Terkait dengan isu-isu yang berkembang di tanah air belakangan ini, terutama rencana Kongres Rakyat Papua III, 2011 yang telah PMNews muat secara berturut-turut selama seminggu belakangan, maka Panglima Tertinggi Komando Revolusi West Papua, Gen. Mathias Wenda sebagai penasehat WPNews Group Online Services menyampaikan teguran keras kepada PMNews dengan mempertanyakan, “Apa itu Kongres Rakyat Papua III, atau itu Kongres WPNA/Bintang-14 Pertama?”
—-
Untuk Informasi Penyelenggara Silahkan Click di SINI
Tidak seperti biasanya, WPNews yang selalu menghubungi Gen. Wenda untuk meminta pendapat, tetapi kali ini secara langsung Gen. Wenda menyampaikan pesan dengan nada keras dan penuh tanda-tanya menyangkut rencana penyelenggaraan Kongress Rakyat Papua III, 2011, yang menurut Ketua Panitia Selvius Bobby akan diselenggarakan bulan September 2011.
Berikut petikan pesan (sebenarnya ini bukan wawancara, tetapi petikan pesan dan pertanyaan PMNews):
Gen. TRWP Mathias Wenda (TRWP): Selamat malam anak-anak, bapak minta permisi, mau bicara sedikit saja, tidak terlalu penting tetapi mungkin ini penting untuk rakyat seluruhnya.
Papua Merdeka! News (PMNews): Selamat malam. Salam Hormat, Terimakasih untuk menghubungi kami. Kami siap mendengar.
TRWP: Begini, saya baca berita-berita yang anak-anak kasih naik itu berita tentang Kongres Rakyat Papua yang ketiga. OK, itu baik sekali. Tetapi saya sebagai orang tua yang melahirkan dan membesarkan kalian merasa menyesal karena ternyata anak-anak yang saya lahirkan itu berpolitik seperti ini? Saya duduk pikir, “Kenapa anak-anak ini punya model politik masih begini terus? Kenapa tambah tahun tambah dewasa, tambah modern, tambah pandai berpolitik itu tidak terjadi? Yang terjadi, tambah umum, tambah sekolah, tambah modern, tambah pandai,politiknya masih tinggal di tempat. Bukan tinggal di tempat lagi, mundur kebelakang.
Kenapa anak-anak main politik mundur ke belakang begitu?
PMNews: Minta maaf, sekali lagi minta maaf. Apakah kami salah memuat berita tentang Kongres Rakyat Papua III, 2011 ini?
TRWP: Bukan salah muat, memang harus dimuat. Tetapi bapak menyesalnya kenapa sampai berita politik Papua Merdeka masih bernada sumbang seperti itu? Kenapa nadanya tidak pas dengan irama politik sekarang? Kenapa menyanyikan lagu-lagu lama? Kenapa nadanya nada-nada lama? Kenapa anak-anak main politik sporadis seperti ini? Ini politik orang-orang abad lalu, orang-orang tua saya punya politik, bukan politik era pascamodern.
PMNews: Bapak, ini anak-anak yang bergelar Doktor dari Papua seperti Pater Neles Tebay, Dr. Jack Rumbiak, dan orang Papua terpelajar yang ada bikin.
TRWP: Itu doktor yang orang barat kasih mereka, lihat cara mereka main, saya akan cabut gelar-gelar doktor itu karena politik yang mereka main dengan gelar mereka tidak pas, meleset jauh sekali.
PMNews: Apakah ini artinya Bapak tidak setuju dengan rencana Kongres ini?
TRWP: Masalahnya bukan segampang tanya setuju-tidak setuju begitu. Masalahnya tadi, kenapa orang Papua masih putar lagu lama?
PMNews: Maksud lagu lama?
TRWP: Lagu lama artinya, cara, pendekatan, gerakan, format, tujuan, sponsor, penggagas, penanggungjawab, semuanya berputar pada lingkaran setan yang sama, lingkaran yang bertujuan MEMATIKAN PERJUANGAN PAPUA MERDEKA.
PMNews: Berarti Komando yang Bapak pimpin menolak dan menganggap Kongres Rakyat Papua III ini? Alasan dasasrnya karena orang-orang yang terlibat dalam persiapan ini tidak mendukung Papua Merdeka?
TRWP: Jangan ambil kesimpulan terlalu jauh dan paksa saya untuk setuju begitu. Saya tidak bicara mengenai orang per orang. Yang saya maksudkan ialah cara, pendekatan, gerakan, format dan seterusnya tadi. Saya dari sejak muda terlibat dalam perjuangan ini, dan saya tahu persis gejala seperti ini sudah melibatkan saya berulang-ulang, ulang dan ulang.
Ada yang pernah datang ke Markas Pusat Pertahanan, minta saya bikin Kongres di hutan, lalu mereka bilang “Kami bersatu menjadi satu barisan. Saya tidak ikut, saya bubarkan mereka. Tetapi mereka ke luar negeri, mereka bilang kami sudah bersatu, mereka umumkan nama-nama orang dengan tugas-tugas yang mereka buat sendiri di jalan-jalan, lalu mereka bialng saya sudah setuju.” Ini kelakuan nenek-moyang tetek-bengek dari mana?
Ini anak-anak muda, tetapi sedang memainkan politik yang tidak tahu berasal dari ajaran guru siapa. Orang tua tidak pernah begini, nenek-moyang tidak pernah begini, kami sekarang juga tidak begitu. Ini anak-anak siapa yang ajar mereka main politik seperti ini?
PMNews: Bisa bapak kasih contoh, cara atau pendekatan dan sebagainya yang Bapak sebut tadi yang perlu kita cermati dengan baik?
TRWP: Baik, sudah jelas itu. Tetapi saya kasih tahu satu saja. Ada saja orang Papua, tua atau muda, di dalam atau di luar negeri, di kampung atau di hutan, ada saja yang tiba-tiba muncul, tidak tahu dari mana asal-usul idenya, tiba-tiba langsung bilang, “Kita mau bikin kongress bulan depan!” Wah-wah, wah, ini acara bayar maskawin, atau acara tukar-cincin?
Generasi sekarang dan ke depan jangan sama dengan generesi saya. Generasi saya pantas. Bapak Nicolaas Jouwe dulu main politik lebih bagus, tidak sama dengan dia pu cucu-cucu sekarang. Sebuah acara yang diselenggarakan untuk nasib sebuah bangsa dan Tanah yang besar ini tidak bisa seorang anak tiba-tiba muncul di panggung politik lalu bicara, “Saya mau bikin kongress!” Eh, eh, eh, ini bukan barang main-main. Ini nasib sebuah bangsa dan sebuah Tanah yang besar.
Itu baru dari segi politik, saya tidak masuk ke aspek hukum, dari hukum revolusi. Kalau hukum revolusi, maka memang siapa saja boleh berbicara, tetapi semuanya harus diatur menurut alunan suara yang sedang berkembang, bukan mengeluarkan nada-nada sumbang di tengah-tengah paduan suara yang sedang bernyanyi. Artinya, jangan bikin panggung terlepas satu dengan lain, jangan juga bernyanyi di atas panggung orang lain, seolah-olah itu panggungmu, padahal tidak. Jangan juga membiarkan orang sembarangan datang naik panggungmu dan bernyanyi semaunya.
Itu maksudnya, sudah jelas?
PMNews: Kami coba simpulkan dulu. Apakah bapak maksudkan bahwa KRP III, 20111 ini tidak sah? Atau supaya orang Papua tidak ikut?
TRWP: Tadi kalau sudah catat kalimat saya, baca baik-baik, saya tidak katakan begitu sama sekali. Yang saya bilang itu bahwa [stickyright]”Hai anak-anak, mari kita mainkan politik bangsa dan Tanah Papua sesuai irama politik global, jangan putar lagu lama, jangan putar lagu sendiri dan berpaduan sendiri. Kita ada dalam sebuah dan sekali lagi satu panggung. Panggung itu namanya panggung politik global. Ini era globalisasi. Semua yang terjadi di manapun di dunia, berada dalam satu irama.[/stickyright]Lain dengan waktu Indonesia merdeka. Waktu itu ada dua paduan suara, yang satu dipandu Amerika Serikat, lainnya dipandu Uni Soviet. Jadi, kita bisa menyanyi semau kita, sambil tunggu siapa yang menyambut lagu kami. Makanya permainan politik agak mudah waktu itu. Sekarang semuanya jadi satu, selagu, senada, sepanggung, seirama. Nah di tengah-tengah ini, politik orang Papua selalu menyanyikan lagu-lagu sumbang. Itu yang saya maksud. Kami di hutan saja sudah ikit paduan suara global itu, kamu di kota tinggal bikin apa? Mata buta?”
Kamu yang sekolah belajar apa? Belajar politik dan praktekkan dalam konteks politik global. Bukan politik untuk kepentingan golongan atau kelompok, tetapi mengatasnamakan bangsa. Ini politik yang sudah basi, tidak perlu dipakai, buang ke tong sampah saja.
PMNews: Kami mau mengakhiri tetapi mau tanya sekali lagi. “Jadi kesimpulannya, apakah KRP III, 2011 ini merupakan lanjutan dari KRP II, 2000? Dan apakah dengan demikian Bapak mendukung?”
TRWP: Jangan tanya saya, tanyakan kepada rakyat. Saya bicara di sini sebagai orang yang sudah hampir setengah abad ikut dan memimpin dalam perjuangan ini. Bukan seperti orang-orang yang baru muncul menjadi pahlawan siang-bolong. Saya bicara bukan untuk saya, karena saya sudah tua, jadi apa gunanya saya manfaatkan politik ini untuk kepentingan saya. Sama sekali tidak ada. Saya telah bersumpah dan menyerahkan hidup saya untuk perjuangan ini. Oleh karena itu, kalau ada anak-anak yang mempermainkannya, saya muncul untuk menegur. Itupun sebatas suara orang tua kepada anaknya. Kalaupun anak itu mau dengar atau tidak, itu urusannya. Tetapi akhirnya vonis benar dan salah akan dijatuhkan oleh tanah dan bangsa Papua. Sejarah akan mencatat. Dan bapak bicara di sini tidak mewakili kepentingan orang atau organisasi, tetapi mewakil Revolusi West Papua Merdeka.
1. sebaiknya datang ikut kongres dan ikuti apa yang dibicarakan sebab analisa bapak mngkin saja salah.
2. tentang gelar doktor, sepertinya kalau gelar doktor yang bapak berikan boleh berkualitas. kalau diberi orang barat, tdk berkualitas ya? mudah dicabut..
3. 1 syarat mutlak untuk mengganti lagu lama dengan lagu baru adalah adanya diplomator2 yang pandai, cerdas dan pintar. apakah bapak termasuk orang seperti itu dan mengenal orang2 itu seperti itu?
kepada papuapost mngkin bisa menyampaikan 3 hal diatas kepada bapak wenda. terima kasih
freedom
LikeLike
Dex yang kami hormati,
Kami telah sampaikan tiga pertanyaan Anda, dan berikut tanggapan lisannya:
1. Bapak tidak bisa bawa diri muncul tiba2 di tengah2 kongres. Kenapa tanya saya datang seperti roang gila tanpa diundang? Siapa yang mengundang, siapa yang menyelenggarakan, itu kan yang saya bilang waktu itu, saya tidak pernah menolak datang, tetapi saya bilang siapa yang bikin lagu baru itu? Begitu to?
2. Bukan berkualitas dan tidak mengenai gelar itu. maksudnya gelar itu anak2 sedang pakai untuk kepentingan orang lain, dan mengatasnamakan kepentingan bangsa ini. Kalau gelar itu dibawa-bawa untuk mempermainkan, apa gunanya orang tua sekolahkan dengan pakai koteka setengah mati dengan kumpul uang kertas merah setiap bulan, titip ke misionaris lalu bawa setengah mati itu, sementara manfaatnya tidak ada? “Arti gelar dicabut” itu bukan seperti itu. Lihat artinya dari sisi lain dari kalimat itu.
3. Saya termasuk orang-orang itu atau tidak bukan saya yang menentukan.
Tetapi pertanyaan anak ini salah, “Saya tidak bilang perlu ganti lagu…, justru saya bilang jangan ganti langu… Apakah kamu tulis berita salah? Kalau kamu ketik benar, anak saya ini tidak mengerti maksud saya. Saya tidak bilang ganti lagi, saya bilang Siapa yang ganti-ganti lagu? Artinya saya tidak mau lagu diganti.” Kita jangan bikin sejarah baru setiap kali. Kita jangan berjalan melangkan tanpa dasar, kita jangan menyanyi lagi yang berbeda dari lagu yang sudah ada sejak 40 tahun lalu, …..
LikeLike
kongres papua III sekang ini bukan saatnya kongres tapi sebaiknya rakyat harus mempersiapkan diri dengan baik barulah kongres itu di kalau konres sekarang saya menilai kongres yang buru2 dan ini sebenarnya mengambat perjuangan papua merdeka yang sebenanya.. namun perjuangan papua merdeka tak akan menyerah begitu saja. dan kongres ini hanya memperpanjang perjuangan di papua barat dan orang2 papua yang memperpanjang NKRI di papua.
dan kongres yang di dorong ini hanya kongres persi WPNA/praksi bintang 14 DAP PDP dan Koalisi yang selama ini menipu rakyat jadi kita lihat apa yang mereka hasilkan dari dari kongres ini. dan selama inikan TPN/OPM kan sudah sebagai roh dari pada perjuangan itu sendir jadi kita lihat saja….salam revolusi papua barat……….
LikeLike
Sdr Yunus lebih baik belajar bhs Melayu baik2 dulu baru tulis. Bintang 14 itu ahli negara dan ahli hukum bukan macam kau yg kumpul2 bahasa dipinggir jalan. WPNA, DAP, PDP itu sama2 di 1 Desember dgn bintang kejora. Kami 14 tersendiri dgn Proklamasi 14 Des 1988 oleh Dr.Thom Wainggai dgn bendera Salib 14*. WPNA itu bukan bintang 14. Tolong jgn lagi singgung Bintang 14 kalau masih buta politik.
LikeLike
Kongres Rakyat Papua III jangan dijadikan aksi terselubung manuver separatisme. Papua bagian dari NKRI adalah final dan sah, serta telah diakui dunia internasional. Panglima Tertinggi Komando Revolusi West Papua, Gen. Mathias Wenda adalah penipu rakyat dan selalu menyengsarakan rakyat.
LikeLike
Bisakah di lain waktu atau di Kongres IV terlebih dahulu buat semacam jejak pendapat (semacam poling) dari berbagai kalangan sesuai pendidikan, profesi atau asal-usul termasuk perkumpulan/ikatannya:
1. Masyarakat awam/asli
2. Masyarakat pendatang.
3. PNS-TNI-POLRI
4. Pelajar-Mahasiswa
5. Para pengamat
Kayaknya pasti akan menarik jika ada lembaga survey yang melakukan ini, jangan hanya melakukan survey pemilu, korupsi saja tetapi bisa juga survey untuk Papua Merdeka. Hasilnya bisa jadi dasar/masukan untuk perbaikan pelayanan publik demi pembangunan Papua ke depan.
Semoga saja……….
LikeLike
Jajak pendapat seperti ini sangat penting, tetapi kategori yang diberikan oleh Anda tidak fair, tidak manusiawi, karena kategori Orang Asli Papua tidak dimasukkan. Pada hari ini, mayoritas penduduk Provinsii Papua dan Papua Barat ialah penduduk pendatang dari luar Papua, jadi kalau suruh hitung dengan dasar PNS/ POLRI, pengamat, dll, Anda bermaksud mensensus orang Indonesia yang ada di Papua tentang Papua Merdeka. Kalau itu maksudnya boleh saja, walaupun sudah tahu hasilnya sebagia orang Indonesia, apapun profesinya pasti memilih NKRI harga mati. Yang jelas usulan ini tidak menarik, licik, tidak manusiawi, melecehkan eksistensi orang Papua pemilik tanah leluhur Tanah Papua.
LikeLike
Bapak Gend. TRWP (West Papua Revolutionary Army WPRA) yang kami hormati staus Bapa atau golongannya adalah orang tua. Pangkat Orang Tua dalam kitab Suci orang Kristen, sudah jelas orang tua & pemerintah adalah wakil ALLAH. tidak wakil siapa-siapa, berarti sudah jelas segalanya Bapak pandang untuk nasib Bangsa ini, itu sudah pasti benar karena orang tua adalah wakil dari ALLAH dan sebagian pikiran kebenaran-Nya ada pada orang tua jadi siapapun dia orang papua atau bukan melawan pikiran daripada orang tua anda pasti akan terkutuk!!! Mari orang papua yang baik kita taati nasehat/ kata-kata daripada orang tua. Bapak Wenda karena Dialah diberi mandat dari Tuhan untuk memimpin Bangsa West Papua.
LikeLike
tidak ada jalan lain hanya Proklamasih 14 desember 1988.bintang 14 yang memenuhi siaraat untuk Merdeka.Dasar hukum dan politik nya kuat.untuk meraih Kemerdekaan.
LikeLike