Papua church leader encourages development of wambad mounds to combat flooding

RNZI Posted at 04:05 on 16 February, 2009 UTCA

Catholic Archbishop in the Papua region of Indonesia, is encouraging people to return to traditional practices to avert natural disasters.Archbishop Nicolaus Adi Saputra of Merauke has suggested people return to the practice of building wambad mounds on which sago trees and other crops can be planted, to protect against rising tides.

The archbishop made his comments in the wake of tidal flooding in early January that hit five villages in the Wan subdistrict of Merauke.The villages were inundated with up to one metre of seawater in the worst flooding in recent years.

It destroyed banana, cassava, coconut and other crops, and according to some reports several thousand villagersnow face a food crisis.Archbishop Saputra says wambad allow seawater to drain from the land quickly, thus helping to preserve crops.

Posted via web from Papua Press Agency

Gubernur: Integrasi Papua ke NKRI Sudah Final

WAMENA -Puncak peringatan kembalinya Papua ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dilaksanakan di Monumen Pepera Wamena, Jumat (1/5) dan dihadiri Muspida di lingkungan Pemkab Jayawijaya, veteran, TNI/Polri, Tomas, Todat, Toga, organisasi pemuda dan mahasiswa.

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Setda Jayawijaya, Gad P Tabuni mengatakan, peringatan hari kembalinya Papua ke pangkuan NKRI mempunyai arti penting khususnya bagi pendidikan politik dan perluasan bagi bangsa Indonesia.

Peringatan tersebut telah terjadi peristiwa sejarah penting bagi rakyat Papua yaitu proses integrasi Papua ke dalam pangkuan NKRI melalui cara dan prosedur yang sah dan demokrasitis serta sudah diterima oleh masyarakat internasional.

Dikatakan, sehubungan dengan peringatan ini adalah sangat penting bahwa perlu melihat kembali segala pembangunan yang telah dilaksanakan sejak integrasi itu. “Dengan segala keterbatasan, kita telah melangkah maju mengukir segala hasil pembangunan hingga sampai era pembangunan yang harus dilaksanakan dalam kerangka UU Otsus,”tandasnya.

Meski Otsus sudah ada, tapi masih banyak masyarakat Papua yang miskin dan tidak dapat menolong dirinya sendiri di atas harta kekayaan mereka sendiri, oleh karena itu, di era kepeminpinannya, ada berbagai konsep besar yang telah digariskan untuk dilaksanakan yaitu dengan Respek yang sudah memasuki tahun ketiga.

Selaku Gubernur, pihaknya mengajak semua komponen masyarakat di Tanah Papua untuk menghilangkan perbedaan persepsi tentang persoalan intergrasi Papua ke dalam NKRI karena keberadaan Papua dalam wadah NKRI sudah final sesuai revolusi PBB No 2504 yang menyatakan Irian Barat (Papua) merupakan bagian integral dari NKRI.

Peringatan Kembali Papua ke NKRI juga diperingatai di merauke dalam bentuk upacara dengan inspektur upacara Wakil Bupati Merauke Drs Waryoto, M.Si.

Dalam sambutannya, Wabup Waryoto lebih banyak menjelaskan sejarah bagaimana Papua bisa bergabung kembali ke pangkuan NKRI. Yang menurutnya, pada tahun1945, beberapa tokoh pergerakan dari Jawa diasingkan oleh Belanda ke Irian Barat dan mereka berhasil melarikan diri ke Australia dan Pemerintah Australia mengembalikan mereka ke Indonesia karena adanya kesepakatan antara Australia dan Belanda sehingga mereka memanfaatkan kesepakatan tersebut untuk membentuk organisasi anti Belanda yang disebut organisasi Bawah Tanah ikut Republik Indonesia anti Nederland.(nal/ulo)

Polres Jayawijaya Periksa 19 Saksi

WAMENA – Penyidik Polres Jayawijaya terus melakukan penyidikan dan penyelidikan terhadap siapa aktor dibalik dari rentetan sejumlah kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini di Kota Wamena, yang mengakibatkan 4 orang tewas dan 2 kritis.

Terkait dengan peristiwa pembunuhan tersebut, pihak Polres Jayawijaya telah melakukan pemeriksaan terhadap 19 orang saksi di Mapolres Jayawijaya. “Sampai sekarang kami sudah memanggil dan memeriksa 19 orang saksi terkait beberapa kasus pembunuhgan yang terjadi belakang ini di Wamena,” ungkap Kapolres Jayawijaya, AKBP Drs. Mulia Hasudungan Ritonga, M.Si melalui Kasat Reskrim, Iptu Philip M. Ladjar kepada wartawan, Sabtu (18/4) kemarin.
Menurut Kapolres, ke-19 saksi yang sudah diperiksa tersebut adalah orang yang mengetahui keberadaan para korban sebelum, pada saat kejadian dan sesudah kejadian.

Selain pemeriksaan terhadap 19 orang saksi tersebut, pihaknya juga akan melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap saksi-saksi lainnya untuk mengungkap kasus pembunuhan ini yang sudah meresahkan masyarakat di Kabupaten Jayawijaya khususnya yang bermukim di Kota Wamena.

“Polisi masih tetap akan melakukan penyelidikan dengan upaya-upaya maksimal agar dapat mengungkap kasus yang sudah membuat resah masyarakat tersebut,” ujarnya.

Untuk diketahui kasus penikaman dan pembunuhan yang terjadi di Kota Wamena belakang ini terjadi Rabu (8/4), yang mengakibatkan 3 orang tewas dan 2 orang lainnya kritis dan Selasa (14/4) yang mengakibatkan 1 orang tewas. Para korban umumnya mengalami luka tikam dan bacok di sekujur tubuhnya dan para korban berprofesi sebagai tukang ojek.(nal)

Kelompok Pemerhati HAM di AS Mendesak Perhatian Berarti bagi West Papua

Contact: Ed McWilliams, WPAT, +1-575-648-2078
John M. Miller, ETAN, +1-718-596-7668

[Terjemahan SPMNews] – Pada 27 April 2009, Dua Organisasi yang manaruh perhatian kepada kondisi HAM di West Papua mendesak pemerintah A.S. untuk “menerapkan tekanan yang berarti bagi pemerintah Indonesia dan angkatan keamananannya… untuk menyoroti keprihatinan dan penderitaan yang lama di sana.”

The West Papua Advocacy Team (WPAT) dan the East Timor and Indonesia Action Network (ETAN) called menyerukan kepada pendekatan Pemerintahan Obama sebagai “hardly fresh.”

Dalam kesaksian di depan Kongres minggu lalu, Menlu Hillary Rodham Clinton diminta mendukung West Papua “dalam upayanya untuk memperoleh tingkat otonomi di dalam NKRI.”

Tekanan semestinya diletakkan pada mengkondisikan “bantuan kepada militer, Brimob dan agen intelijen Indonesia agar ada reformasi yang sebenarnya terjadi, dalam menghargai HAM dan menunjukkan sikap menghormati terhadap orang West Papua.”

“Kegagalan pemerintah A.S. memikirkan dan bertindak serius terhadap West Papua, sebelum Pemilu Juli ini, akan berakibat keterpurukan kondisi HAM dan kekerasan komunal,” kata Ed McWilliams, seorang pensiunan diplomat dan Jubir WPAT.

“Orang Papua sudah berulangkali menolak ‘Otonomi Khusus’ dan… telah menuntut diadakan sebuah dialog yang difasilitasi secara internasional dengan pemerintah pusat untuk mengatasi isu-isu kunci, termasuk demiliterisas West Papua, mengakhiri initimidasi, pembebasan tahanan TAPOL/NAPOL, dan hak untuk menentukan nasib sendiri,” kata kelompok dimaksud.

Pernyataan selengkapnya dalam versi Inggris dapat diaksed di http://etan.org/news/2009/04papua2.htm

Polri-TNI Bentrok di Karubaga

Mayjend TNI A. Y Nasution dan Irjen Pol Bagus EdodantoJAYAPURA (PAPOS) –Pratu Rustam anggota TNI dari Satgas 756 Pos Karubaka, mengalami luka-luka di bagian perut dan langsung jatuh pingsan di TKP, akibat dikeroyok oleh sejumlah anggota Polri di depan pos jaga masuk Mapolres Tolikara, Selasa (28/4) sekitar pukul 10.15 WIT kemarin.

Insiden pengeroyokan anggota TNI itu buntut dari peristiwa pada Senin (27/4) malam sekitar pukul 24.30 WIT, dimana sepeda motor salah satu anggota Polri yang berboncengan bersama salah seorang anggota Sat PP Pemerintah Kabupaten Tolikara, dihentikan oleh anggota regu jaga malam Satgas 756 Pos Karubaka.

Setelah mendapat pertolongan pertama di pos jaga Mapolres Mimika, Pratu Rustam kemudian dilarikan ke RSUD Tolikara, namun karena peralatan RSUD Tolikara tidak memadai, akhirnya korban dibawa ke RSUD Wamena dengan menggunakan jalan darat, dan saat ini masih dirawat di RSUD Wamena.

Malam sebelumnya, (Senin malam, red) anggota Satgas 756 Pos Karubaga yang tengah jaga malam, Senin (28/4) malam, sekitar pukul 24.30 WIT menghetikan laju kendaraan orang mabuk yang kebetulan dikendarai anggota Polri dan Sat PP saat melitas berboncengan dengan sepeda motor di depan pos jaga Satgas 756 Karubaka.

setelah petugas Pos jaga mengetahui bahwa kedua orang tesebut dalam keadaan mabuk, kemudian anggota Pos menanyakan, namun anggota jaga pos justru mendapat jawaban menantang. Karena keduanya dalam keadaan kondisi mabuk lalu kedua orang tersebut mengamuk.

Akhirnya, anggota pos langsung memukul kedua orang tersebut. Kedua orang mabuk tersebut mengaku bahwa mereka dari anggota Polres Jayawijaya dan anggota Polisi PP (Pamong Praja), akhirnya baik keduanya maupun petugas pos jaga saling meminta maaf.

Paginya Kapolres Tolikara sempat mendatangi pos jaga Satgas 756 Karubaga untuk mengklarifikasikan kejadian semalam. Kedua belah pihak pada waktu itu saling minta maaf, bahkan Kapolres mengatakan bahwa masalah ini sampai disini saja. “Jangan masalah ini Besar-besarkan,”ujarnya.

Karena sudah ada perdamaian Pratu Rustam pergi berjalan tanpa pakaian dinas ke luar pos, tetapi setibanya di depan pos jaga Mapolres dirinya justru dikeroyok. Ketika dikonfirmasi wartawan, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI A.Y Nasution, usai peragaan Tekhnologi dan UKM Papua di GOR Cenderawasih mengatakan, insiden di Tolikara sudah diselesaikan secara baik.

“Itu hanya perselisihan biasa saja, dan sudah damai serta tidak ada korban jiwa,”kata Pandang kepada wartawan.

Ditempat yang sama Kapolda Papua Irjen Pol FX Bagus Ekodanto juga mengatakan hal yang sama, bahwa kejadian itu cuman hanya salah paham. Menurutnya, perselisihan tersebut awalnya dipicu karena mabuk, namun kini sudah diamankan.

POLISI TEMBAK WARGA SIPIL

Sementara itu, di kota Timika, seorang warga sipil Cauiruddin (21) ditembak oknum Polisi berpangkat Briptu Edward Kawab (25), sekitar pukul 24.00 WIT pada hari Minggu (26/4) lalu. Nyawa warga jalan Ahmad Yani itu tak tertolong, setelah diterjang dua peluru pistol Revolver milik pelaku anggota Polres Mimika di Rumah Sakit Mitra Masyarakat Kota Timika.

Data A1 yang berhasil dihimpun Papua Pos menyebutkan, kronologis penembakan itu berawal ketika pelaku dan korban berada di KM 10 Kota Timika. Keduanya saat itu asik menegak Minuman Keras (Miras) sambil bercanda. Dalam kondisi mabuk berat korban mengambil tas milik pelaku.

Tak selang beberapa lama kemudian pelaku berhasil merebut tasnya kembali lantas menyeluarkan pistol yang ada dalam tas dan menembakan kepada korban.Tembakan peratama mengenai bagian lengan kanan tembus ke telapak tangan kiri korban. Tembakan kedua, tembus dada bagian kanan, lalu korban jatuh.

Sesaat berikutnya satuan P3D tiba di TKP langsung mengamankan pelaku di Polre Timika. Selanjutnya korban dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Namun setelah tiba di rumah sakit korban tidak tertolong hingga meninggal dunia di rumah sakit Mitra Masyarakat Timika.

Ketika di lonfirmasi ke PLT Kabid Humas Polda Papua Nurhabri membenarkan atas kejadian tersebut. Menurutnya, anggota Polri Mimika itu telah menembak teman masyatakatnya hingga korban meninggal pada saat di bawa ke Rumah sakit Mitra Masyarakat.

“Korban telah dievakuasi ke tempat asalnya di daerah bugis,”katanya di Mapolda, Selasa (28/4) kemarin.

Namun untuk sementara pelaku telah diamankan Di Polres Mimika dan petugas P3D Polres Timika mengamankan barang bukti yang dibawa pelaku yakni, 1 PCK Senpi Sejenis Revolver dengan No seri AUN 8835, 3 Butir peluru yang masih utuh dan 2 butir selongsong Peluru.
Selain itu, Nurhabri mengatakan pelaku tetap ditahan dan akan dikenakan hukuman.”Bapak Kapolda telah menegaskan bahwa bila ada anggota yang terlibat mabuk akan tahan di sel dan apabila terbukti tindak pidana tidak segan-segan untuk di pecat,” ujarnya.(cr-50)

Ditulis oleh Cr-50/Papos
Rabu, 29 April 2009 00:00

Jayawijaya: FKPL Menolak tegas hasil Rekapan Suara

PERNYATAAN SIKAP – FORUM KORBAN PEMILU LEGISLATIF 2009 KABUPATEN JAYAWI JAYA PAPUA
(FKPL-2009)

Terkait proses pelaksanaan PEMILU tanggal 9 April 2009

Kabupaten Jayawi Jaya dan Kabupaten Pemekaran eks Jayawi Jaya Pegunungan Tengah Papua. Maka Forum Korban Pemilu Legislatif 2009, (FBKPL-2009), menolak tegas karena :

Rakyat tidak memilih DPR Propinsi, DPR RI pusat dan DPD secara serentak pada tanggal 9 April 2009 sesuai jadwal KPU tapi sebaliknya rakyat hanya memilih wakil DPRD Kabupaten/ Kota.

Rekapan Berita Acara yang dibawa ke KPU Kabupaten Jayawi Jaya untuk DPR Propinsi, DPR RI pusat dan DPD sepenuhnya rekaya oknum pelaksana KPPS, PPD dibawah tekanan dan ancaman di pecat kalau tidak memenangkan partai dan Caleg tertentu sesuai pesanan penguasa (Bupati, Camat dan Desa).Rekapan Berita Acara PPD terkait Caleg DPR Propinsi, DPR RI pusat dan DPD tiap Distrik bukan hasil rekapan dari TPS, tapi sepenuhnya rekayasa oknun PPD didalam kamar tertutup.

Rekapan Suara Berita Acara adalah kesepakan yang dibuat di tempat lain yang tidak disaksikan oleh saksi Parpol peserta Pemilu 2009. Rekapan Suara Berita Acara oleh PPD yang di bawa ke KPU adalah sepenuhnya bukan aspirasi rakyat langsung, umum, adil, jujur dan rahasia tapi di lakukan secara sembunyi sesuai pesanan dan tekanan penguasa (Bupati, Camat dan Desa).

Maka Forum Korban Pemilu Legislatif 2009, (FKPL-2009) menyatakan sikap :

Menolak tegas hasil Rekapan Suara Berita Acara yang dibuat oleh PPD semua Distrik Kabupaten Jayawi Jaya. Rekapan

Suara Berita Acara di bawa ke KPU Jayawi jaya adalah tidak sahMengutuk keras penyelenggara pemilu dari tingkat Desa sampai Distrik/Kecamatan dan Bupati Kabupaten Jayawi Jaya yang melakukan, manupulasi suara rakyat dan sarat nuansa money politic, sehingga pelaksanaan pemilu untuk DPR Propinsi, DPR RI dan DPD menjadi tidak sah dan cacat hukum.

Demikian surat pernyataan sikap penolakan hasil pemilu 2009 Kabupaten Jayawi Jaya dan Eks Kabupaten Jayawi Jaya dilapiri kronologis pelanggaran.

FORUM
BERSAMA KORBAN PEMILU LEGISLATIF 2009
(FBKPL-2009)

Wamena Papua 20 April 2009

Ketua
Umum
ISMAN ASSO

Sekretaris

THAHA MUDE ASSO

Tembusan :

PANWAS
1. Kabupaten Jayawi JayaKPU
2. Kabupaten Jayawi JayaKapolres
3. Kabupaten Jayawi JayaBupati
4. Kabupaten Jayawi Jaya dan eks Kabupaten Jayawi JayaMasing-masing
5. Parpol peserta Pemilu 2009 Kabupaten Jayawi Jaya

Jenazah Erik Tiba di Wamena

WAMENA (PAPOS)- Jenazah Erik logo (23) pelaku penyerangan Polsekta Abepura, yang meninggal di RSUD Dok II Jayapura, Rabu (22/4) akibat luka tembak di bagian perut sebelah kiri oleh aparat keamanan, akhirnya tiba di bandara Wamena sekitar pukul 16.25 WIT dengan menggunakan pesawat Trigana Air pada flyht ke-3.

Dengan di jemput oleh sanak keluarga di Wamena akhirnya jenazah almarhum Erik Logo yang telah dimasukkan ke dalam peti setelah turun dari pesawat selanjutnya di bawah menuju kediaman keluarganya di jalan Pattimura Wamena dengan mengunakan ambulance milik RSUD Wamena.

Ketua Dewan Adat Papua (DAP)kabupaten Jayawijaya, Lemok Mabel,kepada wartawan menjelaskan bahwa rencana pemakaman almarhum tersebut belum dapat dipastikan karena masih menunggu pihak keluarga berembuk dulu, sehingga untuk sementara almarhum disemayamkan di rumah keluarga di jalan Pattimura Wamena,

Adapun sebelumnya almarhum Erik Logo salah satu dari puluhan warga lainnya pada Kamis (9/4) lalu yang melakukan penyerangan pada Polsek Abepura dengan menggunakan senjata tradisionil, bom molotov dan bom rakitan, sehingga hal ini membuat pihak keamanan terpaksa melepaskan tembakan peringatan ke udara, tapi akibat para penyerang saat itu semakin tidak terkendali sehingga petugsa lalu melumpuhkanya dengan tembakan.

Akibat peristiwa tersebut maka mengakibatkan satu orang penyerang meninggal di tempat kejadian, sementara 4 orang lainnya berhasil ditangkap dalam keadaan luka tembak dan salah satunya adalah almarhum Erik Logo yang langsung dilarikan ke rumah sakit dan setelah mendapat perawatan beberapa hari akhirnya meninggal dunia akibat luka tembak yang dideritanya.(iwan)

Ditulis oleh Iwan/Papos
Jumat, 24 April 2009 00:00

DAP Minta Aparat Transparan

JAYAPURA (PAPOS) -Aparat keamanan diharapkan dapat mengungkap secara transparan segala peristiwa yang meresahkan masyarakat di Papua, terutama yang terjadi menjelang, saat dan beberapa hari pasca Pemilu 2009.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum Dewan Adat Papua (DAP) Leonard Imbiri.”Kami berharap, aparat tidak saja mengungkap dan menangkap pelaku tindakan-tindakan anarkis yang terjadi di Jayapura dan daerah lainnya, tapi juga motif dan aktor utama di balik semua peristiwa itu,” tandasnya di Jayapura, Rabu (22/4) kemarin.

Peristiwa yang meresahkan masyarakat di antaranya penyerangan Kantor Polsekta Abepura, Jayapura yang disusul pembakaran gedung rektorat Universitas Cenderawasih (Uncen) oleh beberapa orang yang tidak bertanggung jawab, menjelang hari pencentangan, Kamis (9/4).

Sebelumnya, masyarakat juga dikejutkan dengan penemuan bom yang terpasang di jembatan Muara Tami, Distrik Muara Tami. Bahkan ada pula pembunuhan yang menimbulkan jatuhnya beberapa korban jiwa di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Selain itu, di kabupaten ini juga SMP Asologoima ikut dirusak.

Rangkaian kejadian itu masih disusul dengan penyebaran isu akan adanya penyerangan dari sekelompok orang terhadap komunitas masyarakat tertentu dan teror bom yang semakin mengganggu kondisi kemanan dan ketertiban masyarakat di Jayapura, terutama pada hari-hari penghitungan suara.

Penemuan bom di tempat-tempat keramaian di Abepura, Jayapura beberapa waktu lalu turut menambah ketegangan masyarakat yang akan beraktivitas.

“Keadaan ini menimbulkan situasi yang tidak menentu dan membingungkan masyarakat,” kata Leonard.

Di lain pihak, dampak dari hal tersebut adalah terusiknya hubungan sosial kemasyarakatan yang rawan konflik horizontal.

Lebih lanjut dia mengatakan, di masyarakat kini timbul rasa saling curiga dan menjaga diri karena telah ada pengkotak-kotakan kelompok masyarakat satu dengan lainnya.

Oleh karena itu, agar situasi ini tidak menyebabkan masalah yang lebih besar lagi, dia berharap pihak keamanan dapat menuntaskan kasus-kasus kekerasan tersebut secara gamblang dan terbuka.(ant)

Ditulis oleh Ant/Papos
Kamis, 23 April 2009 00:00

Pangdam Tidak Bedakan Orang Gunung dan Pantai

JAYAPURA (PAPOS)- Panglima Kodam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI A.Y Nasution menegaskan bahwa Kodam XVII/Cenderawasih tidak pernah membedakan orang gunung maupun orang pantai. Apakah itu putra daerah maupun pendatang, semua sama.

‘’Karena itu, mari sama-sama kita bersatu untuk membangun Papua menuju masyarakat sejahtera,’’kata Panglima Kodam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI A.Y Nasution kepada wartawan usai acara tatap muka Pangdam bersama keluarga besar (KB) TNI di Makodam, Kamis (23/4). Dikatakan kasus-ksus penyerangan yang terjadi selama ini baik di Tingginambut, terbakarnya Pom Bensin di Biak, penyerangan Polsekta Abepura hingga membawa korban jiwa, serta terbakarnya kampus Uncen, ada orang-orang yang sengaja melakukan tindakan seperti itu untuk mengacaukan tanah Papua. ‘’Kasus ini jangan sampai dijadikan permusuhan besar bagi kita semua. Kita harus tetap bersatu demi membangun NKRI seterusnya,’’ kata Pangdam.

Bahkan Pangdam tidak setuju kasus yang terjadi saat ini dikaitkan dengan orang gunung. ‘’Bicara tentang orang Gunung, saya juga orang gunung. Kasus yang terjadi selama ini murni tindakan criminal. Sekarang siapapun pelaku pengacau harus di kejar tapi jangan sampai menyinggung orang gunung semua. Kita jangan membedakan orang gunung dan orang pantai semuanya bagi kita sama, tidak ada perbedaan baik pendatang maupun Putra daerah,’’ katanya.

Untuk itu, ia meminta semua pihak persoalan yang muncul saat ini jangan dikait-kaitkan dengan suku dan putra daerah maupun dengan pendatang. Mari kita berpegang erat antar sesamadan selalu memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Indonesia ini.

Menyangkut keluhan-keluhan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Menurut Pangdam, semua saran yang disampaikan dalam pertemuan itu cukup baik. Untuk itu, kedepan akan memperbaiki prajurit.Masukan itu akan dikomunikasikan ke Jakarta, khususnya yang menyangkut kebijakan.(cr-50)

Ditulis oleh Cr-50/Papos
Jumat, 24 April 2009 00:00

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny