
JAYAPURA [PAPOS] – Perayaan Hari Ulang Tahun [HUT] Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66 yang dilaksanakn di Papua tercoreng dengan dikibarkan bendera Bintang kejora di daerah Gunung Tanah Hitam Puskopad, distrik Abepura, Rabu (17/8) sekitar pukul 09.00 WIT.
Selain pengibaran Bintang Kejora di Tanah Hitam, aksi lainnya menjelang perayaan HUT RI ke 66 di tanah Papua adalah sekelompok Tentara Pembebasan Nasional/ Orang Papua Merdeka [TPN/OPM] berkisara 30 orang menyerang Polsek Komopa, Kabupaten Paniai, Selasa [16/8] dinihari sekitar pukul 01.00 Wit.
Demikian juga distrik Mulia Kabupaten Puncak Jaya, Rabu [17/8] pagi sekitar pukul 08.30 Wit, seorang prajurit TNI-AD bernama Prada, Jamila dari satuan 753/AVTditembak oleh Gerombolan Sipil Bersenjata saat melakukan pengamanan upacara perayaan HUT RI ke 66 di kampung Wandenggobak, distrik Mulia Kabupaten Puncak Jaya.
Ditempat lainnya, sekitar 30 orang bersenjata yang diduga kelompok Jhon Yogi pimpinan TPM OPM wilayah Pania dan sekitarnya melakukan perampasan senjata milik anggota Polsek Kamofa Kabupaten Pania, Senin [15/8] malam sekitar pukul 01.00 wit.
Data yang diperoleh Papua Pos, bendera Bintang Kejora dikibarkan oleh TPN/OPM yang ditancapkan diatas tiang kayu. Konon setelah mengibarkan bendera bintang kejora mereka langsung melarikan diri ke hutan.
Berdasarkan keterangan saksi salah seorang warga bernama Asmin saat ia berangkat ke Kebun bersama 6 rekannya. Namun, dalam perjalanan melihat jalan dipalang dengan menggunakan kayu dan buah kelapa.
Tak hanya itu saja, warga juga melihat busur panah dengan anak panah yang ditancapkan ke tanah dan pengibaran bendera Bintang Kejora serta pembakaran sebuah gubuk di kebun.
Kemudian sekitar pukul 10.20 WIT aparat kepolisian melakukan penyisiran dan menurunkan bendera yang dikibarkan oleh TPN/OPM sekaligus menjadikannya sebagai barang bukti meskipun pelaku masih belum diketahui.
Ketika dikonfirmasi ke Kapolda Papua, Irjen Pol Drs. B.L Tobing wartawan dilapangan Mandala usai pelaksanaan Upacara Hut RI ke-66 mengatakan, pengibara bendera bintang kejora itu dihiraukan saja. “Sekarang yang terpenting adalah upacara HUT RI dapat berjalan, hikmat, aman dan sukses,” katanya seraya enggan berkomentar.
Sehari sebelumnya, tepatnya Selasa [16/8] sekitar pukul 04.20 WIT juga dikibarkan bendera bintang kejora di dua tempat yang berbeda, tepatnya di tanah Hitam Puskopad, konon lagi saat itu sempat mengeluarkan tembakan dan selanjutnya melarikan diri ke hutan..
Begitru mendapat informasi, gabungan TNI-Polri dipimpin langsung oleh Kapolres Jayapura Kota dan Dandim 1701/Jayapura Letkol ARM I Hutma Sihombing langsung menuju lokasi kejadian sekaligus melakukan penyisiran serta menurunkan bendera tersebut. Sebelum bendera diturunkan aparat sempat mengeluarkan tembakan kearah gunung untuk melakukan penyisiran dan bendera pertama berhasil diturunkan sekitar pukul 08.00 Wit
Usai menurunkan bendera, aparat TNI-Polri kembali menuju ke gunung sebelah untuk menurunkan bendera yang masih berkibar tepatnya di puncak gununga Tanah Hitam hingga pukul 10.45 WIT dan bendera berhasil diturunkan. Setelah berhasil menurunkan bendera, warga setempat melihat secara langsung bendera tersebut di jalan berukuran cukup besar.
Kapolres Jayapura Kota, AKBP H Imam Setiawan SiK didampingi Danmdim 1701/Jayapura, Letkol AMR I Hutma Sihombing membenarkan pengibaran bendera Bintang Kejora itu. “Pelakunya adalah kelompok dari Danny Kogoya yang selama sudah kita ketahui dari dokumen-dokumen yang ditemukan,” paparnya kepada wartawan.
Kapolres mengungkapkan ketika mendapat informasi pengibaran bendera itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Dandim, setelah itu annggota menuju lokasi kejadian untuk melakukan penyisiran. Hanya saja, kata dia saat dilakukan penyisiran para pelaku keburu melarikan diri. “Mereka lari kearah Arso dan arah Alang-alang V dan saya sudah berkoordinasi dengan Pos TNI Koreem 330 dan sekarang mereka telah menuju kearah itu,” ujar Kapolres
Lanjut Kapolres, untuk memberikan rasa nyaman kepada masyarakat di sekitar Abepura pihaknya sudah melakukan siaga anggota dikompleks-komplkes sampai situasi aman dan normal kembali. Untuk itu, Kapolres mengajak seluruh masyarakat agar tetap tenang dan bekerjasama denga polri, paling tidak memberikan informasi berkaitan dengan gerakan para pelaku. “Kami juga menghimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan keamanan masing-masing dilingkungannya,” katanya
OPM Serang Polsek Komopa
Ditempat terpisah sekelompok tentara pembebasan nasional/orang Papua merdeka [TPN/OPM] yang berkisara 30 orang menyerang polsek Komopa Kabupaten Paniai, Selasa [16/8] dinihari sekitar pukul 01.00 Wit.
Akibat penyerangan itu, 2 pucuk senjata api masing-masing dengan nomo seri B 20022 dan B 101187 serta amunis sebanyak 10 butir milik anggota Polri yang bertugas di Polsek Komopa berhasil dirampas oleh OPM.
Perampasan dilakukan oleh para pelaku secara mendadak dengan cara langsung mendobrak pintu dan menodongkan senjata kepada salahsatu anggota Polsek Komopaa bernama Briptu Hendrik dan langsung merampas 2 senjata yang ada di Polsek.
Selanjutnya, para pelaku yang diduga dibawa pimpinan Jhon Yogi itu meminta kepada korban agar memberikan senjata lagi dengan membawanya menuju rumah salah satu anggota Polsek Brigadir latif tujuan meminta senjata api dan saat itu korban Latif menyampaikan bahwa tidak ada senja.
Namun, kelompok tersebut tetap ngotot dengan memaksa keluarga korban Latif ke Mapolsek Komopa untuk mendapatkan senjata. Saat itupula, Kapolsek Komopa beserta seluruh anggotanya siap melakukan perlawanan. Nah, begitu melihat Kapolsek bersama anggotanya sudah siap, para pelaku lari kocar-kacir melarikan diri masuk hutan.
Awalnya sekitar 30 orang bersenjata yang diduga kelompok Jhon Yogi pimpinan TPM OPM wilayah Pania dan sekitarnya, melakukan perampasan senjata milik anggota Polsek Kamofa Kabupaten Pania Senin [15/8] malam kemarin, sekitar pukul 01.00 wit.
Kelompok bersenjata itu, tita-tiba mendatangi Polsek Komofa Kabupaten Pania, lalu melakukan penyanderaan terhadap seorang istrik anggota Polisi yang pada saat itu berada di Polsek tersebut, kemudian kelompok bersentata yang bersangkutan meminta senjata dari anggota Polsek.
Selanjutnya, anggota Polsek Komofa menyerahkan dua pucuk senjata berjenis SKS atau AK-47 buatan cina kepada kelompok bersenjata tersebut, guna menebus istri seorang anggota Polisi yang disandra.
Setelah kelompok bersenjata mendapat dua pucuk senjata, mereka langsung pergi tanpa melukai seorang pun anggota di Polsek Komofa. Tidak ada kontak senjata dalam peristiwa itu, kelompok bersenjata hanya mengambil senjata anggota Polisi langsung melarikan diri.
Informasi peristiwa perampasan senjata ini, dihimpun wartawan Jayapura, dari sumber terpercaya yakni, seorang anggota keamanan yang tak mau namanya dikorankan, Selasa [16/8] kemarin melalui telepon.
Dikatakan, situasi Pania saat ini aman terkendali, namun aparat Kepolisian yang dibekap anggota TNI 753 Nabire masih melakukan siaga di Pania. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Kepolisian.
Ketika dikonfirmasi ke Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) Wachyono membenarkan terjadinya penyerangan Polsek tersebut. “Ya, benar laporan sudah kita terima. Akibat kejadian itu 2 pucuk senpi milik polri dirampas mereka, tetapi tidak ada korban jiwa,” ujarnya
Namun, dengan adanya kejadian itu Brimob dan TNI diberangkatkan ke Polsek menggunakan perahu Johnson.’’Saat situasi masih aman dan terkendali,’’ kata Kabid Humas
Prajurit TNI-AD Ditembak
seorang prajurit TNI-AD bernama Prada, Jamila dari satuan 753/AVT ditembak oleh Gerombolan Kelompok Sipil Bersenjata saat melakukan pengamanan upacara perayaan HUT RI ke 66 di kampung Wandenggobak, distrik Mulia Kabupaten Puncak Jaya, Rabu [17/8] pagi sekitar pukul 08.30 Wit.
Akibat penembakan yang dilakukan kelompok KSB, timah peluru mengenai paha korban pada bagian kanan atas sampai tembus belakang. Bahkan, rekan korban sempat melakukan kontak senjata dengan pelaku, namun mereka berhasil melarikan diri ke hutan, sementara korban langsung di terbangkan ke Jayapura, selanjutnya di evakuasi ke RS Marthen Indey untuk mendapat pengobatan secara intensif.
Saat di konfirmasi ke Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Erfi Triassunu lewat telepon selulernya, membenarkan adanya penembakan tersebut. “Mereka itu kelompok dari GPK yang ingin mengganggu saat pelaksaan upacara 17 Agustus,” ujarnya kepada Papua Pos, Rabu [17/8] kemarin
Meskipun terjadi penembakan, prajurit sempat melakukan penembakan terhadap kelompok tersebut. Aksi ini menurutnya tidak sampai mengganggu jalannya upacara perayaan HUR RI ke 66 di kabupten Puncak Jaya. ‘’Upacara HUT RI ke-66 berjalan dengan aman dan lancer,’’ tandasnya. [eka/loy]
Written by Eka/Loy/Papos
Thursday, 18 August 2011 00:00
Leave a comment