
JAYAPURA – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Anti Militerisme, menggelar aksi palang kampus Uncen Senin (1/10). Aksi ini sebagai bentuk protes mahasiswa yang menduga Universitas Cenderawasih (Uncen) mengijinkan keberadaan aparat TNI dan Polri di sekitar area Kampus Uncen Perumnas III Waena, Senin (1/10)
Aksi yang dilakukan di Gapura Uncen Perumnas III tersebut, selain menutup palang pintu gerbang, mahasiswa juga membuat tenda terpal untuk memutar film dokumenter kekerasan militer di Papua pada layar berukuran 1,5 X 2 meter.
Koodinator Lapangan, Yason Ngelia mengatakan bahwa film yang diputarnya adalah film yang sudah beredar di masyarakat, termasuk melalui internet. “Aksi kami ini sebagi protes kepada lembaga Universitas, dan kami akan lakukan mungkin sampai sore, sekitar jam 4,” ungkapnya kepada Bintang Papua di sela-sela aksinya.
Hal itu, dilakukan karena ia bersama rekan-rekannya merasa resah atas kehadiran aparat TNI dan Polri di sekitar kampus Uncen,
“Setelah dua bulan ini mulai Polri masuk, tiba-tiba TNI mulai melakukan pendekatan kepada mahasiswa, mulai dengan kegiatan bhakti sosial, pengobatan gratis. Mereka sebelumnya minta di Rusunawa, tapi mahasiswa tolak,” ungkapnya.
Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Drs Paulus Holmers,M.Si yang langsung turun menemui mahasiswanya, langsung berdialog dan meminta penjelasan kepada koordinator aksi demo, Yason Ngelia.
Setelah mendapat penjelasan maksud aksi demonya, ia sempat menyatakan dengan keras di hadapan para pendemo bahwa pengamanan di sekitar tidak bisa ditangani Menwa. Sementara, mahasiswa yang tergabung dalam BEM Uncen juga tidak bisa berbuat apa-apa.
“Selama ini sering terjadi penjambretan berkeliran di sekitar kampus, dan kalian (mahasiswa) hanya pangku tangan,” tandas Paul Holmers kepada para pendemo. Saat ditemui Wartawan, dikatakan bahwa pihaknya sebelumnya tidak tahu menahu. Mengenai pengobatan massal yang dicurigai mahasiswa sebagai upaya TNI melakukan pendekatan, ditegaskan bahwa siapa saja tidak boleh melakukan penolakan, karena sangat dibutuhkan masyarakat yang berdomisili di sekitar Kampus Uncen.
Sedangkan tentang pembangunan pos TNI dan Polri, menurutnya tidak di area Kampus. “Siapapun tidak boleh melarang itu,” tandasnya.
Karena, menurutnya bahwa pendirian pos tersebut adalah permintaan warga di Kelurahan Yabansai. Dan terbukti bahwa aksi palak dan jambret yang sebelumnya sering terjadi di Perumnas III dan sekitarnya, kini mulai berkurang.
Dan terkait aspirasi mahasiswanya, Holmers menyatakan akan diselesaikan secara intern kampus. “Ini persoalan rumah tangga kita, kita selesaikan sendiri, secara internal,” jelasnya
Ia pun menyetakan penyesalannya atas aksi mahasiswa yang dinilainya tidak pantas. “Pemalangan ini sangat mengganggu aktifitas akademik. Saya sangat menyesal pola pikir para mahasiswa ini yang melakukan dengan cara itu. Sebagai orang pintar seharusnya tidak melakukan hal semacam itu. Dan orang-orangnya itu-itu saja. Saya sudah tahu itu,” tandasnya.
Untuk melakukan pengamanan, tampak Kapolres AKBP Alfred Papare bersama jajarannya datang ke TKP. Namun tidak tampak pasukan Dalmas yang biasanya sering diturunkan mengamankan aksi demo.
Akibat aksi demo tersebut, aktivitas perkuliahan di Uncen tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. (aj/don/l03)
Leave a comment