BIG LIE, MAKO TABUNI SHOT DEAD WHEN THREATEN OFFICIALS

PAPUAN, Jakarta — Related news Mako Tabuni shot, Chairman of the National Committee of West Papua (KNPB) by the police in Waena , Jayapura, received responses from Dorus Wakum, Human Rights Activist (HAM) in Jakarta.

“Mako Tabuni shot shows the character of the security forces and the government of Indonesia is very barbaric and inhumane.

This is a gross human rights violations, and officers who did the shooting should be prosecuted, “said Dorus, when contacted suarapapua.com, this afternoon, Friday (15/6).

By Dorus, thugs or terrorists is not even worthy of being shot to death in place, let alone use a type of long-barreled firearm.

“Mako shot with a long-barreled weapon by plainclothes police officers. He did not take the fight against the authorities, let alone have a firearm as alleged security forces, “said Wakum.

Based on the information obtained, further Dorus, Mako did not take the fight, let alone seize weapons belonging to officers returned fire.

“The news spread a lie that high-ranking police that Mako Tabuni was shot for trying to fight, this is totally untrue,” Dorus defense.

Warpo Wetipo, one of the administrators KNPB said that Mako was shot while eating betel nuts in the third round of the ojock station in Waena Perumnas III together with a second cab colleagues.

“Without question, the plainclothes officers got out of the car died instantly embank Mako Tabuni. This event is witnessed by the mass and spin around a few activists KNPB taxi III Housing Authority, “added Warpo.

When this body was interred Mako Tabuni at the funeral home on post 7 Sentani, and the funeral will be conducted tomorrow.

TURUT BERDUKA CITA SEDALAM-DALAMNYA ATAS TERTEMBAKNYA PEMIMPIN AKTIVIS KNPB, MAKO TABUNI

Dari Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua (MPP-TRWP), atas nama Panglima Tertinggi Komando Revolusi Gen. TRWP Mathias Wenda, kami dari Kantor Secretariat-General bersama segenap pejuang kemerdekaan bangsa dan Tanah Papua menyampaikan

BERDUKACITA SEDALAM-DALAMNYA

atas tewasnya Pimpinan Aktivis KNPB pejuang Hak-Hak Dasar Bangsa Papua di tangan aparat penjajah NKRI yang telah lama dan terus-menerus membunuh banyak anggota masyarakat Papua yang berteriak menuntut hak-haknya yang telah diperkosa, berawal dari peristiwa penyerahan wilayah West Irian dari penjajah Kerajaan Belanda kepada UNTEA, yang kemudian mengantar kepada pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang kita kenal dan tentang karena penuh dengan pelanggaran HAM, cacat secara hukum dan praktek demokrasi universal.

Para Almarhum Pimpinan Aktivis KNPB pejuang bangsa telah meninggalkan kita dan bergabung bersama para pahlawan yang telah tiada, demi hargadiri, harkat dan martabat sebagai sebuah bangsa dan tanah leluhur kita, bukan sekedar untuk kedamaian, keamanan, kesejahteraan, kemabukan, yang bermuara kepada kedagingan dalam rangka melayani ego dan kerakusan belaka, bertujuan jangka pendek dan keuntungan pribadi belaka, seperti pandangan dan perbuatan kaum pendukung NKRI. Kita berjuang bukan untuk sesenduk atau sepiring nasi, bukan meminta belas kasihan, bukan juga meminta perhatian. Karena itu kita tidak menuntut pengusutan atas pembunuhannya kepada penjajah yang datang bukan untuk menghargai dan mengakui, tetapi untuk merampok, menjarah, memperkosa dan membunuh.

Jangan Takut! Jangan ragu dan bimbang! Jangan menyerah! Karena sejarah perjuangan telah mengajar kita dan kita telah belajar dari kesalahan untuk berbenah dan maju. Kita telah ada dalam rel perjuangan yang benar. Dan kita pasti akan mencapai cita-cita kita yang mulia, karena harga telah dibayar oleh para pahlawan kita.
Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan
Pada Tanggal: 15 Juni 2012
==============================
Secretary-General,

FUNGSIONARIS OPM TETAP MENUDING INDONESIA MELAKUKAN TEROR NEGARA TERHADAP WARGA PAPUA MELALUI OPERASI KLENDESTIN GUNA MELUMPUHKAN AKTIVIS PAPUA

( Sejumlah Kasus Penembakan di Akhir Pekan Merupakan Operasi Klendestin Intelijen Indonesia )

Kasus penembakan dan teror terjadi di beberapa tempat di Papua pada umumnya dan di kota jayapura beberapa pekan merupahkan bentuk dan skenario operasi klendestin yang telah di organisir oleh inteligen Indonesia degan tujuan memojokan dan melumpuhkan gerakan aktivis yang selama ini telah menyuarahkan hak-hak dasar bangsa Papua degan mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi.

Dalam rangka mengungkap kasus ini ada bebera modus operasi yang dilakukan oleh Indonesia terhadap perjuagan rakyat Papua, operasi klendestin ini dilakukan degan beberapa kasus teror dan penembakan yang terjadi di kota Jayapura terutama pada saudara Theryoli Weya anggota KNPB ditembak sejak pulang dari orasi dan kasus ini belum diungkap oleh aparat kepolisian Indonesia, terjadi beberapa penembakan terhadap warga asing dan warga asli papua dan non Papua dalam rangka menuduh dan membumkam perjuangan aktivis KNPB yang selama ini vocal untuk memperjuangkan hak-hak dasar bangsa Papua.

Sebelum melakukan penembakan terhadap salah satu pemimpin aktivis KNPB Musa Tabuni, kepala intelijen Indonesia ( BIN ) telah menlontarkan pernyataan yang menyatakan pihak OPM dari hutan telah bergabung dengan aktivis didalam Kota maka dilakukan operasi untuk tertuju kepada para aktivis KNPB yang akhinya menembak mati MAKO TABUNI dan kedua rekanya, kedua rekanya ditembak mati tempat sementara Mako Tabuni ditembak dan dibawa kedalam mobil.

Untuk mengkleim dan menyatakan kepada publik oleh Mengkopolkam Indonesia menyatakan MAKO TABUNI di tembak mati oleh POLISI karena saat penangkapan berupaya melawan akhinya polisi melumpuhkan Mako Tabuni, ini adalah salah satu bantuk pembohongan publik dan mendiskriditkan perjuangan aktivis KNPB karena dilihat kedua rekanya ditembak mati ditempat, guna mengaburkan bukti bahwa Mako Membawa bebearapa peluru dan satu alat Pistol.
OPM tetap menilai tindakan operasi ini dalam rangka membungkam perjuangan rakyat Papua degan cara-cara meneror, mengintimidasi dan menembak aktivis pejuang HAM di tanah Papua, Indonesia berupaya dalam memperburuk perjuagan KNPB di publik Internasional.

Polisi juga menembak kedua rekan mako dalam rangka mengkelabui bukti, karena mako tidak membawa pistol dan beberap amunisi, untuk mengkleim bahwa mako melakukan perlawanan degan senjata api, polisi juga menembak mati kedua rekan yang bersama degan MAKO TABUNI di tempat kejadian.
Indonesia jelas bertanggung jawab terhadap semu aksi penembakan sampai pada penembakan aktivis KNPB MAKO TABUNI merupahan Operasi Klendestin untuk membungkam perjuangan rakyat Papua secara democrasi untuk menuntut hak-hak dasar bangsa Papua yang diperjuangka oleh Aktivis KNPB.

Contributed: Fungsionaris OPM

INDONESIA POLICE SHOT DEAD THE KNPB ACTIVIST MAKO TABUNI

( Indonesia Police offensive Operation More Creating Tension and The Murky Issue of Human Rights Violations in Papua )

Indonesia police efforts to reveal the terror shooting in Jayapura finally did not get the persecutor of the shooting, The Indonesia police and Detachment 88 has been shot dead KNPB activist movement leader Mako Tabuni at 11:03 am in Perumnas III Waena Jayapura.

It is clearly evident that the efforts of terror and the firing of an Indonesian intelligence operations in order to scapegoat any human rights activists in Papua. Arrests and shootings by police KNPB activist front man Indonesia proved that what the police investigation against terrorists shooting effort is a public fraud because it is behind the terror police arrest activists and shooting without a clear legal procedures.

Indonesia police action was brutally against the Papuans as KNPB activists and serious human rights violations, and police actions are not in order to reveal cases of terror shootings in Jayapura area but pure forms of special operations that have been in Instruction President of Indonesia to increase the police’s elite troops to Papua and that is framework of special operations.

President of the Republic Indonesia should be responsible to all forms of special operation that is discrimination against indigenous Papuans in their own land. this operation is a pure form of gross human rights violations made by Indonesia against Papuan communities.

The Shooting of KNPB activist Mako Tabuni is pure special operations ridden by reason of the case to reveals the terror and the recent shootings in the city of Jayapura. That have proven that the police are not investigating the case but the terror arrests and shootings the activists .

Police do not protect the Papuans as part of Indonesia but the police cruse as the enemy and pure partisanship in order to secure the non-Papuan population in Papua it is an act of discriminative operation and eliminates the lives of Papuans and the operation is an act of terror that the State done specifically for the people of Papua.

This form of operation designed into the performance of Indonesia through Police uncover reasons for the shooting and terror in the city of Jayapura and trying to avoid other forms of human rights violations in Papua.

This action in order to divert world attention that the police provide security crimes in Papua, and discredit the efforts of activists KNPB as criminals and police in Indonesia exploit that opportunity to shoot a criminal issue and kidnap the human rights activist in Papua.

OPERASI POLISI MENEMBAK MATI AKTIVIS KNPB MAKO TABUNI PAGI INI

( Operasi polisi menambah keruh permasalahan dan Pelanggaran HAM di tanah Papua )

Upaya kepolisian Indonesia untuk mengungkapkan kasus teror penembakan di Jayapura tidak mendapatkan hasil akhinya berbuntut kepada penembakan kepada sala satu pemimpin gerakan activist KNPB MUSA alias MAKO TABUNI telah ditembak mati pada pukul 8:03 pagi WIT di Perumas III Waena oleh operasi gabungan polisi dan Densus 88.

Hal ini jelas terbukti bahwa upaya teror dan penembakan merupakan operasi intelijen Indonesia dalam rangka mengkambing hitamkan setiap aktivis HAM di Papua. Penangkapan dan penembakan pentolan aktivis KNPB oleh polisi Indonesia terbukti bahwa apa yang dilakukan polisi terhadap upaya pengusutan pelaku teror penembakan adalah penipuan publik karena justru polisi yang balik melakukan teror penangkapan dan penembakan para aktivis tanpa prosedur hukum yang jelas.

Tindakan polisi Indonesia semakin membrutal terhadap warga asli Papua sebagai aktivis KNPB dan melakukan pelanggaran HAM berat, dan tindakan polisi bukan dalam rangka mengungkap kasus teror penembakan dijayapura tetapi murni bentuk operasi khusus yang telah di intruksikan Presiden Republik Indonesia untuk menambah pasukan elit kepolisian Indonesia ke Papua dalam rangka Operasi khusus.

Presiden Republik Indonesia harus bertanggung jawab ata semua bentuk operasi yang bersifat diskriminasi terhadap warga Papua asli di tanah mereka sendiri, operasi ini murni bentuk pelanggaran HAM berat yang dibuat oleh Indonesia terhadap masyarakat Asli Papua.

Penembakan atas pentolan aktivis KNPB MAKO TABUNI merupakan murni operasi khusus yang diboncengi dengan alasan mengungkapkan kasus teror dan penembakan akhir-akhir ini di kota Jayapura, telah terbukti bahwa polisi bukan mengusut kasus teror dan penembakan tetapi melakukan penangkapan, penembakan kepada aktivis tidak sesuai degan hukum yang berlaku di republik Indonesia.

Polisi tidak melindungi warga Papua asli sebagai bagian dari warga Negara Indonesia tetapi melihat sebagai musuh dan keberpihakan polisi murni dalam rangka mengamankan penduduk non Papua yang ada di Papua maka Operasi ini merupakan tidakan diskriminativ dan menghilangkan nyawa orang asli Papua dan operasi ini merupakan tindakan teror Negara yang dilakukan khusus untuk orang Papua.

Bentuk operasi ini dirancang khusus kedalam kinerja Polisi Indonesia degan alasan mengungkap kasus penembakan dan teror di kota Jayapura dan berupaya untuk menghindar dari bentuk-bentuk Pelanggaran HAM di Papua.

Tindakan ini dalam rangka mengalihkan perhatian dunia bahwa polisi melakukan pengamanan tindakan kriminal di tanah Papua, dan mendiskreditkan upaya aktivis KNPB sebagai pelaku kriminal dan dalam kesempatan itu polisi Indonesia memanfaatkan isu kriminal untuk menembak dan menculik para activis HAM di Papua.

Tangkap Aktor Perancang Teror ! * ELSHAM: Polisi Jangan Hanya Tangkap Eksekutornya * BIN: Penembakan di Papua Politis

JAYAPURA- Lembaga Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia Els-HAM Papua menilai teror penembakan warga sipil di Kota Jayapura yang hingga kini pelakunya belum terungkap, diduga sengaja dirancang untuk memberikan stigma, orang asli Papua anarkis dan bisa membunuh siapa saja, pasalnya, seluruh korban penembakan adalah kaum pendatang.
“Semua korban adalah pendatang alias non Papua, ini sengaja diciptakan agar dunia luar mencap orang Papua yang melakukan pembunuhan. Sekaligus membelokan perjuangan Papua yang damai kearah kekerasan,’’ ujar Ferdinan Marisan Direktur Elsam Papua di Kantor Elsham Papua, Selasa (12/6). Ia juga menambahkan, serangkaian aksi terror penembakan terjadi, disaat dunia internasional sedang memberikan perhatian terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua.
Serangkaian kekerasan sengaja diciptakan, tercermin dari penyataan Kepala BIN Marciano Norman, yang sudah langsung menuding OPM sebagai pelaku terror, padahal Polisi belum menangkapnya. ‘’Belum apa-apa sudah langsung menuding OPM, padahal polisi masih melakukan pengusutan,’’ tukasnya.

Intinya lanjut Marisan adalah pengalihan isu yang dirancang sedemikian, sementara aparat kepolisian tidak dapat bertindak secara profesional, malah terkesan pembiaran, padahal kasus teror yang terjadi di Kota Jayapura perlu segera disikapi secara profesional dalam rangka mencegah terjadinya kekerasan terhadap warga sipil. Elsham dalam rekomendasinya menyebutkan, Polda Papua harusnya mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam melakukan penyidikan dan penyelidikan terhadap pihak pihak yang diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan dan pelanggaran HAM selama ini.
Untuk semua pihak, institusi Pemerintah, masyarakat sipil maupun individu, jangan mendahului memberikan kesimpulan tentang berbagai kejadian yang terjadi, namun kita semua memberikan kepada kesempatan kepada aparat Kepolisian Polda Papua dan jajarannya untuk secepatnya menuntaskan proses investigasi yang komprehensif terhadap pihak- pihak yang terlibat dalam berbagai aksi kekerasan, terutama kepada inisiator dan perencana dan jangan hanya sebatas menangkap eksekutor belaka, sebagaimana yang terjadi selama ini.

ELSHAM juga mencatat sedikitnya ada 20 kasus kekerasan dan penembakan serta teror yang dilakukan OTK maupun aparat keamanan terhitung April 2012, dimana instensitasnya meningkat tajam. Elsham juga merelease sejumlah kasus kekerasan di Papua. Antara lain, penyiksaan dan penangkapan sewenang wenang. Dicontohkan pada 30 april 2012, sedikitnya 42 orang telah mengalami penyiksaan dilembaga pemasyarakatan Klas II A Abepura.

Pada 2 mei 2012, Trejolih Wenda ditembak oleh orang tak dikenal (OTK) di depan Korem Abepura, korban meninggal setelah menjalani perawatan di RS. Dian Harapan. Pada 2 mei, sertu Arif, anggota Densipur X dianiaya sekelompok orang disamping balai bahasa Jayapura. 3 Mei serta sejumah kasus kekerasan lainnya.
Hal senada juga diungkapkan Aktivitas HAM Papua Pastor Yohanes Jonga, ia menuding pelaku penembakan di Kota Jayapura adalah kelompok terlatih yang memiliki kemampuan cukup besar, sehingga aparat keamanan kesulitan mengungkapnya.

“Pelaku serangkaian penembakan pasti kelompok terlatih, mereka bertujuan membuat masyarakat resah dan takut. Sementara kekuatan-kekuatan yang ada pada masyarakat sudah hancur, rusak dan tidak ada saling percaya lagi sekarang,’’papar Pastor Yohanes Jonga peraih penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2009 itu.
Pastor Jonga menuding, serangkaian kekerasan yang terjadi di Kota Jayapura sengaja diciptakan Jakarta. ‘’Jakarta selalu menjadikan Papua ini proyek, untuk kepentingan mereka,’’tukas dia.
Ia melanjutkan, kekisruhan yang saat ini
terjadi di Papua, akibat macetnya saluran komunikasi antara rakyat Papua dengan pemerintah pusat. “Dialog Papua-Jakarta tak pernah terealisasi, sehingga komunikasi tersumbat,’’ paparnya.

BIN: Penembakan di Papua Politis
Sebelumnya Kepala Badan Intelijen Negara Letjen Marciano Norman mengatakan, serentetan penembakan terhadap warga sipil maupun aparat penegak hukum di Papua dan Papua Barat memiliki muatan politis. Ada keterkaitan antara penembakan oleh orang tak dikenal dengan Organisasi Papua Merdeka.
“Ada link politik antara mereka yang ingin Papua merdeka dengan kelompok bersenjata sekarang. Mereka juga ingin menarik jurnalis asing untuk minimal menulis tentang itu,” kata Marciano kepada para wartawan di Jakarta, Senin (11/6/2012).
Marciano juga menduga, kelompok bersenjata ini ingin menarik perhatian kelompok hak asasi manusia internasional. Mereka ingin mencitrakan seolah-olah ada pelanggaran HAM berat di Papua dan Papua Barat. Padahal, klaim Marciano, situasi di Papua saat ini aman dan kondusif.

Mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden ini meminta masyarakat harus turut mendukung aparat penegak hukum yang tengah melakukan sweeping kepemilikan senjata ilegal. Masyarakat diminta tidak bersikap apriori. “Kita tidak bisa menyerahkan ini kepada Polri saja,” kata Marciano.

Penembakan oleh orang tak dikenal kembali terjadi di Papua, Minggu (10/6/2012) pukul 21.15 WIT. Seorang satpam Mall Abepura, Tri Surono (35), tewas ditembak di depan Universitas Cendrawasih. “Penembakan ini adalah bukti kuat bahwa kelompok bersenjata sudah mulai melakukan teror di kota,” kata Marciano mengomentari penembakan ini sebagaimana dilansir media online kompas.com. (ven/jir/don/l03)

KINERJA KEPOLISIAN POLDA PAPUA SANGAT DISKRIMINATIF

Dalam rangka menyingkapi kasus-kasus penembakan yang terjadi akhir-akhir ini, polisi melakukan penangkapan menyeret orang asli Papua seperti yang terjadi di beberapa tempat yang akhirnya menimbulkan keresahan bagi warga asli Papua.
Karena dinilai polisi melihat dimana ada kelompok orang asli Papua berkumpul di tempat tertentu langsung degan sikap arogansi menangkap orang Papua contoh yang terjadi pada tanggal 10 malam pukul 10:03 WIT di beberapa tempat sehingga menimbulkan warga dalam ketakutan terutama warga asli Papua karena polisi menargetkan orang asli Papua dan diduga sebagai pelaku penembakan warga.

Salah satunya penangkapan terhadap saudara Calvin Wenda sampai detik ini dalam pemeriksaan polda degan mendapat tekanan dan bentuk intimidasi agar tersangka tetap menyatakan diri sebagai pelaku, sampai keluarganya mau mengunjungi tidak dapat diperbolehkan. Dan juga dalam pengungkapan kasus penembakan terhadap warga Dok V Yapis Teddy Tabuni adalah kerabat dari saudara Calvin Wenda yang telah ditangkap polda Papua, polisi sendiri belum bisa mengungkapkan kasus ini karena diduga anggota Polisi yang melakukan penembakan terhadap Teddy Tabuni Yapis dok V Jayapura.
Kenyataan polisi dalam rangka menyingkapi tidak profesional dan telah mendiskriminasi dan memojokan orang asli Papua maka kenyataan ini telah terlihat target aparat dan kecurigaan terhadap masyarakat Pegunungan yang dianggap pembuat onar di tanah Papua, karena dalam kenyataan ini kami bisa melihat bahwa di mana tempat-tempat masyarakat gunung beraktifitas di incar oleh aparat kepolisisan guna menangkap secara paksa seperti yang terjadi pada tanggal 10 malam dua hari lalu di Perumnas III Waena.

Kepolisian dalam menyingkapi masalah harus secara proporsional dan profesional dalam menangkap dan menahan orang asli Papua dan dalam rangka operasi juga warga pegunungan tengah dijadikan sasaran operasi aparat dalam menyingkapi masalah penembakan yang akhinya menimbukan keresahan. Ketika Polisi melihat orang yang berambut lingkar dan brewokan dicurigai dan dianggap pelaku dan ditanya oleh aparat, karena dari pemberitahuan oleh beberapa anggota masyarakat pegunungan ketika mereka berjalan aparat dapat menanyakan dan identitas dan tempat tinggal mereka.

Jika dilihat sebenarnya mereka adalah orang asli Papua yang memiliki tanah Papua sedangkan orang dari luar Papua yang masuk dengan kapal putih tidak pernah ditanyai KTP dan dari mana asalnya, karena akhir-akhir ini banyak tukang bakso, tukang sayur, tukang besi kaleng, tukang pungut , tukang jual alat dapur banyak meraja lela di setiap kompleks orang Papua dan sekarang sejak terjadi masalah kegiatan aktifitas mereka berkurang, karena menjadi pertanyaan apakah karena kejadian ini?, atau apakah dalam rangka memantau jalan-jalan untuk operasi? Ini kegagalan polisi yang tidak pernah bertanya kepada orang – orang muka baru yang disebut sebagai tukang jualan degan kendaraan, tindakan polisi sangat aneh dan penuh diskriminasi terhadap warga Papua asli.

OPM MEMBANTAH PERNYATAAN KEPALA BIN MARCIANO NORMAN

(Sejumlah Kasus Penembakan karena OPM dari hutan telah masuk bergabung degan kelompok dalam kota )

OPM menilai pernyataan BIN suda jelas bentuk stikmasisasi OPM sebagai sebuah oraganisasi angkatan bersenjata, hal ini jelas untuk menjuluki OPM sebagai pelaku kriminal bersenjata atau sipil bersenjata, pernyataan ini guna menyatakan kepada publik bahwa OPM sebagai pelaku kriminal bersenjata.

Pernyataan BIN yang menyatakan OPM yang di hutan bergabung degan yang ada didalam kota” ( Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman mengatakan sejumlah penembakan dan kekerasan lain yang terjadi di Papua akhir-akhir ini diduga akibat masuknya anggota – anggota Organisasi Papua Merdeka ( OPM ) di kota Jayapura )” pernyataan ini bentuk stikmasisasi yang pernah diciptakan oleh BIN dalam rangka mempersempit perjuagan OPM secara diplomatis dan demokrasi di panggung politik. Sekali lagi kami sebagai fungsionaris OPM tegaskan pihak BIN tidak lagi melontarkan pernyataan yang merupakan permainan kartu lama dalam moment seperti begini, karena kami tahu bahwa pernyataan ini sering dilontarkan oleh Penjajah NKRI .

Kami suda memiliki banyak pengalaman dalam perjuangan Papua Merdeka dari NKRI dan masalah yang terjadi akhir-akhir ini perlu dinilai secara konverhensif bukan menduga dan menuduh itu suatu pernyataan keliru yang dilontarkan Kepada BIN Indonesia Marciano Norman, justru kami menilai bahwa pernyataan tidak objektif dan upaya mengkambing hitamkan serta counter produtif atas upaya OPM yang dilakukan guna melihat akar masalah yang terjadi di tanah Papua secara jujur dan bermartabat dan mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi.

Sekali lagi kami membantah pernyataan yang dimuat dalam harian on line “Okezone”hanya berdasarkan dugaan, jagan menimbulkan polemik yang membingunkan kepada masyarakat Indonesia dan Internasional, penembakan yang terjadi harus dinilai secara baik karena kemungkinan banyak motif yang melatar belakangi dalam kasus-kasus ini, dan juga Republik Indonesia mampu degan secara jujur menilai diri sendiri, bahwa keberadaan mereka di tanah Papua secara paksa menciptakan akar dari masalah yang terjadi sebenarnya dan dari akar masalah itu telah banyak membuahkan masalah-masalah lain serta banyak tercipta kolaborasi masalah yang akhirnya mengorbankan nyawa masyarakat yang tidak berdosa maupun aparat.

Diposkan via link media : Fungsionaris OPM wilayah New Island Pasific
by: Etagugwe Yorenda

Call for International Response To Papua

Press Release – CSWP

Communiqué of the West Papua Solidarity Committee (CSWP) – Kanaky calling for the international community to react in order to stop the killings In West Papua The CSWP calls on solidarity among the peoples of the Pacific and the peoples of Melanesia, …Communiqué of the West Papua Solidarity Committee (CSWP) – Kanaky
calling for the international community to react in order to stop the killings In West Papua

The CSWP calls on solidarity among the peoples of the Pacific and the peoples of Melanesia, against the organized genocide currently taking place in West Papua.

The Committee notes that many of our brothers are sacrificing this vital solidarity on the altars of trade agreements with the very countries that are responsible for the genocide against people that are our own brothers.

The WP Solidarity Committee of Kanaky condemns the arrest by the Vanuatu Police of WP activists who had legitimately protested against the arrival of an Indonesian charter in Vanuatu.

At a demonstration on Monday 4 June, organized by the KNPB in Jayapura, West Papua, security forces attacked the demonstrators and shots were fired into the crowd: three dead, hundreds injured, 43 arrested*.

The Committee asks the international community to react in order to stop the killings.
The Committee asks the legislative candidates [in Kanaky] to condemn the Indonesian policy in West Papua.

For the Committee
Rival Djawa

* As this statement was issued, numbers still had to be confirmed. New gross human rights violations which occurred since then include the gross brutality and violence by the Indonesian army and police when they attacked villagers in Wamena (Papua) on 6 June 2012. Unconfirmed figures are as follow: 13 people shot dead, many injured, up to 500 homes have been burnt to the ground by the soldiers. Other shootings throughout West Papua have been occurring during the entire week.

The West Papua Solidarity Committee (Comité West Papua Solidarité or CSWP) is a solidarity group based in Kanaky, founded in December 2011, under the leadership of Mr. Djawa Rival, who has advocated West Papuan rights in his region for more than 30 years now. The Committee is made up of a number of organizations in Kanaky who wish to combine forces to break the wall of silence concerning the genocide unfolding in West Papua.

Content Sourced from scoop.co.nz

Pimpinan Lintas Agama Kutuk Aksi Penembakan

( Memohon Presiden, Kapolri dan Panglima TNI Mengatur Secara Cepat Penanganan Papua )

JAYAPURA— Maraknya aksi teror penembakan yang akhir – akhir ini terjadi di Papua, khususnya Kota Jayapura, baik terhadap warga asing, aparat keamanan, maupun terhadap masyarakat sipil, yang sejak 17 Mei hingga kini telah tercatat 9 orang yang menjadi korbannya, mendapat perhatian serius dari para Pimpinan Lintas Agama di Tanah Papua. Pada intinya mereka mengutuk keras aksi-aksi penembakan yang mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah tersebut.
Dalam menyikapi aksi-aksi penembakan tersebut para pimpinan umat ini mengeluarkan pernyataan sikap dan seruan keprihatinan. Mereka adalah Ketua PGGP, Pdt. Lipiyus Biniluk, FKUB Papua, George Rumi, Ketua Muhammdiyah Papua, H. R. Partino, Uskup Jayapura, DR. Leo Laba Ladjar, MUI Papua Dudung, AQN, PHDI I Nyoman Sudha, NU Papua Tony Wanggai, Yapelin Petrus, FKUB T. H. Pasaribu, PGGP Mathias Sarwa, PGPI Papua Pdt. M.P.A. Maury, S.Th. FKPPA Pdt. Herman Saud, FKPPA Eddy Pranata dan FKUB Ponco Winata saat melakukan jumpa pers, di Kantor Keuskupan Jayapura Dok II-Distrik Jayapura Utara, Senin (11/6) kemarin sore.

Sedikitnya ada 10 poin pernyataan sikap mereka. Pertama, mengutuk keras aksi-aksi teror penembakan yang menimbulkan korban jiwa dari orang-orang tidak berdosa, seluruh umat agar mendoakan Papua sebagai Tanah Damai menjadi kenyataan dalam kehidupan bersama demi pembangunan di segala bidang dan kehidupan bersama yang damai dan aman. Kedua, pihak-pihak yang melakukan kekerasan agar menghentikan tindakannya dan bertobat sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama.

Ketiga, pihak keamanan dalam hal ini aparat kepolisian supaya menjamin keamanan dan perlindungan bagi seluruh umat, agar masyarakat menjadi aman dan damai. Keempat, para pelaku kekerasan terhadap kemanusiaan baik ancaman fisik, non fisik, penganiayaan dan sampai pada penghilangan nyawa harus diproses secara hukum demi penegakkan hukum dan keadilan di Tanah Papua.
Kelima, pemerintah dalam hal ini Legislatif maupun Eksekutif baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus proaktif mencegah kekerasan dan pembunuhan manusia.
Keenam, TNI/Polri harus melaksanakan tugas negara dengan sebaik-baiknya, untuk melayani dan menghidupi rakyat Indonesia di Tanah Papua. Aparat harus bersih dan melakukan tugas secara profesional demi penegakkan hukum, keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan HAM bagi bangsa kita di mata dunia.
Ketujuh, Porli segera mengungkap pelaku penembakan dan apa motif dari aksinya tersebut, agar tidak menim bulkan kecurigaan di kalangan masyarakat. Kedelapan, segala bentuk intimidasi, penyiksaan, penangkapan dan pemenjaraan segera dihentikan.

Kesembilan, kami memohon kepada Presiden, Kapolri dan Panglima TNI untuk mengatur secara cepat penanganan Papua dengan pendekatan kemanusiaan, investigasi oleh Tim Kemanusiaan, Tim Hukum dan HAM demi penegakkan Hukum dan penertiban aparat TNI/Polri.
Dan kesepuluh, para pimpinan agama dalam setiap melakukan tugas pastoral keliling, trauma hiling dan pelayanan kesehatan bagi yang mereka berduka, sakit, terpenjara atau menjadi terdakwa maupun pelaku tidak boleh dihalang-halangi oleh siapapun.

Para pimpinan agama di Tanah Papua meminta kepada setiap umat untuk tidak gampang terprovokasi dan mengambil tindakan sendiri dengan cara apapun yang dapat merugikan semua pihak. Tak terpancing dengan berita – berita yang menyesatkan dan mengadu domba umat.
“Tetap saling menjaga kerukunan antar umat beragama yang telah terjalin baik selama ini. Setiap umat harus meningkatkan kewaspadaan serta menjaga keamaman lingkungan tempat tinggalnya masing-masing,” kata Ketua PGGP Papua, Lipius Biniluk.

Menurutnya, meminta kepada pemerintah, TNI/Polri dan Penegak Hukum untuk lebih meningkatkan keamanan dan menindak tegas serta mengikis habis setiap pelaku aksi teror yang beraksi di Papua dan khususnya di Kota Jayapura.
“Semua umat yang hidup di atas tanah ini, wajib menjaga Papua sebagai Tanah Papua Damai yang telah disepakati oleh semua pemimpin agama di Tanah Papua,” pungkasnya. (mir/don/l03)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny