PAPUA AKAN AMAN JIKA INDONESIA MEMBERIKAN HAK KEDAULATAN

( Ulah dan Kedudukan Indonesia di Tanah Papua Merupahkan Awal dari Masuknya Masalah & Masalah di Papua Bukan Masalah Makan dan Minum Melainkan Masalah Politik )

Maraknya nya isu yang dibicarakan dalam media masa dan media elektronik yang sangat kontroversi tetang masalah yang terjadi di tanah Papua sangat berbeda-beda, karena yang menanggapi memiliki kepentingan yang berbeda pula, jika dinilai secara jeli masalah yang terjadi di Papua adalah rentetan dari akar masalah sejarah, kedudukan Indonesia di Papua yang harus dilihat secara jelas.

Karena Papua bukan berintegrasi, melainkan Papua diintegrasikan hal ini menjadi merupakan akar permasalahan yang ada di tanah Papua sejak Indonesia mulai menduduki tanah Papua, jika kita melihat dari masalah kesejahteraan, kepincangan ekonomi itu merupakan buah dari pada akar masalah yang pertama sejak Papua diintegrasikan maka Indonesia dan dunia internasional harus melihat akar masalah yang sebenarnya.

Papua tidak akan pernah aman jika Indonesia masih bersi keras untuk mengindonesiakan Papua atau mempertahankan upaya mengintegrasikan Papua ke Indonesia degan cara-cara militerisme maka masalah tidak akan pernah tuntas di tanah Papua. Setiap saat akan ada gangguan keamanan karena akar persoalannya suda jelas salah maka program apapun yang dibuat NKRI antara lain Otonomi, UP4B dan sejenisnya tidak akan pernah berjalan sesuai yang diharapkan oleh NKRI, karena itu bukan permintaan dan bukan menjawab masalah dan hal yang dibutuhkan oleh orang Papua, maka upaya apa pun yang dilakukan oleh NKRI tidak akan berjalan baik.

Disini kita bisa melihat, kebijakan apapun yang dilakukan Indonesia merupakan upaya mengindonesiakan Papua dan juga dalam rangka mempertahankan kesalahan mengintegrasikan Papua secara paksa degan kekuatan militer pada masa “Act of Free Chose” itu upaya perampasan Hak dasar bangsa Papua untuk merdeka dan berdiri sejajar degan Negara bangsa Indonesia dan Negara bangsa lain di dunia dan orang Papua tetap berpendapat bahwa Indonesia merampas hak kedaulatan hanya karena melihat sumberdaya alam bukan untuk manusia Papua, sehingga nilai hak manusia sebagai suatu entitas bangsa untuk mendirikan Negara merdeka diinjak dan ditiadakan melalui skandal politik luar negeri USA dan Indonesia maka bangsa Papua tetapi merasa dikorbangkan hak dasar untuk mendirikan Negara merdeka sejajar degan Negara bangsa lain.

Pemerintah Indonesia sebenarnya mengetahui hal ini tetapi segaja dan seolah-olah mengarahkan masalah ini sebagai masalah kesenjagan sosial, masalah ketidak adilan ini hanya suatu retorika dalam rangka dan seola-ola ingin memecahkan masalah tetapi sebenarnya justru upaya itu yang menimbulkan banyak konflik di tanah Papua, maka jelas Pemerintah Indonesia harus bertanggung jawab terhadap konflik dan masalah yang terjadi di Papua. Dari sejak kebijakan otonomi dipaksakan pelanggaran Ham semakin meningkat dan apa lagi upaya kebijakan baru UP4B dan sejenisnya, akan meningkatkan pelanggaran HAM dan konflik di tanah Papua.
Papua akan damai jika Indonesia memberikan Hak kedaulatan bangsa Papua yang pernah di lecehkan oleh Indonesia dan Amerika tas persengkongkolan politik maka Indonesia harus berhati besar untuk memberikan hak kedaulatan bangsa Papua. Pemerintah Indonesia tidak bisa berpura-pura tidak tahu menahu tentang akar masalah yang terjadi di tanah Papua dan harus berhati besar secara bermartabat memberikan hak untuk bangsa Papua berdikari dan berdiri sejajar sebagai Negara merdeka seperti Negara bangsa Indonesia, bangsa Papua hanya butuh itu, bukan kesejateraan, keadilan dan sejenisnya yang telah marak dibicarakan di media publik.

Wasyalam,
By: Etarugwe Yoretnda:

BERITA MALAM INI SANGAT MENCEKAM SEPANJANG JALAN JAYAPURA – SENTANI

( Operasi Gabungan TNI/POLRI,Densus 88 Menangkap Dengan Paksa di Malam Hari )

Pada mala mini model operasi yang digelar pasukan gabungan TNI/POLRI ( Densus 88 ) terhadap warga Papua dimulai sepanjang jalan Raya Jayapura-sentani sangat menakutkan warga dan telah menangkap beberapa orang di perumas III waena tanpa prosedur hukum yang jelas aparat mulai menjalankan operasi pada malam hari ini, menurut saksi mata.

Dalam rangka menyingkapi dan menagani kasus teror penembakan di kota jayapura diakhir pekan lalu, aparat telah melakukan operasi tanpa ampun terhadap masyarakat di setiap titik-titik kompleks orang Papua, modus operasi ini jelas karena ketidak profesionalisme aparat dalam mengungkap kasus teror penembakan dalam beberapa pekan, dan aparat mula degan tindakan arogansi terhadap warga Papua pada malam dini hari degan peralatan perang lengkap serta panser polisi.
Warga yang menyaksikan dalam keadaan kepanikan dan ketakutan melihat ulah dan tingka aparat yang menyeret orang sembarang naik diatas truk dan penangkapan dan operasi dimalam hari sangat meresahkan warga.

Tindakan ini merupakan bentuk diskriminasi dan teror Negara tergadap warga negaranya sendiri. Tindakan orogansi aparat gabungan TNI/POLRI ( Densus 88 ) adalah pelaksanaan perintah presideng RI yang dilangsir dalam berita detik kom dan berapa media masa pada eberapa hari lalu dan akibatnya penerapan aparat sangat kejam karena dilakukan pada malam hari.

Keadaan ini mencekam para warga sipil karena tindakan yang diambil aparat, persis menangkap orang degan bentuk pemakasaan dan penculikan maka warga sagat ketakutan melihat kejadian yang baru saja terjadi pada malam dini hari.

WAWANCARA SELULER: KOMANDO TERTINGGI TEREVOLUSI WEST PAPUA

( Gen.Mathias Wenda,Gen.TRWP di Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua )

SPMNews: Selamat pagi bapak, kami dari Crew SPMNews ingin bertanya sedikit tentang kejadian-kejadian teror penembakan di kota Jayapura dan beberapa tempat.
MPP: Ya, Selamat pagi anak, bapak juga mendengar situasi seperti itu di kota Numbay dan beberapa tempat dari laporan inteligen kami.

SPMNews : Ada beberapa media menyatakan bahwa anggota OPM yang melakukan penembakan terhadapa warga di kota Jayapura?

MPP: O..begitu ya? Anak, ini suatu berita dan pernyataan yang luar biasa mengejutkan bapak.
SPMNews: menurut tanggapan bapak bagimana degan pemberitaan seperti itu?
MPP: anak,! Anak harus paham baik-baik, jika ada oknum yang menyebut OPM pelaku penembakan adalah perlu dipertanyakan bahwa sebenarnya dia orangnya.

SPMNews: maksud bapak bagaimana?
MPP: setiap peristiwa yang terjadi di Papua OPM dikambing hitamkan, karena bapak memiliki pengelaman dari sejak umur muda berjuang sampai detik ini oleh permainan penjajah NKRI.

SPMNews: coba bapak tolong jelaskan lebih rinci apa maksud bapa OPM dikambing hitamkan;
MPP: Anak, sejak dulu OPM itu sebuah organisasi yang bergerak di bidang politik dan diplomasi, tetapi oleh karena cara permainan NKRI degan mengkambing hitamkan OPM sehingga banyak orang Papua generasi bapak yang berdiplomasi ke luar negeri atas nama organisasi ini tidak banyak membuahkan hasil sampai bapak bertahan dihutan sekarang, jadi anak tolong kasi tahu orang Papua dan orang Indonesia, OPM itu oraganisasi yang memperjuangkan Papua untuk merdeka dari kedudukan kolonial NKRI di Papua.

SPMNew: Bagimana jika OPM berupaya memperjuangkan politik dan diplomasi degan untuk menciptakan kedamaian dalam bingkai NKRI?
MPP: ya, itu berdiplomasi tetapi anak, bapa perlu kasi tahu , OPM bukan oraganisasi yang berdiplomasi untuk cari makan,pangkat dan jabatan maka harus berdiplomasi dalam rangka yang tadi bapak sebut itu; OPM adalah organisasi dari dulu memperjuangkan hak-hak dasar bangsa Papua untuk merdeka dari NKRI dan berdiri sejajar seperti Negara kolonial Indonesia dan tujuan jelas satu itu tidak ada dua dan tiga tujuan dibelakang.

SPMNews: Sekali lagi anak mau tanya, jika Indonesia sebut bahwa itu perbuatan OPM bagaimana tanggapan bapak?
MPP: sekali bapak katakan, yang mengatakan OPM yang berbuat tindakan yang tidak manusiawi dan dialah pelaku teror kepada masyarakat yang tidak bersalah, dan itu Indonesia mau membatasi usah perjuangan pemuda Papua seperti KNPB untuk berdemo secara damai degan mengedepankan prinsip-prinsip HAM, dan juga memojokan organisai politik seperti OPM, dan juga tidak pantas lagi TNI/POLISI katakan pelaku adalah KNPB dan OPM pada zaman sekarang to? Dunia sekarang ini suda canggih kecuali dulu zaman bapak bergerilya itu lain, sekarang juga lain, anak-anak Papua suda sekolah pintar dan tahu cara berjuang to? jadi kita bisa lihat jelas apa yang dibuat oleh kolonial NKRI di seluruh tanah Papua;

SPMNews: Terima kasih bapak, kami mohon pamit dulu jika ada waktu untuk bertanya nanti kami bertanya lagi;
MPP: Baik, anak terimakasih juga, untuk telepon kepada kami, salam Revolusi.

INDONESIA MILITARY BURALLY FIRED MECHIN GUN TO INNONCENT PEOPLE DAN BURNED DOWN HOUSES

Mbalim SPMNews: The terror and shooting that occurred in the city of Jayapura is still ongoing, then in Wamena indiscriminate shootings of civilians, originated from both the military member who drove a motorcycle had crashed into a child INORIUS WANIMBO, residents saw the incident and immediately hit raging both the militaries to die.

On this incident , all soldiers that based at battalion Jonif 756 Wimanesili Wamena furious and armed with bulk ammo from Palmetto Armory began to firing machine guns to the residents that surround the scene, and the soldiers began to burned house from Sinakma , Honelama and surroundings, house burned charred flat.
.
Victims of shootings committed by the Indonesian military in the early days people had buried a man named ELINUS WENDA at 03:30 am and other victims of gunshot wounds in the Wamena hospital are:

A. Yeremias Nirigi
2. Epinus Wetipo
3. Wenda Pekinus
4. Wenda Lerius
5. Barto Gujangge
6. Juffri Gujangge
7. Philip Nirigi
8. Ones Kerbe

And 6 other injuries that have been brought by relatives for fear and trauma of military action that anarchists in the hospital then 6 other people do not come for treatment at local hospital who do not recognize their names.

The International advocacy have to act now because situation now insecurty and time to take action on issues of human rights violations that occurred in the territory of Papua. West Papua remained without it there is the problem and no longer the indigenous people in West Papua will be vanished on their own land.

KETUA UMUM ( KNPB ) KOMITE NASIONAL PAPUA BARAT BUTAR TABUNI DITANGKAP POLDA PAPUA

KNPBnews – Ketua Umum KNPB sekaligus Ketua Parlemen Nasional West Papua [PNWP] , Buchtar Tabuni ditangkap bersama kedua rekannya, Jufri Wandikbo dan Assa Alua oleh aparat kepolisian Polda Papua tepat pukul 15.30 siangini di Lingkaran Abepuara, West Papua.

Buchtar dkk ditangkap sehabis menghadiri acara tatap muka yang difasilitasi DPRP tadi siang guna mengklarifikasi berbagai peristiwa penembakan yang ditujukan kepada KNPB, dimana dalam acara yang dihadiri toko masyarakat, agama dan adat tersebut tidak dihadiri oleh Pangdam dan Kapolda.

Buchtar ditangkap saat dalam perjalanan mengendarai mobil Avansa bersama kedua rekannya. Tiba-tiba dihentikan dan ditangkap secara paksa.

Penangkapa ini terjadi tanpa prosedur hukum yang berlaku, dimana pihak Polda Papua melakukan penangkapan tanpa surat penangkapan 3 kali. Penangkapan itu juga terjadi 7 jam sebelumnya (pukul 07.00 pagi) 4 anggota Polda Papua menembak mati Teyu Tabuni (17), salah satu warga Papua di Yapis.

Sebelumnya, pihak Polda Papua melarang demo damai yang dipimpin KNPB yang mengakibatkan 3 orang korban penembakan aparat kepolisian Indonesia pada 4 Juni lalu. Penangkapan ini dilakukan sebagai upaya polisi mengkambing hitamkan gerakan damai KNPB selama ini, agar polisi terhindar dari tuduhan ketidakmampuannya mengungkap pelaku kekerasan di Papua.

Sampai saat ini, Polda masih diringkus dalam ruang tahanan Polda Papua. KNPB telah menyeruhkan agar mobilisas nasional secara besar-besaran di seluruh tanah Papua.

Aparat Polisi Menembak Mati Teju Tabuni (17th), di Japis kota Jayapura papua

Jayapura Voice Baptist,– Tadi pagi jam 08.00 warga japis kota jayapura di kagetkan dengan bunyi tembakan oleh aparat kepolisiaan kota jayapura, dalam insiden itu telah menewaskan seorang warga yang bernama Teju Tabuni, saat itu duduk santai di alte bus depan Kampus UNIYAP Japis Kota jayapura (07/06).

Menurut informasi yang beredar versi saksi bahwa korban di tembak saat itu, Kejadiannya pukul 8:30, Polisi berjumlah 4 orang menggunakan 2 Motor dalam kandisi keadaan mabuk berat, datang menghampiri korban yang sedang duduk santai dan mengeluarkan 4 kali tembakan yang mengakibatkan korban jatuh dan tidak bernyawa.
Tidak lama kemudian aparat keamanan sampai di tempat kejadian (TKP) selanjutnya korban ( Teju Tabuni) diantar ke RSUD Dok II menggunakan mobil avansa hitam dengan nomor polisi tidak diketahui.

Menurut Aparat bahwa korban terjatuh dan kami datang hanya mau menolong katanya, ketika keluarga korban mau menjenguk di RS Dok II Jayapura, di persulit dan tidak di ijinkan karena pihak aparat menjaga ketat dengan lengkap persenjataan, dan perlu diketahui juga bahwa kondisi korban selain mengalami luka tembak tetapi leherpun ikut di patahkan.
Keluarga sangat membutuhkan advokasi, berharap agar harus di jelaskan apa alasan aparat menembak seorang anak yang tidak ada salahnya.

Data Korban:
Nama Korban : Teju Tabuni
Umur : (17 thn)
Warga : Kota Jayapura ( Asal Wamena).

Contributed: Baptist West Papua Relay:

Berdukacita Sedalam-dalamnya – Bangkitkan Semangat Juang, Terus Maju

Dari Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua (MPP-TRWP), atas nama Panglima Tertinggi Komando Revolusi Gen. TRWP Mathias Wenda, kami dari Kantor Secretariat-General bersama segenap pejuang kemerdekaan bangsa dan Tanah Papua menyampaikan

BERDUKACITA SEDALAM-DALAMNYA

atas tewasnya pemuda pejuang Hak-Hak Dasar Bangsa Papua di tangan aparat penjajah NKRI yang telah lama dan terus-menerus membunuh banyak anggota masyarakat Papua yang berteriak menuntut hak-haknya yang telah diperkosa, berawal dari peristiwa penyerahan wilayah West Irian dari penjajah Kerajaan Belanda kepada UNTEA, yang kemudian mengantar kepada pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang kita kenal dan tentang karena penuh dengan pelanggaran HAM, cacat secara hukum dan praktek demokrasi universal.
Para Almarhum pemuda pejuang bangsa telah meninggalkan kita dan bergabung bersama para pahlawan yang telah tiada, demi hargadiri, harkat dan martabat sebagai sebuah bangsa dan tanah leluhur kita, bukan sekedar untuk kedamaian, keamanan, kesejahteraan, kemabukan, yang bermuara kepada kedagingan dalam rangka melayani ego dan kerakusan belaka, bertujuan jangka pendek dan keuntungan pribadi belaka, seperti pandangan dan perbuatan kaum pendukung NKRI. Kita berjuang bukan untuk sesenduk atau sepiring nasi, bukan meminta belas kasihan, bukan juga meminta perhatian. Karena itu kita tidak menuntut pengusutan atas pembunuhannya kepada penjajah yang datang bukan untuk menghargai dan mengakui, tetapi untuk merampok, menjarah, memperkosa dan membunuh.
Jangan Takut! Jangan ragu dan bimbang! Jangan menyerah! Karena sejarah perjuangan telah mengajar kita dan kita telah belajar dari kesalahan untuk berbenah dan maju. Kita telah ada dalam rel perjuangan yang benar. Dan kita pasti akan mencapai cita-cita kita yang mulia, karena harga telah dibayar oleh para pahlawan kita.
Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan
Pada Tanggal: 06 Juni 2012
==============================
Secretary-General,

Amunggut Tabi, Leut. Gen. TRWP
================================
BRN: A.DF 018676

THE SHOOTING OF STATE TERROR IN WEST PAPUA

Functionaries OPM – West Papua Independent claim, Republic Indonesia should be Responsible for shooting, terror and intimidation in the Land of Papua

The homeland time, police have added loads of work to uncover all of it, and if POLRI embody professionalism, should be proactive with society, but in fact the police have created a new conflict that led to the democratic development of the lethal human rights violations in Papua.
There are various motives of the background to all the shelling of civilians terror, intimidation through ways of inhuman and barbaric is a form of terror that has been created by planned dual purpose. This moment begins with the shooting of human rights activists a member of KNPB/West Papua National Committee in front KOREM (Command Resort Military ) base, desert moon and a spate of it continue at this time, if we judge it is a form of intelligence submissive operations with a mind the target is hit efforts to fight the West Papuans fundamental rights to determine their own future, through indiscriminate shelling, since the first beginning of the shooting to a native Papuan then the next shooting occurs regardless of whether it’ among immigrant, native Papuans and regular members of the TNI / POLRI.

The action is pure and rare intelligence operations conducted by the assignment of certain anonymous by the form of command is privileged and confidential, so anyone whether it’s organic forces army / police do not know because, in this particular operation then it can be either prey on members of the military, regular police and residents Civil society. We indicate according toe many experiences about the form of such as operation from time to time since Indonesian occupied in West Papua and we know exactly about manner of Indonesia that the shootings and terror is an attempt to form of fooled police investigation of the shooting of foreigner in Jayapura beach base-G and an activist of KNPB member in last couple months to cover it through new planned.

Operations have been carried out in three places namely, county / city of Jayapura that resulted in the foreign citizen becoming a victim of shooting , then in the same week the shooting of civilians in the districts. Puncak Jaya, and then in the same week there has been a raising of the Morning Star flag in the office of regent in Waropen. The following of that police had found several weapons and arrested a member of the OPM, if we see clearly from this series of events culminate in the form of a special intelligence operation by Special order to a Command of special operations.

This operation is for suppress human rights activists in Papua and Papuans which are demanding to determine their own right to get Independent through peacefully and democratically, then for the benefit of any shape and integrity of the Unitary Republic of Indonesia has been taken by the action through formed the Special Operations Intelligence, because the term State safety is to save one or two civilians were victimized or victimizing not be a problem, let alone a member of the army / police it belonged to the State, for the sake of saving the integrity of Indonesia Unitary. Anyone can become a target operatio because the act of Intelligence operations are part of positive action not a normative action, then the positive action to suppress and to save the integrity of the Unitary Republic of Indonesia is where there is a chance that flat brooms term and important form of intelligence operations is the impact and effect the duty.

We hope to Papuans in Home land that OPM appeal to all members of society whether indigenous Papuans and non Papuans must be vigilant in conducting activities within the city, and keep yourself well because OPM believes citizens are no longer an opponent, OPM and the fight is not by brutal ways and sporadic, because we have to fix our organization into the Diplomatic Organization and organize its to fighting for the rights of nations such as West Papua Independent through diplomatic and democracy ways, then we are reminded to keep away from the form of terror carried out in West Papua.

We judge these actions is unable of the Indonesia government to handle up to stem the Papuan People’s demands for determining their own future and free from Neo-colonial of Republic Indonesia, the pattern and it is an act of intimidation that continues to suppress the aspirations of the longer raised up on top of Free West Papua issue.

In these circumstances the law of nature is the advancement of the nation’s struggle for independence from colonial NKRI and this action is an effort that would be to suppress amid and we say double causes, because it resulted from these actions will lead to a new security policy, namely among others” the Emergency of civilians”, downplayed the performance of police in Papua. The assassination of security forces army and police have no longer respect the rights of people’s lives and lead to human rights violations just because of based on Indonesia’s Law “Makar” ( assault ) in order to form handle up conflict and dampen the aspirations of the Free Papua Movement.

We need to consider both TNI along with a slogan that “Love is peace / Development In Love” is the slogan must be critically to analyst mode of this word and to watch out for the application of two methods used by the Indonesia army and police, for the first; Form of handle up on protesters human right movement and human rights activists are delegated to the POLRI, but how exactly to use system and approach to handle up is not according to International standard of Police and Law enforcement but the act such as confront to armed criminal or terrorist troops then we often see members of the anti-terror special force Gegana take part in the deal and the peaceful demonstration by human rights activists in Papua. The second is called the TNI along with slogan above the approach that is through persuasive form and doing social service; recently take place in the regency of Puncak Jaya, and the third is a core player specialized in Intelligence operations by commandos of the Special Team but it forms a member of the joint army / police for the rare carry out repressive against any group or person – individual and other civilians, that purpose to pressing Free West Papua movements there are pass on simply democratically and peacefully in West Papua.

The related of events that befell civilians, OPM condemn other forms of terror and intimidation by anonymous persons the Republic of Indonesia should be Responsible for the incident in Papua, because it is evidence of illegal occupation of Republic Indonesia in Papua through full of international scandal way that does not reasonable since the occupation of the Republic Indonesia in Papua have been many civilian casualties Papuan and non Papuan nation is the root of the problem of occupation is not fair and full of international political scandal in West Papua.

OPM functionaries

Etarugwe Yoretnda

STATE TERROR KEPADA PENEMBAKAN WARGA MERUPAKAN KONTRA OPERASI INTELIGEN NEGARA

( Funsionaris OPM Wilayah New Island, NKRI harus bertanggung Jawab atas Penembakan, Teror dan bentuk Intimidasi di Tanah Papua )<stron g>

Suda saatnya Polisi NKRI miliki menambah beban pekerjaan untuk mengungkap semua itu, dan jika kepolusian Neragar RI mewujudkan profesionalisme kinerja, seharusnya bersikap proaktif degan masyarakat, namun dalam kenyataan polisi telah menimbulkan konflik baru yang mengarah kepada Pelanggaran HAM mematikan perkembangan berdemokrasi di tanah Papua.

Ada bermacam-macam motiv yang melatar belakangi semua penembakan terhadap warga sipil merupakan terror, intimidasi degan cara-cara yang tidak manusiawi dan barbaric adalah bentuk terror terencana yang telah diciptakan degan tujuan ganda. Momen ini berawal dari penembakan terhadap aktivis HAM anggota KNPB di depan Korem padang bulan dan serentetan dari itu terus berlanjut sampai pada saat ini, jika kita menilai ini merupakan bentuk operasi intelijen degan mind target adalah menekan upaya-upaya warga Papua yang meperjuangkan hak-hak dasar untuk menentukan nasip sendiri, dengan melalui penembakan yang membabi buta, karena pertama berawal dari penembakan kepada seorang asli Papua maka selanjutnya penembakan terjadi degan tidak pandang entah itu pendatang atau orang asli Papua atau anggota reguler TNI/POLRI.

Tindakan dan langka ini murni operasi intelijen yang dilakukan oknom tertentu dengan penugasan degan bentuk komando yang khusus dan rahasia, sehingga siapapun entah itu pasukan organik TNI/POLRI tidak tahu karena, operasi ini khusus maka bisa dapat memangsa entah itu anggota TNI,POLRI reguler dan warga masyarakat Sipil. Kita bisa indikasikan bahwa penembakan dan bentuk teror ini upaya untuk menkelabui penyelidikan polisi terhadap penembakan seorang aktivis KNPB di Padan bulan, untuk menutupi itu degan terencana telah dilakukan kegiatan operasi di tiga tempat yakni, kabupaten/kota jayapura yang mengakibatkan seorang warga Negara asing mejadi korban penembakan, kemudian dalam minggu yang sama terjadi penembakan warga sipil di kab. Puncak Jaya dan kemudian dalam minggu yang sama telah terjadi pengibaran bendera bintang kejora di kantor bupati di Waropen berbuntut dari itu polisi telah menemukan beberapa senjata rakitan dan telah menangkap anggota OPM, jika kita melihat dari rentetan peristiwa ini jelas berujung pada bentuk Operasi khusus Intelijen oleh Tim khusus degan Komando operasi khusus.

Operasi ini tidak lain untuk menekan para aktivis HAM di Papua dan bangsa Papua yang menuntut untuk menentukan nasip sendiri ( Papua Merdeka ) secara demokrasi maka, untuk kepentingan keutuhan NKRI apapun bentuk dan langka telah diambil oleh NKRI degan membentuk Tim Khusus Operasi Inteligen, karena dalam istilah ini untuk menyelamatkan keselamatan Negara satu dua orang warga sipil dikorbankan atau menjadi tumbal tidak menjadi masalah, apalagi seorang anggota TNI/POLRI itu milik Negara maka, untuk kepentingan menyelamatkan keutuhan NKRI siapapun bisa menjadi target Operasi, karena dalam tindakan operasi Inteligen adalah bagian dari kebijakan positive bukan kebijakan normative, maka tindakan logis untuk menekan dan menyelamatkan keutuhan NKRI adalah dimana ada peluang sapu rata itu istila dan bentuk operasi inteligen yang penting adalah dampak dan efeknya.

Perlu untuk warga Papua di tanah Papua kami dari Sekretariat Kantor Persiapan OPM wilayah New Islands menghimbau kepada segenap warga masyarakat entah orang asli Papua dan non Papua harus waspada dalam melakukan kegiatan dalam kota, dan menjaga diri baik karena OPM berpendapat warga masyarakat bukan lagi merupakan lawan, dan perlawan OPM bukan degan cara-cara brutal dan sporadic, karena kami telah membenahi diri menjadi Organisasi Diplomatik dan menata diri untuk perjuangkan hak-hak bangsa Papua untuk Merdeka seperti NKRI degan cara-cara diplomatis dan demokrasi, maka kami ingatkan untuk menjaga diri dari bentuk-bentuk teror yang dilakukan di tanah Papua terhadap semua warga yang hidup di tanah Papua.

Karena kami menilai tindakan-tindakan ini adalah ketidak sanggupan pemerintah NKRI untuk membendung tuntutan Rakyat Papua untuk menentukan nasip sendiri dan bebas dari Neo-kolonial NKRI maka pola dan cara ini merupakan tindakan dan intimidasi guna menekan aspirasi yang terus semakin lama kian mencuak untuk Papua Merdeka.

Secara hukum alam keadaan ini merupakan proses kemajuan Perjuangan bangsa Papua untuk merdeka dari NKRI dan tindakan ini merupakan upaya yang akan bersifat untuk menekan degan yang kami katakana bermotiv ganda, karena berujung dari tindakan ini akan mengarah pada suatu kebijakan pengamanan baru, yaitu; antara lain Darurat sipil, meremehkan kinerja POLRI di Papua, karena jika dinilai aparat keamanan TNI/POLRI suda tidak lagi menghargai hak hidup orang dan mengarah pada pelanggaran HAM yang berpatokan pada Undang-Undang “Makar”dalam rangka bentuk penaganan konflik dan meredam aspirasi Papua Merdeka.

Perlu kita simak baik degan slogan TNI bahwa “ Kasih itu Damai/Membagun Dalam Kasih” slogan ini perlu diwaspadai karena penerapan ada dua metode yang dipakai oleh TNI/POLRI karena yang pertama bentuk penaganan pada demonstran penuntut hak dan gerakan para aktivis HAM adalah dilimpahkan kepada POLRI tetapi cara penagannya persis menggunakan sitem pendekatan untuk penaganan criminal bersenjata, atau teroris maka kita sering melihat anggota GEGANA anti terorpun turut ambil bagian dalam mengatasi dan masa demo damai oleh aktivis HAM di Papua. Kedua adalah TNI degan slogan yang disebut diatas maka pendekatan degan bentuk persuasive yaitu membagun dan melakukan bakti sosial contohny; baru-baru di kab. Puncak Jaya, dan yang ketiga adalah pemain inti khusus dalam operasi Inteligen oleh Tim Khusus degan komando khusu tetapi itu bentuk anggota Gabungan dari TNI/POLRI untuk megambil langka-langka repressif terhadap kelompok atau orang – perorang dan warga sipil lainya untuk menekan degan tujuan menekan aspirasi Papua Merdeka dengan cara intimidasi.

Degan kejadian-kejadian yang menimpa warga sipil Sekretaria Persiapan OPM wilayah New Island mengutuk bentuk-bentuk Teror dan intimidasi yang dilakukan oleh oknum Tak dikenal maka NKRI harus bertanggung Jawab atas kejadian di tanah Papua, karena itu bukti dari pendudukan NKRI di Papua degan cara yang tidak wajar maka sejak Pendudukan NKRI di tanah Papua telah banyak menelang korban korban warga sipil bangsa Papua maupun non Papua adalah akar masalah dari Pendudukan NKRI tidak wajar di tanah Papu.

Kantor Cabang Persiapan OPM Wilayah New Island Pasifik Utara

Fungsionaris OPM

Etarugwe Yoretnda

Lagi, 3 Warga Kota Ditembak

JAYAPURA- Teror penembakan di Kota Jayapura merajalela. Belum terungkap yang satu, kini ada lagi kasus baru. Ya, lagi-lagi aksi penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) kembali terjadi di Kota Jayapura, 3 Warga kembali menjadi korban, selasa(5/6) pukul 22.00 WIT. Dari data yang berhasil dihimpun semalam, aksi penembakan terjadi di 3 tempat. Kejadian pertama di Jl. Sam Ratulangi depan Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Papua, korbannya bernama Iqbal Rivai Umur: 22 th. Alamat: Hamadi Pasar. Korban ditembak saat melintas dengan motor.
Peristiwa kedua terjadi juga terjadi Jl. Sam Ratulangi depan Kantor Dinas Perhubungan Jayapura, korbans. Hardi Jayanto 22 Alamat: Klofkamp Jayapura.
Tempat kejadian ketiga di Jl. Abepura-Entrop (Perum Pemda I Entrop)/Depan CV. Tomas dengan korban .Pratu Frengky Kune (25) anggota TNI AD. Korban mengalami luka tembak di leher (tembus). Juru Bicara Polda Papua AKBP Yohanes Nugroho Wicaksono ketika dikonfirmasi belu belum bersedia memberikan keterangan.
Kapolresta Jayapura AKBP Alfred Papare yang dihubungi ANTARA, Selasa malam Sedangkan membenarkan terjadinya insiden tersebut. “Saya belum mengetahui kondisi para korban karena saat ini sudah dievakuasi ke RSUD Dok II Jayapura,” jelas AKBP Alfred Papare. (jir/ant/don/l03)