Pacific rallies to help free West Papua – Government – NZ Herald News

Vanuatu is leading the charge against Indonesia to grant independence to the troubled region.
Filep Karma is serving a 15-year treason sentence for flying the West Papua flag in Indonesia's easternmost Papua province. Photo / AP.

Filep Karma is serving a 15-year treason sentence for flying the West Papua flag in Indonesia’s easternmost Papua province. Photo / AP.

A push for independence in Indonesia’s rich but troubled territory of Papua is set to become an issue for the Pacific Island Forum.

Vanuatu is leading the regional charge in lending open support for the long-standing cause of the territory’s independence from Indonesia.

The people of Vanuatu consider West Papuans “Wantok” – brothers or “someone who speaks my language” – part of the larger Melanesian brotherhood and have long been supportive of their cause for sovereignty.

In the Vanuatu Parliament, Prime Minister Eduard Natapei and Opposition leader Maxime Carlot Korman jointly sponsored a motion stating Vanuatu’s position on Papua.

Last month’s motion is now a bill called the “Wantok blong yumi Bill” (our wantok bill) reflecting a pan-Melanesian spirit across political boundaries.

Essentially, the bill clears the way for the Vanuatu Government to develop specific policies on how to support the independence struggle of West Papua.

Vanuatu has previously supported decolonisation moves in New Caledonia and kept the issue in front of annual Forum summits – most notably in Auckland in 2003 – and has opened an office for the Free West Papua Movement in its capital of Port Vila.

The bill is timely in that it has created a platform for Vanuatu’s efforts to get forum leaders to focus on the issue once more when it hosts the 41st summit on August 3-6 in Port Vila.

Natapei has already stated that Vanuatu would work towards getting the forum and the Melanesian Spearhead Group – of which it is the current chairman – to confer observer status on West Papua.

It would be a message to Indonesia from the Pacific Islands region and may have repercussions in areas such as security and fisheries, where forum countries work closely with Jakarta.

Papua, formerly known as the province of Irian Jaya, is the western half of the large island of New Guinea (the eastern half is Papua New Guinea).

The Indonesian Government split western Papua from the rest of Papua to form the administrative region of West Papua in 2003. Vanuatu’s backing for independence covers the whole Papua region.

The territory of larger Papua remained under Dutch control for more than a decade-and-a-half after Indonesia gained its independence from the Netherlands in 1949. But when the Dutch administration agreed to support Papua‘s sovereignty bid in 1961, Indonesian President Sukarno enforced Jakarta’s control militarily, putting paid to Papuan ambitions. Towards the end of the decade, the United States facilitated talks between the Dutch administrators and Indonesian leaders, resulting in the United Nations sponsoring a referendum in 1969, called “Act of Free Choice”, giving a choice for West Papuans to decide whether to secede from Indonesia.

Only about 1000 Papuans are reported to have voted. Most Papuans believe the referendum was not representative of the vastly larger numbers that never participated.

Successive Indonesian governments have countered even the slightest hint of separatism by strict policing and enacting laws of the kind that make flying the West Papua flag anywhere in Indonesian territory punishable by imprisonment (Indonesia’s embassy in London is reported to have asked the British Foreign Office to prevail upon the Oxford town council not to fly the morning star flag on December 1 last year).

In recent years, however, the Indonesian Government has granted Papua special autonomy status, allowing indigenous Papuans greater control over tax and other local revenues from natural resources.

But activists say centrally sponsored projects are implemented without adequate consultation and regard to local rights.

West Papua and Papua provinces are the least populated and the poorest areas of the Indonesian archipelago. But the two provinces are also some of the most mineral rich within Indonesia, especially for gold, timber and natural gas.

The huge Grasberg mine, run by Freeport-McMoran, the world’s largest combined copper and gold mine, is in Papua. The complex is enormously profitable. It provided US$4 billion ($5.6 billion) of Freeport’s operating profit of US$6.5 billion last year.

The mining facilities are protected by about 3000 soldiers and police, which were supported by Freeport with US$10 million last year, according to the company.

Last December the police shot dead Kelly Kwalik, a leading figure in the Free Papua Movement or OPM. Police accused him of a series of attacks on Freeport’s operations, a charge he repeatedly denied.

Vanuatu’s backing for Papua comes amid renewed stirrings in the independence struggle itself.

Earlier this month, thousands marched in the Papua centres of Jayapura, Manokwari and Sorong, rejecting the autonomy and demanding instead a referendum and a UN-mediated dialogue towards self-rule.

There is concern in the regional leadership of the growing discontent at the grass-roots level in West Papua and fears people will take up violent measures of protest in a bid to bring their plight into international focus.

– NZ Herald

By Dev Nadkarni

Pacific rallies to help free West Papua – Government – NZ Herald News was originally published on PAPUA MERDEKA! News

[Papua Press Agency Blogger] Potensi Rumput Laut Supiori Terbaik di Dunia, Te…

SUPIORI – Meski menurut penelitian beberapa ahli dari Amerika Serikat kualitas rumput laut di perairan Supiori adalah yang terbaik di dunia, namun hingga kini masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten Supiori masih kesulitan untuk memasarkan hasil rumput laut tersebut.

Demikian disampaikan Plt. Bupati Kabupaten Supiori D.S. Julianus Mnusefer, S.Si, MAP kepada Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu, SH dalam acara Turkam-nya di Supiori sepekan terakhir ini.

“saat ini sekitar 25 ribu hektar areal telah dikembangkan rumput laut oleh masyarakat, namun karena kebingungan mau di jual kemana, banyak diantaranya yang akhirnya jadi malas mengembangkan usaha yang memiliki prospek bagus itu”, kata Mnusefer di hadapan Gubernur.

Gubernur Provinsi Papua yang akrab di panggil “Kaka Bas” dalam kesempatan tersebut menghimbau kiranya masyarakat dengan fasilitasi Pemda setempat dapat mengorganisir diri dalam sebuah wadah koperasi, dengan adanya wadah resmi memudahkan masyarakat melakukan perdagangan dan transaksi dengan para pembeli baik dari nasional maupun luar negeri. Menurutnya kebutuhan industri kosmetik dan pangan nasional maupun dunia terhadap rumput laut sebagai salah satu bahan bakunya masih cukup tinggi sehingga peluang pengembangan tanaman tersebut masih terbuka lebar. 

“lewat koperasi harga bisa di kontrol, dan tidak akan merugikan masyarakat, lewat koperasi juga akan memudahkan pembeli mengetahui berapa besar kapasitas produksi masyarakat, dan pemerintah juga lebih mudah bila hendak memberikan dukungan”, ujar Kaka Bas.

Ke depan, janji Kaka bas apabila produksi masyarakat sudah cukup besar, tidak menutup kemungkinan Pemerintah akan menggandeng investor untuk mendirikan pabrik pengolahan rumput laut di wilayah Supiori dan Biak. (amr)

Ditulis oleh redaksi binpa  
Kamis, 22 Juli 2010 15:18

[Papua Press Agency Blogger] Potensi Rumput Laut Supiori Terbaik di Dunia, Te…

SUPIORI – Meski menurut penelitian beberapa ahli dari Amerika Serikat kualitas rumput laut di perairan Supiori adalah yang terbaik di dunia, namun hingga kini masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten Supiori masih kesulitan untuk memasarkan hasil rumput laut tersebut.

Demikian disampaikan Plt. Bupati Kabupaten Supiori D.S. Julianus Mnusefer, S.Si, MAP kepada Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu, SH dalam acara Turkam-nya di Supiori sepekan terakhir ini.

“saat ini sekitar 25 ribu hektar areal telah dikembangkan rumput laut oleh masyarakat, namun karena kebingungan mau di jual kemana, banyak diantaranya yang akhirnya jadi malas mengembangkan usaha yang memiliki prospek bagus itu”, kata Mnusefer di hadapan Gubernur.

Gubernur Provinsi Papua yang akrab di panggil “Kaka Bas” dalam kesempatan tersebut menghimbau kiranya masyarakat dengan fasilitasi Pemda setempat dapat mengorganisir diri dalam sebuah wadah koperasi, dengan adanya wadah resmi memudahkan masyarakat melakukan perdagangan dan transaksi dengan para pembeli baik dari nasional maupun luar negeri. Menurutnya kebutuhan industri kosmetik dan pangan nasional maupun dunia terhadap rumput laut sebagai salah satu bahan bakunya masih cukup tinggi sehingga peluang pengembangan tanaman tersebut masih terbuka lebar. 

“lewat koperasi harga bisa di kontrol, dan tidak akan merugikan masyarakat, lewat koperasi juga akan memudahkan pembeli mengetahui berapa besar kapasitas produksi masyarakat, dan pemerintah juga lebih mudah bila hendak memberikan dukungan”, ujar Kaka Bas.

Ke depan, janji Kaka bas apabila produksi masyarakat sudah cukup besar, tidak menutup kemungkinan Pemerintah akan menggandeng investor untuk mendirikan pabrik pengolahan rumput laut di wilayah Supiori dan Biak. (amr)

Ditulis oleh redaksi binpa  
Kamis, 22 Juli 2010 15:18

[Papua Press Agency Blogger] Potensi Rumput Laut Supiori Terbaik di Dunia, Te… was originally published on PAPUA MERDEKA! News

[Papua Press Agency Blogger] Seni dan Budaya Papua Laku Dijual di Manca Negara

KE CINA—Paduan Suara Gema Chandra Universitas Cenderawasih Jayapura mengikuti lomba paduan suara internasional The World Choir di Shaoxing, Cina, 26 Juli mendatang. Ini adalah salah satu aksi mereka dalam sebuah acara di Jayapura beberapa waktu lalu. (foto:makawaru/binpa)JAYAPURA—Papua adalah suatu wilayah yang sangat kaya akan seni dan budaya yang laku dijual di manca negara. Terbukti putra putri Papua  yang diwakili  Paduan Suara Gema Chandra Universitas Cenderawasih Jayapura mengikuti lomba paduan suara internasional The World Choir  yang digelar di Shaoxing, Cina, 26 Juli mendatang.  Demikian disampaikan Ketua Panitia Persiapan Keberangkatan Paduan Suara Gema Chandra Universitas Cenderawasih Provinsi Papua, Ruben Magay SIP di Ruang Komisi A DPRP, Jayapura, Kamis (22/7). Dikatakannya, personil  Paduan Suara  Gema Chandra Universitas Cenderawasih Jayapura yang  mengikuti  lomba terdiri dari 30 orang lebih.  Cloter pertama telah berangkat ke Jakarta pada Rabu (21/7) menyusul cloter kedua yang direncanakan menuju Jakarta, Kamis (22/7). Pada tahun 2008 lalu, Paduan Suara   Gema Chandra Universitas Cenderawasih Jayapura  juga meraih posisi runner-up  pada perlombaan yang sama yang dilakukan di Wina, Austrila. “Setelah mengurus visa mereka akan segera berangkat ke Cina,” tandas Magay yang tak bisa mendampingi  rombongan ke Cina karena kesibukannya mengikuti Laporan Keterangan Pertanggungjawabkan (LKPJ) Gubernur Provi nsi Papua. Menurutnya, Paduan Suara Gema Chandra Universitas Cenderawasih Jayapura mengusung nama besar Provinsi Papua dan bangsa dan negara Indonesia. Potensi  yang terpendam ini juga dapat bersaing di bidang seni dan budaya bersama bangsa bangsa lain didunia.

“Potensi alam, manusia serta wisata di Papua ini dapat didorong menjadi sebuah kekuatan ekonomi rakyat untuk meningkatkan Pendapat Asli Daerah (PAD) Provinsi Papua,” tuturnya. “Kedepan Paduan Suara  Gema Chandra Universitas Cenderawasih Jayapura dapat dijadikan potensi untuk dijual kedunia internasional agar mereka mengetahui Papua memiliki kekayaan budaya yang tinggi.”

Karena itu,tambahnya, pihaknya  mengharapkan dukungan dari Pemerintah Daerah Provinsi Papua agar duta seni  dari Provinsi Papua mampu memberikan yang terbaik bukan hanya kepada Papua tapi bangsa dan negara Indonesia,” tukasnya. (mdc)

Ditulis oleh redaksi binpa  
Jumat, 23 Juli 2010 23:25

Ketua Komisi C, Soal Pengelolaan Anggaran di Papua (bagian 2/habis)

Selama ini Tidak Jelas Mana Dana Otsus dan Mana APBD

Ketua Komisi C yang membidangi Anggaran dan Perencanaan Pembangunan pada DPRP, Carolus Bolly,  mrngatakan, soal bentuk badan otorita pengelola dana otsus dan formulasinya akan seperti apa nantinya, hal itu akan diatur kemudian, yang masih dibutuhkan saat ini adalah pikiran dan masukan dari semua pihak di Papua, terutama pakar dan yang berkompeten, untuk duduk bersama merancang aturan pemisahan pengelolaan dana otsus dari APBD, dan bersama-sama mendorongnya pada pemerintah pusat,” sambungnya.

Oleh : Hendrik Hay

Ia berpendapat, hal ini baik untuk dilakukan, mengingat jika unsur penting dalam masyarakat Papua tadi duduk bersama dalam mengelola dana otsus, mereka relatif lebih tahu apa yang dibutuhkan masyarakat.

Sebagai contoh adalah Kalau tokoh agama ada disitu duduk satu meja, mereka lebih tahu apa yang mau dibangun untuk bidang keagamaan tahun ini, kemudian juga kalau institusi pendidikan juga ada disitu, tentu lebih paham apa yang harus dibuat untuk pendidikan di Papua. Demikian juga unsur-unsur lain yang telah disebutkan tadi.

“Jadi biarkan mereka bekerja dengan supervisi pemerintah dari sisi regulasi,” ujarnya.

Meski demikian, Carolus Bolly juga ingatkan kalau badan/lembaga otorita pengelola dana Otsus itu tidak kebal hukum, dan tetap mendapat audit dan diperiksa oleh BPK, sehingga harus tetap  bekerja sesuai rambu pengelolaan keuangan Negara.

Selama ini, tidak jelas mana yang merupakan dana Otsus dan mana termasuk APBD, sangat sulit dideteksi. Padahal sesuai amanat UU Otsus, dana yang bersumber darinya hanya untuk membiayai empat hal pokok yakni Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan ekonomi kerakyatan.

Selain itu, penggunaan dana otsus dan APBD yang disatukan, juga telah berdampak pada melempemnya kreasi eksekutif dan legislatif daerah untuk berkreasi mencari tambahan dana.

“Padahal seharusnya kalau pemerintah butuh tambahan dana, maka harus berkreasi di Dana Alokasi Khusus (DAK) atau Dana Bagi Hasil misalnya. Selama ini itu tidak berjalan, karena ada dana otsus maka kreasi pemerintah mati, sebab tanpa diusahakan juga akan turun uang. ibarat ‘Duduk tunggu uang datang’,” jelas Carolus Bolly.

Carolus yang juga pelaksana harian ketua DPD Partai Demokrat Papua, optimis kalau wacana pemisahan pengelolaan dan pengelola dana Otsus dan APBD itu terwujud, maka dengan sendirinya pemerintah dan legislatif juga akan berkreasi dengan APBDnya, dan kepercayaan masyarakat pada pemerintah akan semakin kuat.

“Sekarang ini masih kacau balau. Contoh kecil saja yakni tidak jelas proyek itu dibiayai APBD atau dana Otsus,” ungkapnya.

Gagasan yang diusulkan oleh DPRP ini, ternyata juga mendapat sambutan baik oleh pihak pemerintah (Eksekutif) Provinsi Papua.

Melalui kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah Papua, Achmad Hatari saat menghadiri rapat pembahasan anggaran di DPRP, Jumat (16/7), juga telah memberikan sambutan baik dengan, mendukung pemisahan pengelolaan dan pengelola dana Otsus dan APBD, asalkan ada dasar hukum pelaksanaannya.”Jadi pada prinsipnya pemerintah provinsi Papua mendukung gagasan dewan itu,” kata Achmad Hatari sebagaimana dikutip Carolus Bolly.

DPRP sendiri, telah sepakat dengan pemerintah untuk bersama membentuk tim, guna mendorong terwujudnya cita-cita luhur itu, dan intinya pemerintah sudah sambut baik adanya keinginan kuat dari kita,” katanya lagi.

Kalau itu sudah bisa terwujud, maka besar harapan legislatif dan eksekutif Papua bahwa sudah bisa penuhi sebagian kecil dari keinginan rakyat Papua dalam era Otsus, guna kesejahteraan mereka dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masih terkait hal sama, Ketua Komisi A, yang membidangi Pemerintahan Umum dan Keamanan, Ruben Magay juga mengatakan sangat mendukung usulan pemisahan pengelolaan dan pengelola dana Otsus dari APBD. Politisi asal Pegunungan Papua ini mengatakan, semua di Legislatif Papua memang sepakat mendukung terwujudnya hal itu, karena merupakan permintaan rakyat.

Dan kedepannya juga, Konsepnya seperti apa yang berhasil dibuat dari Papua, akan diusulkan juga untuk saudar-saudara di Provinsi Nanggroe Aceh Darusallam, sebagai provinsi yang sama-sama berstatus otonomi Khusus (Otsus).

Sejak menjadi provinsi yang berstatus otonomi Khusus pada tahun 2001 silam, sesuai amanat UU nomor 21 tahun 2010, jumlah dana otsus yang diterima provinsi Papua, hingga saat ini mencapai kurang lebih Rp 20 Triliun.

Besaran dana yang diterima, tapi tidak sebanding dengan kesejahteraan masyarakatnya, telah membuat banyak kali terjadi demonstrasi menuntut transparansi pengelolaan keuangan di Papua, bahkan sebagian masyarakat yang sudah tak percaya dengan eksekutif justru meminta referndum.***

[Papua Press Agency Blogger] Isu Uranium, Pengalihan Isu Kegagalan Otsus

Septer Manufandu saat menyampaikan press releasenya Jayapura—Mengemukanya beragam isu akhir-akhir ini di media massa, baik cetak maupun elektronik, seperti Uranium yang diproduksi PT Freeport, pemekaran Provinsi Papua Tengah dan Papua Selatan serta berbagai isu lainnya, menurut Forum Demokrasi (Fordem) Rakyat Papua Barat sebagai upaya upaya pengalihan isu atas aspirasi masyarakat yang menyatakan kegagalan Otsus Papua dan menuntut Referendum. ‘’Pelbagai isu atau gossip yang dihembuskan oleh kaki tangan pemerintah yang tidak bertanggungjawab, untuk mematahkan semangat yang melandasi orang asli Papua mengembalikan Otsus Papua yang kedua kalinya,’’ ungkap Septer Manufandu saat menggelar jumpa pers di Sekretariat Foker LSM Waena Kamis (22/7) kemarin.

Dikatakan, penyebaran isu tersebut dilakukan untuk membangun mosi tidak percaya kepada aktifis atau MRP dan DPRP. ‘’Dengan dibangunnya mosi tidak percaya, maka ini memancing kemarahan rakyat Papua kepada aktivis atau MRP dan DPRP,’’ tandasnya.

Kegagalan Otsus yang menurut Septer Manufandu ditandai perangkat Otsus yang seharusnya bisa menjadi tempat perlindungan hak-hak mendasar orang asli Papua berupa Perdasi dan Perdasus yang tidak dibuat pihak yang berwenang.

Dan berbagai tragedy kesehatan seperti tewasnya puluhan orang di Dogiai akibat kelaparan diera Otsus, menurutnya itu sebagai salah satu parameter kegagalan Otsus.

Karena itu, Fordem mengharapkan adanya satu ruang yang dibuat untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul di tengah masyarakat dengan melibatkan seluruh komponen bangsa.

‘’Entah itu nanti hasilnya perbaikan UU Otsus atau apa, kami tidak peduli, tapi yang jelas harus dibentuk satu forum yang melibatkan semua stake holder (semua lapisan masyarakat) untuk duduk bersama membicarakan apa yang menjadi permasalahan di tengah masyarakat saat ini,’’ ungkapnya.

Dalam press release Fordem Papua Barat menguraikan dengan panjang lebar tentang berbagai hal, seperti penolakan Otsus yang disebutnya sebagai paket politik, kegagalan otsus dimana di era Otsus justru memarginalkan orang asli Papua, penolakan Raperdasi Raperdasus oleh Pemerintah Pusat, rencana pembentukan MRP untuk Provinsi Papua Barat tersendiri dan berbagai hal lainnya.

Dan pada akhirnya, Fordem Papua Barat yang dipimpin olej Pdt. Dr. Benny Giay mengeluarkan tuju poin berupa pernyataan dan tuntutan.

Poin pertama adalah tentang keberhasilan yang dicapai dalam upaya mendorong proses musyawarah MRP bersama orang asli Papua sampai mengembalikan Otsus yang didalamnya terdapat kendala baik internal maupun eksternal.

Poin kedua, berupa tuntutan untuk dihentikannya segala isu/gosip seperti Uranium, Korupsi, SDM yang rendah dan lain-lain yang bertujuan mengadu domba rakyat Papua.

Poin ketiga, adalah seruan kepada komponen bangsa Papua untuk tidak terprofokasi dengan berbagai isu/gossip tersebut. poin keempat, tuntutan kepada DPR papua dan DPRD Provinsi Papua barat untuk menindaklanjuti rekomendasi hasil musyawaran MRP bersama orang asli Papua.

Kelima, tuntutan kepada DPRP ada anggotanya untuk konsisten dengan keputusan yang diambil pada 12 Juli 2010 tentang pembentukan Tim untuk membedah Otsus melalui forum ilmiah dengan melibatkan semua pihak.

Keenam, adalah himbauan untuk menghentikan bola liar panas yang dihembuskan oleh  Negara Indonesia melalui Democratik Center tentang pembentukan MRP di Provinsi Papua Barat. Serta terakhir, yakni poin ketuju, adalah Negara Indonesia bersama aparatur pemerintahannya, harus menghargai dan memberikan ruang demokrasi yang luas dan menyeluruh bagi orang Papua dalam menyampaikan segala aspirasi yang digumulinya.(cr-10)

[Papua Press Agency Blogger] Ada Kandungan Migas di Blok Pantai Barat Sarmi

SPAO Ltd. Siap Melakukan Eksplorasinya Mulai Tahun Ini

Nicholas Meset Direktur Umum dan SDM PT. Sarmi Papua Petroleum berbincang – bincang dengan Bupati Sarmi Drs. E. Fonataba, MM sebelum acara presentasi potensi migas di kawasan Pantai Barat SarmiSarmi—Kurang lebih ada 100 juta barel minyak bumi dan sekitar 1,214 trilyun kubik gas bumi di blok Northtern Papua Kabupaten Sarmi yang hak dan izin pengelolaannya telah berhasil di kantongi oleh PT. Sarmi Papua Petroleum bekerja sama dengan Ridlatama Group,  sebuah perusahaan yang telah malang melintang di dunia perminyakan dan gas bumi di Indonesia.

Hal tersebut di ungkapkan salah satu Komisaris PT. Sarmi Papua Petroleum Anang Mudjianto di dampingi salah seorang Direktur nya, Nicholas Messet  salah seorang putra asli Sarmi yang sudah beberapa tahun terakhir ini mencetuskan dan memperjuangkan masuknya perusahaan migas di Kabupaten Sarmi,  khususnya di Distrik Pantai Barat.

Dalam presentasi dan pemaparan potensi minyak dan gas yang dilakukan oleh keduanya Jumat (23/7) di Aula Kantor Bupati di Kota Baru Petam kemarin, terungkap,  dari 16.000 Km2 areal yang mereka usulkan ke pemerintah pusat, seluas 8.541 Km2 telah mendapat persetujuan pemerintah pusat untuk menjadi lahan eksplorasi mereka.

“kita tanda tangan kontrak sejak 5 Mei lalu, dan sesuai rencana sekitar awal Oktober kita sudah berkantor di Sarmi dan memulai tahapan selanjutnya selama 3 tahun pertama yakni eksplorasi, dan study seismeig untuk mencari titik penggalian yang tepat dari areal yang telah disetujui”, jelas Anang Mudjiantoro di hadapan beberapa masyarakat dari Pantai Barat.

Disinggung mengenai kompensasi, Nicholas Meset menegaskan bahwa pihaknya tidak menggunakan pola jual beli tanah, namun nantinya pihak perusahaan jelas akan memberikan sejumlah dana sesuai kesepakatan bersama yang dinilai pantas dan di kelola oleh sebuah lembaga khusus untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat setempat.

“tanah tetap milik masyarakat, kita hanya hak pakai saja, namun yang terpenting kita coba mengembangkan satu pola CSR yang lebih mengedepakan transfer skill dan melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pekerjaan”, tambah Anang selaku Komisaris.

Sedangkan untuk kontribusi bagi daerah baik itu Kabupaten maupun Provinsi Anang belum bisa memberikan angka yang pasti, namun menurutnya aturan tentang hal itu sudah ada yang baku dan mereka jelas mengikuti aturan yang ada sebagaimana diatur oleh BP Migas.

“kita tidak bisa memberikan estimasi yang pasti tentang besaran yang akan diterima oleh daerah baik kabupaten maupun provinsi, namun sudah ada aturan dan prosentasenya yang jelas”, katanya

Sementara itu Wakil Gubernur Provinsi Papua Alex Hesegem, SE dalam lawatannya ke Pulau Liki beberapa hari lalu menegaskan bahwa setiap investor yang masuk ke Papua harus memberikan kontribusi kepada daerah dalam bentuk kepemilikan saham sehingga hasilnya bisa dirasakan secara berkesinambungan. (amr)

[Papua Press Agency Blogger] Isu Uranium Alihkan Penolakan Otsus?

JAYAPURA-Pasca demo besar-besaran oleh masyarakat Papua yang menuntut pengembalian Otsus kemudian muncul isu bahwa PT Freeport Indonesia melakukan penambangan uranium.

Terkait hal ini, salah satu aktivis Forum Demokrasi Rakyat Papua Barat (Fordem Papua), Septer Manufandu menilai bahwa isu uranium itu hanya untuk mengalihkan perhatian masyarakat atas desakan pengembalian Otsus.

“Uranium itu cuman isu yang dimainkan oleh aktor politik di Papua dan nasional untuk mengalihkan perhatian masyarakat Papua pasca penuntutan penolakan Otsus ke DPRP beberapa waktu lalu,” ungkap Septer Manufandu di dampingi rekan-rekan Fordem kepada wartawan di kantor Foker LSM Waena Jayapura, Papua, Kamis (22/7).

Menurutnya, Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan gubernur serta perangkatnya harus memainkan peran, tugas dan fungsinya terkait tuntutan penolakan Otsus itu untuk mencari format apakah revisi isi dan substansinya atau mengganti dengan Undang-Undang baru ataukah bagaimana? “Itu kan kewenangan DPRP dan Gubernur sesuai dengan hirarki masing-masing lembaga ini untuk menyatukan kewenangan mereka masing-masing,” katanya.

Fodem Papua menilai otonomi khusus (Otsus) yang sudah berjalan kurang lebih 9 tahun ini dinilai gagal karena perilaku penyelenggara pemerintah di Papua yang buruk dan tidak konsisten terhadap isi dan substansi dari Otsus tersebut.

“Otsus gagal karena tidak mampu mereduksi dan memproteksi kebutuhan dasar hajat orang banyak, khusunya masyarakat Papua dan masyarakat non Papua yang ada di Provinsi Papu dan Provinsi Papua Barat,” tandasnya.

Dikatakan, kriteria Otsus gagal karena sampai sejauh ini masih banyak masyarakat Papua yang kehidupannya tidak mengalami peningkatan kualitas hidup yang baik, dan juga belum terpenuhinya hak-hak mereka dan pemenuhuan kebutuhan dasar mereka.

Menurut Septer, terhitung mulai 2008 sampai pertengahan 2010 ini, dana Otus yang dikucurkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah Provinsi Papua dan Papua Barat sudah mencapai Rp 18 triliun, tetapi sejauh ini belum menunjukkan parameter yang jelas terkait penggunaan dan manfaat dari dana Otsus ini. “Hal ini disebabkan oleh karena buruknya perilaku dan tidak konsistennya peran dan tugas legislatif dan eksekutif dalam memainkan peran dan fugsinya secar struktural dan konstitusional, dalam arti penguatan dan pengaturan alokasi penggunaan dan pengawasan anggaran tersebut,” ujarnya.

“Kalau mau katakan Otsus berhasil parameter dan indikatornya apa? Masyarakat Papua yang jumlah penduduknya sebanding dengan Provinsi Jawa Barat saja masih hidup dibawah garis ekonomi yang pas-pasan, pemenuhan kebutuhan dasarnya saja belum terpenuhi, terjadi kelaparan beberapa kali di daerah Provisi Papua, sarana dan prasarana kesehatan yang tidak terpenuhi, wabah malaria yang terjadi beberapa kali di daerah, sarana dan prasarana pendidikan yang tidak memadai, hal-hal ini lah yang harus jadi perhatian pemerintah dalam hal ini DPRP, DPRD Papua Barat, dan kepada gubernur baik Gubernur Papua dan Papua Barat,” ujarnya.

Banyak perilaku yang tidak tulus dari penyelenggara pemerintah daerah dalam hal ini DPRP dan gubernur serta perangkatnya dalam niat dan komitmen mereka dalam melaksanakan isi dari Otus tersebut. “Perilaku yang tidak tulus tersebut adalah tidak mengulur-ulur waktu pembuatan Perdasus dan Perdasi yang mengatur dan mereduksi semua kewenangan Pemerintah Provinsi Papua, dan masih banyaknya korupsi di birokarsi pemerintah baik di Pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah kabupaten dan kota di Papua dan Papua Barat,” sambungnya.

Terkait dengan berbagai tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat Papua kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, kata Septer, ini bukan tindakan untuk merongrong pemerintah dalam hal kebijakan Otsus, tetapi ini merupakan bagian dari bentuk pengawasan masyarakat terhadap penyelenggara pemerintah dan berbagai kebijakan pemerintah yang bertentanagan dengan amanah isi Otsus tersebut. (ben/fud) (scorpions)

Isu Uranium Alihkan Penolakan Otsus?

JAYAPURA-Pasca demo besar-besaran oleh masyarakat Papua yang menuntut pengembalian Otsus kemudian muncul isu bahwa PT Freeport Indonesia melakukan penambangan uranium.

Terkait hal ini, salah satu aktivis Forum Demokrasi Rakyat Papua Barat (Fordem Papua), Septer Manufandu menilai bahwa isu uranium itu hanya untuk mengalihkan perhatian masyarakat atas desakan pengembalian Otsus.

“Uranium itu cuman isu yang dimainkan oleh aktor politik di Papua dan nasional untuk mengalihkan perhatian masyarakat Papua pasca penuntutan penolakan Otsus ke DPRP beberapa waktu lalu,” ungkap Septer Manufandu di dampingi rekan-rekan Fordem kepada wartawan di kantor Foker LSM Waena Jayapura, Papua, Kamis (22/7).

Menurutnya, Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan gubernur serta perangkatnya harus memainkan peran, tugas dan fungsinya terkait tuntutan penolakan Otsus itu untuk mencari format apakah revisi isi dan substansinya atau mengganti dengan Undang-Undang baru ataukah bagaimana? “Itu kan kewenangan DPRP dan Gubernur sesuai dengan hirarki masing-masing lembaga ini untuk menyatukan kewenangan mereka masing-masing,” katanya.

Fodem Papua menilai otonomi khusus (Otsus) yang sudah berjalan kurang lebih 9 tahun ini dinilai gagal karena perilaku penyelenggara pemerintah di Papua yang buruk dan tidak konsisten terhadap isi dan substansi dari Otsus tersebut.

“Otsus gagal karena tidak mampu mereduksi dan memproteksi kebutuhan dasar hajat orang banyak, khusunya masyarakat Papua dan masyarakat non Papua yang ada di Provinsi Papu dan Provinsi Papua Barat,” tandasnya.

Dikatakan, kriteria Otsus gagal karena sampai sejauh ini masih banyak masyarakat Papua yang kehidupannya tidak mengalami peningkatan kualitas hidup yang baik, dan juga belum terpenuhinya hak-hak mereka dan pemenuhuan kebutuhan dasar mereka.

Menurut Septer, terhitung mulai 2008 sampai pertengahan 2010 ini, dana Otus yang dikucurkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah Provinsi Papua dan Papua Barat sudah mencapai Rp 18 triliun, tetapi sejauh ini belum menunjukkan parameter yang jelas terkait penggunaan dan manfaat dari dana Otsus ini. “Hal ini disebabkan oleh karena buruknya perilaku dan tidak konsistennya peran dan tugas legislatif dan eksekutif dalam memainkan peran dan fugsinya secar struktural dan konstitusional, dalam arti penguatan dan pengaturan alokasi penggunaan dan pengawasan anggaran tersebut,” ujarnya.

“Kalau mau katakan Otsus berhasil parameter dan indikatornya apa? Masyarakat Papua yang jumlah penduduknya sebanding dengan Provinsi Jawa Barat saja masih hidup dibawah garis ekonomi yang pas-pasan, pemenuhan kebutuhan dasarnya saja belum terpenuhi, terjadi kelaparan beberapa kali di daerah Provisi Papua, sarana dan prasarana kesehatan yang tidak terpenuhi, wabah malaria yang terjadi beberapa kali di daerah, sarana dan prasarana pendidikan yang tidak memadai, hal-hal ini lah yang harus jadi perhatian pemerintah dalam hal ini DPRP, DPRD Papua Barat, dan kepada gubernur baik Gubernur Papua dan Papua Barat,” ujarnya.

Banyak perilaku yang tidak tulus dari penyelenggara pemerintah daerah dalam hal ini DPRP dan gubernur serta perangkatnya dalam niat dan komitmen mereka dalam melaksanakan isi dari Otus tersebut. “Perilaku yang tidak tulus tersebut adalah tidak mengulur-ulur waktu pembuatan Perdasus dan Perdasi yang mengatur dan mereduksi semua kewenangan Pemerintah Provinsi Papua, dan masih banyaknya korupsi di birokarsi pemerintah baik di Pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah kabupaten dan kota di Papua dan Papua Barat,” sambungnya.

Terkait dengan berbagai tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat Papua kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, kata Septer, ini bukan tindakan untuk merongrong pemerintah dalam hal kebijakan Otsus, tetapi ini merupakan bagian dari bentuk pengawasan masyarakat terhadap penyelenggara pemerintah dan berbagai kebijakan pemerintah yang bertentanagan dengan amanah isi Otsus tersebut. (ben/fud) (scorpions)

OPM Berulah, Pembangunan Jalan di Puja Terganggu

JAYAPURA [PAPOS]- Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua, Jansen Monim, ST mengatakan sejak tahun 2009 alokasi dana pembangunan jalan di kabupaten Puncak Jaya selalu disiapkan melalui APBD, APBN dan Anggaran perubahan. Sayangnya karena kondisi keamanan kurang kondusif di Puncak Jaya sehingga pembangunan tdak berjalan sebagaimana mestinya.

‘’Tahun lalu anggaran untuk alokasi pembangunan jalan di daerah Pegunungan, khususnya di Puncak Jaya selalu disiapkan pemerintah, baik melalui anggaran APBN, APBD dan Anggaran Perubahan, tetapi karena OPM selalu berulah sehingga pembangunan jalan tidak bisa terlaksana. Siapa kontraktor yang mau bekerja, jika nyawanya selalu terancam saat bekerja,’’ kata Monim menjawab wartawan usai pembukaan sidang Paripurna DPRP di main hall kantor DPRP, Rabu [14/7]

Bahkan kata Monim tahun anggaran 2010 juga disiapkan anggaran, tetapi itu tadi. Jika kondisinya masih tetap terjadi konflik sama saja, tidak ada gunanya. Nah, inilah dampak dari timbulnya gangguan, pembangunan di daerah tersebut akan lambat. Padahal pemerintah provinsi Papua punya keseriusan membangun kampung-kampung di Papua, tetapi karena daerah kurang kondusif sehingga pembangunan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Lebih lanjut dikatakannya, selain anggaran pembangunan jalan di Puncak Jaya, pemerintah juga mengalokasikan anggaran pembangunan jalan Habema, Nduga dan Kenyam. ‘’Ini adalah prioritas kita. Pembangunan jalan ini akan dibangun nanti sampai ke pelabuhan. Demikian juga nanti tahun 2011 pembangunan akan dilakukan dua arah dari Kenyam-Habema, Habema-Kenyam. Anggaran pembangunan jalan ini bersumber dari APBN, APBD dan anggaran perubahan,’’ terangnya. [bela]

Ditulis oleh Bela/Papos
Kamis, 15 Juli 2010 00:00

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny