SP Daily: Politik atau Politisasi Agama?

Richard Daulay

engenai hubungan agama dan negara sebuah tesis berbunyi: Revivals often occur when politics is broken, when it fails to address the most significant moral issues of the day. Social movement then rise up to change politics, and the best movements usually have spiritual foundations” (Kebangunan rohani biasanya muncul ketika politik rusak, ketika politik gagal mengatasi isu-isu penting menyangkut moralitas masyarakat. Kemudian gerakan sosial muncul untuk mengubah politik dan gerakan sosial yang benar biasanya mempunyai dasar spiritual yang kuat). (Jim Wallis, The Great Awakening: Reviving Faith & Politics in A Post-Religious Right America. (New York: HarperCollins, 2008), hal 2) Continue reading “SP Daily: Politik atau Politisasi Agama?”

Bisnis Miras TNI-Polri di Boven Digoel Telan Korban

Oleh : Tengget Digoel

Tanah Merah Digoel, Bodipost – Masih ingatkah anda akan aksi pembasmian rakyat Papua melalui Biomiliterisme (Peracunan makanan dan minuman) yang digelar Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia (TNI-Polri) di hampir seantero Papua beberapa waktu lalu? Kejahatan yang sukses mengantar ratusan orang Papua ke liang kubur dan ratusan lainnya mengalami gangguan kesehatan serius itu ternyata belum sepenuhnya dihentikan karena rupanya daya pembasmi dan dampak hukumnya dinilai lebih efektif ketimbang menggunakan senapan mesin. Di Boven Digoel, sebuah wilayah yang rakyat pribuminya pernah menjadi sasaran Operasi Biomiliterisme, sejak tiga bulan terakhir ini beredar sebuah minuman beralkohol dengan nama Aleksander.

Minuman Aleksander dibuat oleh TNI-Polri dan beberapa orang pengusaha non Papua melalui sebuah usaha yang bersifat patungan. Pabrik mereka didirikan secara tersembunyi di Assikie (area HPH Korindo Group). Menurut sebuah sumber BodiPost, bahan dasar minuman Aleksander adalah Air Hujan, Miras Jenis Robinson (RB), Alkohol 100%, Cairan zat tertentu (namanya belum diketahui) dan Teh Celup sebagai pewarna. Cara membuatnya, semua bahan dasar tadi disatukan dalam sebuah baskom atau loyang kemudian diaduk sehingga bahan dasarnya tercampur secara baik dengan rasa dan aroma yang bisa membangkitkan selera para pemabuk.

Masih menurut sumber tadi, label Miras Aleksander dibuat di Jakarta hanya untuk menipu pembeli seolah-olah pabriknya ada di Jakarta. “Para pembeli biasa tertipu, mereka pikir Aleksander dibuat di Jakarta oleh sebuah pabrik tertentu dan dipasarkan di seluruh Indonesia, padahal pabriknya ada di Assikie, dikelola secara bebas oleh TNI-Polri dan Miras jenis ini hanya dikhususkan untuk masyarakat Papua yang ada di kabupaten Boven Digoel,” ujarnya menjelaskan.

Selama tiga bulan terakhir, peredaran minuman Aleksander sangat marak di wilayah ini, terutama di Ibu Kota Tanah Merah dan sangat meresahkan penduduk setempat karena kadang-kadang penjualnya memaksa dan mengintimidasi penduduk agar membeli Miras jenis ini. Di hampir seluruh pelosok kota Tanah Merah, ribuan liter minuman Aleksander dipasarkan secara gelap oleh Intelijen TNI-Polri dari berbagai kesatuan dan benar-benar telah menelan korban jiwa.

Dari penelusuran BodiPost, semua korbannya tidak ada satupun yang non Papua. Semuanya orang Papua, pribumi Boven Digoel. Korban-korban ini langsung meninggal dunia setelah mengkonsumsi Aleksander. Mereka adalah (1) Geradus Omba, asal suku Wambon, warga Kampung Persatuan, Tanah Merah; (2) Fransiskus Kabagaimu, asal suku Yahray (Mappi), warga Kampung Sokanggo, Tanah Merah; (3) Ferdinandus Metemko, asal suku Muyu, warga Kampung Sokanggo, Tanah Merah; (4) Abraham Waken, asal suku Muyu, Kampung Sokanggo, Tanah Merah. Para korban ini meninggal dunia setelah mengkonsumsi minuman Aleksander yang dijual oleh Intelijen TNI-Polri.

Sedangkan ratusan korban lainnya tidak meninggal dunia tetapi mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius. Pada umumnya mereka mengalami gangguan pernafasan, gangguan pencernaan, sakit kepala berkepanjangan, gangguan ingatan, disfungsi seksual, gangguan pengelihatan (gejala kebutaan), sakit tulang, nyeri pada lutut (gejala lumpuh) dan berkurangnya nafsu makan. Mereka mengalami gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi Alexander dan beberapa jenis Miras lainnya seperti RB dan Cap Tikus.

Mahalnya biaya pengobatan akibat penghisapan Pemerintah Kabupaten atas rakyat setempat lewat sektor kesehatan dan infrastruktur kesehatan yang tidak memadai seperti dijanjikan para pejabat dalam kampanye-kampanye politik mereka turut menambah beban bagi para korban maupun keluarga keluarga mereka yang harus putar-otak mencari biaya pengobatan dan pemulihan kesehatan.

Beberapa suster dan mantri asli Papua yang tidak lagi mampu membungkus kejahatan TNI-Polri mengatakan bahwa para korban yang menderita sakit ini (nama-nama mereka masih didata) diperkirakan kondisi mereka tidak akan stabil seperti sebelum terserang racun yang sengaja disebar lewat minuman Aleksander, RB dan Cap Tikus.

Sampai berita ini ditulis, minuman Aleksander masih dijual secara bebas tetapi karena dampaknya yang fatal, para pembeli beralih membidik Miras jenis lain seperti RB dan Cap Tikus. RB dan Cap Tikus diketahui tidak bisa langsung menyebabkan kematian seperti Aleksander. Kedua jenis minuman ini dipasok dari Merauke, Timika dan dari luar Papua oleh TNI-Polri dan pedagang gelap lainnya yang dibeking TNI-Polri. Beberapa saksi mata menyebutkan, untuk memudahkan penyelundupan dan menghindari pemeriksaan di depan publik, Miras selundupan ini selalu diangkut bersama logistik Militer TNI-Polri melalui jalur darat, laut maupun udara sehingga tidak ada satupun petugas yang boleh memeriksa.

Salah satu pedagang gelap yang dibeking TNI-Polri secara berlapis adalah istri bupati Yusak Yaluwo, Ny. Ester Lambey Yaluwo. Ketua Dharma Wanita kabupaten Boven Digoel yang sering dijuluki “Mama Boven Digoel” ini merupakan pemasok terbesar RB dan Cap Tikus yang langsung didatangkan dari Manado. Ia secara diam-diam telah meraup keuntungan yang besar dari bisnis gelap yang bersifat merusak ini.

Dilihat dari peluang bisnis, wilayah pemasaran dan konsumen yang ada, rupanya wanita Manado ini akan terus dengan leluasa mengembangkan bisnisnya untuk meraup keuntungan yang tidak sedikit dari hancurnya mental generasi muda, konflik keluarga, gangguan kesehatan yang serius dan kematian rakyat setempat akibat mengkonsumsi RB dan Cap Tikus yang dipasok secara langsung dari tanah leluhurnya dan dipasarkan secara bebas di tanah leluhur suaminya.

Sejumlah kalangan berprediksi bahwa bisnis Miras yang ditekuninya mempunyai prospek yang sangat cerah. Bisnisnya dipastikan akan meroket dengan omzet yang meningkat dari hari ke hari diiringi dengan jumlah korban yang pasti terus berjatuhan karena dirinya mendapat dukungan modal, jalur bisnis gelap, keamanan, jaminan hukum dan propaganda media massa untuk putar-balik fakta. Dukungan ini diperoleh dari suaminya sebagai orang nomor satu di kabupaten Boven Digoel, sebuah kabupaten yang mempunyai reputasi jelek karena manajemen pemerintahannya amburadul, korup, rasis dan anti rakyat pribumi.***

Peneliti Namru Masa Bodoh pada Prioritas Kesehatan Indonesia

Jakarta – Menjalin kerjasama dengan The US Naval Medical Reseach Unit (Namru)-2 dinilai banyak ruginya. Para peneliti AS masa bodoh pada prioritas penelitian kesehatan di Indonesia.

“Mereka enggan untuk mencari tahu prioritas permasalahan kesehatan di Indonesia. Sehingga topik penelitian lebih ke arah minat dan keperluan mereka sendiri,” ujar Kepala Litbang Departemen Kesehatan Triono Soendoro.

Continue reading “Peneliti Namru Masa Bodoh pada Prioritas Kesehatan Indonesia”

708 Warga Papua di PNG Ingin Pulang Kampung

Masyarakat Adat PapuaJAYAPURA, JUMAT – Sebanyak 708 warga Papua yang saat ini bermukim di berbagai wilayah di negara tetangga Papua Nugini (PNG) menyatakan niat mereka untuk pulang ke kampung halaman di tanah Papua, baik di Provinsi Papua maupun Papua Barat secara sukarela.

Duta Besar Indonesia untuk PNG, Bom Soejanto ketika ditanya Antara seusai rapat koordinasi rencana pemulangan pelintas batas asal Papua dan Papua Barat di Jayapura, Jumat (23/5), mengatakan Kedubes RI di PNG siap membantu rencana pemulangan mereka secara sukarela dengan menyiapkan berbagai dokumen yang dibutuhkan.

Continue reading “708 Warga Papua di PNG Ingin Pulang Kampung”

Papua Sudah Disiapkan Merdeka

Petikan wawancara dengan AC Manulang, Pengamat Intelijen.

Sengkarut bercokolnya Freeport di Papua tidak mudah untuk diurai. Apa persoalan paling mendasar terkait Freeport di Papua?

Freeport yang merupakan kepanjangan tangan industri terbesar di dunia itu merupakan bagian dari strategi yang diusung The Council of Friendship Relations of USA bersama-sama European Union Bank, yang dikepalai seorang Yahudi.

Strategi global itu mengusung neokapitalisme dan neokolonialisme, dan tidak akan bisa ditolak oleh siapapun di negeri ini termasuk kekuatan apapun secara lembaga atau organisasi di Indonesia
Karena proses globalisasi akan berjalan terus, yang perlu sebenarnya dapat dipahami adalah bagaimana memanfaatkan grand strategi global itu bagi kepentingan rakyat.

Permasalahannya, Papua sudah lama dipersiapkan untuk merdekalepas dari NKRI. sekarang ini sudah ada peraturan perundang-undangan dalam bentuk otonomi daerah yang didukung oleh LSM yang seolah-olah membawa aspirasi Papua. Tetapi itu bukan tidak mungkin diskenariokan para elitpolitik di Jakarta.

Pertentangan di daerah Papua antara satu dengan yang lain telah dimanfaatkan oleh operasi intelijen, sehingga dalam waktu yang relatif singkat Papua bebas dari NKRI.

Continue reading “Papua Sudah Disiapkan Merdeka”

Mahasiswa dan Masyarakat Dogiai Demo

KontroMinta Gubernur Tunda Pelantikan Caretaker Bupati Dogiai JAYAPURA – Puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan koalisi mahasiswa dan masyarakat Nabire Dogiai berunjuk rasa di Kantor Gubernur Provinsi Papus, Senin (26/5) kemarin.

Maksud kedatangan mereka adalah bertemu dengan Gubernur Provinsi Papua, terkait dengan akan dilakukannya pelantikan Caretataker Bupati Dogiyai sebelum pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Nabire.

Massa tersebut mendatangi kantor gubernur sekitar pukul 09.30 Wit yang diwarnai dengan sejumlah spanduk dan pamplet. Salah satu pamplet bertuliskan,”Stop mengadu domba dengan pemekaran,’ Pemerintah pusat, pemerintah provinsi Papua dan DPRP jangan membatasi hak pilih dan dipilih bagi masyarakat wilayah II dan III Nabire,”Pemekaran Dogiyai merampas hal berpolitik, hak demokrasi, hak memilih dan hak dipilih dari sebagian warga Nabire, dan beberapa spanduk lainnya. Continue reading “Mahasiswa dan Masyarakat Dogiai Demo”

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny