TERIANUS SATTO : NAMA DANIEL KOGOYA TIDAK ADA DALAM STRUKTUR TPN-OPM

Upacara Pembukaan KTT TPN-OPM di Biak (www.wpnla.net/mawel)
Upacara Pembukaan KTT TPN-OPM di Biak (www.wpnla.net/mawel)

Jayapura — Kepala Staf  Umum, TPN-OPM, Mayjen Terianus Satto mengklarifikasi pemberitaan media mengenai penyerahan Daniel Kogoya kepada NKRI beberapa waktu lalu. Sato mengatakan pemberitaan itu hanyalah propaganda TNI bersama media Indonesia di Papua. Karena Danny Kogoya kini berada di LP Abepura untuk menjalani proses hukum kasus Nafri satu dan dua. Nama Daniel Kogoya itupun tidak ada dalam struktur TPN-OPM.

Teriyanus Satto menyampaikan klarifikasi itu melalui press releasenya kepada tabloidjubi.com, Kamis (31/1). Klarifikasi pertama dalam press release bertanggal 29 Januari 2013 itu,  mengenai nama diri dan kesatuan Daniel Kogoya.

“Jika Daniel Kogoya ini benar TPN-OPM, maka TNI-POLRI dan wartawan harus memberikan data yang lengkap. Artinya, bahwa Daniel Kogoya ini dari Kesatuan mana dalam organisasi OPM-TPN,”

tegasnya dalam release.

Menurut Satto, dalam Organisasi TPN-OPM secara struktural nama Daniel Yudas Kogoya hanya seorang, yaitu Komandan Kompi Batalyon Mapenduma dari Kodap III Kali Kopi Timika, dibawah Komando Kelly Kwalik. Sedangkan Danny Kogoya juga hanya seorang, dalam organisasi TPN-OPM. Danny Kogoya memang benar Anggota TPN-OPM dibawah Komando Lambert Pekikir, sebagaimana disampaikan oleh Lambert Pekikir melalui Bintang Papua edisi 6 Desember  2012. Source:http://www.bintangpapua.com/headline/29379-lambert-tak-mau-persulit-dany-kogoya

Kalau tidak ada kejelasan dalam pemberitaan, menurut Satto, penyerahan itu hanyalah sekelompok orang yang diberdayakan demi kepentingan kelompok tertentu. Lebih dari itu, menurut Sato, itu merupakan propaganda pemerintah Indonesia melalui media.  Propaganda itu tidak akan pernah mempegaruhi sikap TPN-OPM sejati.

“TPN-OPM sejati belum pernah menyerah kepada pemerintah kolonial Republik Indonesia,”

tegasnya.

Klarifikasi kedua mengenai dugaan jaringan dari kelompok Danny Kogoya. Penyerahan itu, menurut Satto, diduga dilakukan anggota jaringan Danny Kogoya yang kini berada di LP Abepura. Namun Kogoya membatahnya.

“TPN-OPM mengarahkan pelurunya kepada Danny Kogoya dan menduga bahwa yang menyerah itu adalah anggota jaringannya. Namun ternyata KNPB News melangsir berita pada tanggal 27 Januari 2013 bahwa Danny Kogoya mengaku belum pernah mengeluarkan pernyataan menyerah kepada  NKRI dan Danny Kogoya mengaku dia belum menyerah dan sedang menjalani hukuman (http://knpbnews.com/blog/archives/1375) “Indonesia merekayasa Penyerahan 810 anggota OPM Gadungan”,”

tulis Sato dalam releasenya.

Klarifikasi Ketiga, pemberitaan media cetak beberapa waktu lalu itu benar-benar propaganda murni. Sebelumnya, tulis Sato, Cenderawasih Pos per November 2012 melansir berita bahwa Danny Kogoya merasa menyesal atas perbuatannya dan ingin kembali bergabung kepada Pemerintah NKRI dan membangun Papua bersama Pemerintah Indonesia.” Menurut Satto, pemberitaan-pemberitaan ini menunjukan bahwa telah dan sedang terjadi suatu propaganda media atas kepentingan pihak-pihak tertentu, yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

“TPN-OPM memberitahukan kepada publik dan Aparatur Pemerintah Indonesia serta  Aparat Keamanan Indonesia dan juga kepada semua Jurnalis bahwa dalam struktur TPN-OPM, nama Daniel Kogoya ini tidak ada. Jabatan Kepala Staf yang telah dikatakannya itu pun TPN-OPM belum tahu,”

tutup Satto dalam releasenya.(Jubi/Mawel)

 Thursday, January 31st, 2013 | 21:39:27, TJ 

Dari Catatan Akhir Tahun Foker LSM Papua : Papua Hanya Butuh Political Will

Jayapura – Forum Kerja sama (Foker) LSM Papua memprediksi tahun 2014 mendatang, produk hukum ataupun gagasan-gagasan untuk kemajuan pembangunan di Bumi Cenderawasih akan jalan di tempat.

Ketua Starring Comitte Foker LSM Papua, Sefter Manufandu mengatakan, gagasan berupa dialog Jakarta-Papua dan terutama pemberlakukan UU Otsus plus tidak akan terjadi di tanah Papua. Ini dikaitkan dengan 2014, adanya dua agenda penting pemilihan umum, diantaranya pemilihan calon anggota legislatif dan pemilihan presiden.

Pihaknya mengklaim yang hanya diperlukan Papua saat ini adalah kebijakan politik yang baik.

“Ide-ide dan produk hukum, seperti UU Otsus Plus atau UU Pemerintahan Papua dan juga gagasan tentang dialog Jakarta-Papua yang dicetuskan untuk melahirkan harapan baru, mustahil dapat dilakukan pada tahun mendatang,”

jelasnya kepada wartawan dalam keterangan persnya di Kantor Foker LSM, Senin (30/12).

Khususnya Otsus Plus yang saat ini berada di pintu gerbang, menurut Sefter, sebenarnya itu adalah proyek Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun hingga saat ini, plus yang dimaksudkan belum jelas.

“Papua hanya membutuhkan political will yang baik, untuk mempercepat proses-proses kapasitas tertentu. Hari ini yang lemahnya adalah berkaitan dengan bagaimana jangkauan pelayanan pemerintah yang maksimal. Dari sisi kesehatan, pendidikan maupun ekonomi kerakyatan,”

ujarnya.

Proyek lain yang dilakukan untuk kemajuan di Papua oleh Presiden SBY adalah Keberadaan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), yang mengklaim akan melakukan percepatan di tanah Papua. Namun sepanjang UP4B berjalan di Papua dan Papua Barat sejak 2011 silam, belum juga membawa perubahan yang berarti untuk masyarakat setempat.

“Dari sisi komparatif, Papua memiliki anggaran yang luar biasa dan ststus kewenangan khusus serta jumlah penduduk 1,8 juta. Dari sisi komparatif itu, dibutuhkan political will untuk mempercepat pembangunan Papua. Misalnya masalah kesehatan, dimana-mana terjadi pandangan tentang kesehatan Papua yang sangat buruk sekali. Mungkin ada satu atau dua rumah sakit yang berada di beberapa kabupaten yang dapat menjadi contoh yang baik. Ada juga bupati yang cerdas menjalankan aspek sosial,”

akunya.

Lebih gamblang Foker Papua mendesak Provinsi Papua dan Papua Barat melakukan suatu grand design untuk dapat memproteksi orang asli Papua beserta sumber daya alamnya (SDA), walaupun Papua masuk dalam koridor VI untuk MP3E yakni percepatan pembangunan ekonomi.

Misalnya saja di Teluk Cenderawasih sudah blok migas oleh Repsol, di Fakfak area wilayah Bomberai akan dibangun Minapolitan, didaerah Merauke dan sekitarnya telah ada MIFEE.

“Namun pada kenyataannya pendekatan lebih kepada eksploitasi sumber daya alam dan meminggirkan rakyat pemilik hak ulayat tanah dan menimbulkan aspek bencana sosial yang lain,”

bebernya.

Sementara itu Program Manajer Foker LSM, Abner Mansai menambahkan, perkembangan kehidupan masyarakat di tanah Papua sepanjang 2013, diwarnai dengan berbagai permasalahan, baik politik, HAM, pengelolaan SDA, masyarakat adat, isu Perempuan dan lain sebagainya.

“Hampir sebagian permasalahan ini tidak dapat terselesaikan dengan baik. Permasalahan-permasalahan ini juga sebenarnya merupakan akumulasi dari persoalan yang sama yang dari tahun ke tahun tidak tertangani dengan baik. Sebagai contoh adalah; pelanggaran HAM diberbagai daerah di tanah Papua masih saja terjadi, penyelesaian masalah Papua melalui dialog damai yang terus didorong oleh masyarakat Papua tidak mendapatkan respon positif dari Jakarta, pembabatan dan konversi hutan untuk kepentingan bisnis skala besar seperti perkebunan kelapa sawit dan pertambangan masih marak terjadi, eksploitasi Sumber daya alam (SDA) masih terus dilakukan baik legal maupun ilegal bahkan terjadi secara massif,” urainya.

Dari sisi lingkungan hidup, sambungnya, komitmen pemerintah daerah dalam mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim justru terjadi sebaliknya. Ini bisa dilihat dari semakin tingginya ijin investasi diberbagai daerah yang berpotensi merusak hutan, hanya dengan alasan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Disisi lain, perampasan terhadap tanah dan sumber-sumber hidup milik masyarakat adat, juga semakin marak terjadi. Sebagai contoh; perampasan tanah milik masyarakat adat Malind Anim di Merauke untuk kepentingan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE), penambangan emas ilegal di Degeuwo (Paniai) belum dilesaikan dengan baik. Pendulangan pasir laut di pulau Panjang Fakfak, eksplorasi minyak dan gas alam di blok Domberai, pencurian kayu dihampir seluruh Tanah Papua, sama sekali tidak terkontrol bahkan seakan-akan dibiarkan begitu saja.

“Dari sisi politik dan pengelolaan pemerintahan daerah, muncul keinginan perubahan terhadap UU No.21/2001 tentang Otonomi Khusus Papua dengan UU Pemerintahan Papua, atau apapun namanya nanti, ternyata menyebabkan pertentangan baru berbagai kalangan antara yang setuju (pro) dan yang tidak setuju (kontra) terhadap keinginan tersebut. Dan mungkin masih banyak lagi permasalahan sosial dimasyarakat yang tidak muncul dipermukaan, atau bahkan terpendam karena tidak menjadi perhatian,”

tandasnya. (lea/don/l03)

Selasa, 31 Desember 2013 10:59, BinPa

Enhanced by Zemanta

Tugu Perdamain di Timika, West Papua: Apa Tanggapan TRWP?

Dari Markas Pusat Pertahanan (MPP) Tentara Revolusi West Papua (TRWP) menanggapi rencana pembangunan Tugu Perdamaian oleh LSM penjajah di Timika, West Papua, kini giliran TRWP lewat Kantor Sekretariat-Jenderal menanggapinya.

Menurut Sec.-Gen. Leut. Gen. A. Tabi,

“Organisasi bernama ‘The World  Peace Committee’ itu tidak pernah ada di dunia ini, itu buatan NKRI-SBY untuk menutup malu atas perbuatan-perbuatan bejadnya di Tanah Papua selama ini. NKRI bicara lain, tulis lain, dan berbuat lain, alias Lain Bicara, Lain Tulisan dan Lain Perbuatan, kita yang nonton permainan Indonesia saja sudah kewalahan memahami apa maksud dan tujuan, serta apa tindakan lanjutan. Apalagi mereka yang turut bermain dengan NKRI, tambah pusing keliling. Ingat, hanya orang Papua hilang akal dan tidak tahu diri yang ikut bermain di dalamnya. Orang Papua yang wajar, sehat dan sejati tidak akan pernah berselingkuh, walaupun nikmatnya suga-neraka, karena mereka tahu dampaknya bukan sekedar merugikan pribadi, tetapi turunan   dan bangsa.”

Berikut petikan pernyataan yang dirilis ke PMNews.

Membaca rencana pendirian “Prasasti Perdamaian Dunia” oleh organisasi liar buatan NKRI-SBY bernama “The World  Peace Committee”, yang tidak pernah ada di dunia ini sampai sekarang, maka dengan ini dari Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua (TRWP) atas nama Panglma Tertinggi Komandor Revolusi Gen. TRWP Mathias Wenda menyatakan:

  1. Menolak tegas pendirian Prasasti dimaksud mengingat pendirian prasasti ini terbalik langsung dengan fakta kematian terus-menerus bangsa Papua di tangan penjajah NKRI, yang menunjukkan tanah ini tidak pernah mengenal apa artinya kata “Damai” sejak NKRI menginjakkan kakinya di Tanah Papua;
  2. Pendirian Prasasti dimaksud merupakan sebuah sindiran yang bukan hanya menipu tetapi lebih-lebih menyakiti hatinurani rakyat Papua karena kematian demi kematian terus berlanjut sementara NKRI seolah-oleh bersandiwara di atas penderitaan dan tumpahan darah bangsa terjajah “Papua” di tanah leluhurnya sendiri;
  3. Sindiran dimaksud tidak hanya menyakiti hatinurani bangsa Papua, tetpai sekaligus meremehkan martabat dan hargadiri serta jatidiri bangsa Papua sebagai manusia ciptaan Tuhan karena pembunuhan dan kematian yang terus berlanjut selama ini dianggap seolah-olah tidak pernah ada, seolah-olah dianggap selama ini antara West Papua dan NKRI damai-damai saja;
  4. Organisasi bernama ‘The World  Peace Committee’ itu tidak pernah ada di dunia ini, itu buatan NKRI-SBY untuk menutup malu atas perbuatan-perbuatan bejadnya di Tanah Papua selama ini. NKRI bicara lain, tulis lain, dan berbuat lain, alias Lain Bicara, Lain Tulisan dan Lain Perbuatan, kita yang nonton permainan Indonesia saja sudah kewalahan memahami apa maksud dan tujuan, serta apa tindakan lanjutan. Apalagi mereka yang turut bermain dengan NKRI, tambah pusing keliling. Ingat, hanya orang Papua hilang akal dan tidak tahu diri yang ikut bermain di dalamnya. Orang Papua yang wajar, sehat dan sejati tidak akan pernah berselingkuh, walaupun nikmatnya suga-neraka, karena mereka tahu dampaknya bukan sekedar merugikan pribadi, tetapi turunan   dan bangsa.
  5. Kapan, hi NKRI, dan Ibutiri Pertiwi, kalian menghentikan Wayang Golek ini? Apakah tidak ada waktu sejenak saja untuk istirahat dari membunuh dan menipu bangsa ini, yang tidak pernah berbuat dosa kepada Anda, tetapi secara terus-menerus kau timpakan malapetaka dan maut?

Demikian,

Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan,

Pada Tanggal: 10 Januari 2013

An. Panglima,

 

Amunggut Tabi, Leut. Gen.TRWP.

BRN: A. 018676

Enhanced by Zemanta

Tak Punya Bukti, Polisi Bebaskan Ketua KNPB Baliem

knpb

Jayapura —Kepolisian Resort Polres Jayawijaya tak mempunyai bukti cukup mengadili dan memenjarakan Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Balim, Simeon Dawi terkait kasus peledakan dan penemuan bom di Sekretariat KNPB di Wamena. Polisi tak berhasil dan mempunyai bukti yang bisa menyeret, mengadili dan memenjarahkan aktivis muda itu.

“Benar Simeon bebas karena dia tidak tahu menahu tentang pemboman dan penemuan bom tersebut. Saat pemboman dan penemuan bom dirinya di Jayapura,”

kata Wim Medlama, juru bicara Kominte Nasional Papua Barat (KNPB) pusat, kepada tabloidjubi.com, melalui pesan singkatnya, Senin (28/1).

Sekalipun tak terbukti, demi pembebasan Simeon, pihak keluarga mengaku bersama Ketua Parlemen Nasional West Papua (PNWP) Buchtar Tabuni, mantan Ketua Umum KNPB telah membuat surat pernyataan.

“Ia bebas. Saya buat surat pernyataan. Tuan Buchtar juga naik buat surat pernyataan,”

kata Yubuga, Ayah Simeon Daby ke tabloidjubi.com, Senin (28/1).

Menurut keluarga Simeon, polisi membebaskan Ketua KNPB Balim pada Minggu (27/1) malam dua hari sebelum Pilkada Gubernur Papua, Selasa (29/1).

“Terima kasih kepada semua atas dukungan doa-doanya, maka anak kami Simeon Daby telah dibebaskan dari tahanan polisi pada malam ini pukul 8.00 WIT dan kini bersama kami di rumah,”

tulis pesan singkat Yulianus, keponakan Simeon Daby ketabloidjubi.com, Minggu (27/1).

Sebelumnya, pihak keluarga mengabarkan pihak kepolisian melakukan penangkapan dan pembuatan berita acara Simeon tanpa pendampingan pengacara hukum hingga hendak menyerahkan ke Jaksa. (Jubi/Mawel)

Wednesday, January 30th, 2013 | 21:02:52, TJ

Pemerhati HAM Protes Buku Karangan Jared Diamond

JAYAPURA [PAPOS] – Pemerhati HAM di Tanah Papua protes dan menolak isi buku baru Karya Jared Diamond tentang orang pribumi yang berjudul; “The World Until Yesterday, What We Can Learn From Traditional Societies,” (“Dunia Sampai Kemarin, Apa yang Kita Bisa Belajar dari Masyarakat Adat”).

Dinilai rendahkan Orang Papua

Menurut Matius Murib, Koordinator Pembela HAM dan Direktur Baptis Voice di Tanah Papua, buku itu menyebarkan prasangka rasis tentang orang Papua. Penulis buku itu akan sampai di Inggris Rabu (30/1) kemarin dan pada tanggal 5 Februari mendatang dia akan berpidato di London-Inggris sehingga publik di Eropa dan dunia akan menikmati informasi yang dinilainya sangat sepihak.

“Penulis buku ini seharusnya berpandangan positif tentang orang pribumi. Oleh karena itu penulis sampaikan kita bisa belajar dari masyarakat adat. Namun, ada sejumlah masalah besar dengan buku ini di mana penulis sampaikan pesan yang berbahaya dan merendahkan,”

terang Matius.

Antara lain, terkesan seolah-olah orang pribumi di Papua masih mewujudkan hidup mereka pada hidup ribuan tahun yang lalu. Ini tidak benar dan memperkuatkan ide yang rasis bahwa orang pribumi adalah ‘terbelakang,’ ‘hidup dalam masa lalu,’ atau bahkan ‘zaman batu.’

Hal lainnya, terkesan bahwa perang suku dan kekerasan, yang difokuskan terhadap orang dari suku Dani pada tahun 1960-an. Penulis merincikan perang suku Dani sebagai ‘perang kronis.’ “Dia bilang bahwa ‘Orang Dani berperang setiap bulan selama setiap tahun.’ Kesan untuk pembaca adalah bahwa orang pribumi dari suku Dani ini adalah keras dan buas, menguatkan prasangka yang sering dipakai untuk merugikan orang pribumi,” ungkapnya.

Lanjutnya, Jared Diamond, penulis buku juga berpendapat bahwa orang pribumi sudah mendapat manfaat dari penguasa Negara dalam kehidupan mereka karena penguasaan ini sudah menghentikan perang suku. Dia menulis, “Orang Nugini menghargai manfaat dari perdamaian yang dijamin oleh penguasaan negara, yang mereka tidak bisa mencapai sendiri.” Dia juga menulis, “kebanyakan masyarakat skala-kecil menjadi terjebak dalam siklus kekerasan dan perang. Pemerintah Negara memberikan pelayanan luar biasa dalam memutus siklus-siklus ini oleh kedatangan mereka sebagai pemonopolian kuasa.”

Yang ia protes dari tulisan Jared Diamond adalah penulis sama sekali tidak menyebutkan kekerasan prajurit atau militer Indonesia dalam rangkaian kekerasan di Papua. “Buku ini terkesan sangat tidak berimbang dan obyektif dengan realitas di Tanah Papua sampai hari ini. Dari penulisan seperti ini, kami menduga penulis adalah agent atau kaki-tangan penguasa untuk melemahkan posisi dan eksistensi kehidupan masyarakat pribumi dan suku-suku asli di Tanah Papua,” katanya.

Matius minta hentikan stigmatisasi yang merendahkan martabat dan harkat masyarakat pribumi, seperti suku Dani dan 200-an lebih suku-suku asli di Tanah Papua. [ida]

Rabu, 30 Januari 2013 23:19, Ditulis oleh Frida/Papos

Enhanced by Zemanta

Sejarah Pepera Harus Dibicarakan Terbuka

MANOKWARI – Pelurusan Sejarah Integrasi Papua merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terus menjadi sumber konflik akibat perbedaan pandangan dan pendapat antara Papua dan Jakarta. Sejarah ini harus dibicarakan secara terbuka. Demikian dikatakan Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari Yan Christian Warinyussy melalui surat elektroniknya, Selasa (29/1).

Menurut Warinussy, desakan ini mengacu pada hasil studi sejumlah yang dilakukan secara ilmiah oleh sejumlah kalangan akademisi maupun studi investigasi oleh sejumlah organisasi masyarakat sipil di Tanah Papua.

Membuktikan bahwa pada tahun 1969 telah terjadi sejumlah tindakan kekerasan Negara terhadap rakyat sipil dengan tujuan memenangkan PEPERA, baik dengan cara yang baik maupun buruk. Kendati demikian, Warinussy tak menyebutkan secara rinci soal sumber yang melakukan study. “Salah satu studi yang dilakukan LP3BH tahun 2000, ada data menunjukkan bahwa Suatu studi yang dilakukan LP3BH Manokwari pada tahun 2000 menunjukkan ada sekitar 53 orang warga sipil orang asli Papua telah ditangkap dan dibawa oleh aparat TNI dan dieksekusi secara kilat di Arfai-Manokwari pada tanggal 28 Juli 1969, atau satu hari sebelum dilaksanakannya Tindakan Pilihan Bebas [Act of Free Choice] atau PEPERA di Manokwari pada tanggal 29 Juli 1969,” tulis Warinussy dalam releasenya kepada BIntang Papua.

Diaktakan, tindakan itu menyisahkan pertanyaan yang hingga kini belum terjawab. Alasannya pun demikian, apakah korban-korban itu melakukan tindakpidana, menghasut, membocorkan rahasia Negara. Atau melakukan upaya menghalangi penyelengaraan PEPERA ?

Selain itu, LP3BH juga menemukan dalam studinya tentang para anggota Dewan Musyawarah PEPERA [DMP] dari sejumlah daerah di Tanah Papua, direkrut secara sangat rahasia. Bahkan di “kurung” dalam tangsi-tangsi militer dan dilatih bahkan diindoktrinasi untuk menyampaikan pendapat di muka umum dengan konsep-konsep pendapat yang sudah disusun. Dengan ancaman keselamatan. Beberapa saksi mata telah mengungkapkan kesaksiannya.

“Kebenaran sejarah penyelenggaraan PEPERA ini harus segera dikaji dan dibahas secara akademik dan terbuka untuk umum guna dirumuskan langkah-langkah pengungkapan kebenaran oleh para pihak yang berkompeten dan menjadi dasar untuk membangun rekonsiliasi diantara rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia ke depan,” tutup Warinussy.(Sera/don/l03)

Selasa, 29 Januari 2013 17:13, Binpa

Enhanced by Zemanta

TV Al-Jazeera Akan Tayangkan Film Dokumenter Papua Selama 1 Minggu

Logo TV Aljazeera
Logo TV Aljazeera

London – Televisi Al-Jazeera yang berpusat di Doha, Qatar akan menayangkan film dokumenter tentang perjuangan bangsa West Papua. Film tersebut akan diputar berulang-ulang selama satu minggu, mulai dari hari Rabu tanggal 30 Januari hingga tanggal 5 Februari 2013.

Film yang berdurasi 30 menit ini dibuat oleh seorang pembuat film terkenal Dom Rotheroe yang dibantu oleh Sally Cholister seorang photografer yang melakukan perjalanan ke Papua sejak bulan November hingga Desember 2012 untuk investigasi tentang perjuangan dan genosida di West Papua. DomRotheroe juga pernah membuat film tentang perjuangan Timor Leste dan Bougenville yang berjudul

“The Coconut Revolution”.

Film tersebut menceritakan tentang perjuangan KNPB dan OPM. Sally dalam situs pribadinya di www.sallycollister.co.uk menyampaikan perjalanan dan foto-foto tentang film dokumenter tersebut. Dom Rotheroe dalam pesan pribadinya menyampaikan jadwal tayang film tersebut yaitu:

  • Rabu; 22.30 GMT (waktu di Inggris) – Kamis 06.30 Pagi waktu Papua
  • Kamis 09.30  (Kamis pukul 16.30 Sore waktu Papua)
  • Jumat 03.30  (Jumat Pukul 10.30 Pagi waktu Papua)
  • Sabtu 16.30 (Sabtu 23.30 Malam waktu Papua)
  • Minggu 22.30 (Senin, 06.30 Pagi waktu Papua)
  • Senin 09.30 (Senin, 16.30 Sore waktu Papua
  • Selasa 03.30 (Selasa, 10.30 Pagi waktu Papua

Film dokumenter ini juga dapat ditonton secara online di stream Al Jazeera English live online. Film ini akan ditonton oleh lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sally, dalam pesannya, mengajak anda dapat menonton dan membagi film ini agar dunia tau tentang tragedi kemanusiaan dan lingkungan terjadi di West Papua. Foto-foto tentang perjalanannya dapat diliat disini. (wd)

January 30, 2013, KNPBNews

KAPAL PENGANGKUT LOGISTIK PEMILUKADA PAPUA TERBAKAR

Ilustrasi Kapal Terbakar
Ilustrasi Kapal Terbakar

Jayapura —Kapal LCT Fajar Lintas Irja yang mengangkut logistik Pemilukada Papua dari Kabupaten Supiori ke Pulau Mapia dan Meosbefondy dikabarkan terbakar, Senin (28/1).

Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya mengatakan, sekitar pukul 08.40 WIT ada berita SOS dari kapal tersebut. Sinyal SOS itu dimonitor stasiun Pantai Jayapura dan Radio Pantai Pulau Mapia. Isinya, kapal yang berjarak sekitar 5 mill di atas laut Supiori, mengalami kebakaran dibagian belakang kapal.

“Sekarang kapal merapat di sekitar Kepulaun Sawendi setelah dibantu oleh masyarakat dan nelayan . Tim Basarnas Biak dalam perjalanan menuju Kepulaun Sawendi. Pihak ke tiga sementara sedang mencari kapal pengganti untuk mengangkut logistik Pemilukada ke Pulau Mapia dan Meosbefondy,”

kata I Gede Sumerta Jaya, Senin (28/1).

Menurutnya, untuk sementara penumpang kapal yang terdiri dari anggota Kodim lima orang, Marinir tujuh orang, Polisi tiga orang, masyarakat 17 orang, petugas santel tiga orang, petugas teknis SSB dua orang, pegawai Distrik Supiori Barat dua orang, dan ABK 10 orang. Mereka saat ini sedang berada di Desa Sawendi, Distrik Kepulauan Aruri.

“Tidak ada korban jiwa.  Penumpang yang ada di atas kapal sebanyak 49 orang selamat. Kotak suara juga aman. Logistik untuk Pulau Mapia sendiri sebanyak 119 surat suara dan untuk Pulau Meosbefondi 346 surat suara,”

ucapnya.

Ia menambahkan, kapal SAR sudah berada di Desa Sawendi untuk evakuasi dan rencana membawa kotak suara ke Pulau Mapia dan Pulau Meosbefondi.

“Namun info terakhir, kotak suara di bawa ke Supiori dengan personil karena kapal SAR Biak 1 balik ke Biak dan tidak mau ke Pulau Mapia karena cuaca tidak mendukung, sehingga salah satu anggota KPUD, Bapak Rumbekwan akan melaporkan ini ke pusat untuk minta waktu pemilihan tunda,”

tandas I Gede.(Jubi/Arjuna) 

Monday, January 28th, 2013 | 22:33:05, TJ

Markas Pusat TPN-OPM Tanggapi Danny Kogoya, Cs

DANIEL KOGOYA (Tengah) (Jubi/Alex)
DANIEL KOGOYA (Tengah) (Jubi/Alex)

Jayapura – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB), Organisasi Papua Merdeka (OPM) Komando Markas Pusat menanggapi kelompok Danny Kogoya yang diberitakan menyerah kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Seperti dilangsir di wpnla.net, Sabtu, (26/1), atas nama, Panglima Tinggi, Kepala Staf Umum TPN-PB, Mayjen Teryanus Satto mengatakan, TPN-OPM sejati belum pernah menyerah kepada pemerintah Indonesia.

“Daniel Kogoya cs ini bukan merupakan pejuang sejati TPN, namun mereka sebagai pengungsi di PNG yang tidak jelas status mereka. Artinya, General Refugess Status atau Political Aslylum Seeker Status. Karena nilainya beda dan penanganannya pun beda,”

tulis Mayjen Teryanus Satto.

Diketahui, Jumat, (25/1)  lalu,  212 warga Papua pimpinan Daniel Kogoya  yang selama ini menjadi warga pelintas batas (PNG-Indonesia) dan dikabarkan turut memperjuangkan Papua Merdeka itu menyerah kepada pemerintah Indonesia.

Acara penyerahan diri 212 warga Papua  itu dilakukan di Aula Kantor Distrik Muara Tami. Acara itu dihadiri 810 warga dan digelar oleh  Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura, Pemda Keerom, dan Kodam XVII/Cenderawasih yang diwakili oleh Korem 172/PWY.

Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI. Christian Zebua menerima 37 pucuk senjata yang diserahkan oleh Daniel Kogoya. Wakapolda Papua, Brigjen Pol. Paulus Waterpauw, Plt. Sekda Provinsi Papua, Elia Loupatti, Wali Kota Jayapura,  Benhur Tommy Mano, Sekda Kabupaten Keerom, Yerry F.Dien ikut menyaksikan.

Harian  Bintang Papua, Jumat, (25/1) memberitakan, penyerahkan diri Daniel Kogoya adalah hasil dari ajakan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI. Christian Zebua.

“Ajakan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI. Christian Zebua yang mengajak warga Papua yang selama ini hidup di hutan belantara untuk keluar hutan dan bersama-sama membangun Papua yang kaya raya ini, mulai menunjukkan hasil,”

tulisnya.

Dalam tanggapannya, Kepala Staf Umum TPN-PB, Mayjen Teryanus Satto mengatakan, mereka yang menyerah itu adalah oknum-oknum yang mengalami suatu krisis iman dan mental.

“Mereka kehilangan roh. Ada tiga Roh yang melindungi TPN-OPM, yaitu Roh Tuhan, Roh Alam dan Roh Moyang,”

katanya.

Ia juga menegaskan, TPN-PB yang tergabung dalam Komando Nasional berdasarkan Konferensi Tingkat Tinggi di Biak pada tanggal 1-5 Mei 2012 tidak terpengaruh dengan pernyataan 212.

Kata dia, Danny Kogoya dan anggotanya yang menyerah ini adalah yang pernah menentang Sidang terhormat (KTT TPN-OPM) di Markas Perwomi Biak, pada tanggal 3 Mei 2012 dan wallout dari Sidang pada saat itu.

“Perjuangan Papua Merdeka adalah perjuangan suci,”

tulis website TPN-PB itu.

Ia tegaskan, Daniel Kogoya cs ini bukan TPN-OPM seperti Goliath Tabuni, Kelly Kwalik (alm), Daniel Kogoya (alm) di Mapenduma, Tadius Magai Yogy (alm); Richard Joweny; Mathias Wenda; Bernard Mawen; Meklianus Awom (alm) dan Pimpinan TPN-OPM lainnya.

“Menurut hukum revolusi, mereka ini adalah penghianat perjuangan bangsanya,”

katanya.

Danny Kogoya Ada di Penjara

Juru bicara Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Wim Metlama kepada majalahselangkah.com, Senin, (28/1) mengatakan,  pria yang disebut sebagai Danny Kogoya sudah ditangkap dan sekarang ada dalam penjara LP Abepura.

Dikatakan Wim, ia sudah konfirmasi kepada Danny Kogoya yang di pejara.

“Dalam kepemimpinan TPN nama Daniel atau Danny Kogoya hanya dua orang, yaitu saya dan satunya komandan operasi di Mapenduma yang sudah meninggal, jadi selain itu tidak ada pimpinan OPM atau anggota yang bernama Daniel atau Danny di kubu TPN.OPM,”

kata Danny seperti dikutip Wim. (GE/MS)

 Mon, 28-01-2013 14:20:39, MS

KEASLIAN DANIEL KOGOYA DIRAGUKAN

DANIEL KOGOYA (Tengah) (Jubi/Alex)
DANIEL KOGOYA (Tengah) (Jubi/Alex)

Jayapura – Keaslian sosok Daniel Kogoya, pimpinan 212 pelintas batas RI-PNG yang selama ini bermukim di Papua Nugini dan memutuskan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia masih diragukan sebagian orang.

Salah satu aktifis mahasiswa, Patrick Belau tak yakin jika orang yang mengaku Daniel Kogoya tersebut, benar-benar Daniel Kogoya yang asli.

“Sebagai aktifis mahasiswa saya melihat pernyataan di media yang oleh orang yang mengkalim sebagai Danny Kogoya dan mengeluarkan pernyataan menyerahkan diri dan kembali ke NKRI itu sangat diragukan,”

kata Patrick Belau via pesan singkatnya, Minggu (27/1).

Menurutnya, saat ini Danny Kogoya sedang berada di LP Abepura. Sementara yang mengeluarkan pernyataan tersebut adalah Danny Kogoya yang ada di perbatasan.

“Nah, ini keliru. Danny Kogoya itu ada berapa sebenarnya,”

singkatnya.

Dikatakan Patrick, tidak ada cerita Danny Kogoya bersama anak buahnya mau kembali ke NKRI, karena Danny Kogoya adalah tokoh pejuang OPM. Tokoh OPM sejati tidak akan menyerahkan diri.

“Dan untuk oknum yang mengklaim diri sebagai Danny Kogoya adalah Danny Kogoya binaan TNI/Polri alias binaan Indonesia. Jadi pada intinya pernyataan itu keliru,”

tutup Patrick Belau.

Sebelumnya, 2 September 2012 lalu sekitar 23.30 WIT, seorang yang diklaim polisi sebagai Danny Kogoya ditangkap saat sedang berada di Hotel Dani, Entrop, Kota Jayapura. Dalam penangkapan yang dilakukan anggota Polresta Jayapura itu, aparat terpaksa menembak kaki kanan yang bersangkutan saat berusaha kabur. Akibatnya, kaki Danny harus diamputasi karena tulang keringnya hancur. (Jubi/Arjuna)

 Sunday, January 27th, 2013 | 22:38:42, TJ

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny