Di tengah perayaan HUT Kemerdekaan kolonial NKRI pada hari ini, Pemangku Adat dan Alam Papua dengan ini sekali lagi, untuk sekian kalinya memberitahukan:
- Sesuai dengan seruan dan pesan-pesan sebelumnya, Indonesia harus mengakui dan memberikan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Papua yang telah dirampas dengan manipulasi jahatnya, karena Alm. Ir. Soekarno dan rekan-rekannya telah dengan meminta maaf, mengembalikan surat wasiat yang telah dirampas dari Tanah Papua, dan mengembalikan benda warisan nenek moyang Papua yang telah dismpannya puluhan tahun lamanya;
- Surat telah kami sampaikan kepada Sultan Hamengkubuwono X, Megawati Sukarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan Alm. KH Abdurrahman Wahid, bahwa maryoritas Tiang Pulau Jawa, para Sunan telah menyetujui kemerdekaan bangsa Papua;
- Sudah berulangkali diberitahukan bahwa musibah berupa air bah, gempa bumi, kecelakaan, dan kebakaran (khusus, sekali lagi secara khsuus kebakaran tempat-tempat usaha, perkantoran dan tempat umum, bukan rumah tempat tinggal) akan terus berlanjut, terus berlanjut dan terus berlanjut, sampai titik terakhir, atau sampai NKRI mengakui dan menyerahkan kemerdekaan dan kedaulatan tanah dan bangsa Papua.
- Silahkan hitung, silahkan renngkan dan silahkan bertanya kepada hatinurani, apakah pesan-pesan ini hanyalah khayalan, takhayul, seperti pidato SBY tahun 2005, ataukah ini fakta. Apakah kebakaran-kebakaran ini takhayul? Apakah kecelakaan takhayul? Apakah musibah takhayul? Apakah ini ujian dalam rangka membersihakn umat Tuhan NKRI dalam proses masuk ke surga agar semua orang Indonesia menjadi murni bersih? Ataukah ini kutukan dan tulah dari Tuhan, sampai NKRI memenuhi tuntutan Hukum Alam dan Hukum Adat, yaitu Hukum Ilahi Pencipta Tanah dan Manusia Papua?
Sekian pesan kami untuk dimaklumi dan disebarluaskan.
Atas nama Tanah, Alam, Benda, Hewan, Tumbuhan, Leluhur, Pahlawan, Anak-Cucu, dan Bangsa Papua, atas nama Tuhan Pencipta Langit dan Bumi!!!
———————————-
OPERASI SANDI “AWAS!”
Pemangku Adat dan Alam Papua
tanahku subur
alamku kaya
itulah bumiku, bumi papua
bagaikan danau madu
semakin hari semakin manis
kian menggoda semut-semut rakus
dibalik indahnya mutiara yang bertebaran di bumi papua
dibalik manisnya madu-madu alam di papua
dibalik terang benderangnya kehidupan
aku, rakyat papua bagaikan hidup di jaman prasejarah
manisnya madu tak kunikmati
cemerlang indah mutiara tak kunikmati
terang benderang hidup tak kunikmati
aku, rakyat papua, dapat apa ?
mati di tanah leluhur sendiri…
LikeLike