita belajar Hukum Alam, Hukum Adat dan Hukum Allah, karena Hukum buatan manusia di dalam apa yang kita kenal sebagai Hukum Positive modern di dalam negara-bangsa seperti NKRI dan sebagainya adalah hukum-hukum untuk melayani kepentingan manusia yang berkuasa semata, mengabaikan kepentingan manusia sebagai makhluk hidup dan sebagai makhluk ciptaan Allah, dan hak-hak asasi makhluk lain selain manusia, yang secara hukum alam dan hukum adat ialah setara dengan hak-hak makhluk manusia.

Kalau tidak, Papua Merdeka-pun akan jatuh ke lubang yang sama. Kalau tidak, pejuang kemerdekaan akan menjadi penjajah, persis seperti yang dilakukan NKRI. Kalau tidak kita hanya akan menggantikan presiden Indonesia dengan presiden West Papua, pemerintah Indonesia dengan pemerintah West Papua, dan semua cerita penderitaan bangsa Papua akan berlanjut.

[bersambung….]

Operasi BIN Sukses: Telah Diangkut 2 Menteri Pemerintah Sementara West Papua dan Pemimpin Gereja…

Telah tersiar kabar, terutama di grup-grup whatsapp dan SMS dikirim seputar Orang Asli Papua (OAP) bahwa dua orang Menteri yang menduduki posisi penting dalam Pemerintah Sementara West Papua ULMWP (United LIberation Movement for West Papua) telah diangkut oleh pejabat NKRI untuk menghadiri rapat-rapat Hak Asasi Manusia di Geneva.

Dua orang tokoh gereja di West Papua: Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI) dan Koordinator West Papua Council of Churches (WPCC) juga berangkat bersama dengan sejumlah pemimpin perempuan Papua di dalam gereja yang bersangutan maupun perempuan yang bicara tentang hak orang Papua di pemerintah juga ikut diangkut. Bisa dikatakan mereka selama ini “berpura-pura” berteriak untuk nasib dan kondisi bangsa Papua. Mereka dapat dikatakan sebenarnya hanya minta perhatian pemerinta kolonial untuk sesuap nasi, sesuap suara dan sesuap tiket ke luar negeri.

Dengan kepergian hasil operasi klandestin BIN ini menunjukkan betapa orang Papua tidak memiliki prinsip hidup, apalagi prinsip atas nama bangsa dan tanah leluhurnya perlu dipertanyakan.

Tambah heran lagi, mengapa OAP justru disibukkan dengan isu-isu Pemekaran Kabupaten dan Provinsi, sementara orang-orang yang tokohkan selama ini dibawa lari keluar dari Tanah Papua.

PAPUApostcom Group sedang memantau

  1. Apa yang akan dilaporkan oleh 2 Menteri Pemerintah Sementara UMWP:
  2. Apa yang akan dilaporkan oleh 2 tokoh gereja di Tanah Papua, yang notabene adalah orang Koteka;
  3. Apa yang akan dilaporkan oleh 2 tokoh perempuan Papua, yang juga notabene adalah orang Sali dari Wilayah La-Pago.

Dan yang lebih menarik lagi, PAPUAPost.com Group sangat tidak sabar menunggu

“Reaksi bangsa Papua, OAP terhadap permainan para pihak yang selama ini dianggap sebagai tokoh yang membela hak dan martabat bangsa Papua, akan tetapi tiba-tiba mau disuap begitu saja?

[Selamat menikmati….]

๐˜๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ฐ…, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ป ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ-๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต…..

๐˜ผ๐™๐™‚๐™๐™ˆ๐™€๐™‰๐™๐˜ผ๐™Ž๐™„:

๐˜‹๐˜ ๐˜ˆ๐˜“๐˜ˆ๐˜” ๐˜•๐˜Œ๐˜Ž๐˜ˆ๐˜™๐˜ˆ ๐˜‹๐˜Œ๐˜’๐˜–๐˜”๐˜™๐˜ˆ๐˜š๐˜ ๐˜๐˜•๐˜ , ๐˜š๐˜ˆ๐˜ ๐˜ˆ, ๐˜‰๐˜™๐˜๐˜š ๐˜๐˜•๐˜Ž๐˜๐˜• ๐˜”๐˜Œ๐˜•๐˜ˆ๐˜•๐˜›๐˜ˆ๐˜•๐˜Ž ๐˜š๐˜Œ๐˜›๐˜๐˜ˆ๐˜— ๐™‹๐™๐™„๐˜ฝ๐˜ผ๐˜ฟ๐™„ ๐˜‹๐˜ˆ๐˜• ๐™Š๐™†๐™‰๐™๐™ˆ “๐™Š๐˜ผ๐™‹” ๐˜ ๐˜ˆ๐˜•๐˜Ž ๐™‹๐™๐™Š ๐™‰๐™†๐™๐™„ ๐˜‹๐˜ˆ๐˜• ๐˜ˆ๐˜›๐˜ˆ๐˜œ ๐˜‹๐˜ˆ๐˜™๐˜ ๐˜ˆ๐˜“๐˜๐˜™๐˜ˆ๐˜• ๐˜—๐˜ˆ๐˜—๐˜œ๐˜ˆ ๐˜”๐˜Œ๐˜™๐˜‹๐˜Œ๐˜’๐˜ˆ ๐˜“๐˜ˆ๐˜๐˜• ๐˜ ๐˜ˆ๐˜•๐˜Ž ๐˜๐˜Œ๐˜•๐˜‹๐˜ˆ๐˜’ ๐˜”๐˜Œ๐˜•๐˜Œ๐˜•๐˜›๐˜ˆ๐˜•๐˜Ž ๐˜‹๐˜ˆ๐˜• ๐˜”๐˜Œ๐˜“๐˜Œ๐˜”๐˜ˆ๐˜๐˜’๐˜ˆ๐˜• ๐˜—๐˜Œ๐˜™๐˜‘๐˜œ๐˜ˆ๐˜•๐˜Ž๐˜ˆ๐˜• ๐™๐™‡๐™ˆ๐™’๐™‹ ๐˜”๐˜Œ๐˜•๐˜œ๐˜‘๐˜œ ๐™‹๐˜ผ๐™‹๐™๐˜ผ ๐™ˆ๐™€๐™๐˜ฟ๐™€๐™†๐˜ผ.
===================================
#4๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ, (๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜น)
===================================

๐™Ž๐™๐™ˆ๐™‹๐˜ผ๐™ƒ ๐™ˆ๐˜ผ๐™๐™„:

๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฌ , ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด (๐˜–๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ช), ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ-๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.
(๐˜–๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ ๐˜‰๐˜ณ๐˜ช๐˜ด)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

๐™‹๐™€๐™๐™ˆ๐˜ผ๐™Ž๐˜ผ๐™‡๐˜ผ๐™ƒ๐˜ผ๐™‰:

…………………….., ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜•๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข , ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜–๐˜ˆ๐˜—, ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ง๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ 14 ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜•๐˜™๐˜๐˜—๐˜‰ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ญ๐˜ด.

๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐™ ๐™ค๐™ข๐™ž๐™ฉ๐™ข๐™š๐™ฃ ๐™—๐™š๐™จ๐™–๐™ง ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜–๐˜ˆ๐˜— ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐™‹๐˜ผ๐™‹๐™๐˜ผ ๐™ˆ๐™€๐™๐˜ฟ๐™€๐™†๐˜ผ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐™ƒ๐˜ผ๐™๐™‚๐˜ผ ๐™ˆ๐˜ผ๐™๐™„.

๐˜•๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข: ๐™๐™š๐™ฅ๐™ช๐™—๐™ก๐™ž๐™  ๐™Š๐™› ๐™’๐™š๐™จ๐™ฉ ๐™‹๐™–๐™ฅ๐™ช๐™–, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐™๐™ช๐™–๐™ฃ ๐™‹๐™ง๐™š๐™จ๐™ž๐™™๐™š๐™ฃ ๐™ƒ๐™ค๐™ฃ ๐˜ฝ๐™š๐™ฃ๐™ฃ๐™ฎ ๐™’๐™š๐™ฃ๐™™๐™–, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข ๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ˆ๐˜—๐˜œ๐˜ˆ ๐˜”๐˜Œ๐˜™๐˜‹๐˜Œ๐˜’๐˜ˆ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜’๐˜œ๐˜™๐˜š๐˜ ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข (๐˜—๐˜‰๐˜‰) ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช ๐˜—๐˜ช๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜–๐˜Ÿ๐˜๐˜–๐˜™๐˜‹ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข ๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜—๐˜“๐˜ˆ๐˜•๐˜Œ๐˜› ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.

๐˜‹๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜‰๐˜‰ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ 50% ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช 193 ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜‰๐˜‰, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐™‹๐™€๐™๐™Ž๐˜ผ๐™๐˜ผ๐™Ž๐™„ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ ๐˜ž๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜”๐˜š๐˜Ž, ๐˜—๐˜๐˜, ๐˜ˆ๐˜Š๐˜— ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜™๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช ๐˜—๐˜‰๐˜‰.

๐™๐™„๐™‰๐™‚๐™‚๐˜ผ๐™‡๐™†๐˜ผ๐™‰ ๐™€๐™‚๐™Š๐™„๐™Ž๐™ˆ๐™€ ๐˜ฟ๐˜ผ๐™‰ ๐™„๐™‰๐™๐™€๐™๐™€๐™Ž๐™ ๐™‹๐™๐™„๐˜ฝ๐˜ผ๐˜ฟ๐™„, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜œ๐˜“๐˜”๐˜ž๐˜— ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข , ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ 2., ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐™ฉ๐™–๐™œ๐™–๐™ก ๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ฉ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™Ÿ๐™–๐™—๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™ž๐™ฉ๐™ช ๐™จ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™–๐™ž ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ข๐™–๐™ฉ๐™ž, ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ก๐™ž๐™๐™–๐™ฉ ๐™‹๐˜ผ๐™‹๐™๐˜ผ ๐™ˆ๐™€๐™๐˜ฟ๐™€๐™†๐˜ผ.

๐˜—๐˜Œ๐˜™๐˜‘๐˜œ๐˜ˆ๐˜•๐˜Ž๐˜ˆ๐˜• ๐˜—๐˜ˆ๐˜—๐˜œ๐˜ˆ ๐˜”๐˜Œ๐˜™๐˜‹๐˜Œ๐˜’๐˜ˆ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜“๐˜œ๐˜›๐˜œ๐˜›, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜Œ๐˜—๐˜ˆ๐˜“๐˜ˆ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜›๐˜ˆ๐˜•๐˜ˆ๐˜ ๐˜—๐˜ˆ๐˜—๐˜œ๐˜ˆ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜›๐˜Œ๐˜›๐˜ˆ๐˜—๐˜ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข.

๐˜๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ฐ…, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ป ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ-๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต…..

West Papua Revolutionary Army Tidak Didirikan untuk Bunuh Orang Indonesia

Apalagi bunuh Orang Asli Papua (OAP)! Itu Haram!

Oleh karena itu, mari kita tinggalkan segala bentuk dan jenis gosip, teror, dan intimidasi untuk saling membunuh dan saling mencelakakan. Karena kami sudah cukup di-intimidasi dan di-ancam oleh NKRI.

Demikian kata General WPRA Amunggu Tabi dari Markas Pusat Pertahanan (MPP) est Papua Revolutionary Army (WPRA).

Gen. WPRA Amunggut Tabi menyampaikan tentang WPRA atau diterjemahkan ke dalam bahasa Melayo-Indos menjadi Tentara Revolusi West Papua (TRWP) bahwa visi/ misi pembentukan WPRA atau TRWP BUKAN untuk membunuh orang, termasuk orang Indonesia, apalagi OAP. Visi/ Misi-nya untuk mewujudkan perdamaian abadi di Tanah Leluhur bangsa Papua, dengan mengakhiri segala bentuk dan jenis penjajahan di pulau New Guinea.

Menanggapi berbagai pihak-pihak yang menyebar kebencian dan ancaman pembunuhan serta gosip yang tidak sehat di antara orang Papua, terutama disebarkan oleh Joko Kosay, Sebby Sambom dan Jefry Pagawak, maka Gen. Amunggut Tabi dengan berbesar hati mengucapkan semua dinamika yang berkembang belakangan ini adalah wajar dan oleh karena itu Gen. Tabi sebagai orang tua yang mendahului perjuangan ini

“meminta maaf sebesar-besarnya kalau dalam perjuangan selama ini ada yang telah salah, atau keliru atau tidak tepat dan merugikan para pihak yang saat ini merasa tidak puas, tidak bersimpati, bahkan menentang dan mengancam West Papua Army, ULMWP dan personil ULMWP.

Kalau ada yang salah secara pribadi, tolong di-maafkan. Kami tidak bermaksud memusihi siapapun, termasuk orang Indonesia bukan-lah musuh kami. Yang kami lawan ialah penjajahan oleh Negara Kolonial Indonesia (NKRI) atas tanah leluhur bangsa Papua dan atas Negarea Republik West Papua.”

Ditanya soal ancaman perintah Nggoliar Tabuni akan membasmikan semua personnel ULMWP, Amunggut Tabi kembali menyatakan,

“Nggoliar itu siapa, dan saya siapa? Mathias Wenda siapa dan Jefry Pagawak siapa? Semua kami satu noken!

Semua orang tahu, yang menyebarkan ancaman itu kaki-tangan NKRI, bukan pejuang Papua Merdeka. Jangan salah!

Yang biasa bunuh OAP itu-kan NKRI, bukan orang Papua. Di mana ada perang suku di Tanah Papua? Di mana? Papua Merdeka bukan masalah suku, marga, tetapi soal bangsa dan negara. Jadi tidak ada alasan moral dan adat untuk kita saling mengancam dan saling membunuh.

Dipertegas lagi, apakah General Tabi tidak percaya kalau ancaman yang sudah beredar itu bukan dari OAP, dikatakan bahwa sudah pasti ancaman-ancaman yang mencelakakan hidup OAP hanya berasal dari NKRI.

Eksistensi NKRI yang mencelakakan OAP, jadi pemikiran, kata-kata seperti itu pasti dari NKRI.

Ditantang dengan pertanyaan soal perang saudara yang pernah terjadi di medan perjuangan Papua Merdeka beberapa puluh tahun lalu, dan ada spekulasi bahwa perang saudara itu akan muncul kembali dalam tubuh perjuangan Papua Merdeka, Gen. Tabi mengatakan

Apa yang terjadi masa lalu tidak dapat terulang masakini.

Sekarang kami semau orang-orang terdidik, yang menggunakan rasio dan moral yang sudah matang dan stabil. Gosip, isu dan emosi tidak dipakai lagi.

Berbeda dengan generasi tua, mereka bermain menurut kemampuan dna kekurangan yang mereka miliki waktu itu. Kami generasi sarjana ini tidak se-bodoh seperti diskenario-kan NKRI.

Setelah dibacakan judul dari beberapa artikel yang bertebaran di media sosial dan blog yang beredar belakangan ini, General Tabi kembali menegaskan:

Sudah jelas, itu semua tulisan NKRI! Hanya anak-anak baru lahir yang akan terpengaruh oleh isu berita ini. Kami yang sudah matang di lapangan sudah tahu pilihan kata, kalimat, nada dan tujuan, bahkan rasa dari tulisan saja kami sudah tahu. Hanya anak-anak kecil yang baru belajar bahasa Indonesia dan baru bermain-main dengan Indonesia yang akan bingun dan akan pikir ini berasal dari OAP.

Jadi kasih tahu semua pihak, bahwa TRWP tidak didirikan untuk membunuh manusia, baik manusia Indonesia dan apalagi manusia Papua. Tujuan TRWP menopang perjuangan politik Papua Merdeka oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang saat ini diemban oleh United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Dijelaskan kembali bahwa ancaman itu sangat jelas dan secepatnya harus ditanggapi, kembali General Tabi menjawab,

Kami sudah tahu pengguna Facebook dan Blog di dunia ini milik siapa, pengelola siapa, dan kami sudah tahu bahasa Indonesia yang dikeluarkan itu adalah OAP dari suku/ kampung mana. Kami tahu nama persis, tinggal di mana saat ini juga kami sudah bisa pastikan. Sudah ada teknologi tersedia untuk semua itu.

Kita semua sudah bisa tahu. Jadi, supaya udang keluar dari balik batu, kita harus jujur dan berani kepada diri sendiir dan mengatakan “TIDAK” kepada kekerasan, kepada gosip, kepada teror dan kepada intimidasi antara sesama OAP.

 

Cara Menggugat Pepera 1969 dengan Memboikot Pemilu NKRI 5 Tahunan

Secara hukum dan politik, Orang Asli Papua (OAP) masih memiliki hak untuk mementukan nasib sendiri dengan cara memberikan suara kepada pemerintah, entah itu pemerintah Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pemerintah Belanda, Pemerintah Amerika Serikat maupun Pemerintah Indonesia. OAP masih memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Salah satu cara untuk menentukan nasib sendiri ialah lewat referendum, di mana diberikan pilihan apakah rakyat yang mengikuti referendum memilih untuk bergabung dengan sebuah negara merdeka yang sudah ada, atau memisahkan diri dari negara yang sudah ada. Referendum seperti ini pernah terjadi tahun 1969 di Irian Barat, yang kemudian dianggap oleh OAP penuh cacat hukum dan pelanggaran HAM, dan diperjuangkan untuk diulang kembali lewat berbagai organisasi yang memperjuangkan Papua Merdeka, termasuk ULMWP belakangan ini. Cara ini juga ditempuh oleh teman-teman Melanesia di Kanaky beberapa saat lalu, dan mengalami kekalahan tipis, dan akan memilih lagi dalam jangka waktu beberapa tahun. Cara yang sama juga akan ditempuh teman-teman di Bougainville, di mana akan terjadi referendum dengan pilihan untuk tetap tinggal dengan Papua New Guinea atau merdeka di luar PNG. Cara lain untuk menentukan nasib sendiri sebebarnya masih tersedia, dan itu tidak melanggar hukum manapun di seluruh dunia ialah “memilih Golongan Putih” (Golput) dan memboikot Pemilu negara. Silahkan dicari di seluruh dunia, di manakah negara yang pernah membunuh rakyatnya yang tidak mau memilih? Apalagi, semua orang tahu di seluruh dunia, Demokrasi memberikan “HAK” kepada setiap manusia yang pernah lahir di Bumi ini, di manapun mereka berada untuk “MEMILIH” dan untuk “TIDAK MEMILIH”. Dengan demikian saat ini OAP masih memiliki HAK UNTUK TIDAK MEMILIH siapapun di Indonesia, termasuk orang Papua-pun, biarpun mereka mau menjadi anggota DPR atau pejabat di manapun, kami OAP masih punya hak, dan berhak penuh untuk TIDAK IKUT MEMILIH mereka. TIDAK IKUT MEMILIH artinya memilih untuk tidak ikut dalam proses Pemilu. Dan kalau siapapun OAP tidak ikut Pemilu di Indonesia, sebenarnya ada banyak keuntungan yang tersedia:
  1. Yang pertama, tidak akan ada OAP yang dibunuh karena tidak ikut memilih, jadi hidup ini tidak dapat diganggu hanya karena tidak memilih, justru kita dijamin hukum untuk tidak memilih. Semua negara di dunia tidak pernah menghukum rakyatnya yang memilih untuk TIDAK MEMILIH dalam Pemilu.
  2. Yang kedua, dunia akan melihat dengan jelas pesan OAP bahwa sebenarnya Indonesia ialah negara yang “Unwelcome!” tidak pernah diundang dan tidak pernah diterima oleh OAP. Sebeliknya dunia juga menjadi bingung, karena selama ini OAP tenang-tenang saja ikut Pemilu NKRI selama lebih dari 50 tahun, tetapi pada waktu yang sama terus bicara “Papua Merdeka!”. OAP sedang mengirim pesan yang membuat dunia menjadi bingung dan bertanya, “OAP sebanarnya mau apa: merdeka atau mau dengan NKRI asal porsi makan-minum diperbesar?”
Dengan dua pesan ini, kita sudah dapat mengatakan dengan jelas bahwa sebenarnya OAP masih memiiki Hak untuk Menentukan Nasibnya sendiri, atau Hak Demokrasi, yaitu Hak untuk Tidak Ikut Memilih di dalam semua Pemilu yang diselenggarakan NKRI. Di satu sisi OAP terus-menerus ikut Pemilu NKRI dengan tenang-tenang saja, sementara itu mereka juga menuntut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ini membingungkan dunia. Oleh karena itu, OAP yang mengerti hak-haknya sebagai seorang manusia dan hak-haknya sebagai sebuah bangsa pasti akan bersikap TIDAK IKUT MEMILIH dalam SEMUA Pemilu yang diselenggarakan NKRI, yang mereka anggap sebagai penjajah, pencuri, perampok, penjarah dan pembunuh. Bukti selama ini adalah OAP rajin mengikuti Pemilu NKRI setiap 5 tahun. Memboikot Pemilu NKRI 2019
  • tidak melanggar hukum apapun
  • tidak dapat dihukum dengan alasan apapun
  • tidak dapat dipaksakan untuk tidak ikut atau untuk ikut
Oleh karena itu, seruang United Liberatin Movement for West Papua (ULMWP) untuk memboikot Pemilu 2019 bukanlah sebuah gerakan menentang NKRI, tetapi lebih merupakan peringatan kepada OAP di manapun Anda berada untuk mengingat dan meneguhkan diri dengan sadar bahwa OAP masih punya kesempatan untuk menggungat kehadiran dan pendudukan NKRI atas tanah dan bangsa Papua, yaitu dengan MENOLAK ikut Pemilu setiap 5 tahunan.
Ini cara menggugat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 di West Irian yang selama ini OAP terus perjuangkan untuk diulangi. Cara mengulanginya dimulai dari BOYCOTT Pemilu NKRI di Tanah Papua, oleh Bangsa Papua.

Yang Membiayai Pembunuhan OAP ialah OAP Itu Sendiri

Memang bangsa Papua ialah salah satu dari bangsa di dunia yang mau dibilang tahu juga tidak, mau dibilang tidak tahu juga tidak. Mau dibilang tidak tahu juga bisa dicaci-maki, mau bilang tahu nanti bikin diri tahu-tahu. Salah satu hal yang sangat mengganggu nurani dan rasio perjuangan Papua Merdeka ialah persoalan biaya-biaya atau dana-dana yang diberikan oleh Orang Asli Papua (OAP) kepada NKRI untuk digunakan sebagai dana untuk membunuh OAP itu sendiri.

Yang kami maksudkan bukan dana-dana dari Freeport, bukan dari dana pengolahan kayu yang selama ini diekspor dengan bangga oleh Lukas Enembe dkk, dan bukan juga dana dari Kelapa Sawit.

Dana itu berasal langsung dari kantong-kantong, dompet-dompet OAP itu sendiri.

Dan lebih sedih lagi, sumbangan dana untuk membunuh OAP yang diberikan oleh OAP itu disumbangkan ke Dompet Pembunuhan OAP SECARA SUKARELA, tidak pernah NKRI memaksakan, tidak pernah ada kasus tagihan NKRI untuk menyumbang demi pembunuhan OAP. Tidak ada iklan, tidak ada brosur, tidak ada seruan di WA atau SMS atau FB yang disampaikan supaya OAP segera atau wajib menyumbang untuk dana pembunuhan OAP.

OAP sendiri memaksa dan mewajibkan diri memberikan sumbagan Kotak Sumbangan Pembunuhan OAP.

Dan lagi-lagi, lebih sedih lagi, sumbangan OAP kepada Kotak Sumbangan Pembunuhan OAP itu dilakukan oleh OAP sendiri secara terus-menerus, pagi, siang,sore, malam, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember, dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi.

Mana? Mana? Mana, buktinya? Oeee, mana?

  1. Kau OAP tiap hari makan nasi, ditanam dan diproduksi di Indonesia, BUKAN?
  2. Kau OAP tiap hari makan Mie, dibuat di Indonesia, BUKAN?
  3. Kau OAP tiap hari minum aqua, teh botol, teh kotak, coffee mix, kapal api, fanta, sprite, coca-cola, ultra milk, susu, cokelat, ……..yang dibuat di Indonesia, BUKAN?
  4. Kau OAP tiap hari pakai pakaian, buatan Indonesia, BUKAN?
  5. Kau OAP tiap hari makan Mie, dibuat di Indonesia, BUKAN?
  6. Kau OAP ttiap hari butuh semua barang dari Indonesia untuk kebutuhan sehari-hari, BUKAN?

Ayo, ngaku aja! Terus terang!

Di mana Papua Merdeka-nya? Kok semuanya tergantung Indonesia?

Banyak pejuang Papua Merdeka di hutan -pun makan nasi dan Mie buatan NKRI. Banyak pejuang Papua Merdeka tidak bisa hidup tanpa nasi dan Kopi Kapal Api dan Coffee Mix. Banyak pejuang Papua Merdeka tidak bisa hdup tanpa Jarum Super dan Surya Besar.

Banyak OAP pokoknya tidak bisa hidup tanpa NKRI, tanpa orang dan dan tanpa produk Indonesia.

Lalu Papua Merdeka-nya di mana? Kapan? Apa maksudnya?

Jadi, begini. Uang-uang yang kita keluarkan untuk hidup bergantung kepada produk dan semua dari Indonesia itu memberikan sumbangan kepada tentara NKRI dan polisi NKRI dan pemerintah NKRI. Semua pedagang kecil dan besar di Indonesia membayar pajak. Pajak pendapatan namanya. Pendapatan dari jual-jual produk ke OAP itu, maksudnya.

Pajak pendapatan itu dibayarkan kepada negara. Dan negara mengeluarkan uang untuk melatih tentara dan polisi, menghidupi mereka, mempersenjatai mereka dan memerintahkan mereka membunuh kaum separatis KKB/ KSB.

Jadi, logikanya kan jelas! Yang membunuh OAP itu ya OAP sendiri, karena OAP sendiri yang mengumpulkan Dana Pembunuhan OAP lewat kebiasaan-kebiasaan yang kalau tidak mau dikatakan bodok, ya lebih sopan kita katakan “tidak bijak” dan “counter-productive”.

  • Kapan bangsa Papua “OAP” memerdekakan diri dari semua produk NKRI?
  • Waktu itu-lah akan nampak NKRI akan merasa malu tidak dibutuhkan lagi oleh OAP.
  • Waktu itulah NKRI akan kekurangan uang membiayai pembunuhan OAP. Pada waktu itulah Tuhan dan “Monggar” akan tahu bahwa kami OAP sendiri tidak mau dibunuh, dan karena itu berhenti menyumbang ke Dana Pembunuhan OAP.

Kalau tidak, masih makan nasi, masih pakai pakaian Indonesia, masih suka dan kawin dengan perempuan Indonesia, masih menikmati produk Indonesia, jangan tidak tahu malu bicara Papua Merdeka!

Pertama-tama dan terutama, kita harus MENINGGALKAN NASI, dan makan Erom dan Sagu. Itu baru akan terbukti kepada diri sendiri, kepada dunia, kepada NKRI, kepada dunia, kepada Monggar dan kepada Tuhan, bahwa bangsa Papua memang benar-benar serius mau merdeka dan berdaulat di luar NKRI.

 

Bukti Joko Widodo adalah Soeharto untuk OAP Hari ini

Setelah Joko Widodo dengan senyum dan bermuka pura-pura orang baik dan polos bergerilya selama hampir lima tahun, dalam waktu singkat itu pula telah dirasakan pertama-berapa tama eksistensi dan hak asasi Orang Asli Papua (OAP) menjadi teracam dan ancaman ini sengaja ditabur dengan kujungan ratusan kali ke Tanah Papua, padahal di belakang layar dia memerintahkan pembasmian OAP.

Kekejaman Jokowi persis sama dengan Soeharto, dia senyum, dia sederhana, bermuka anak desa, tetapi semua OAP lupa bahwa dia Wong Jowo tulen, yaitu “tulen” artinya, muka Jawa, roh Jawa, politik Jawa, luar-dalam Jawa, kiri-kanan Jawa. Ke-Jawa-an yang pertama sama dengan Soeharto, yaitu tampil santai. Kedua tampil sambil senyum-senym. Tetapi pembunuhan tokoh dan kaum tertindas tetap jalan terus atas nama pembangunan, pembrendelan media yang kritis dan tidak sejalan dengan negara dan penguasa juga terus berjalan tanpa batas.

Dua ciri utama ini mewarnai kepemimpinan Soeharto yang dikenal kejam oleh OAP, orang Jawa, orang Indonesia lain maupun masyarakat dunia. Ia tampil sebagai anak desa Kemusuk, Bantul Yogyakarta yang senyum-senyum, ramah dan cinta desa dan rakyat, tetapi di sisi lain sangat mematikan.

Siapapun yang melawan menjadi sasaran pembasian, entah orang kampung, orang kota, masyarakat sipil atau aparat, pejabat atau pegawai biasa, semua dibasmikan. Dan semua ini terjadi tanpa proses hukum. Semua tidak pernah diselidiki.

Sekarang kita lihat Jokowi tersenyum ke sana-kemari. Jokowi sudah ke Tanah Papua banyak kali, umbar senyum dan menunjukkan berani jalan-jalan sampai ke mana-mana. Tidak sampai di situ saja, Jokowi juga sama dengan Soeharto, membiarkan pembunuhan OAP terjadi rutin. Setiap tahun atau bahkan bulan, atau minggu ada saja OAP dibunuh. Dan pembunuhan itu tidak pernah diselesaikan secara jelas.

Tokoh pembela HAM OAP, tokoh pembela perempuan dan hak-hak dalam berbagai aspek kehidupan OAP menjadi sasaran serangan mereka.

Di era Soeharto, semua media yang bersuara tidak sama dengan kehendaknya dibrendel, pemilik dan wartawannya dipenjarakan. Kebanyakan wartawan senior hari ini adalah mantan tahanan Soeharto. Hari ini Jokowi membentuk Cyber Army, lalu menghibur dan menyibukkan rakyat di dalam wilayah NKRI dengan berita-berita domestik yang tidak ada manfaat bagi kehdupan manusia, sementara memblokir banyak berita yang tidak dikehendaki oleh regime dan negara.

Rakyat di Indonesia juga diblokir mengakses situs-situs yang mereka anggap berseberangan dengan pemerintah dan NKRI. Situs ini, http://www.papuapost.com dan situs kembaran http://www.papuapost.wordpress.com adalah situs pertama dan utama yang telah dibrendel sejak lama. Sampai kepada akun Facebook.com/papuapost juga dibrendel dengan cara melaporkan “Spam” kepada admin pusat facebook.com

Cyber Army NKRI memang bernar-benar sukses. Dan kesuksesan ini benar-benar menunjukkan kelakuan ala Soeharto. Pembunuhan OAP dibiarkan juga adalah kelakukan Soeharto. Datang ke desa-desa dengan mengumbar senyum dan mengecap diri anak desa juga adalah model kepemimpinan Soeharto.

Kalau seandainya saja Jokowi berpeluang memerintah 20 tahun sampai kiamat, pasti Jokowi akan berbuat apa saja, lebih kejam lagi daripada Soeharto, akan membasmikan OAP sampai kosong di tanah leluhurnya, dalam waktu dua dekade saja. Dalam setengah dekade ini, sudah ratusan bahkan ribuan OAP dibunuh, TANPA diselidiki, TANPA dihukum.

Lukas Enembe dan semua OAP kelihatannya mendukung Joko Widodo. Pantas OAP tidak pernah lihat Presiden yang menjajah mereka datang dan berjabatan tangan dengan mereka. Kali ini penjajah mereka baik, karena dia datang berjabatan tangan, walaupun dia bunuh OAP secara rutun dan tidak pernah diseliki, dia datang menutup kekejamannya dengan berjabatan tangan. Dan itu dianggap sudah bagus oleh Gubernur dan masyarakat di Tanah Papua.

Sungguh ironis! Demikianlah nasib kaum terjajah di seluruh dunia. Mereka harus cari tempat aman, walaupn mereka tahu ada resiko nyawa mereka sendiri.

Terimakasih kepada UUD NKRI yang membatasi masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden. Kalau tidak, di bawah kepemimpinan Jokowi 20 tahun saja OAP sudah pasti terancam punah, tanah mereka sudah terancam dikuasai dan didukui penuh oleh kaum Amberi Melayo-Indos.

Tahun 2019, OAP seabagai bangsa dalam jajahan NKRI diwajibkan untuk memilih di antara dua orang yang sama-sama jahat: Jokowi yang senyum-senyum tetapi membunuh secara tenang, atau Prabowo yang menggebu-gebu dengan militerismenya dan yang berpengalaman dalam membunuh OAP selama Bapa mantunya berkuasa dan berpotensi melakukan hal yang sama selama paling tidak 5 tahun ke depan.

Memilih antara buaya atau serigala benar-benar pilihan sulit. Akan tetapi di antara itu, lebih baik OAP memilih orang yang jelas-jelas diketahui sebagai pembunuh daripada pemimpin yang mengumbar senyum ke sana-kemari tetapi pada saat yang sama pembunuhan OAP terjadi secara masal dan meluas.

 

Mau Melompat, Tetapi Belum Yakin Akan Sampai ke Sebelah atau Tidak?

Kita ada dalam kondisi sudah tahu Papua Merdeka itu sebuah keharusan. Indonesia-pun tahu Papua pasti merdeka dan berdaulat di luar NKRI. Kaum pendatang di Tanah Papua tahu juga realitas ini akan terwujud. Dunia-pun tahu bahwa Papua Merdeka ialah sebuah fakta yang tertunda.

Tetapi masalahnya masing-masing pihak yang bersangkutan “belum yakin“, atau belum bisa memastikan sejauh mana lompatan ini akan terjadi, sebagus apa Papua Merdeka itu, apakah lompatan dari penjajaahn ke era kemerdekaan itu mencelakakan atau menguntungkan?

Kita tahu laut/ danau itu dalam, tetapi kedalaman itu sedalam apa, sejauh apa, sedingin atau sepanas apa? Semua pihak masih menerka-nerka.

Itulah situasi bathin yang dialami oleh banyak pihak di Tanah Papua, terutama dan pertama-tama oleh Orang Asli Papua (OAP) sendiri.

Itulah sebabnya NKRI selalu beralasan seperti ini,

“Alah, orang Papua itu kan merdeka paling-paling sama dengan PNG dan Timor Leste, tetap saja miskin, tetap saja terbelakang, tetap saja perang suku. Lebih bagus tinggal dengan NKRI, biar dibuat beradab.”

Orang Papua melawan dengan dalil sejarah pencaplokan dan pendudukan NKRI atas Wilayah dan Negara West Papua idak demokratis, melanggar prinsip HAM, hukum internasional dan demokrasi modern.

Orang Papua sudah membuat orang Melanesia sudah yakin Papua harus merdeka dan berdaulat di luar NKRI. Banyak negara di dunia sudah yakin Papua harus merdeka.

Sekarang saatnya lompatan itu harus dilakukan. Siapa yang harus melompat duluan? Sejauh mana lompatan itu? Apakah kita akan sampai ke sebelah?

Banyak orang, terutama sekali orang Melanesia di West Papua sendiri masih tidak yakin bahwa kemerdekaan West Papua itu akan penuh damai-sejahtera. Masih banyak orang Papua saat ini merasa lebih aman hidup dengan NKRI, dan nanti kalau Negara West Papua hadir justru akan mengancam eksistensi mereka.

Ini soal yang manusiawi. Semua manusia, atau semua makhluk mau hidup aman dan tenang. Oleh karena itu, kemerdekaan West Papua haruslah memberikan penjelasan yang gamblang, terus-terang, secara luas tentang apa-apa saja yang akan terjadi bilamana West Papua benar-benar keluar dari NKRI.

Sistem pemerintahan, soal pelanggaran HAM, soal pendatang di Tanah Papua, soal kekejaman masa lalu yang dilakukan baik oleh orang West Papua sendiri dan terutama oleh NKRI, semua harus dijelaskan.

Penjelasan-penjelasan ini akan membantu pertama-tama orang West Papua sendiri merasa “berani” dan “gembira” melangkah masuk ke dalam era Papua Merdeka. Roh dan tekad itu akan mendorong Papua Merdeka hadir secepatnya.

Penjelasan itu juga akan membantu kaum Amberi di Tanah Papua akan berbalik mendukung perjuangan Papua Merdeka.

Penjelasan itu akan membuat negara-negara modern dan adikuasa akan melihat dengan jelas dan menghitung keuntungan-keuntungan ekonominya, sehingga akan dengan aman dan tenang memproses permintaan West Papua untuk merdeka dan berdaulat di luar NKRI.

Para pemimpin negara-negara Melanesia, terutama Papua New Guinea dan Fiji akan merasakan bahwa bangsa Papua di bagian Barat pulau New Guinea sudah dan benar-benar siap untuk bernegara sendiri, di luar NKRI.

Kalau tidak, kita akan tinggal dalam sandiwara politik, mau lompat tetapi tidak tahu akan sampai ke sebelah atau tidak, dan akhirnya memilih untuk berceria terus-menerus tanpa menyebarang Sungai Jordan.

Pola hidup OAP Telah Tercemar oleh Gaya dan tradisi Orang Pendatang

Ya, benar, ini sebuah tragedi kemanusiaan yang telah menimpa salah satu kelompok manusia di muka Bumi, bernama bangsa Papua, ras Melanesia, yaitu bahwa “Pola hidup OAP Telah Tercemar oleh Gaya dan tradisi Orang Pendatang Melayo-Endo”

Pertama, kita lihat dan kita alami setiap hari, dari apa yang kita makan,semua orang Papua hari ini makan nasi, IndoMie dan makanan Malayo-Endos. Pada acara kenegaraan maupun acara keluarga, semua orang Papua hari ini lebih suka merayakan hari-hari penting dan hari-hari biasa dengan memakan nasi dan sayur ala orang Melayu. Sudah lupa dan bahkan sudah menganggap ketinggalan zaman kalau makan Ubi (erom) dan Sagu/ Papeda.

Yang ada di dalam perut sendiri sudah makanan non-Papua, jangan harap apa yang keluar dari dalam tubuh yang diisi dengan makanan asing itu adalah asli Papua. Iti bohong.

Terlihat dari pola makan OAP. Dan kedua gaya bahasa OAP yang sudah jauh melenceng jauh dari gaya hidup dan budaya OAP.

Kedua, sampai hari ini, dalam setiap acara-acara besar yang digelar di pesisir maupun gunung Tanah Papua tidak ada nuansa asli yang menonjol yang menceritrakan gaya hidup manusia pibumi Papua.

Ini merupakan suatu ancaman kepunahan sistem kebudayaan di Papua . Nilai budaya bukan barang hiasan untuk dipampang pada saat tertentu, namun harus mewarnai kehidupan setiap hari. Jika nilai benda budaya orang Papua dipakai hanya untuk momen-momen tertentu, berarti kita sedang terpenjara dalam sistem kebudayaan Bangsa Lain

Pola hidup orang Asli Papua telah tercemar dengan gaya dan tradisi orang Pendatang (Indo-Melayu). Terlihat dari pola makan dan gaya bahasa yang sangat melenceng jauh dari gaya hidup kebudayaan OAP. Sampai hari ini, dalam setiap acara-acara besar yang di gelar di pesisir pantai maupun gunung

Salam Perlawanan OAP….alam Perlawanan OAP….

SOLPAP Bosan dengan Pansus Bentukan DPRP

Source: Jum’at, 06 Maret 2015 01:30, BinPa

mama-mama saat demo beberapa waktu laluJAYAPURA โ€“ Adanya rencana DPRP akan membentuk sejumlah Pansus, termasuk Pansus pembangunan pasar mama-mama Pedagang asli Papua, mendapat tanggapan pesimis dari Sekretaris Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP) Robert Jitmau. Ia menyatakan, SOLPAP sebagai wadahย  penghimpun Pedagang Asli Papua menilai tidak ada itikat baik dari Eksekutif dan Legislatif untuk segera membangun Pasar Permanen bagi Mama-mama Pedagang Asli Papua. Pansus bentukan DPRP pun dinilai tidak serius, bahkan tidak ada hasilnya. โ€œSampai sekarang apa yang dikerjakan Pansus DPRP,โ€ kata Robert Jitmau mempertanyakan kerja Pansus Pasar Mama Papua.

Robertย  yang ditemu Bintang Papua, Kamis (5/3) mengatakan, eksekutif dan legislatif jangan hanya ambil sikap ketika ada aksi dilakukan para Mama-mama pedagang, namun kemudian masalah didiamkan lagi.

Kalau benar DPRP akan kembali membentuk Pansus Pasar Mama-mama, SOLPAP meminta agar dilibatkan dalam Pansus yang akan dibentuk DPRP.ย 

โ€œKami tidak mau Pansus Pasar bentukan DPRP itu kerja sembunyi-sembunyi, kami ini sudah bosan dengan pansus-pansus, kalau pansus tidak jelas, tolong DPRP jangan bentuk Pansus omong kosong, kami sudah tidak percaya kerja pansus Pasar Mama-mamaโ€, ujar Robert Jitmau.

Menurut Robert, eksekutif bersama legislatif Papua seharusnya sadar dalam mencermati keseriusan Pemerintah pusat seperti diutarakan Presiden Jokowi dalam kunjungannya 2014 lalu bahwa Pemerintah daerah merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Pusat di daerah yang mengeksekusi semua kebijakan pembangunan pro rakyat termasuk pembangunan Pasar Mama-mama Papua yang sudah direspon Presiden bahkan Presiden telah meletakan batu pertama pembangunan Pasar Mama Papua.

Pemerintah daerah seharusnya segera mengeksekusi respon Presiden tersebut, Pemda harusnya melakukan pembebasan lahan Dambri, itu tugas Pemda. Robert menegaskan, Gubernur Papua jangan hanya mengumbar visis misi Papua bangkit mandiri sejahtera, tetapi sarana prasarana untuk mencapai Papua bangkit mandiri sejahtera itu tidak dilaksanakan. Pembangunan Pasarย  Permanen bagi Pedagang Asli Papua merupakan wujud visi misi Papua bangkit mandiri sejahtera, itu hal konkrit menterjemahkan Papua bangkit mandiri sejahtera, ujarnya.
Dia menyingung, Gubernur jangan hanya cepat keluarkan uang untuk KNPI,ย  cepat keluarkan uang untuk PON, untuk Raimuna, sementara pembangunan Pasar yang nyata-nyata sesuai visi misinya ditaruh kebelakang.

Lebih lanjut Robert Jitmau mengulang penyampaian Presiden bahwa, Pemerintah Daerah harus memperhatikan kebutuhan rakyat, kebutuhan rakyat diutamakan. Presiden juga menegaskan ada sanksi pengurangan anggaranย ย  APBN apabila Pemerintah Daerah tidak merespon kebutuhan rakyat. Pemerintah Pusat juga memberikan bantuanย  untuk pembangunan Pasar Mama Papua senilai 15 miliar selanjutnya dana pembangunan Pasar Mama Papua ituย  ditambah dari anggaran Pemda Provinsi Papua. (ven/don/l03)

Up ↑

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Melaneia News

Just another WordPress site

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

PAPUAmart.com

MAMA Stap na YUMI Stap!

Koteka

This is My Origin and My Destiny

Melanesia Web Hosting

Melanesia Specific Domains and Web Hosting

Sem Karoba Tawy

Patient Spectator of the TRTUH in Action

Melanesia Business News

Just another MELANESIA.news site

Sahabat Alam Papua (SAPA)

Sahabat Alam Melanesia (SALAM)

Melanesian Spirit's Club

Where All Spirit Beings Talk for Real!

Breath of Bliss Melanesia

with Wewo Kotokay, BoB Facilitator

Fast, Pray, and Praise

to Free Melanesia and Melanesian Peoples from Satanic Bondages

Pandanus Conoideus Lam

New Guinea Red Pandanus Oil

Government of West Papua

for a Free and Independent West Papua