Tingginya Migran ke Papua Tidak Perlu Ditakuti

JAYAPURA—Tingginya arus Migran ke Papua dalam beberapa tahun belakangan ini, sebagaimana diungkapkan Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu SH, menarik perhatian seorang Ekonom Uncen, DR Arung Lamba SE,MM. DR Arung Lamba’ yang memang punya bidang spesialisasi masalah Migran ini, mengatakan tingginya arus migran ke suatu daerah, sebagai pertanda kemajuan suatu daerah atau kota. Begitu juga Migran yang terus meningkatkan ke Papua, merupakan suatu proses alami yang memang sulit dibatasi sebagai konsekuensi kemajuan Papua. Karena itu katanya, adanya keingin Pemerintah daerah, dalam hal ini gubernur membatasi atau menyeleksi migran ke Papua, dianggap sebagai suatu kekhawatiran yang berlebihan yang tidak perlu terjadi.

Sebab dimana-mana pun di dunia ini,arus Migran selalu ada dan tidak mungkin dibatasi, sebab ini sudah merupakan gejala dunia. Ia mencontohkan di kota-kota besar

  • di Indonesia misalnya Jakarta, jika melihat penduduk asli Jakarta yang berada di Ibu Kota Negara tidak sampai 10 persen sisanya pendatang (migran), demikian juga di Makassar, mencari orang asli Makassar
  • di sana tidak cukup 10 persen, selebihnya suku dari luar dan yang ada di sekitarnya. “Saya tertarik bicara masalah Migran, karena memang spasialisasi saya, Skrip untuk program S1, Tesis S2 dan Disertasi saya di S3, semuanya meneliti masalah Migran,”jelas Arung Lamba’ yang juga terpilih Sebagai Sekum IKT Provinsi Papua, kemarin.

    Namun yang terpenting disikapi pemerintah katanya bagaimana dengan tingginya Migran ke Papua tidak membuat penduduk asli tersingkir dalam berbagi sektor. Antara lain harus membekali mereka dengan keterampilan untuk bisa bersaing di sektor informal. Sebab pada umumnya migran ke Papua itu lebih banyak bergerak di sektor informal, dibanding sektor formal dan PNS.

    Misalnya, makin maraknya pedagang kaki lima, pasar-pasar tradisional dll. Diakui masalah Migran ini memberikan dua pilihan bagi pemerintah, kalau mau menyeleksi yang masuk ke Papua,maka itu juga ada baiknya, tidak ada lonjakan pertambahan penduduk sehingga memudahkan penataan kota-kota. Namun di sisi, lain sektor-sektor informal tidak banyak. Sebaliknya jika Migran dibiarkan berjalan secara alami, di satu sisi akan menambah jumlah penduduk di Papua, namun disisi lain bisa memberikan dampak positif yaitu akan cepat berkembangnya sektor-sektor informal. Dengan demikian akan ikut membantu kebutuhan masyarakat setempat yang ekonominya belum mapan. “Misalnya kalau diseleksi atau dibatasi Migran ke Papua, maka yang ada mal-mal banyak bertambah, padahal belum tentu masyarakat asli semua mampu berbelanja di mal atau supermarket,”katanya. Jadi masalah ini memang jadi dilema. Tinggal pilih mau kota tertata baik dengan membatasi Migran atau membiarkan migran demi berkembangnya sektor-sektor informal.(don)

    2 thoughts on “Tingginya Migran ke Papua Tidak Perlu Ditakuti

    Add yours

    1. Kontol Lo Arung Lamba, lo tao ga penduduk pendatang itu mematikan orang betawi termasuk gw orang betawai pun ikut menjadi korban.
      Jangan lo korbanin orang papua dengan pendapat lo yang konyol ye…
      sialan lo pa Arung. Lo kaye orang tak berpendidikan aje…

      Like

    2. Kontol Lo Arung Lamba, lo tao ga penduduk pendatang itu mematikan orang betawi termasuk gw orang betawai pun ikut menjadi korban.
      Jangan lo korbanin orang papua dengan pendapat lo yang konyol ye…
      sialan lo pa Arung. Lo kaye orang tak berpendidikan aje…

      Like

    Leave a comment

    Up ↑

    Wantok Coffee

    Melanesia Single Origin Coffee

    MAMA Minimart

    MAMA Stap, na Yumi Stap!

    PT Kimarek Aruwam Agorik

    Just another WordPress.com site

    Wantok Coffee News

    Melanesia Foods and Beverages News

    Perempuan Papua

    Melahirkan, Merawat dan Menyambut

    UUDS ULMWP

    for a Free and Independent West Papua

    UUDS ULMWP 2020

    Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

    Melanesia Spirit & Nature News

    Promoting the Melanesian Way Conservation

    Kotokay

    The Roof of the Melanesian Elders

    Eight Plus One Ministry

    To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

    Koteka

    This is My Origin and My Destiny