Di Uncen, Dubes AS ‘Disuguhi‘ Wacana Referendum

Dubes Amerika Serikat Scot Marciel saat berbincang-bincang dengan sejumlah staf LSM dari USAID dan Unicef di Poltekes padang BulanJayapura—Duta Besar Amerika Serikat (Dubes AS) untuk Indonesia, Scot Marciel, dalam lawatannya ke Jayapura, melakukan serangkaian kegiatan antara lain berkunjung ke Politeknik Kesehatan Padang Bulan dan sejumlah kantor pemerintahan, yakni MRP dan Gubernur Papua. Yang menarik dalam rangkaian kunjungan Rabu (6/10) kemarin saat berdialog dengan mahasiswa Uncen. Dalam suasana dialog ini Dubes As, sempat ‘disuguhi’ wacana referendum dan teriakan Papua Merdeka oleh mahasiswa Uncen dalam sesi tanya jawab.

Para mahasiswa pun merasa kurang puas karena pertemuan yang terbilang singkat, yakni hanya satu jam tersebut, tidak sepatah katapun keluar dari Dubes yang baru bertugas di Indonesia selama dua bulan terkait dengan isu referendum dan isu-isu senada.

Scot Marciel yang datang ke Papua bersama Atase Pertahanan Russ Bailey, dan sejumlah stafnya hanya menjawab bahwa ia masih baru dan belum banyak tahu. ‘’Saya masih baru dan perlu banyak belajar. Semua akan saya pelajari dulu,’’ jawabnya mengakhiri dialog.

Di dalam ruang makan usai istirahat sejenak, Scot Marciel kepada wartawan mengungkapkan dengan bahasa Inggris bahwa maksud dari kunjungannya ke Papua dengan mengunjungi Poltekes dan Uncen, serta sejumlah kantor seperti MRP dan Gubernur Papua, yakni salah satunya terkait kerjasama antara Amerika Serikat dengan Indonesia di bidang pendidikan.
Dan terkait dengan isu referendum dan kemerdekaan Papua, Scot Marciel menegaskan bahwa Pemerintah Amerika Serikat tetap mendukung Papua dengan status Otonomi Khusus di dalam NKRI. Ditegaskan juga bahwa Amerika tidak pernah mendukung gerakan sparatisme di Papua.
Kunjungan Dubes Amerika yang diawali dengan mengunjungi Politeknik Kesehatan (Poltekes) Jayapura, yakni bertemu dengan bidan-bidan yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak di lapangan.

“Saya berkunjung ke Papua untuk melihat pembangunan yang, sekaligus bertemu kebidanan serta pimpinan daerah yang ada,” ujar Marciel di Poltekes Padang Bulan, Jayapura.
Duta Besar Marciel berdiskusi tentang cara-cara inovatif untuk menggabungkan perawatan pra-kelahiran dengan pengobatan malaria, dalam sebuah program yang telah didanai oleh USAID sejak tahun 2006.

Sementara, dalam pertemuan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia dengan Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Agus Alue Alua antara lain membicarakan masalah pelaksanaan otonomi khusus di Papua.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut, menurut Agus Alua membicarakan tentang implementasi Otonomi Khusus (Otsus) di Papua yang telah berjalan selama sembilan tahun.

Menurutnya, kepada Scot Marciel diceritakan tentang wacana pengembalian UU Otsus yang dibilang gagal. ‘’Yang bilang Otsus gagal itu masyarakat. Sedangkan kami (MRP, red) hanya memfasilitasi,’’ ungkapnya.

Dikatakannya kepada Scot Marciel tentang alasan kenapa masyarakat mengatakan Otsus gagal, yakni selain kesejahteraan masyarakat kampung yang belum nampak banyak berubah juga terkait munculnya keputusan pemerintah yang tidak sesuai dengan Otsus, seperti pemekaran Provinsi Papua Barat.

Tentang perbedaan pandangan pemerintah yang menyatakan Otsus berhasil dan masyarakat yang menyatakan Otsus gagal juga diungkapkannya kepada rombongan dubes. Atas informasi yang diberikannya, menurut Agus Alua, pihak Scot Marciel hanya menyatakan menampung informasi untuk dipelajari lebih lanjut. (aj)

4 thoughts on “Di Uncen, Dubes AS ‘Disuguhi‘ Wacana Referendum

Add yours

  1. Amerika Serikat tahu, dan mendukung aspirasi bangsa Papua, mereka hanya tunggu kesiapan dan persiapan orang Papua sendiri, khususnya secara organisasi dan menejemen perjuangan kita. Bukan maslah Indonesia, bukan maslaah A.S., masalah ada di tangah orang Papua sendiri.

    Like

  2. Amerika Serikat tahu, dan mendukung aspirasi bangsa Papua, mereka hanya tunggu kesiapan dan persiapan orang Papua sendiri, khususnya secara organisasi dan menejemen perjuangan kita. Bukan maslah Indonesia, bukan maslaah A.S., masalah ada di tangah orang Papua sendiri.

    Like

  3. betul sekali. Betul.

    Dunia internasional secara umum mendukung perjuangan ini. Yang menghambat perjuangan ini orang Papua sendiri.

    Apa tanda2 orang Papua menghambat perjuangan ini?
    1. Perjuangan dilakukan secara amatir, tidak terorganisir secara modern,
    2. Organisas perjuangan selalu gonta-ganti, baik manusianya maupun nama organisasinya
    3. Organisasi yang ada tidak jelas, organisasi mana yang menjalankan tugas-tugas politik dan diplomiasi dan organisasi mana yang menjalankan kegiatan gerilya rimba serta organisasi taktis yang bergerilya di kota. Semuanya kabur sehingga baik NKRI maupun dunia luar sedang bingung. mereka masih menunggu kemunculan kita.
    4. Banyak kleim2 yang orang Papua sendiri buat, tanpa punya dasar masa di lapangan yang jelas, tanpa ada hubungan langsung dengan para gerilyawan di hutan dan pejuang di kota dan kampung. Mereka hanya berbicara di udara, sehingga orang bingung, “Legitimasinya dari mana????”

    Begitu dulu.

    Jadi, para gerilyawan di kota, mahasiswa sekalian, memang berkewajiban untuk melakukan dan mempertanyakan seperti ini.

    Terimakasih untuk ini.

    Like

  4. betul sekali. Betul.

    Dunia internasional secara umum mendukung perjuangan ini. Yang menghambat perjuangan ini orang Papua sendiri.

    Apa tanda2 orang Papua menghambat perjuangan ini?
    1. Perjuangan dilakukan secara amatir, tidak terorganisir secara modern,
    2. Organisas perjuangan selalu gonta-ganti, baik manusianya maupun nama organisasinya
    3. Organisasi yang ada tidak jelas, organisasi mana yang menjalankan tugas-tugas politik dan diplomiasi dan organisasi mana yang menjalankan kegiatan gerilya rimba serta organisasi taktis yang bergerilya di kota. Semuanya kabur sehingga baik NKRI maupun dunia luar sedang bingung. mereka masih menunggu kemunculan kita.
    4. Banyak kleim2 yang orang Papua sendiri buat, tanpa punya dasar masa di lapangan yang jelas, tanpa ada hubungan langsung dengan para gerilyawan di hutan dan pejuang di kota dan kampung. Mereka hanya berbicara di udara, sehingga orang bingung, “Legitimasinya dari mana????”

    Begitu dulu.

    Jadi, para gerilyawan di kota, mahasiswa sekalian, memang berkewajiban untuk melakukan dan mempertanyakan seperti ini.

    Terimakasih untuk ini.

    Like

Leave a comment

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny