Editorial: Siapa yang Seharusnya Mendukung Papua Merdeka?

Weynand Watori sebagai pemerhati nasib bangsa dan tanah airnya baru-baru ini menyatakan “Belum Ada Parlemen Didunia Dukung Papua Merdeka”. Apa artinya dan bagaimana seharusnya perjuangan ini diteruskan?

Itulah kira-kira pertanyaan yang timbul di benak orang Papua ketika membaca berita sampai detik ini belum ada parlemen yang mendukung Papua Merdeka. Pertama-tama barangkali Watori lupa bahwa Rakyat, seluruh Kepala Suku, Alam, Ada, Anggota Parlemen dan Pemerintah Republik Vanuatu telah lama menyampaikan dukungannya kepada perjuangan dan nasib bangsa dan Tanah Papua. Jadi, pertama-tama tidak benar kalau beliau katakan “belum ada”, seharusnya beliau katakan, “hanya satu” yang mendukung perjuangan Papua Merdeka.

Memang, manusia selalu meremehkan apa yang datang dari dalam dirinya sendiri. Jarang menghargai potensi dirinya dan bangsanya. Potensi dukungan yang terkuat dan terutama sebenarnya dan seharusnya serta akan terbukti berasal dari saudara-saudara sebangsa dan setanah air di Papua Timur (PNG) dan saudara-suadara seras, sebudaya di Melanesia, Polynesia dan Micronesia. Permainan politik dan diplomasi yang terjadi non jauh sana merupakan bentuk mobilisasi dukungan antarbangsa. Sekali lagi, itu dukungan tambahan. Dukungan utama haruslah berasal dari sesuku, sebangsa, setanah air dan seras. Secara hukum internasional, secara sosio-budaya, secara aturan main dalam mekanisme PBB, memang inilah jalannya.

Sampai di sini kita bertanya, “Apakah kampanye di Eropa dan Amerika Serikat bertujuang mendapatkan dukungan dari Parlemen di sana?” Tentu saja tidak. Inilah yang disebut dengan politik “tanam-pungut”, kita tanam, lalu kita buat pagar, kita menyiangi, kita tunggu lalu kita pungut. Kalau kita berkebun tentu saja kita tidak membuat pagar kebun itu hanya seputar tanaman itu, kita membuatnya seluas-mungkin, jauh dan di luar dari tanaman.
***

Lalu kita tanya lagi, “Bagaimana dengan dukungan dari Papua New Guinea?”

Jawabannya tidak sulit tetapi membuktikannya tidak begitu mudah. Kalau kita bertanya kepada orang-orang sebangsa-setanah air di Papua New Guinea, “Apakah Anda mendukung Papua Merdeka?” Pertanyaan ini sama saja dengan kita orang Genyem bertanya kepada orang Arso, “Apakah Anda mendukung Papua Merdeka?” Artinya, kita sedang bertanya kepada diri sendiri. Kita seharusnya tidak bertanya kepada diri (bangsa dan tanah air) sendiri, karena dukungan itu ada secara otomatis dan pasti.

Yang tersisah dan belum mengemuka itu sama saja dengan kondisi di West Papua, yaitu belum ada pemimpin PNG yang tampil dan secara terbuka berbicara dan memobilisasi masa. Sama saja di West Papua, dulu wakti Nicolaas Jouwe ada masa yang dikumpulkan, di era Theys Eluay juga ada masa yang hadir mendukung, kini di era Forkorus & Buktar Tabuni ada masa yang mendukung. Kita sedang tunggu tokoh Papua di PNG yang muncul dan bersuara untuk tanah leluhur dan bangsanya sendiri, “Bangsa Papua di Tanah New Guinea”.

Orang Papua memang sudah lama terkondisikan untuk bermental “mengemis”, selalu membuka telapak tangan dan mengharapkan uluran tangan orang asing, tidak pernah menghargai dirinya dan potensinya sendiri. Pantas saja, Timor Leste yang berjuang 10 tahun setelaeh Papua Merdeka diperjuangkan itu justru merdeka lebih duluan. Kita selalu melihat semua barang dari “kulit putih” dan “rambut lurus” itu lebih baik daripada yang berasal dari kita sendiri. Makanan pokok sagu dan ubi saja sudah kita buang karena kita anggap itu makanan kuno. Bahasa daerah sendiri sudah terhapus dari tanah Papua. Hal-hal hakiki dan fundamental sebenarnya sudah terkikis habis. Apalagi hal-hal politis seperti dukungan untuk Papua Merdeka. Kita selalu melihat keluar, kita menyangkal diri dan mengabaikan diri sendiri. Kita lalai menghargai dan mengelola kemampuan yang ada pada diri sendiri.

[stickyright]Sebodoh-bodohnya saudara-sedarah, ia tetap saudara, dialah yang akan datang dan bilang, “Saya ada” pada saat kita susah, dia yang akan datang dan “Menangis” saat kita menangis, dia juga yang akan datang berpesat saat kita berpesta.[/stickyright] Sebagus-bagusnya tawaran dan buah bibir orang lain, ia tetap orang lain, ia tidak akan hadir waktu kita susah, ia akan menyangkal waktu kita tersandera masalah, ia akan lari saat kita butuh dia untuk berduka bersama. Ia hanya mencari manisnya, sepahnya ia tidak butuh sama-sekali.

Memang dukungan parlemen dari negara-negara yang sudah merdeka non jauh sana itu penting, dan pasti menentukan dalam nasib bangsa Papua ke depan. Akan tetapi dalam praktek politik tetap berlaku prinsip “geopolitik”. Geopolitik terkait dengan letak wilayah yang disengketakan dengan wilayah yang sudah merdeka, dan pandangan dari kawasan di mana wilayah yang dipersengketakan itu berada sangat utama dalam pertimbangan-pertimbangan parlemen atau pemerintah negara di kawasan lain di seluruh belahan dunia. Pada akhirnya memang keputusan-keputusan kawasan dan saudara-saudara sebangsa-setanah air, baik yang ada di East maupun West Papua, sangat menentukan di antara semua yang lain. Kecuali itu, memang kita harus menggantungkan nasib ini kepada sang Ilahi, karena Dialah yang salah menciptakan tanah dan bangsa ini lalu menelantarkan mereka menderita di pangkuan Ibutiri Pertiwi. Begitukah? Barangkali begitu memang, karena banyak orang Papua sekarang berjuang di dalam hati, berjuang di dalam doa, padahal tidak pernah membaca Kitab Suci sang Ilahi, jangankan menaatinya.

11 thoughts on “Editorial: Siapa yang Seharusnya Mendukung Papua Merdeka?

Add yours

  1. Seseorang mau jadi pemimpin yang dihormati rakyatnya, ia sebelum melakukan mublisasi massa pendukungnyan, lebih dahulu minta dukungan dari diri pribadinya bahkan mengatakan saya bisa, kedua keluarga isteri, anak-anak dan orang didalam rumah yang selalu bersama-sama dengan dia, kemudian tetangga dan keluar ke masyarakat umum untuk minta dukungan. Itulah cara yang digunakan seorang pemimpin yang berhikmat dan dia disegani rakyat serta menghormatinya sampai selama ia mempimpin.

    Rakyat Papua jangan bingung dan keliruh kemerdekaan West Papua datang dari dunia luar atau turun dari langit secara dratis. Itu mimpi siang bolong, sebab kemerdekaan West Papua bisa terwujudkan dukungan dari diri orang Papua sendiri kemudian dukungan saudara-saudara kami PNG serta Negara-negara Fasipic lain. Dukungan dunia luar seperti Inggris, UNE Erova itu hanya dukungan solidaritas saja.

    KEBENARAN PASTI AKAN
    MENJAWAB “FREEDOM”

    Like

  2. Sio….saya sangat terharu membaca kata” ini….kita sudah saatnya kita bersatu janganlah kita takut sebab Tuhan Selalu menyertai kita senantiasa…
    Papua Merdeka dari kita sendiri dan kita sendirilah yang menentukan nasib anak cucu kita di masa yang akan datang..

    Tuhan Yesus memberkati Papua selamanya

    Like

  3. Saya tergum-kagum pada tulisan itu. Tapi saya ragu bahwa apakah hanya dengan seuntai kata-kata yg bersifat provokasi akan menjadikan Papua merdeka. Jangan berharap banyak Papua akan merdeka sebab selama dalam TNI dan Polisi masih bercokol disana Papua tidak akan bisa merdeka. Merdeka di Papua hanya dapat dalam hutan saja bersama binatang kasuari dan babi.

    Like

  4. Tuhan Yesus tidak akan memberkati para separatis yang selalu melakukan tindakan kekerasan. Tuhan Yesus akan selalu bersama orang berada dijalan kedamaian yang selalu cinta paDA bangsanya.

    Like

  5. Mustahil Papua merdeka. Sesama anak Papau saja tidak cocok dan saling menyalahkan. Negara lain mau mengakui sampai kapanpun tidak ada negara yang mau mengakui Papua sebagai negara. Tapi Papua adalah NKRI adalah harga mati.

    Like

  6. artikel ini dari thaun silam tapi baru saya akses. Isinya adalah kebenaran yang sangat bercampur haru, sedih dan juga patut dipuji. Tapi komentator-komentator yang telah mengomentari memang tidak seirama. Ini bukti yang yang salah dan perlu diperbaiki. Kalau mampu kita memperbaiki kita (orang papua) sendiri maka bantuan dari orang lain itu mudah saja.
    Banyak hal yang kita orang papua baik secara individu maupun secara kelompok sebangsa mesti lakukan. Dan mulainya itu dengan usha mengamalkan pepata Latin terkenal yang sudal disinggung oleh salah satu komemntator diatas jaitu: Ora Et Labora.
    KITA MUSTI MENYUMBANG SEMAMPU UPAYA KITA DAN MOHON TETEH MANIS-PENCIPTA KAMI UNTUK PENANGANINYA DIMANA KEMAMPUAN KAMI SENDIRI TIDAK DAPAT MENYANGKAU.

    Ingatlah akan ceritera Israel dibawah pimpinan Jushua mengancurkan dan merebut Yericho. Ingat Juga akan cerita penghancuran Sodom dan Gomora.

    Cerita pertama menunjukan campur tangan langsung dari Pencipta untuk menolong bangsa terpilihnya masuk musnahkan penduduk yericho dan merebut nya sedangkan serita berikut menjunjukkan pengahancuran sodom dan Gomora oleh pencipta sendiri karena satu orangpun tidak didapati orang yang beriman di kota-kota purba itu.

    Jadi inti komentar saya adalah Kita orang papua sendiri musti mengupaya kemerdekaan kami sambil tidak henti-hentinya mohon campur tangan tuhan dalam setiap usaha kami. Keduanya mesti diamalkan bersama-sama, bukan hanya salah satunya saja.

    Ignatius Mujijauw

    Like

  7. Itu yg terjadi kalau kita tak pernah mengerti apa itu adat papua yg menyatakan bahwa kita adalah saudara seibu dan seayah,,
    bgmna kita mau bebas kalau masih ada perbedaan yg memisahkan kita,, orang pantai tidak suka kepada orang gunung,,

    Like

  8. Kawan2ku di Papua, integrasi tidak sepenuhnya benar, merdeka secara defacto dan deyure juga tidak sepenuhnya benar. Semua kembali ke kita, bagaimana memandang dan memahaminya. Ada bahasa bijak mengatakan, bersatu kita teguh – bercerai kita runtuh. Merdeka dan berdiri sendiri mungkin terasa lebih baik karena harapan bisa mengatur diri sendiri dan mengelola kekayaan sendiri pada masa yang akan datang. Tetapi terkadang itu harapan sesaat dan emosional, karena terkadang menjadi tidak mudah untuk mewujudkannya. Akan ada lebih banyak masalah internal, tentunya, belum lagi ditambah dengan kepentingan dunia internasional yang terlihat halus dan baik tetapi sesungguhnya Mereka Adalah Penjajah Yang Berganti Rupa. Lihat lah bagaimana NKRI ini mengelola ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, ribuan budaya, berbagai jenis kulit, berbagai macam agama dan kepercayaan. Semuanya berusaha dikelola dengan baik sejak NKRI ini berdiri, dengan aturan yang rasional dan proporsional. Mungkin hasilnya belum maksimal, karena memang ini negara yang tergolong masih muda, tidak seperti negara-negara penjajah yang kita anggap baik itu, yang memang usianya sudah jauh lebih tua. Tetapi lihat lah apakah ada negara lain yang seperti NKRI ini dan sanggup mengelola berbagai macam perbedaan itu, tanpa diskriminasi. Amerika sendiri masih cukup rasial terhadap warga kulit hitam, baik secara undang2 maupun dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Begitu pula Australia, terhadap warga Asli Aborigin. Pun di beberapa negara besar yang terkadang kita anggap baik. Kalaupun mereka mendukung Papua untuk merdeka, tidak lah itu bebas dari kepentingan dan skenario masa depan mereka. Mereka akan menjajah secara ekonomi, tidak secara defacto. Semuanya tentu tidak semudah kita berpikir saat ini. Lihat lah saudara2 kita yang di Timor Timur, bagaimana nasib mereka kini, tentu NKRI pula yang akhirnya dengan kebesaran hati mengulurkan tangan untuk mereka, membantu mereka, membuka diri untuk mereka, untuk kebaikan bersama, karena NKRI tidak pernah punya mental Penjajah. Seandainya kawan2 tahu bagaimana sejarah sebenarnya dari Timor Timur dari awal sampai lepas dari NKRI, tentu akan sangat sedih, bagaimana beban berat NKRI terhadap kepentingan internasional atas Timor Timur selama masa-masa suram. Betapa sedih mendengar NKRI dikatakan sebagai Penjajah atas Timor Timur, yang sebenarnya anak bungsu yang selalu dimanja tetapi selalu ribut dengan kawan sendiri (perang saudara) dan tidak pernah puas, dan tidak mau menatap masa depan bersama NKRI. Tetapi biar lah sejarah itu menjadi masa lalu dan menjadi rahasia segelintir orang, termasuk saya. Saya dulu punya banyak kawan di Timor Timur.
    Akan lebih baik jika kita bersatu menyatukan semangat, belajar lebih giat, berkarya, berjuang membangun kejayaan dan kesejahteraan NKRI. Hilangkan budaya malas, berantas kebodohan. Jika ada kesalahan, mari lah kita perbaiki bersama, berdiskusi, berdiplomasi di antara kita, jangah cepat putus asa dan menyerah. Sentimen dis-integrasi terkadang adalah lebih kepada sikap emosional. Bukan lah hal yang tepat.
    Mari lah membuka diri, belajar kepada daerah2 lain di Indonesia, bagaimana mereka membangun daerah mereka, bagaimana mereka terbuka dengan perbedaan dan bagaimana mengelola berbagai macam perbedaan menjadi suatu gerakan yang positif, membangun untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.
    Jangan lah pernah berpikir bahwa kita akan mengeruk kekayaan minyak, emas, tembaga, batubara, dan lainnya dengan tangan kita sendiri, karena kepentingan internasional yang sangat besar sudah siap mencengkram, jika kita lengah.
    Sebab apa yang akan kita dapatkan nantinya hanya lah kesejahteraan sesaat, atau fatamorgana.
    Freeport adalah contoh yang sangat menyedihkan, semuanya tidak lepas dari kepentingan internasional. Dan betapa mudahnya Para Penjajah itu mencengkram Tanah Papua jika Papua benar2 lepas dari NKRI. Mereka akan mengeruk kekayaan bumi Papua sampai habis dan tidak tersisa, karena mereka memang tidak pernah puas. Kekayaan bumi Kalimantan pun akan habis jika kita tidak sadar dan tidak bersatu menentang dan menolak skenario itu.
    Sudah waktunya kita harus kembali kepada alam, mengelola apa yang bisa kita manfaatkan dari kekayaan permukaan bumi, tanpa merusaknya, juga tanpa harus mengeruk perut bumi.
    Sangat-sangat banyak yang bisa dimanfaatkan dari permukaan bumi kita, dan bernilai jual tinggi. Tentu dengan pengelolaan yang tepat, sehingga tidak merusak alam.
    Betapa bodohnya kita, ketika kita merusak perut bumi kita, kemudian terpaksa utang uang dan peralatan kepada mereka, kemudian menjual mentahnya kepada mereka dengan harga murah, kemudian membeli hasilnya dalam bentuk energi siap pakai dan barang-barang siap pakai dari mereka dengan harga yang sangat tinggi, yang akhirnya kita tidak pernah merasa sejahtera secara keseluruhan dan merata.
    Peta konflik mereka ciptakan agar kita tidak pernah bersatu, padahal kita tidak pernah mengusik-ngusik mereka, tidak pernah mengganggu mereka. Memang begitu lah mereka, tidak pernah puas dan selalu serakah.
    Para Penjajah yang sebenarnya itu telah membuai-buai kita dengan hal-hal indah yang sifatnya sesaat dan menjerumuskan, agar kita tidak pernah maju dan sejahtera.
    Mari lah kita menyadari itu semua, dan bersatu padu membangun NKRI ini supaya menjadi beradab, maju, dan sejahtera. Perbedaan2 adalah warna warni kita yang indah dan menjadi kebanggaan kita.
    Papua jangan lah merasa rendah diri, karena semua daerah adalah punya kewajiban dan hak yang sama di bawah payung NKRI.
    Bersatu adalah jauh lebih baik daripada bercerai berai.
    Terkadang kita lebih percaya kepada orang lain (Para Penjajah) daripada saudara sendiri (saudara satu NKRI).
    Terkadang kita sulit melihat kebaikan Ibu Pertiwi NKRI hanya karena merasa uang belanja lebih sedikit dan merasa di-anak-tiri-kan, tetapi kita jarang mau bicara, lebih menutup diri, hidup dengan pikiran kita sendiri, egois tidak ingin mendengar yang lain, tidak mau berusaha menjadi lebih baik, terlalu banyak menuntut.
    Kita lebih cenderung ingin melarikan diri dari rumah.
    Kita tidak pernah tahu betapa berat beban Ibu Pertiwi NKRI memperjuangkan kita dari tekanan dan ancaman Para Penjajah yang bertopeng Santa Claus dari Barat atau dari Utara atau dari Selatan, yang sebenarnya merampas harta kekayaan kita jauh lebih banyak. Ibu Pertiwi NKRI sedih karena saat itu hanya mampu memberikan uang belanja kepada anak-anaknya sama2 sedikit, sama rata. Kemudian kita iri kepada saudara2 yang lain karena kelihatan punya uang belanja lebih banyak.
    Kita tidak pernah tahu kalau saudara2 yang lain ternyata kerja tambahan, kerja paruh waktu (part time), kerja lembur (over time), mengembangkan imajinasi dan kreativitas untuk mendapat tambahan uang belanja.
    Mengapa ?
    Karena kita tidak mau mendengar Ibu Pertiwi NKRI, kita lebih sibuk dengan mainan kita, dengan pikiran kita, lebih nyaman dengan kasur empuk kita, dan menutup diri di dalam kamar. Dan kita lebih mendengar omongan tetangga dan orang-orang lain, yang sebenarnya mereka tidak senang dengan kerukunan dan persatuan dan kemajuan dan kesejahteraan keluarga kita, yang sebenarnya mereka ingin menjajah kita.
    Mari lah kita menjadi lebih baik.

    Like

Leave a comment

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny