Para Mantan Pejuang Trikora Tidak Rela Papua Pisah dari NKRI

JAYAPURA- Dalam rangka HUT Trikora ( Tiga Komando Rakyat) ke-47, jajaran Muspida Provinsi Papua, Kamis (18/12) kemarin melaksanakan kegiatan sosial anjangsana ke sejumlah mantan Pejuang Trikora.

Kegiatan anjangsana ini dibagi dalam beberapa kelompok/rombongan. Rombongan pertama, Kasdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Hambali, Kakesbang Papua mewakili Gubernur, Wakajati Papua Poltak Mannulang, SH, Aster Kasdam Kolonel CHB Viktor Tobing dan Kapendam Letkol Inf. Imam Santoso mengunjungi Mantan Pejuang Adrianus Apelam di Cigombong Kotaraja.

Rombongan kedua, Ketua Pengadilan Tinggi Papua, Danrem 172/PWY Kolonel Czi I Made Sukadana, Asops Kasdam dan Kasintelrem melaksanakan anjangsana ke kediamana Alfons Nussy di Hamadi dan Pieter Wona di Argapura. Rombongan ketiga, Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto, Danlantamal, Aslog Kasdam, Asren Kasdam dan Kababinminvetcad mengunjungi kediaman Arif Puasa di Abepura dan Sakur Wahid di Perumnas 1 Waena.

Rombongan keempat, Ketua DPRP Drs. John Ibo, MM, Irdam, Asintel Letkol Inf. Khairully, Aspers dan Dandim 1701/ Jayapura Letkol Kav A.H Napoleon mengunjungi keluarga Marthen Rodjuto di Entrop dan Abdul Fuad di Abepura dan rombongan kelima, Danrindam, Danlanud Jayapura, Bupati Jayapura, Danyon 751/BS dan Kasiterrem melaksanakan anjangsana ke rumah keluarga Natales Maturbong dan Jerol J di Sentani.

Kasdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Hambali Hanafiah mengatakan, tujuan anjangsana para unsur pimpinan Muspida ke sejumlah mantan para pejuang Trikora ini sebagai wujud kepedulian pemerintah sekaligus bentuk penghormatan dan penghargaan kepada mereka. Sebab, tanpa pengorbanan dan perjuangan mereka maka Papua tidak mungkin ada seperti sekarang ini.

“ Siapa pun harus menyadari dan menyakini bahwa Papua yang merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukanlah pemberian bangsa lain tapi merupakan hasil perjuangan dan penghorbanan para mantan pejuang. Kita sebagai generasi penerus mereka tidak boleh melupakan sejarah apalagi sampai menodai perjuangannya,” ujar Kasdam kepada wartawan, kemarin.

Menurut Kasdam, yang patut diteladani oleh generasi muda adalah, meskipun usai mereka ini sudah lanjut namun semangat dan tekadnya untuk tetap mempertahankan NKRI dari Sabang sampai Merauke sangat tinggi.

Harusnya nilai-nilal perjuangan dan semangat mereka ini yang harus terus dipupuk dan dipelihara untuk membangun daerah ini. Sebab, cita-cita untuk meraih kemajuan dan kehidupan yang lebih baik hanya bisa diraih jika dilandasi dengan tekad dan semangat yang tinggi.

Pada saat Presiden Soekarno pada tanggal 19 Desember 1961 mencetuskan Trikora, para mantan pejuang saat itu rela meninggalkan keluarganya untuk berjuanga melawan kolonial Belanda di tanah Papua (Irian Barat). Yang ada dibenaknya saat itu adalah Papua sekarang ini tidak boleh lepas dan harus tetap utuh menjadi bagian NKRI.

Sementara itu, salah seorang mantan pejuang Trikora Andrianus Apelam mengaku sangat sedih jika masih adanya kelompok-kelompok masyarakat yang menginginkan Papua lepas dari NKRI. Sebab, untuk mempertahankan atau merebut Papua dari kolonial Belanda ratusan pejuang termasuk dari Papua sendiri telah gugur dimedan perang.

Tidak itu saja, banyak juga diantara mereka yang saat ini masih hidup namun mengalami cacat tubuh akibat terkena peluru serdadu Belanda. Termasuk dirinya sendiri yang tangan kanannya sempat cacat akibat terjangan peluru Belanda. Bekas luka itu masih ada di tangannya.

“ Yang jelas saya tidak rela jika sampai Papua ini lepas/terpisah dari NKRI. Sebab, untuk mempertahankan Papua menjadi bagian dari NKRI tidak sedikit perjuangan dan pengorbanan yang sudah dilakukan. Saya sendiri dan beberapa teman dari Papua sempat dua kali ditangkap dan dibuang (dipenjara) ke Boven Digoel. Tapi saat itu saya tidak pernah takut dengan belanda justru semangat untuk melawan Belanda saat itu semakin berkobar,” ujarnya seraya mengingat perjuangan masa lalu.

Yang ada dibenaknya saat itu bendera merah putih harus terus berkibar di wilayah Irian Barat. Akhirnya melalui perjuangan yang panjang dan tidak kenal menyerah Belanda akhirnya bersedia mengembalikan Irian Barata ke PBB untuk dikembalikan ke Pangkuan Ibu Pertiwi.

Karena itu, dirinya meminta kepada kelompok-kelompok yang menginginkan Papua lepas dari NKRI agar belajar sejarah yang benar kepada saksi-saksi/pelaku sejarah yang masih hidup dan bukan kepada orang lain yang tidak tahu sejarah sebenarnya.

Papua bagian dari NKRI sudah final dan telah mendapat pengakuan dunia internasikonal dan PBB. Yang harus dipahami adalah, proses penentuan pendapatan (Pepera) saat itu belum mengenal metode one vote one man ( satu orang satu suara) seperti sekarang ini, tapi hanya bisa dilakukan melalui keterwakilan. Proses penentuan pendapat itu sendiri dibawah pengawasan langsung PBB. Jadi kondisi ini yang perlu dipahami rakyat Papua mengenai sejarah Pepera.

Sementara itu, Ketua Panitia HUT Trikora Kolonel CHB Viktor Tobing mengatakan, 19 Desember 1961 merupakan peristiwa penting bagi keutuhan NKRI karena tanggal ini Presiden Soekarno menyerukan Komando Trikora. Bagi Kodam, HUT Trikora ke-47 dan Infantri ke-63 merasa perlu digabungkan agar generasi muda tidak melupakan dua peristiwa sejarah bangsa tersebut.

Perintah Presiden disampaikan dengan lantang di depan rapat akbar di Jogyakarta, karena belanda masih melanjutkan kolonialisme di tanah air. Sehingga rakyat Indonesia termasuk yang berada di Irian Barat untuk melaksanakan Tri Komando yang isinya, Pancangakan sasangka Merah Putih di Irian Barat, Gagalkan Negara Boneka Papua dan adakan mobilisasi umum.

Guna memuluskan operasi Trikora, dibentuklah Komando Mandala yang membawahi unsure AD, AL dan AU dan Kohanudgab Mandala yang bertugas merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi militer untuk merebut Papua Barat dari Belanda.

Sementara itu berkaitan dengan HUT Trikora dan HUT Infantri, Kamis (18/12) kemarin telah dilaksanakan sejumlah kegiatan diantaranya karya bhakti TNI pembersihan tugu Yos Sudarso di Taman Imbi dan Pepera yang dipimpin Dandim 1701/Jayapura Letkol Kav. A.H Napoleon. Menurut Dandim, dua tugu tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi sehingga keberadannya perlu dijaga dan dirawat. Sorenya, Dandim juga membuka pertandingan Futsal di Yapis Jayapura yang juga merupakan rangkaian HUT Trikora.

Sehari sebelumnya, Kodam juga telah melaksanakan kegiatan pengobatan massal bagi warga Hamadi yang belum lama ini terkena musibah gelombang pasang. Disela-sela meninjau kegiatan pengobatan massal, Kasdam menyerahkan sembako kepada warga setempat.

Sedangkan puncak HUT Trikora dan HUT Infantri akan dilaksanakan pagi ini Jumat (19/12) dalam suatu upacara militer di Lapangan PTC yang dipimpin Pangdam Mayjen TNI A.Y Nasution. Rencananya, acara ini akan dihadiri unsur Muspida Provinsi Papua Gubenur Papua Barnabas Suebu, SH, Ketua DPRP John Ibo, MM, Kapolda dan eleman masyarakat lainnya. (mud)

PBB Dukung Pembangunan di Jayawijaya

Wamena (PAPOS) – Kepala United Nations Development Programme (UNDP) dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Indonesia, El Mostafa, mengatakan dukungannya pada pembangunan di kabupaten Jayawijaya melalui kegiatan bersama enam lembaga yang ada di PBB yakni Unicef, UNDP, ILO, UNFPA, UNV dan WHO dengan berbagai pelayanan di Kabupaten Jayawijaya dan Lanny Jaya. Menurutnya, keberadaan enam lembaga PBB tersebut secara bersama-sama mendukung pemerintah daerah maupun masyarakat di kedua kabupaten untuk mencapai tujuan pembangunan millennium. Melalui perpaduan program dari masing-masing lembaga akan mendukung pembangunan dikedua wilayah tersebut sekaligus mempererat kerjasama dengan instansi-instansi pemerintah, masyarakat madani dan masyarakat adat.

“ Kerjasama antara lembaga-lembaga PBB disini adalah suatu contoh baik tentang bagaimana kita memadukan kekuatan dan bekerja sama untuk pembangunan,” ujar El Mostafa kepada Papua Pos di Wamena Kamis (18/12) kemarin.

Oleh karena itu PBB berkomitmen untuk bekerja dalam kemitraan dengan pemerintah maupun masyarakat melalui berbagai program gabungan yang dapat menggurangi tupang tindih maupun kekosongan-kekosongan serta usaha yang maksimal.

Dijelaskannya, delapan tahun, 189 negara yang tergabung dalam PBB termasuk Indonesia, PBB berjanji untuk mengurangi kemiskinan sebesar 50 persen pada Tahun 2015 mendatang dengan mewujudkan peningkatan kesehatan, pendidikan dan kesejateraan umum di seluruh dunia.

Sementara itu, Sekretrais daerah Jayawijaya, Drs.Thomas Ameng menyampaikan dukungan penuh dari pemerintah daerah terhadap pendekatan terkordinasi dari lembaga-lembaga PBB dan program kerjasama yang ada.

Menurutnya, kendala-kendala pada pencapaian tujuan pembangunan millennium di pegunungan tengah memang sangat berat. Namun pemerintah daerah yakin bahwa pencapaian bisa dilakukan dengan adanya dukungan kuat dari mitra-mitra pembangunan.

Menburut, Thomas Ameng, Kabupaten Jayawijaya setelah pemekaran memiliki 39 Distrik, 375 Kampung dan 2 kelurahan dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.854 jiwa. Namum sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur di segala bidang.

Dia berharap melalui dukungan dari Badan Dunia (UNDP) diharapkan asa percepatan pembangunan di daerah ini untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyat di daerah ini.(rico/cr-43)

Ditulis Oleh: Pappos/Rico/Cr-43
Jumat, 19 Desember 2008

Ke Australia Karena Ditipu – Tiga Pencari Suaka Tiba di Jayapura

TIBA : Yunus Wainggai bersama istrinya Siti Pandera dan anak mereka Anike Wainggai saat berada di VIP room Bandara Sentani Kamis (18/12) kemarin.
TIBA : Yunus Wainggai bersama istrinya Siti Pandera dan anak mereka Anike Wainggai saat berada di VIP room Bandara Sentani Kamis (18/12) kemarin.

SENTANI – Satu per satu para pencari suaka yang bersama dengan Herman Wanggay lari ke Australia, akhir 2006 lalu, mulai sadar dan kembali ke Papua, setelah Hana Gobay dan Yubel Kareni kembali ke Merauke dan Serui September lalu, kini disusul lagi oleh Yunus Wanggay (39), dan anaknya Anike wanggai (6) serta istrinya Sitti Pandera/Wanggay (40). Seperti rencana sebelumnya, ketiganya akhirnya tiba di Bandara Sentani,setelah melakukan penerbangan dari Jakarta, menggunakan penerbangan udara Express Air, dengan nomor seri penerbangan PK-TXD boing 737 seru 200,Kamis (18/12), kemarin sore.

Menjelang kedatangan di Bandara sentani, ternyata mendapat perhatian khusus baik dari keluarga dan para wartawan, ini dibuktikan dengan banyaknya keluarga dan para wartawan baik dari media eletronik dan cetak lokal dan nasional, lengkap dengan perlengkapannya liputan, memadati ruang tersebut. Penjemput dan para pemburu berita ini bahkan mereka sejak pukul 15.00 WIT, sudah rela menunggu di ruang VIP, menantikan pesawat yang mengantar pulang keluarga pencari suaka tersebut.
Tepat pukul 17.20 WIT, pesawat yang mengantarkan keluarga Yunus Wanggay dan istri dan anak pun tiba di Bandara Sentani. Yunus menggunakan pet merah serta kaca mata hitam, sementara istri dan anaknya menggunakan pakaian berwarna biru cerah dengan motif bunga-bunga. Saat turun dari tangga pesawat, suasana sedih bercampur haru pun terlihat. Saat keluar dari pintu pesawat, ketiganya langsung disambut oleh keluarga terdekat. Mereka saling peluk-memeluk, bahkan tangisan sempat mewarnai penyembutan para pencari suaka tersebut. Yunus Wanggay dan istri serta anaknya, langsung dijemput oleh mobil milik penerbangan Ekpres Air, menuju ke ruang tunggu VIP.
Yang menarik saat itu, sang anak Anike (6) sempat mengeluarkan air mata karena kaget, pasalnya para wartawan menggunakan kamera yang ditujukan kepada dirinya dan bapaknya Yunus wanggay. Anike yang hanya bisa berbahas Inggris sempat mengeluarkan kata-kata kepada ayah dan ibunya.

Setelah berada di ruang VIP Bandara Sentani, Yunus Wanggay dan istri dan anaknya, diberikan kesempatan istirahat 15 menit, selanjutnya didampingi oleh Kepala Seksi Deportasi Direktorat perlindungan warga negara Indonesia dan Badan hukum Indonesia Direktorat Jenderal protokol konsuler Departeman Luar negeri,Kukuh Dedijayadi, serta Sekertaris Badan Perbatasan Provinsi Papua, Philps Marey mewakili pemerintah daerah, serta keluarga lainnya selanjutnya menggelar keterangan pers kepada para wartawan.

Tak mau lama-lama menunggu, Yunus Wanggay dan keluarganya pun diserang dengan berbagai pertayan wartawan, terutama mengenai alasan mencari suaka ke Autralia, serta alasan ingin kembali ke Indonesia (Jayapura), pertanyaan tersebut langsung dijawab spontan oleh Yunus Wanggay.

Menurut Yunus Wanggay alasan dirinya lari bersama dengan anaknya Anike (6) akhir tahun 2006 lalu, karena dirinya saat itu ditipu oleh saudaranya Herman Wanggay yang saat itu mengajaknya lari ke Auralia dengan iming-iming akan mendapat kehidupan yang lebih layak, sehingga saat itu dirinya menyiapkan dana sebesar Rp 24 juta, lalu menyerahkan kepada Herman Wanggay, bersama dengan anaknya Anike (6) serta 40 pencari suaka lainnya, menggunakan kapal motor melakukan pelarian lewat Mareuke ke Autralia, akhir 2006 lalu.

” Saat itu Kami ditipu oleh kakak Herman Wanggay, dirinya juga sempat janji akan mengantikan dana saya, sebesar 10 Ribu dolar Australia, dia juga berjanji akan mengembalikan kami ke Jayapura enam bulan kemudian. Sehingga kami percaya lalu mengikutinya ke Australia,bahkan kami dijanji akan mendapat kehidupan yang lebih sejahtera lagi,”jelasnya.

Ternyata saat sampai di Negeri Kanggoro tersebut, apa yang dijanjikan ternyata tidak juga terjadi, bahkan si Herman Wanggay terkesan membiarkan mereka selama di Australia. Janji akan mengembalikan ke Papua ternyata tidak juga terjadi, bahkan Kata Yunus akibat dirinya lari Australia membuat anaknya yang barus berusia enam tahun, terpaksa harus berpisah dengan istrinya, bahkan memakan waktu yang lama hampir tiga tahun lebih, kehidupan makin tidak menentu, bahkan dirinya mulai rindu kepada tempat kelahirannya di Papua.

“Memang selama di Autrlaia kami mendapat jaminan dari pemerintah Astralia, namun bagi kami kehidupan disana tidak sama seperti di Papua, sehingga kami memilih pulang saja, apalagi kami sudah sangat rindu dengan keluarga,”tukasnya.

Kepada wartawan Yunus mengatakan, dirinya kembali tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun, semua itu atas keinginan pribadi, ingin dekat kembali dengan istrinya, sama seperti sedia kala, “Saya rindu terhadap keluarga saya, terpaksa saya menguhubungi KBRI di Mallboune Autralia, untuk membantu kepulangan saya. Akhirnya mereka membantu saya sehingga saya bisa bertemu dengan istri saya,serta keluarga di Jayapura,”papar lelaki yang berprofesi sebagai nelayan ini.

Sementara itu menurut sang istri,Siti Paderu/ Wanggay (40),perpisahan dirinya dari suami dan anaknya, itu bisa terjadi lantaran ditipu oleh Herman wanggay, untunglah berkat pertolongan dari KBRI sehingga dirinya bisa kembali bertemu dengan suami dan anaknya, bahkan dirinya mengaku akibat mencari suami dan anaknya, dirinya juga sempat lari ke PNG.

“Dia (Herman Wanggay) menipu kami sehingga kami berpisah, sesuatu yang sangat menyakitkan, namun kami berysukur dapat kembali bertemu. Saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi, kami sudah tidak percaya lagi dengan Herman Wanggay, kami ingin tetap hidup aman di Indonesia,”jelasnya.

Ditanya mengenai teman-temannya yang lain yang masih ada mencari Suaka di Asutralia, ternyata Yunus enggan mengomentari akan hal itu, dirinya lebih memilih diam.
” Saya tidak tahu mereka, yang penting saya sudah kembali ke Papua,”katanya singkat.

Sementara itu menurut Kepala Seksi deportasi Direktorat perlindungan warga negara Indonesia dan Badan hukum Indonesia Direktorat Jenderal protokol konsuler Departeman Luar negeri,Kukuh Dedijayadi, pihaknya haya bersifat menvasilatasi kepulangan keluarga Yunus dan anaknya ke Indonesia, kebetulan yang bersangkutan memiliki niat secara pribadi untuk pulang ke Indonesia, sehingga proses pemulangan tidak begitu memakan waktu yang lama.

“Proses pemulangan tidak memakan waktu yang lama, pasalnya saudara Yunus sendiri yang ingin pulang, dia sampaikan kepada kami (KBRI), sehingga kami mengontak pemerintah Austrlia, akhirnya yang bersangkutan bisa kembali ke Indonesia,”terangnnya.

“Anggap saja apa yang terjadi kepada diri pribadi saudara Yunus wanggay dan kelurganya adalah pengalaman yang buruk, tak parlu ditiru. Kami juga berharap para pencari suaka yang lain juga agar meniru saudara Yunus, kembali ke Indonesia,dan kepada pemerintah daerah, kami harapkan untuk memberlakukan mereka dengan baik, manfaatkanlah mereka sesuai dengan kemampuan dan kelebihan yang ada pada mereka,”katanya.

Sementara itu menurut Sekertaris Badan Perbatasan Provinsi Papua, Philps Marey mewakili pemeritah provinsi Papua mengatakan, pemerintah daerah sangat menyambut baik itikad baik dari para pencari suaka untuk kembali ke Papua, dan pemeritah daerah tetap menerima mereka dengan senang hati, namun tidak ada perlakuaj secara khusus kepada para pencari suaka yang sudah memilih pulang ini.

“Tidak ada perlakuan istimewa, kami tetap akan memberlakukan mereka sama seperti saudara kami yang lain, ini demi mencegah kecemburuan social, haya saja saya mewakili pemerintah daerah beryukur dan berterima kasih atas itikad baik pak Yunus untuk kembali ke Indonesia kami berharap yang lain juga menyusul,”paparnya.
Sementara itu menurut pihak keluarga, Eliezer Wanggay mengaku senang dan bangga, pihaknya mengcapkan banyak terima kasih kepada pemerintah Indonesia, sehingga keponakannya dan keluarganya bisa kembali ke Jayapura.

Usai keterangan pers, selanjutnya dilakukan tanda tangan berita acara pemulangan dari pihak Direktorat Perlindungan warga negara Indonesia dan Badan hukum Indonesia Direktorat Jenderal protokol konsuler Departeman luar negeri kepada pihak keluarga, disaksikan oleh perwakilan pemeritah daerah Provinsi Papua, selanjutunya tiga pencari suaka tersebut diantarkan pulang kembali ke keluarganya di Hamadi.(cak/jim)

19 Desember Hari Bersejarah

JAYAPURA (PAPOS) – Dalam rangka memperingati HUT TRIKORA ke-47 yang jatuh tanggal 19 Desember 1961 dan sekaligus HUT INFANTERI ke-63 yang merupakan hari yang bersejarah. Pada tanggal tersebut merupakan pencanangan TRI Komando Rakyat untuk menggagalkan pembentukan Negara boneka, kibarkan Merah Putih dan siapkan mobilisasi umum. Menurut Aster KASDAM Kol. CHB Victor Tobing dalam acara jumpa pers yang diselenggerakan di rumah makan Padang, Rabu (17/12) kemarin sore, peringatan HUT Trikora akan diperingati, hari Jumat (19/12) sebagai salah satu wujud mempertahankan keutuhan Papua dalam Negara kesatuan Republik Indonesia.

Untuk itu, akan diselenggerakan beberapa kegiatan seperti pengobatan massal yang diselenggerakan di kelurahan Hamadi, lomba Yospan, Futsal, Ziara ketempat Makam dan gerak jalan, serta anjangsana kepada keluarga pejuang Trikora yang akan diselenggerakan hari ini, Kamis (18/12).

“Kodam XVII/Cenderawasih terpanggil dan wajib menggelorakan wawasan kebangsaan dan menjaga keutuhan wilayah Papua sebagai bagian integral NKRI,”ujarnya.

Acara pucak akan diselaksanakan pada hari Jumat (19/12) di lapangan depan PTC Entrop yang rencananya akan dihadiri oleh Panglima Kodam XVII / Cenderawasih, HUT TRIKORA ini banyak yang sangat penting untuk dilihat dan diperhatikan karena pada saat itulah pencanangan Tri Komando rakyat.
Selain itu, diselenggerakan kegiatan HUT TRIKORA ke-47 sebagai salah satu wujud untuk memperingati para pejuang yang telah relah mengorbankan nyawa untuk memeprtahankan wilayah NKRI. Sekaligus sebagai momentum pencanangan Tri Komando Rakyat. Hal ini sangat penting dan perlu dilestarikan oleh seluruh komponen seluruh anak bangsa.“Ini merupakan salah satu wujud untuk mempertahankan keutuhan wilayah Papua di dalam NKRI,”tegasnya. (toding)

Ditulis Oleh: Toding/Papos
Kamis, 18 Desember 2008

Giliran Sebi Sembom Ditangkap

DIBAWA : Sebi Sembom dibawa ke Polda Papua dengan meng¬guna¬kan Kijang Avanza. Seti¬banya di Mapolda Papua

JAYAPURA (PAPOS) -Setelah ketua panitia dalam negeri IPWP (International Parlement for West Papua), Buchtar Tabuni ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan Makar, kini giliran Sebi Sembom, salah satu pengurus pembentukan IPWP dalam negeri, ditangkap oleh Dir-Reskrim Polda Papua.

Penangkapan itu dilakukan Rabu (17/12) kemarin di Makam Theys di Sentani, setelah yang bersangkutan melakukan jumpa pers yang menuntut pembebasan Buchtar Tabuni dari tahanan Polda Papua.

Sekitar pukul 12.45 WIT Rabu kemarin, Sebi Sembom dibawa ke Polda Papua dengan menggunakan Kijang Avanza. Setibanya di Mapolda Papua sekitar pukul 13.20 WIT, Sebi Sembom langsung digelandang ke ruang penyidik untuk menjalani peneriksaan hampir 4 jam lebih.
Pemeriksaan Sebi Sembom dilakukan secara tertutup. Bahkan pihak penyidik pun enggan memberikan komentar kepada wartawan. Namun dari penasehat hukum tersangka Iwan Niode SH dan Latifah Anum Siregar SH dapat dikorek beberapa keterangan.

Menurut Iwan pemeriksaan Sebi sebagai tersangka dalam keterlibatannya pada aksi demo dukungan Intenational Parlement for West Papua (IPWP) 16 Oktober lalu di Uncen dan Eks Expo Waena.

“Jadi, penangkapan ini dilakukan Polda Papua untuk memeriksa tersangka tentang keterlibatannya dalam hari dukungan terhadap IPWP di Parlement Inggris, terutama orasi-orasi yang dilakukan tersangka,” ujar Iwan kepada wartawan disela-sela pemeriksaan, kliennya.

Iwan mengatakan, kini pihak Direktorat Reskrim masih melakukan kroscek kepada tersangka terkait juga review Pepera yang pada saat itu yang disuarakan dalam aksi IPWP di Waena.

Hingga berita ini diturunkan, menurut Iwan ada 17 pertanyaan yang dilontarkan kepada kliennya, mengenai keterkaitannya dalam kepengurusan panitia dukungan terhadap IPWP itu.

“Sejauh ini kami melihat hal ini masih dalam prosedur, bahwa memang hal ini kewenangan Kepolisian yang memeriksa berdasarkan bukti-bukti yang didapatkan, kemudian ada indikasi pihak-pihak tertentu yang terlibat, maka mereka langsung melakukan penangkapan terhadap Sebi Sembom,” jelas Iwan.
Dalam kesempatan itu Iwan Niode menambahkan, bahwa secara prosedur hukum dirinya bersama kuasa hukum lainnya akan tetap mendampingi hingga ke pengadilan.(islami)

Ditulis Oleh: Islami/Papos
Kamis, 18 Desember 2008

Amnesty International Bantah Pernyataan Gubernur Suebu

Jayapura, Pernyataan Gubernur Papua Barnabas Suebu yang mengatakan bahwa data-data Amnesty International tidak akurat dibantah lembaga tersebut. Bahkan melalui email yang dikirimkan kepada Kompas.com. Amnesty International merasa tak pernah memberikan data apapun kepada Gubernur Suebu.

Amnesty International menyoroti komnetar Suebu mengenai data-data kasus pelanggaran HAM. Gubernur Papua itu sebelumnya mengatakan bahwa data yang ditunjukkan kepadanya oleh Amnesty International mengenai dokumentasi kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia di Papua tidak akurat. Ia juga menyatakan bahwa ia telah diperlihatkan sebuah daftar yang berisi nama-nama korban pelanggaran hak asasi manusia, namun tidak satupun dari nama-nama tersebut ia kenali. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa ia telah berkunjung ke Sekretariat Amnesty International di London.

“Amnesty International ingin mengklarifikasi bahwa kami tidak pernah mengetahui adanya pertemuan antara Amnesty International dan Gubernur Suebu, baik di UK maupun di Indonesia,” tulis Donna Jean Guest, Deputy Director Asia Pacific Program Amnesty International yang berpusat di London.

Amnesty International menyatakan tidak pernah menerima komunikasi apapun dari Gubernur Suebu yang berkenaan dengan ketidakakuratan data kami tentang pelanggaran hak asasi manusia di Papua dan kami tidak pernah memberikan kepadanya sebuah daftar yang berisi nama-nama korban
sebagaimana dinyatakan di atas.

“Kami tentu saja menyambut baik kesempatan untuk membuka komunikasi dengan Gubernur Suebu untuk membahas mengenai situasi hak asasi manusia di Papua, demikian pula mengenai informasi publik yang terdapat di dalam setiap laporan atau pernyataan kami,” lanjut pernyataan itu.

(sumber: kompas)

Silahkan Paraf Petisi: Presiden Terpilih Obama Tidak Mengangkat Adm. Dennis Blair sebagai Direktur Intelijen Nasional

Silahkan click di sini

Link ini di-click untuk menandatangani Surat ke Barack Obama agar tidak memilih seorang petinggi militer A.S. yang berkolaborasi dengan pelanggaran HAM dan mengabaikan pelanggaran HAM di Papua Barat selama ini.

Latarbelakang kehidupan Mr. Blai di sini (dalam versi Inggris)

SPMNews mengundang Anda, sebagai bangsa Papua, bangsa yang bersangkutan dalam mengalami penderitaan berkepanjangan karena tangan besi dan kekerasan militer dan kepolisian NKRI, sepatutnya mendukung dan menandatangani Petisi Online ini, agar beliau tidak diangkat, yang akan berakibat kondisi HAM di Tanah Papua akan semakin diabaikan.

Demikian dan terimakasih.

Gangguan Terhadap Spanduk ZONA DARURAT – Post Langsung: 12/16/2008 9:08:04pm

Pesan langsung dari Lapangan, Posko Eksodus Mahasiswa Papua, Taman Makam Pahlawan Papua Barat, Sentani, West Papua;

Pesan dari lapangan disampaikan bahwa:
1. Sejak pemasangan Spanduk “Zona Darurat” di depan Taman Makan Pahlawan Papua Barat tgl 18 November 2008, maka banyak anggota Polri dan TNI dikirim oleh NKRI untuk menurunkan spanduk dimaksud. Dua orang ditangkap (dilihat langsung) oleh penjaga Posko Exodus Mahasiswa sehingga mereka tidak bisa menurunkannya.

2. 1 Desember, intensitas operasi intelijen secara menyamar maupun terus terang meningkat hebat. Beberapa kali diusahakan secara terbuka untuk menurunkan Spanduk dimaksud. Tetapi kali ini gagal juga. Posko dan sekitarnya dijaga ketat oleh para penghuni Posko.

3. Alasan para mahasiswa adalah bahwa “Kami pergi ke Indonesia untuk menimba ilmu, tetapi di Manado, Yogya, Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Bali, semua diteror dan diancam, rumah kos-kosan dibakar, disebarkan surat ancaman, dikirimkan SMS ancaman, bahkan Polres setempat sendiri datang mengancam, maka kami pulang ke Tanah Air sendiri, dan kami buat Posko untuk Mengendalikan Eksodus Mahasiswa dari luar Tanah Air agar mereka tidak tercerai-berai dan tidak dibuang sembarangan, seperti pengalaman teman-teman kami pejuang kemerdekaan Timor Leste Merdeka yang banyak dibuang ke laut, banyak dibunuh di Pulau Jawa menggunakan Mobil-mobil bercap Palang Merah, Mobil2 bertuliskan tanda-tanda salib, dsb. Dengan argumen seperti ini, maka para pasukan suruhan itu mengurungkan niatnya untuk menurunkan Spanduk Secara Paksa.

Sekian

Laporan Langsung: 12/16/2008 8:09:56pm: Kondisi Posko Exodus Mahasiswa/Pemuda Papua di Taman Makam Pahlawan Papua Barat, Sentani, Papua Barat

Situasi di Posko sementar baik. Tgl 15 Des 08, di Posko telah membentuk Panitia Penjemputan Mahasiswa Exodus dari Luar Tanah Papua.

Teknis dan struktur akan kami sampaikan.

Setelah Burchtar Tabuni ditangkap Intel Polda Papua sedang membawa daftar nama beberapa mahasiswa/pemuda Papua untuk ditangkap. Kami punya informan terpercaya dan informasi disampaikan secara dokumentasi lengkap siapa yang sedang dicari untuk ditangkap.

Teror dan intimidasi ramai berjalan karena setiap jam ada orang tak dikenal yang datang dan duduk-duduk lalu tanya-tanya tentang penghuni sehingga kami jarang sekali di tempat. Dar sini memang nawa orang Papua terancam, pantas disebut kami berada dalam ZONA DARURAT. Darurat bukan karena apa-apa yang lain, tetapi karena NYAWA dan HIDUP manusia Papua saat ini terancam, berada dalam teror dan intimidasi ditembak mati.
———-

Setelah 3 Desember 2008, setiap hari ada saja intel yang datang dengan mobil dan motor, ada yang pura-pura jalan-jalan di tepi tempat kami tinggal. Kebanyakan mereka mengendarakan mobil plat hitam dan taksi serta terutama terfokus pada pengendara ojek beroperasi di Sentani Kota. Kebanyakan pemilik ojek adalah pendatang, dan pendatang sangat mendukung operasi seperti ini.

Ada yang berdiri dan lalu lalang di Jalan Airport Sentani melirik dan memandang, mondar-mandir, dengan ojek, jalan kaki ataupun dengan mobil. Mereka malahan berputar arah kendaraan dan memarkir kendaraan mereka di tempat yang sama-sekali dilarang selama ini, tetapi hal itu tidak terjadi buat mereka. Ada kekebalan hukum khusus bagi para agen negara peneror dan pembasmi nyawa bangsa Papua ini.

Situasi memang sama sekali tidak nyaman, karena bukan hanya keamanan terganggu, tetapi terutama nyawa terancam. Walaupun begitu, kami akan tetap bertahan sampai teman-teman Exodus dari luar Tanah PApua pulang semuanya, karena ini tanggungjawab moral dan kebangsaan yang harus kami penuhi dengan harga apapun dan berapapun juga.

Sekian sekilas info dari tiga kali laporan Singkat yang diterima Redaksi SPMNews di Markas Pusat Pertahanan TRPB.

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny