Memang berita-berita umum milik NKRI tidak memuat aksi-aksi mahasiswa Papua yang secara murni dan konsekuen menyuarakan aspirasi murni bangsa Papua selama ini. Yang dimuat media Indonesia, sebagai media penjajah, menyangkut penembakan, sepak bola, keterbelakangan dan kemiskinan, korupsi, ketabrakan, festival budaya, pengembangan koperasi dan UKM dan hal-hal yang tidak menjadi bagian dari pemikiran dan aspirasi bangsa Papua. Yang disiarkan penjajah ialah berita-berita sebagai bagian dari siasat penjajah dalam “mengisi pikiran dan perhatian” orang Papua sebagai kaum yang dijajah sehingga waktu hari-hari atau waktu kehidupan ini tidak ada kesempatan lagi tersisah untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya menjadi cita-cita dan suara hatinuraninya sendiri. Politik penjajah seperti ini bukan hal baru. Dulu penjajah Belanda juga melakukannya terhadap orang-orang Indonesia.

Yang terdengar sebagaimana dilaporkan media yang berderak di tanah Papua dan milik NKRI ialah berita-berita tentang pernyataan Ketua Barisan Merah Putih Ohee dan Marey bahwa Pepera sudah final dan tidak dapat diganggu-gugat, kata si Ketua LMA Kogoya bahwa Otsus tidak gagal tetapi manusia yang menjalankan Otsus yang salah, kabar bahwa ratusan anggota TPN/OPM pimpinan Daniel Kogoya menyerahkan diri, lansiran bahwa Pendiri OPM dan mantan pejabat OPM Jouwe dan Messet menyerah ke pangkuan Ibutiri Pertiwi, kutipan bahwa Australia mendukung Papua tetap ada di dalam NKRI, dan sebagainya. Sebenarnya semua propaganda NKRI ini tidak pernah mempengaruhi, apalagi menggugah hati dan identitas orang Papua untuk sedikitpun bersimpati dengan atau terpengaruh oleh pemberitaan mereka.
Kita seolah berada di dalam suasana sebuah upacara adat yang dihadiri oleh dua grup tarian, yang masing-masing memainkan musik, menyanyikan lagu dengan mementaskan lagu mereka “pada saat bersamaan”, “dan di panggung yang sama” pula. Keduanya berharap mendapatkan tepukan tangan meriah dari para penonton. Kedua berharap para penonton akan bergabung ke grup mereka berdansa meramaikan lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Padahal kita tahu secara jelas dan pasti, tarian dan nyanyian Indonesia Raya, Tanah air dan bangsa Indonesia bukanlah tarian dan syair yang tertarik bagi orang Papua, bahkan dianggap sebagai nyanyian dan syair perenggut nyawa orang Papua. Tidak pernah orang Papua merasa aman hidup: makan, minum, tidur, bangun, bergerak, bernapas secara bebas dan leluasa sejak NKRI mencaplok bagian barat dari Pulau New Guina ini. Apalagi saat tarian-tarian Indonesia Raya mulai muncul, pasti akan banyak pocong dan dracula beterbangan merenggut nyawa orang Papua.
Mahasiswa Papua tentu saja mengetahui cerita-ceirta penderitaan bangsa mereka secara utuh. Mereka bukan tahu secara sepotong-sepotong seperti yang diketahui orang Papua di tanah air dari sudut-pandang dan konteks kampung halaman masing-masing di mana mereka tinggal. Yang diketahui oleh mereka yang ada di pulau Jawa-Bali, Sulawesi – Sumatera tahu ialah kumpulan-kumpulan cerita yang lengkap dan ceritanya panjang dari masing-masing suku dan marga yang ada di Tanah Papua, yang kini menyatu menjadi “Mahasiswa Papua” di perantauan, sebagai satu identitas yang jelas.
Kumpulan-kumpulan cerita itulah yang telah berhasil mereka rangkaikan menjadi satu riwayat yang panjang, riwayat yang penuh dengan derita dan air mata, teror dan intimidasi, pengejaran dan pembunuhan, riwayat yang sangat sial kalau ditimbang dari sisi nasib sebuah bangsa di muka Bumi. Riwayat inilah yang mereka pandang perlu diperbaiki. Dan cara memperbaikinya ialah dengan memperbaiki penyebab tercaploknya wilayah dan negara West Papua, bangsa Papua ke dalam bingkai NKRI. Cara itu ialah dengan mengembalikan hak kebangsaan bangsa Papua, hak bernegara dari orang Papua, melalui sebuah proses yang dalam peradaban ini dipandang beradab, yaitu secara demokratis lewat referendum.
Itulah tuntutan orang Papua di perantauan Asia, di pulau Jawa dan Bali.
Apakah tuntutan orang Papua di LMA Papua, MRP, DAP, PDP, OPM, Gubernur Papua bersama para Bupati dan Walikotanya, pemuda dan orang tua, anak-anak di seluruh wilayah West Papua menuntut sesuap nasi ke NKRI atau jatidiri dan hargadiri bangsa ini diakui dan diberi kesempatan untuk berpendapat?






Leave a comment