Komisi II DPR Tolak RUU Otsus Papua Plus

JAKARTA – Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN, Yandri Susanto mengatakan, komisinya telah menolak untuk membahas RUU Otonomi Khusus Plus Papua yang diajukan oleh pemerintah kepada DPR.

Meski DPR dalam sidang paripurna 16 September lalu telah menjadikan draft RUU ini sebagai RUU tambahan yang dimasukkan dalam prolegnas, Komisi II menganggap hal ini tidak sesuai prosedur dan asas ketaatan.

“Ini bukan masalah RUU ini siluman atau bukan siluman. Jika mengacu kepada asas ketaaatan dan dibandingkan dengan pembuatan UU lainnya, ini tidak taat asas. RUU ini diajukan oleh pemerintah secara mendadak dan disahkan oleh paripurna DPR pada 16 September lalu masuk dalam Prolegnas tanpa melalui proses panja, pansus, rapat dengar pendapat dan lain-lainnya. Dengan demikian ini menyalahi prosedur dan makanya kita tolak,” kata Yandri Susanto, di gedung DPR, Senayan Jakarta, Kamis (25/9).

Karena dinilai menyalahi prosedur dan dia menjamin RUU ini tidak akan disahkan dalam DPR periode ini.

“Karena prosedurnya dilanggar maka RUU ini tidak akan dibahas, apalagi disahkan. Jadi tidak benar kalau ada isu RUU ini akan disahkan, karena kalau dipaksakan kasihan rakyat Papua. Ini menyangkut nasib orang banyak dan kemajuan Papua ke depannya,” tegas Yandri.

Menjawab pertanyaan, terkait isu adanya dugaan pesanan asing terutama Amerika Serikat tentang keberadaan PT Freeport di Papua, Yandri hanya mengatakan bahwa Komisi II banyak mendapatkan info terkait tunggang-menunggangi RUU ini.

Karena itu dia yakin pembahasan RUU ini baru bisa dilakukan oleh DPR periode mendatang. Pembahasan masih memerlukan waktu panjang dan belum ada satupun anggota DPR yang pergi ke Papua untuk melihat dan mencek fakta sebenarnya.

“Karena banyaknya info, kita wajib mencermatinya dan makanya juga DPR perlu waktu untuk mengumpulkan banyak hal yang berkembang di lapangan. Karena baru disahkan pada 16 September lalu dan karena masa bakti DPR periode ini akan berakhir, kita menolak karena perlu mencermati semua hal. Itulah makanya saya berpikiran biar DPR periode mendatang saja yang membahasnya,” ujarnya.

RUU yang diajukan pemerintah juga perlu dicermati karena banyak isu yang diatur memerlukan penelaahan khusus dan harus dibahas serius. Terutama lanjutnya, karena ada pasal yang mengatur bahwa jabatan politik di Papua harus diisi oleh orang Papua asli dan ini tentunya tidak baik untuk kebhinekaan.

“Dalam RUU itu tertulis dalam salah satu pasalnya bahwa jabatan politik harus diisi oleh orang Papua asli. Ini tentunya merupakan isu yang sangat sensisitif untuk keberlangsungan Bhineka Tunggal Ika. Di Papua itu kan yang hidup disana buka orang Papua asli saja, seperti halnya di daerah lainnya. Banyak masyarakat disana adalah pendatang yang sudah bermukim di Papua selama beberapa generasi. Jadi kalau itu diakomodir maka bisa menimbulkan perpecahan Indonesia. Makanya saya salah satu yang menolak RUU ini. Kasih kesempatan bagi anggota yang baru nanti untuk turun ke lapangan,” pintanya.

Selain itu juga perlu dikaji masalah perimbangan pembagian pusat dan daerah. Dalam RUU itu tertulis bahwa mereka berhak mendapatkan 80 persen hasil dari Papua untuk mereka.

“Untuk dana perimbangan, mereka meminta 80 persen. Makanya ini perlu dicermati lagi apakah selama ini Otsus yang diberikan sudah adil dan merata? Selama ini dana Otsus juga cukup besar dan belum pernah dievaluasi. Evaluasi dulu Otsus Papua yang sekarang baru nanti kita berikan apa yang kurang,” pungkasnya. (fas/jpnn)

Kamis, 25 September 2014 , 19:47:00, JPPN

Komisi II Tolak Otsus Plus Dibantah

Saturday, 27-09-2014, SULUHPAPUA.com

Jakarta (SP)—Terkait pernyataan Yandri Susanto, anggota Komisi II DPR – RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR –RI bahwa Komisi II DPR RI telah menolak untuk membahas RUU Otsus Plus Papua dibantah oleh Juru Bicara Tim Asisten RUU Otsus Plus, Yunus Wonda dan Staff Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah, Velix Wanggai.

“itu hanya pernyataan sepihak dari anggota Komisi II dimaksud, itu bukan pandangan fraksinya, atau Komisi II secara menyeluruh, dan kami anggap itu bagian dari dinamika pro dan kontra sejak awal RUU ini kita godok dan siapkan”, kata Yunus Wonda ketika di hubungi per telepon semalam.

Hal yang sama juga disampaikan Velix Wanggai, melalui pesan singkatnya Velix menjelaskan bahwa Tim Asistensi sudah melakukan komunikasi dan silaturahmi dengan semua fraksi dan sebagian besar mendukung RUU Otsus Plus ini.

“RUU Otsus Plus tidak di tolak, saat ini sudah masuk tahapan pembahasan tingkat I di rapat Panitia Kerja (Panja) Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI, dari hasil silaturahmi kami dengan Fraksi Golkar, F- PDI-P, F-PKB, F-PPP, F-PD, dan F-PKS semuanya mendukung penyelesaian RUU ini”, kata Velix Wanggai melalui pesan singkatnya semalam.

Sebelumnya, seperti dilansir oleh JPNN-Network, anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN, Yandri Susanto mengatakan, komisinya telah menolak untuk membahas RUU Otonomi Khusus Plus Papua yang diajukan oleh pemerintah kepada DPR.

Yandri menjelaskan bahwa meski DPR dalam Sidang Paripurna 16 September lalu telah menjadikan draft RUU ini sebagai RUU tambahan yang dimasukkan dalam Prolegnas, Komisi II menganggap hal ini tidak sesuai prosedur dan asas ketaatan.

Menurutnya jika mengacu kepada asas ketaaatan dan dibandingkan dengan pembuatan UU lainnya, RUU Otsus Plus ini tidak taat asas karena diajukan oleh pemerintah secara mendadak dan disahkan oleh paripurna DPR pada 16 September lalu masuk dalam Prolegnas tanpa melalui proses Panja, Pansus, Rapat Dengar Pendapat (RDP).

Ia juga menegaskan bahwa RUU Otsus Plus tidak akan dibahas, apalagi disahkan.

(B/AMR/R1/LO1)

Komisi II Tolak Otsus Plus Dibantah was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Komisi II DPR Tolak RUU Otsus Papua Plus

JAKARTA – Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN, Yandri Susanto mengatakan, komisinya telah menolak untuk membahas RUU Otonomi Khusus Plus Papua yang diajukan oleh pemerintah kepada DPR.

Meski DPR dalam sidang paripurna 16 September lalu telah menjadikan draft RUU ini sebagai RUU tambahan yang dimasukkan dalam prolegnas, Komisi II menganggap hal ini tidak sesuai prosedur dan asas ketaatan.

“Ini bukan masalah RUU ini siluman atau bukan siluman. Jika mengacu kepada asas ketaaatan dan dibandingkan dengan pembuatan UU lainnya, ini tidak taat asas. RUU ini diajukan oleh pemerintah secara mendadak dan disahkan oleh paripurna DPR pada 16 September lalu masuk dalam Prolegnas tanpa melalui proses panja, pansus, rapat dengar pendapat dan lain-lainnya. Dengan demikian ini menyalahi prosedur dan makanya kita tolak,” kata Yandri Susanto, di gedung DPR, Senayan Jakarta, Kamis (25/9).

Karena dinilai menyalahi prosedur dan dia menjamin RUU ini tidak akan disahkan dalam DPR periode ini.

“Karena prosedurnya dilanggar maka RUU ini tidak akan dibahas, apalagi disahkan. Jadi tidak benar kalau ada isu RUU ini akan disahkan, karena kalau dipaksakan kasihan rakyat Papua. Ini menyangkut nasib orang banyak dan kemajuan Papua ke depannya,” tegas Yandri.

Menjawab pertanyaan, terkait isu adanya dugaan pesanan asing terutama Amerika Serikat tentang keberadaan PT Freeport di Papua, Yandri hanya mengatakan bahwa Komisi II banyak mendapatkan info terkait tunggang-menunggangi RUU ini.

Karena itu dia yakin pembahasan RUU ini baru bisa dilakukan oleh DPR periode mendatang. Pembahasan masih memerlukan waktu panjang dan belum ada satupun anggota DPR yang pergi ke Papua untuk melihat dan mencek fakta sebenarnya.

“Karena banyaknya info, kita wajib mencermatinya dan makanya juga DPR perlu waktu untuk mengumpulkan banyak hal yang berkembang di lapangan. Karena baru disahkan pada 16 September lalu dan karena masa bakti DPR periode ini akan berakhir, kita menolak karena perlu mencermati semua hal. Itulah makanya saya berpikiran biar DPR periode mendatang saja yang membahasnya,” ujarnya.

RUU yang diajukan pemerintah juga perlu dicermati karena banyak isu yang diatur memerlukan penelaahan khusus dan harus dibahas serius. Terutama lanjutnya, karena ada pasal yang mengatur bahwa jabatan politik di Papua harus diisi oleh orang Papua asli dan ini tentunya tidak baik untuk kebhinekaan.

“Dalam RUU itu tertulis dalam salah satu pasalnya bahwa jabatan politik harus diisi oleh orang Papua asli. Ini tentunya merupakan isu yang sangat sensisitif untuk keberlangsungan Bhineka Tunggal Ika. Di Papua itu kan yang hidup disana buka orang Papua asli saja, seperti halnya di daerah lainnya. Banyak masyarakat disana adalah pendatang yang sudah bermukim di Papua selama beberapa generasi. Jadi kalau itu diakomodir maka bisa menimbulkan perpecahan Indonesia. Makanya saya salah satu yang menolak RUU ini. Kasih kesempatan bagi anggota yang baru nanti untuk turun ke lapangan,” pintanya.

Selain itu juga perlu dikaji masalah perimbangan pembagian pusat dan daerah. Dalam RUU itu tertulis bahwa mereka berhak mendapatkan 80 persen hasil dari Papua untuk mereka.

“Untuk dana perimbangan, mereka meminta 80 persen. Makanya ini perlu dicermati lagi apakah selama ini Otsus yang diberikan sudah adil dan merata? Selama ini dana Otsus juga cukup besar dan belum pernah dievaluasi. Evaluasi dulu Otsus Papua yang sekarang baru nanti kita berikan apa yang kurang,” pungkasnya. (fas/jpnn)

Kamis, 25 September 2014 , 19:47:00, JPPN

Komisi II DPR Tolak RUU Otsus Papua Plus was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Marinus: Pengesahan RUU Otsus Plus Dapat Percepat Referedum

Selasa, 23 September 2014 05:38, BintangPapua.com

Marinus YaungJAYAPURA – Pengamat Hukum Internasional, Hukum, HAM, Sosial Politik Indonesia, FISIP Uncen Jayapura, Marinus Yaung, mengatakan, Papua akan semakin cepat menuju referendum di Tahun 2015 apabila RUU Otsus Plus disahkan oleh DPR RI.

Alasannya, karena seharusnya elit politik di pusat bertanya dan sekaligus menganalisa mengapa sampai draft RUU Otsus Plus lebih banyak dikonsultasi atau disosialisasikan ke Eropa dan Amerika Serikat daripada ke masyarakat Papua? Yang dibaca publik selama ini tujuan konsultasi publik ke Eropa dan Amerika Serikat dimaksudkan untuk meredam dukungan negara-negara Eropa, khususnya parlemen Eropa dan Amerika Serikat terhadap perjuangan Papua merdeka. Namun langkah politik ini pada akhirnya telah menjerumuskan Papua kedalam konspirasi internasional yang ingin memecah belah Indonesia menjadi 4 negara merdeka, termasuk Papua di dalamnya.

Pada Tahun 2015 sesuai dokumen rahasia Mantan Perdana Menteri Israel, Manahen Begin, yang membangun konspirasi internasional dengan Amerika Serikat dan sekutunya untuk memecah belah negara-negara muslim di dunia, termasuk Indonesia yang direncanakan di belah menjadi 4 negara merdeka. Memperkuat pendapat ini bulan Agustus 2014 lalu setelah draft ke-14 RUU Otsus Plus direvisi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan menimbulkan ketidakpuasaan Gubernur Papua, Lukas Enembe, S.IP, MH., yang mengambil sikap protes Gubernur Lukas Enembe langsung menjadi topik pembicaraan di parlemen Eropa dan Amerika Serikat.

“Betapa seriusnya perhatian asing terhadap RUU Otsus Plus, harusnya menjadi peringatan dini bagi elite politik di Jakarta untuk mewaspadainya,” ungkapnya kepada Bintang Papua di Kampus FISIP Uncen Jayapura di Waena, Senin, (22/9).

Kewenangan yang terlalu besar bagi Papua dalam Otsus Plus, apabila sudah diimbangi dengan rasa nasionalisme elit politik Papua terhadap merah putih semakin tinggi? Elit politik di DPR RI jangan terlalu cepat percaya dengan elite politik Papua.

Karena konsultasi RUU Otsus Plus ke Eropa dan Amerika Serikat, secara politik merupakan bentuk undangan langsung pemerintah Indonesia untuk mengikutsertakan asing terlibat langsung dalam mengurus masalah Papua. Dan kita tahu sejarah Indonesia membuktikan bahwa keterlibatan asing selalu diwarnai tindakan-tindakan subversif dan mengancam integrasi bangsa. Pihak asing selalu ingin Indonesia bubar seperti negara Yugoslavia atau Uni Soviet, agar wilayah-wilayah penyangga ekonomi Indonesia seperti Papua bisa dikuasai dan dikendalikan asing.

irinya khawatir kalau DPR RI tergesa-gesa dan terburu-buru menetapkan RUU Otsus Plus menjadi UU Pemerintah Papua, tanpa memikirkan skenario asing dalam RUU ini untuk melepaskan Papua, maka jangan salahkan Papua kalau Tahun 2015, Papua akan menyusul Timor Leste menjadi negara sendiri, dan tinggal dua wilayah di Indonesia yang akan merdeka berikutnya.

Sebab itu, sebelum terlibat jauh, dirinya mengingatkan pemerintahan Presiden SBY ataupun Pemerintahan Jokowi untuk menunda dulu RUU Otsus Plus ini, dan mengevaluasi kembali politik invisible hand pihak asing dibalik desakan elit politik Papua yang terlalu bernafsu meloloskan RUU ini dan mendorong digelarnya dialog damai nasional Jakarta-Papua untuk membicarakan ulang model-model pengelolaan dan penanganan masalah Papua, apakah harus melalui RUU Otsus Plus atau referendum atau regulasi hukum yang lain, yang semuanya dalam kerangka menciptakan perdamaian dan keadilan di Tanah Papua. Tapi kalau pemerintah tidak membaca baik politik invisible hand pihak asing dibalik RUU Otsus Plus ini, maka RUU Otsus Plus ini akan menjadi pisau politik yang menusuk pemerintah Indonesia dari belakang.

“Ketika kekuasaan dan kewenangan yang lebih besar ada di tangan elite politik Papua, maka selesai sudah hubungan Jakarta dengan Papua yang dibangun selama 50 Tahun,” tandasnya.(Nls/don/l03)

Marinus: Pengesahan RUU Otsus Plus Dapat Percepat Referedum

Selasa, 23 September 2014 05:38, BintangPapua.com

Marinus YaungJAYAPURA – Pengamat Hukum Internasional, Hukum, HAM, Sosial Politik Indonesia, FISIP Uncen Jayapura, Marinus Yaung, mengatakan, Papua akan semakin cepat menuju referendum di Tahun 2015 apabila RUU Otsus Plus disahkan oleh DPR RI.

Alasannya, karena seharusnya elit politik di pusat bertanya dan sekaligus menganalisa mengapa sampai draft RUU Otsus Plus lebih banyak dikonsultasi atau disosialisasikan ke Eropa dan Amerika Serikat daripada ke masyarakat Papua? Yang dibaca publik selama ini tujuan konsultasi publik ke Eropa dan Amerika Serikat dimaksudkan untuk meredam dukungan negara-negara Eropa, khususnya parlemen Eropa dan Amerika Serikat terhadap perjuangan Papua merdeka. Namun langkah politik ini pada akhirnya telah menjerumuskan Papua kedalam konspirasi internasional yang ingin memecah belah Indonesia menjadi 4 negara merdeka, termasuk Papua di dalamnya.

Pada Tahun 2015 sesuai dokumen rahasia Mantan Perdana Menteri Israel, Manahen Begin, yang membangun konspirasi internasional dengan Amerika Serikat dan sekutunya untuk memecah belah negara-negara muslim di dunia, termasuk Indonesia yang direncanakan di belah menjadi 4 negara merdeka. Memperkuat pendapat ini bulan Agustus 2014 lalu setelah draft ke-14 RUU Otsus Plus direvisi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan menimbulkan ketidakpuasaan Gubernur Papua, Lukas Enembe, S.IP, MH., yang mengambil sikap protes Gubernur Lukas Enembe langsung menjadi topik pembicaraan di parlemen Eropa dan Amerika Serikat.

“Betapa seriusnya perhatian asing terhadap RUU Otsus Plus, harusnya menjadi peringatan dini bagi elite politik di Jakarta untuk mewaspadainya,” ungkapnya kepada Bintang Papua di Kampus FISIP Uncen Jayapura di Waena, Senin, (22/9).

Kewenangan yang terlalu besar bagi Papua dalam Otsus Plus, apabila sudah diimbangi dengan rasa nasionalisme elit politik Papua terhadap merah putih semakin tinggi? Elit politik di DPR RI jangan terlalu cepat percaya dengan elite politik Papua.

Karena konsultasi RUU Otsus Plus ke Eropa dan Amerika Serikat, secara politik merupakan bentuk undangan langsung pemerintah Indonesia untuk mengikutsertakan asing terlibat langsung dalam mengurus masalah Papua. Dan kita tahu sejarah Indonesia membuktikan bahwa keterlibatan asing selalu diwarnai tindakan-tindakan subversif dan mengancam integrasi bangsa. Pihak asing selalu ingin Indonesia bubar seperti negara Yugoslavia atau Uni Soviet, agar wilayah-wilayah penyangga ekonomi Indonesia seperti Papua bisa dikuasai dan dikendalikan asing.

irinya khawatir kalau DPR RI tergesa-gesa dan terburu-buru menetapkan RUU Otsus Plus menjadi UU Pemerintah Papua, tanpa memikirkan skenario asing dalam RUU ini untuk melepaskan Papua, maka jangan salahkan Papua kalau Tahun 2015, Papua akan menyusul Timor Leste menjadi negara sendiri, dan tinggal dua wilayah di Indonesia yang akan merdeka berikutnya.

Sebab itu, sebelum terlibat jauh, dirinya mengingatkan pemerintahan Presiden SBY ataupun Pemerintahan Jokowi untuk menunda dulu RUU Otsus Plus ini, dan mengevaluasi kembali politik invisible hand pihak asing dibalik desakan elit politik Papua yang terlalu bernafsu meloloskan RUU ini dan mendorong digelarnya dialog damai nasional Jakarta-Papua untuk membicarakan ulang model-model pengelolaan dan penanganan masalah Papua, apakah harus melalui RUU Otsus Plus atau referendum atau regulasi hukum yang lain, yang semuanya dalam kerangka menciptakan perdamaian dan keadilan di Tanah Papua. Tapi kalau pemerintah tidak membaca baik politik invisible hand pihak asing dibalik RUU Otsus Plus ini, maka RUU Otsus Plus ini akan menjadi pisau politik yang menusuk pemerintah Indonesia dari belakang.

“Ketika kekuasaan dan kewenangan yang lebih besar ada di tangan elite politik Papua, maka selesai sudah hubungan Jakarta dengan Papua yang dibangun selama 50 Tahun,” tandasnya.(Nls/don/l03)

Marinus: Pengesahan RUU Otsus Plus Dapat Percepat Referedum was originally published on PAPUA MERDEKA! News

OTK Tembak Mati Jhon Agapa di Jalan Trans Nabire-Ilaga KM 74

Salah satu saksi mata, Natalis Tigi, kepada media di RSUD Nabire, Jumat (19/09/2014) kemarin menjelaskan, pelaku penembakan berjumlah dua orang dan diketahui mengenakan pakaian preman saat melakukan rentetan penembakan.

“Mereka tembak kami pakai senjata besar yang bisa lipat itu. Satu orang pakai baju putih dan satu orang baju hitam. Tidak tahu tentara atau polisi karena mereka tiba-tiba dari belakang antrean mobil, kayaknya dari mobil belakang,”

tutur Natalis Tigi, seperti dikutip dari majalahselangkah.com, kemarin.

Natalis mengatakan,

“Senjata pertama tembak saya. Tapi, saya lari masuk ke kali dan peluru kikis saya punya rabut. Kalau saya tidak tunduk, pasti saya duluan mati kepala tembus. Dia (Videlis Agapa) di belakang dan kena peluru dari tulang belakang tembus di perut dan dia mati.”

“Itu jalan di atas jadi, kami lari ke bawah, ke kali. Mereka dua posisi di atas. Dari atas tembak ke bawah, di bawah jembatan. Untung kami yang lain lari sembunyi. Itu kami tidak lawan apa-apa, mereka langsung main tembak,”

cerita Natalis.

Natalis menjelaskan, ia, Petrus Dogomo, Sariawagi ditembaki sekitar 6 kali usai melarikan ke arah bawah, namun tidak kena. Sedangkan Agapa sudah lebih dulu jatuh dan tewas.

Ada banyak kali tembakan, kira-kira enam kali begitu. Kami takut dan lari ke kali, jadi tidak hafal berapa kali tembakan. Setelah tembak, mereka kembali,” kata Petrus Dogomo, saksi lain.

Sumber lain, warga di KM 74 mengatakan, di wilayah itu tidak ada orang lain. “Di sana itu tidak ada orang lain yang punya senjata. Yang ada senjata itu ya, kita tahu semua to, TNI yang jaga perusahaan milik Dewa Krisna dan pos Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon 753 di KM 100,” kata sumber itu.

Kepada sejumlah pesonil TNI yang datang ke RSUD, aktivis Hak Asasi Manusia Papua wilayah Meepago, Yones Douw secara spontan mengatakan, “Ini bagaimana pak. Palang jalan saja ditembak mati begini. Biasanya ada peringatan satu, dua dan tiga. Ini bukan binatang, mereka ini manusia pak.

Mayat Videlis (Jhon) Agapa telah disemayamkan di RSUD Nabire sejak kemarin, dan telah dimandikan dan dimasukan ke dalam peti mayat. Keluarga telah membawa pulang mayat ke rumah duka di kelurahan Siriwini Nabire.

Menurut kesaksian Natalis Tigi, pagi harinya, Kamis (18/09/14) sekitar Pukul 05:00 waktu setempat, sebuah mobil yang melaju di komplek pemukiman KM 74 menabrak seekor babi milik korban, dan babi itu mati.

“Kami ini sudah lama tinggal di sini (KM 74: red). Kami punya rumah, kebun, ternak babi semua ada di sini,” kata Petrus Dogomo.

Dijelaskan Petrus Dogomo, korban (Videlis Agapa) bersama sejumlah pemuda, Natalis Tigi dan Sariawagi tidak terima dengan kejadian ini.

Apalagi ternak babi bagi orang Mee adalah ternak berharga dan bernilai tinggi. Maka, mereka sepakat untuk memalang jalan utama di KM 74 dan meminta uang suka rela kepada para sopir yang melintas di jalan itu untuk ganti rugi.

Kami tidak minta banyak, kami hanya minta suka rela saja. Orang lain, tabrak anjing saja palang dan minta bayar besar. Ini tabrak babi, tetapi kami hanya minta suka rela,” kata dia.

Lanjut Dogomo, pagi harinya mobil dari arah Nabire ke pedalaman lewat banyak. Begitu pula sebaliknya dari arah pedalaman. Tetapi, kata dia, mulai agak siang, dari arah pedalaman ke kota mulai berkurang.

“Pas jam 3 (Pukul 15 waktu setempat), banyak mobil datang dan antre panjang ke belakang. Saat itu, tiba-tiba dari belakang antrean panjang itu dua orang datang bawa senjata dan tembak kami,”

kata dia.

Videlis (Jhon) Agapa (36) tewas di tempat dan meninggalkan 3 istri tercintanya, Petronela Dumupa, Nella Giay, dan Rokesia Goo.

Kapolres Nabire, AKBP Tagor Hutapea ketika dikonfirmasi wartawan melalui telepon selulernya, membenarkan kejadian ini.

“Kemarin, kami ke atas pak. Saya, Pak Dandim, dan Danyon. Sekitar jam 10 ada palang. Pas sekitar jam 12 siang ada dua orang, satu pakaian putih dan satu pakaian hitam, turun dari mobil dan lakukan penembakan itu,”

tutur Kapolres.

Lebih lanjut kata AKBP Tagor Hutapea, “Mereka dua (pelaku) kembali ke arah pedalaman. Satu jam kemudian ada laporan bahwa ada yang meninggal di tempat kejadian. Tadi malam kami bawa ke RUSD Nabire dan sudah otopsi, sudah pasti luka tembakan itu,” kata Kapolres.

Yang jelas itu luka tembakan itu, pak,” katanya. AKBP Tagor Hutape mengatakan, pihaknya sedang mendalami pelaku penembakan.

OKTOVIANUS POGAU | Sabtu, 20 September 2014 – 13.46 WIB, SUARAPAPUA.com

Satu Warga Nabire Ditembak Mati

Kepada Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes (Pol) Sulistyo Pudjo HartonoJAYAPURA – Seorang warga Nabire bernama, John Agapa (25 tahun) ditembak mati oleh Orang Tidak Dikena (OTK) di Kilo 74, Jalan Trans Nabire di Distrik Diva, Kabupaten Nabire, pada Kamis (18/9) siang.

Kepada Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan terjadi penembakan itu. “Korban ditembak dibagian dada depan tembus bagian belakang,” katanya saat menghadiri pertemuan wartawan dengan Pangdam XVII/Cenderawasih di Makodam XVII/Cenderawasih, Jumat (19/9) kemarin.

Pudjo menjelaskan, kronologis kejadian itu awalnya, polisi setempat mendapat informasi telah ditemukan seseorang meninggal di Kilometer 74 di Nabire, Kamis (18/9) petang sekitar pukul 19.00 WIT.

Mendapat laporan itu, anggota berjumlah 12 orang yang dipimpin langsung Kapolres Nabire menuju lokasi kejadian. Setibanya di lokasi kejadian, menemukan korban telah meninggal dunia.

“Saat itu Tim Identifikasi Polres Nabire langsung melakukan olah TKP dan dari hasil olah TKP, korban mengalami luka tembak dibagian dada depan tembus belakang . Selanjutnya langsung dievakuasi ke RSUD Nabire,”

jelasnya.

Sementara lanjut Pudjo, dari hasil yang diperoleh dilapangan, peristiwa tersebut berawal, ketika korban bersama bersama beberapa rekannya sedang melakukan pemalangan di jalan sekitar lokasi. “Polisi menduga pemalangan jalan itu motifnya meminta uang kepada warga pengguna jalan karena kondisi jalan sedikit longsor,” katanya.

Disinggung motif penembakan tersebut, Pudjo belum bisa memastikan motif pelaku karena masih dalam penyelidikan dan penyidikan polisi di Polres Nabire setempat. “Dari laporan yang kami terima, pelakunya diduga berjumlah dua orang dan kami masih melakukan penyelidikan terhadap pelaku penembakan tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan Pudjo, akses jalan kilometer 74 merupakan akses yang menghubungkan tiga kabupaten diantaranya, Kabupaten Paniai, Nabire, dan Kabupaten Dogiyai. “Pelaku dicegat oleh korban, sehingga terjadi penembakan,” ujarnya. (Loy/don/l03)

Sabtu, 20 September 2014 11:11, BintangPapua.com

Masyarakat yang Berbeda Paham Bukan Musuh TNI

Pangdan XVII/Cenderawasih saat diwawancarai wartawan dalam beberapa waktu yang lalu.JAYAPURA – Sedikitnya tiga strategi utama yang dilakukan prajurit Kodam XVII/Cenderawasih dalam menghadapi masyarakat Papua yang berbeda paham dengan Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

Ketiga strategi yang dilakukan itu menurut Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Drs. Christian Zebua diantaranya, Pertama, prajurit Kodam Cenderawasih harus mampu merebut hati rakyat dan pikiran rakyat lewat berbagai bakti sosial, pengobatan massal, pendampingan bidang pendidikan, peternakan, pertanian dan lain-lainnya.

“Tentunya, merebut hati dan pikiran rakyat Papua dengan cara melaksanakan fungsi pembinaan teritorial yang memegang teguh sapta marga, sumpah prajurit dan delapan wajib TNI dalam melaksanakan tugasnya,”

kata Pangdam Zebua dalam tatap muka dengan insan pers di Aula Koridor XVII/Cenderawasih, Jumat (19/9).

Dikatakannya, tugas prajurit dalam melaksanakan tugasnya harus bisa mengatasi dan membantu kesulitan rakyat melalui kegiatan bhakti sosial. “Prajurit adalah bagian dari masyarakat, dalam mengatasi berbagai macam kesulitan, sehingga itulah cara kita merebut hati rakyat,”  kata dia.

Kemudian kedua, cara strategis prajurit adalah melumpuhkan dan merebut senjata dari kelompok yang berbeda paham yang selama ini mengganggu keamanan dan ketertiban yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

Kendati demikian, saudara-saudara yang berbeda paham, ia tidak tempatkan mereka sebagai musuh tapi bagaimana merangkul mereka untuk kembali dan bersama-sama membangun Papua ini.

“Kita boleh berbeda paham tapi kita tidak boleh saling membunuh. Namun yang perlu diingatkan adalah jangan coba-coba mengganggu rakyat apalagi bersenjata saya tumpas walau saya menganggap mereka saudara saya,”

tandas Pangdam Zebua.

Pangdam Zebua mengutarakan bahwa, yang paling utama dilakukan prajurit Kodam XVII/Cenderawasih adalah, bagaimana melindungi masyarakat agar dapat menikmati kehidupan yang aman, damai dan sejahtera di Tanah Papua yang kita cintai ini,” katanya.

Lanjut Pangdam, ketiga, dengan membangun opini yang positif dan konstruktif dengan bertindak yang sesuai aturan yang ada, jangan sekali-kali menyakiti hati rakyat.

Apa yang dikerjakan TNI dapat dirasakan manfaatnya untuk kepentingan masyarakat dan kita harus mampu memberikan informasi atau kegiatan-kegiatan positif, sehinga rakyat betul-betul mencintai TNI atas karya dan prestasinya di Tanah Papua.

Ketiga strategi tersebut, saya rasa sangat efektif, dimana setiap langkah prajurit TNI mendapat dukungan dari setiap elemen masyarakat,” katanya.

Hal ini, kata Christian, terbukti selama semester I tahun 2014, dimana Kodam Cenderawasih telah merebut melalui kontak tembak dan menerima penyerahan 55 pucuk senjata api dan 1.522 amunisi serta beberapa dokumen Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Dan dua hari lalu di Lanny Jaya, tim gabungan TNI-Polri, berhasil mendapatkan satu pucuk senjata jenis Revolver. Di hari yang sama, di Arso 14, Kabupaten Keerom, Satgas Yonif 623/BWU juga menerima penyerahan dua pucuk senjata api jenis mouser dan pistol baretta,”

katanya.

Dengan berbagai prestasi tersebut, lanjut Christian, puluhan prajurit Kodam Cenderawasih mendapatkan penganugerahan kenaikan pangkat luar biasa dari Mabes TNI AD, yakni sebanyak 43 orang terdiri Bintara dan Tamtama 39 orang. (Loy/don)

Sabtu, 20 September 2014 11:09, BintangPapua.com

Masyarakat yang Berbeda Paham Bukan Musuh TNI

Pangdan XVII/Cenderawasih saat diwawancarai wartawan dalam beberapa waktu yang lalu.JAYAPURA – Sedikitnya tiga strategi utama yang dilakukan prajurit Kodam XVII/Cenderawasih dalam menghadapi masyarakat Papua yang berbeda paham dengan Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI). Ketiga strategi yang dilakukan itu menurut Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Drs. Christian Zebua diantaranya, Pertama, prajurit Kodam Cenderawasih harus mampu merebut…

Masyarakat yang Berbeda Paham Bukan Musuh TNI was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Kontak Senjata Di Pirime, 1 KSB Tewas

Sentani (SP) – Dua orang kelompok sipil bersenjata tertembak di Kabupaten Lani Jaya dimana satu diantaranya meninggal dunia dan satu mengalami luka tembak saat terjadi kontak tembak antara gabungan TNI/Polri dengan kelompok sipil bersenjata, Rabu (17/9/2014) siang disekitar Bandara Pirime, Kabupaten Lani Jaya.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua, ketika di konfirmasi terkait kejadian tersebut membenarkan bahwa telah terjadi kontak senjata siang tadi di Pirime, Lany Jaya, menurut Pangdam, kontak senjata ini terjadi ketika tim gabungan TNI / Polri melakukan penyisiran dalam rangka penegakan hukum atas aksi penembakan yang di lakukan oleh kelompok Enden Wanimbo

“Kontak tembak ini terjadi antara tim gabungan TNI/Polri dan kelompok sipil bersenjata pimpinan Enden Wanimbo terjadi sekitar pukul 12.30 WIT ketika tim gabungan melakukan penyisiran dalam rangka penegakan hukum atas aksi penghadangan dan penyerangan anggota polisi pada bulan Juli 2014 lalu yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan merebut empat pucuk senjata api, “ kata Pangdam ketika di hubungi via telepon selulernya, Rabu (17/9/2014).

Dikatakan Pangdam, Dalam kejadian kontak senjata ini satu orang dari pihak kelompok bersenjata meninggal dunia dan satu orang mengalami luka tembak serta berhasil mengamankan satu pucuk sejata revolver dan satu unit laptop serta beberapa jenis senjata tajam.

Sementara itu ketika di singgung terkait situsi di Lany Jaya, Pangdam meneaskan bahwa sampai saat in kondisi di lany Jaya cukup kondusif dan terkendali, dan aktifitas masyrakat tetap berjalan seperti biasanya.

“Situasinya terkendali , sebab pasca kejadian tadi kelompok tersebut langsung melarikan diri kehutan, dan kami dari TNI dan Polri sementara melakukan langkah-langkah taktis agar kelompok ini bisa segera di atasi,” tutup Pangdam. (A/FIR/R3/LO1)

Thursday, 18-09-2014, SuluhPAPUA.com

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny